Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Ada yang Mengetuk Hati


__ADS_3

Bintang juga pasti butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu yang pahit, namun mungkin lebih bisa cepat pulih karena dia juga tahu caranya bertahan hidup dan mencari bahagianya sendiri.


“Lalu bagaimana kamu bertemu dengan mantan istrimu lagi?”


“Saat itu dia sedang makan malam dengan suaminya ketika kami bertemu untuk pertama kali setelah kami berpisah. Saat itu aku melihat dia begitu bahagia dengan keluarga barunya, lalu bagaimana aku tidak ikut bahagia? Aku harus rela karena mungkin dengan dia bersamaku, bayangan anak kami akan selalu menghantuinya dan membuat dia tidak bisa hidup bahagia.”


“Pantas saja kamu bilang bahwa kamu pernah mengalami hal yang sama denganku ketika aku melihat seseorang dari masa laluku.”


“Yang membedakannya adalah aku tidak menghindar tapi aku berkata padanya saat itu langsung bahwa aku bahagia melihatnya bahagia. Dan sudah saatnya aku juga mencari bahagiaku sendiri. Kami berdamai dengan luka kami.”


“Kamu luar biasa, mungkin nyaliku tidak sebesar kamu.”


“Nyali itu tidak harus besar kok untuk menghadapi rasa pahit, namun bagaimana kamu punya kemauan sedikit saja untuk belajar berdamai dengannya dan mulai untuk mencari jalan bahagia kita sendiri.”


“Kamu tahu apa yang membuat langkahku mundur bukan maju untuk menghadapinya?”


“Aku ingin tahu.”


“Karena aku tidak punya hak sedikit pun untuk menghadapinya sesukaku.”


“Maksudnya apa?”


“Kalau aku cerita bisa jadi setelah itu kamu akan membenciku atau menjauhiku.”


“Apakah dia adalah seseorang yang sudah memiliki istri ketika kalian saling mencintai?”


Kembali lagi jantungku rasanya mau lepas dengan tebakan Bintang tentang aku yang selalu banyak benarnya.


“Ohh. Pasti benar karena diammu menyatakan itu benar.”


Aku mengangguk mengiyakan ucapan Bintang.


“Cinta tidak pernah salah. Jika salah, maka itu bukan anugerah tapi petaka. Lalu benarkah Tuhan menciptakan cinta sebagai petaka bukan sebagai anugerah? Aku yakin tidak seperti itu. Yang membuatnya menjadi petaka atau tidak itu adalah sikap kita menerima anugerah itu.”


“Aku tidak menganggap cintaku salah. Namun aku tidak punya hak apa pun untuk memaksa orang bertanggungjawab atas perasaanku itu. Maka aku pun memilih jalan ini untuk merelakannya bahagia tanpa aku ganggu.”


“Apakah kamu yakin mereka sekarang sedang bahagia?”


“Aku berdoa untuk kebahagiaan mereka.”


“Itu kan doamu belum tentu adalah realita yang terjadi sama mereka.”


Aku terdiam lagi mendengar jawaban Bintang.


“Biarlah itu jadi urusan mereka. Karena bagiku, tugasku, sudah aku selesaikan. Aku sudah melakukan apa yang harus lakukan demi kebaikan bersama.”


“Apakah kamu yakin kamu sudah melakukan yang terbaik buat mereka? Bukankah itu dari sisi kamu saja bukan dari sisi mereka.”


“Lalu apa yang harus aku lakukan lagi untuk bisa membuat pilihanku untuk melepaskannya menjadi pilihan terbaik?”


“Tanya mereka langsung, hadapi mereka.”


“Aku tidak bisa Bintang. Tidak bisa.”


“Jika kamu tidak bisa melakukan itu maka mulailah untuk mencari jalan bahagiamu sendiri tanpa berpikir lagi untuk terus dibayangi oleh masa lalu!”


Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan Bintang. Tidak lain, dia ingin aku move on dari perasaan yang sia-sia. Karena aku pun tidak punya nyali untuk menghadapi mereka.

__ADS_1


Mataku terasa berat. Karena sudah mulai mengantuk, aku memejamkan mata walaupun masih sedikit terjaga. Bintang diam-diam membenarkan letak selimutku dan aku mendengar dia sayup-sayup sambil berbisik, pelan mengucapkan kata-kata, “Selamat tidur dan bermimpi indah malam ini.”


Perjalanan kami masih panjang dan kami pun sudah terlelap dalam dimensi yang berbeda.


***


“Halo, Mamaa.” Suara di seberang sungguh membuatku sangat bahagia. Dialah buah hatiku, pelipur laraku. Jingga.


“Iya, Sayang. Sekolahnya menyenangkan?”


“Bangeeet, Ma. Oh ya katanya Mama di Jerman ya?”


“Iya, Nak. Maafin Mama gak bisa ngabari Jingga, habis kemarin katanya Jingga gak bisa diganggu karena lagi studi lapangan.”


“Iya gapapa Ma. Kan ketua asrama dah kasih tau Jingga kalau Mama telpon dan ngabari kalau mau ke Jerman.”


“Iya, Cantik.”


“Oya Ma. Kalau Mama ketemu cowok ganteng di Jerman bawa pulang ke Indo ya biar jadi suaminya Mama.”


“Hush! Jail banget deh.”


“Hahaha.” Kami berdua tertawa renyah di telepon.


“Mama .…”


“Iya, Sayang.”


“Jangan lupa bahagia ya.”


“Jingga juga ya.”


“Jingga ya?”


“Iya.”


“Berapa usianya sekarang?”


“Empat belas tahun.”


“Sudah gadis, ya,” jawab Bintang.


Dan memang waktu tak terasa membuatku menyadari ada yang semakin tumbuh dan hidup. Harusnya aku tetap membuka lembaran baru yang lain walaupun rasa di masa lalu belum hilang. Lihatlah, di depan ada seorang laki-laki yang begitu menginginkanku dengan penuh kesungguhan. Apa aku terlalu buta oleh perasaanku sendiri?


“Setelah kamu sendiri apa kamu pernah menjalin hubungan dengan wanita lain?” tanyaku pada Bintang.


“Pernah. Aku tidak pernah takut untuk memulai sebuah hubungan.”


“Lalu mengapa kalian tidak menikah?”


“Menikah bukan hal yang semudah itu kita ucapkan ketika menjalin hubungan.”


“Bukankah di usiamu yang sekarang tidak tepat jika hanya sekedar pacaran saja?”


“Justru karena itulah aku harus lebih berhati-hati walaupun tidak ada ketakutan untuk aku membina rumah tangga lagi.”


“Tidak takut membuka lembaran baru bukan berarti gegabah kan, ya?”

__ADS_1


“Benar,” jawab Bintang menyetujui.


Aku tidak tahu alasan sebenarnya Bintang menyukaiku sampai rela mengikutiku ke Jerman seperti ini. Dia juga pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya.


“Kamu pasti sangat sibuk lalu mengapa kamu sampai bertindak sejauh ini untuk mengejar wanita yang masih terjebak oleh masa lalunya?”


“Bagiku pekerjaan adalah sampingan, tapi mendapatkan pendamping hidupku adalah yang utama. Apa artinya uang banyak jika aku hidup sendirian? Dulu aku kehilangan anakku karena aku terlalu sibuk mengejar materi. Lihatlah sekarang aku hanya menikmati harta ini sendirian.”


Apa maksud Bintang berkata seperti itu? Apakah dia menginginkanku sebagai calon pendamping hidupnya?


“Jangan takut. Aku tidak akan mengajakmu menikah sekarang.”


“Aih, apaan sih, omongan kamu sudah terlalu jauh,” sanggahku.


“Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku terlalu cepat memberi sinyal niatku terhadap kamu. Sejak awal aku mengenalmu aku seperti melihat diriku ada pada diri kamu.”


“Aku?”


“Iya.”


“Kok bisa?”


“Pernahkah kamu merasa apa yang aku ucapkan dan apa yang lakukan seolah sama dengan apa yang pernah kamu ucapkan dan yang kamu lakukan?”


Aku terdiam mendengar kalimat Bintang yang tidak bisa aku tolak kebenarannya.


“Aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu, ini pertama kalinya sejak aku berpisah. Aku tidak pernah sebanyak ini memikirkan wanita.”


“Bisa jadi karena rasa penasaranmu sama aku, karena di antara wanita yang lain aku yang termasuk dingin ketika berkenalan denganmu.”


“Mungkin saja. Karena awal aku juga berpikiran seperti itu, namun semakin ke sini aku semakin yakin bahwa hatiku sebenarnya sudah terikat oleh kehadiranmu.”


“Aku sudah pernah bilang sama kamu, usiaku ini bukan usia ideal dijadikan istri untuk laki-laki yang masih muda seperti kamu.”


“Terlalu klise.”


“Kamu belum memiliki keturunan dan pasti kamu berharap akan memilikinya bersama pasanganmu, sedangkan usiaku sudah kurang produktif lagi untuk hamil.”


“Kamu seolah bertindak seperti Tuhan. Bukankah banyak sekarang wanita seusia kamu hamil.”


“Iya aku tahu. Tapi bukankah nanti itu jadi sebuah harapan yang dipaksakan padahal takdir orang itu berbeda-beda. Aku tidak ingin akhirnya kamu menyesali pilihanmu karena keinginan sesaatmu sekarang.”


“Apa kamu menilai aku sesempit itu?”


“Tidak, Bintang!”


“Lalu apa?”


“Aku hanya ingin tahu apa tujuanmu menikah.”


“Aku menikah untuk melengkapi separuh agama dan diriku.”


“Masya Allah.”


“Dan aku tahu siapa wanita yang bisa melengkapiku itu.”


“Hmm."

__ADS_1


“Jika Allah akhirnya tidak memberikan keturunan melalui wanita itu, maka aku tidak akan pernah menyesalinya karena bagiku anak pun tidak akan bisa menemani hidupku sampai akhir. Dialah yang akan selalu menemaniku.”


__ADS_2