
Mengapa aku harus bertemu dengannya di tempat yang sedang aku kunjungi? Apa tidak ada tempat lain di dunia ini agar kami tidak bertemu lagi? Bahkan saat aku ulang tahun juga.
‘Maafkan aku,” ucapku lirih setelah air mataku sedikit mereda, pada Bintang.
“Aku sudah memberitahu Irvan dan Reva kalau kamu kurang sehat, jadi aku menawarkan diri untuk mengantarmu pulang.”
“Tidak perlu repot, aku bisa pulang sendiri.”
“Aku tidak bisa melihatmu seperti ini menyetir sendiri.”
“Lalu bagaimana dengan mobilmu?”
“Aku bisa kembali lagi ke sini setelah mengantarmu.”
“Terlalu merepotkan. Aku sudah membaik, kok.”
“Jangan nekat. Menerima pertolongan orang tidak akan membuatmu menjadi orang yang hina.”
Ucapan Bintang selalu membuatku tidak berkutik, kata-katanya tegas dan lugas. Dia bukan orang yang suka berbasa-basi. Aku tidak punya kekuatan juga untuk mendebatnya saat ini sehingga aku pun menerima tawarannya. Lagipula aku memang tidak dalam keadaan baik untuk menyetir.
Dalam perjalanan, kami berdua lebih banyak diam dengan pikiran masing-masing. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Bintang tapi yang jelas dengan melihat Mas Danial di restaurant itu membuatku shock.
Aku masih ingat jelas bagaimana laki-laki yang masih sangat aku cintai itu tidak banyak berubah. Tatapan kami sempat bertemu, aku bisa melihat tatapan hangatnya yang masih sama untukku. Apa sebenarnya dia sudah tahu aku di sana sejak awal, dan mungkin dia sengaja ingin bertemu denganku? Lalu dari mana dia tahu keberadaanku? Ah, semua itu seperti tidak masuk akal buatku.
Kenanganku bersamanya terlintas di benak, tidak mudah untukku bisa menjauh darinya. Hari-hariku begitu suram tanpa bisa tahu kapan bisa terang lagi. Bukan karena aku tidak bisa bersamanya, melainkan karena aku sangat merindukannya, itu adalah hal yang paling menyakitkan. Aku yang begitu mencintainya harus merelakannya terlepas dari hidupku.
Ada satu pemandangan yang begitu membuatku lega, bahwa di sana dia bersama Hana. Itu berarti hubungannya semakin bahagia, dan memang aku harusnya tidak berada di antara mereka berdua. Keputusanku untuk menjauh dari hidup mereka adalah keputusan yang tepat dan terbaik.
“Ya Allah, saatnya aku mencari bahagiaku sendiri. Kau sudah menunjukkan bahwa mereka sudah baik-baik saja.” Aku berkata dalam hati sambil berlinang air mata lagi. Entah apa yang dipikirkan Bintang tentangku, pertemuan pertama kami dia harus lihat air mataku jatuh berkali-kali tanpa rasa malu.
“Maafkan aku ya, pertemuan kita harus dengan cara seperti ini. Tanpa malu aku menangis terus di depanmu.”
“Kamu bertemu seseorang dari masa lalu ya tadi?”
Aku sangat terkejut mendengar ungkapan Bintang. Dia memang bukan laki-laki yang suka berbasa-basi.
“Aku juga pernah mengalami hal yang sama, jadi kamu tidak perlu malu atau terkejut.”
“Terkesan aku yang belum move on ya?”
__ADS_1
“Bisa dibilang begitu. Tapi wajarlah jika kamu masih sendiri. Lain hal jika kamu sudah memilki seseorang yang bersamamu saat ini, mungkin kamu bisa lebih tegar dan punya kekuatan untuk menghadapinya.”
Aku berpikir sejenak dan menyetujui dalam hati, ucapan Bintang bisa jadi benar adanya. Apakah aku harus bisa belajar membuka hatiku untuk sebuah hubungan baru agar aku bisa melanjutkan hidupku? Toh aku tidak akan pernah bisa menghindari Mas Danial seumur hidup, sekuat apa pun aku berusaha. Karena alam tidak bisa aku kontrol untuk mengatur semua sesuai keinginan.
Akhirnya kami sampai di rumah.
“Kamu tinggal sendirian?” tanya Bintang dan aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
“Baiklah. Berarti aku mengantarmu sampai sini saja, aku tidak mau kamu gak nyaman jika aku masuk ke rumahmu.”
“Terima kasih banyak ya.” Aku pun memang tidak terbiasa ada laki-laki masuk ke rumah. Di samping memang tinggal sendirian, jadi tidak mungkin aku menawarkan Bintang untuk masuk atau mampir sebentar.
“Aku akan ikut menunggu taksi onlinemu datang.” Kami masih berada di dalam mobil sambil melanjutkan obrolan yang sudah bisa dibilang lebih ringan pembahasannya.
“Kalau boleh tahu apa yang membuat dia sangat istimewa dalam hidupmu?”
Aku sempat ragu menjawab pertanyaan Bintang, kami belum terlalu akrab sehingga aku tidak bisa menceritakan apa yang membuat aku tidak bisa melupakan Mas Danial.
“Jika kamu belum nyaman, maka itu akan jadi alasanku untuk bisa bertemu denganmu lagi, boleh kan?” Bintang menambahkan.
Sejak pertemuan kami malam itu, Bintang selalu menanyakan kabarku entah itu melalui pesan singkat atau telepon. Bisa dibilang Bintang sedang melakukan pendekatan padaku. Aku bukan tidak tahu maksudnya, tapi aku mencoba untuk belajar untuk mencari jalan lain bisa segera melupakan Mas Danial, Bintang adalah orang yang tepat.
Dia laki-laki yang sangat tahu apa yang diinginkan atau yang dilakukannya. Dia lugas dan tegas dalam berkata atau bertindak. Memang sangat jauh berbeda dari Mas Danial, hatinya begitu lembut dan terkesan tidak tegas dengan sikapnya.
Di antara semua laki-laki yang mendekatiku mungkin hanya Mas Danial-lah yang paling terkesan tidak terlalu menginginkan. Bukan karena tidak mencintaiku, namun dia hanya terlalu banyak menjaga perasaan orang lain sehingga dia tidak tegas dengan apa yang diinginkannya sendiri. Tanpa disadari dia menyakiti banyak hati karena itu.
Bintang sudah pernah menawarkan dirinya rela untuk dijadikan pasangan percobaanku untuk bisa melupakan masa lalu. Sayangnya, aku bukan wanita yang senang coba-coba dalam sebuah hubungan. Bintang sebenarnya pernah mengaku juga kalau aku adalah type wanita yang dia sukai walaupun belum tahap perasaan cinta. Dia hanya sudah mulai tertarik sejak awal bertemu.
“Aku boleh ngajak kamu makan siang? Kebetulan aku lagi berada di sekitar kantormu.”
“Hm, sebenarnya siang ini aku ada janji dengan klien. Tapi aku belum tahu apakah jadi atau tidak. Nanti aku kabari kalau bisa ya.”
“Ok deh, aku tunggu, jadi jangan ngilang.”
“Emangnya aku jin, suka ngilang?”
__ADS_1
“Kamu kan paling susah diajak makan bareng, seolah kamu itu lebih sibuk dari presiden.”
Aku tahu ke mana arah omongan Bintang, memang tidak bisa dimungkiri memang sangat sibuk kalau sudah urusan kerja. Aku sering menerima komplain dari teman-teman main yang selalu susah mengajakku sekedar makan siang pas hari aktif karena mereka sangat tahu kalau hari libur, aku pun lebih senang di rumah untuk istirahat.
Bintang nekat mendatangi kantorku, tentu saja semua anak buahku di kantor menjadi heboh. Untuk pertama kalinya aku kedatangan tamu yang bukan klien, mudah untuk ditebak pasti itu adalah laki-laki yang sedang dekat dengannku. Terlebih Bintang memang bisa dibilang ganteng, bahkan sangat ganteng.
Dengan setelan jas rapi Bintang datang ingin mengajakku makan siang, tidak apa di kantin kantor, katanya.
“Ternyata kalau lagi kerja pakaianmu kayak gini ya,” olokku melihat penampilannya yang pertama kali melihat dia memakai pakaian resmi. Biasanya dia selalu berpakaian casual laiknya anak-anak muda jaman sekarang.
“Aku selalu bikin kamu terkejut kan?”
“Hmmm, bisa dibilang begitu.”
“Aku cuma ingin menunjukkan ke kamu bahwa setiap laki-laki pasti punya caranya sendiri untuk mendekati wanita yang disukainya.”
“Haduuh, kamu itu ya! Yuk makan di kantin. Biar kamu segera enyah dari kantorku.”
“Belum apa-apa sudah diusir, hati-hati nanti bisa jatuh cinta sama aku!”
Aku meringis mendengar kata-katanya yang sudah mulai ngawur. Ah, aku jadi ingat bagaimana Mas Danial sering membuatku tertawa dengan candaan sederhananya. Uppss … kenapa nama itu terlintas lagi dalam pikiranku.
Buru-buru aku tepis pikiran itu dan kembali fokus dengan Bintang. Belajar membuka hatiku untuk bahagia.
“Ternyata makanan di kantin kantormu lumayan juga ya, pilihannya juga banyak. Bagaimana kalau setiap makan siang aku ke sini?”
“Silakan aja. Kan bukan aku yang punya kantin ini yang bisa larang kamu datang.”
“Tapi syaratnya kamu kudu temenin aku terus, gimana?”
“Ohhh … mantan playboy beraksi.”
“Apa hubungannya tempat makan ama playboy.”
“Hahahaha .…” Aku tertawa lagi mendengar ocehan Bintang yang tidak biasa. Hari ini dia begitu cerewet.
“Kamu semakin cantik kalau banyak tertawa begitu.”
“Hadeeeh.”
“Dunia ini tidak sehitam yang kamu bayangkan, Embun! Jangan sampe aku tidak bisa memperlihatkan warna pelangi ke kamu karena kamu buta warna.”
__ADS_1