
Dua tahun sudah berlalu, waktu seakan memberiku kesempatan untuk mengenali diriku yang sering salah sampai akhirnya aku benar-benar tahu. Usiaku sudah menginjak kepala empat. 40 tahun tepatnya. Tidak banyak perubahan dalam diriku, selain aku semakin percaya ada banyak hal di dunia ini yang bisa aku lakukan selain menangisi takdir yang tidak selalu seindah mimpi.
Aku sudah terbangun dari tidur panjangku. Kini aku lebih bisa menghadapi kenyataan lagi tanpa harus berpikir semua adalah kesalahanku. Tidak ada yang perlu disesali karena semua sudah dalam rancanganNya.
“Embuuun …”
Suara panggilan asing itu sungguh membuatku terkejut dan mencari-cari asalnya dari sebelah mana. Hari ini aku ingin mencoba mencari udara segar dengan mengelilingi jalanan yang memang tengah lengang oleh kendaraan bermotor. Aku sedang senang mengayuh sepeda setiap pagi Ahad dan saat aku sedang beristirahat. Suara panggilan itu membuyarkan lamunanku.
Ada sepasang tangan yang melambai ke arahku. Aku memicingkan mata untuk mengenali wajah itu.
“Reva?"
Apakah dia Reva, teman lamaku yang bisa dibilang sudah 10 tahun lebih aku tidak pernah melihat atau mengetahui kabarnya lagi?
Dengan mengayuh sepedanya dia menghampiriku. Dan benar saja dialah Reva.
“Embun .…” Diia memelukku erat, sangat erat. Tak terasa rasa haru membuncah di sanubariku. Terlintas semua kenangan persahabatan kami dulu.
“Apa kabarmu?” ucapnya dengan nada yang tercekat. Aku merasakan rindunya padaku.
“Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat sekarang, Reva.”
“Kamu tidak berubah sama sekali, masih tetap cantik dan muda,” pujinya.
“Kamu juga, Rev.”
“Di mana kamu sekarang? Apakah masih di tempat lama?”
“Aku sudah pindah rumah dua tahun lalu. Tapi rumahku yang dulu masih ada ditempati adekku.”
“Aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Aku juga tidak bisa menemukanmu di sosmed jadi aku benar-benar kehilangan kabarmu.”
“Aku memang sudah sangat lama tidak main sosmed. Nomer handphoneku juga sudah ganti dua tahun lalu.”
__ADS_1
Kami bertukar nomer handphone lalu berjanji untuk saling bertemu lagi. Ah, ini pun menjadi awal baru, bahwa aku masih memiliki kehidupan, teman-teman lama dan yang baru semakin banyak bermunculan. Jingga sudah mulai tinggal di asrama jadi di rumah aku sendirian.
Pekerjaan menuntut aku untuk berpergian keliling Indonesia bahkan sampai negara tetangga. Karirku termasuk cemerlang karena memang dua tahun terakhir ini aku mencoba fokus pada kerjaan. Itu juga membantu proses kesembuhanku dari luka perpisahanku dengan Mas Danial.
Dengan mengganti semua akses yang bisa membuatku terhubung lagi dengan Mas Danial memang sebagai bentuk komitmenku pada Hana. Bahwa dia tidak akan melihat sehelai rambutku lagi. Di rumah lama juga sudah ditempati oleh adikku yang bungsu dan dua orang anak yatim yang aku kuliahkan selama dua tahun ini.
Usiaku sudah tidak muda lagi, jadi aku sudah memiliki tujuan hidup yang berbeda, sudah banyak yang aku lalui sehingga banyak belajar untuk tidak selalu berpikir bahwa aku tidak layak untuk bahagia.
Aku layak … bahkan sangat layak untuk bahagia. Itu adalah janjiku pada Mas Danial, walaupun sampai detik ini perasaanku padanya masih sama. Masih mencintainya, dengan berusaha untuk hidup bahagia.
Tidak selamanya hidup tentang memiliki pasangan atau memiliki cinta dalam sebuah penyatuan. Karena semua itu bukan kita yang memiliki kuasa merancangnya. Walaupun sejatinya fitrah manusia adalah memiliki pasangan.
“Bu, ada kiriman bunga tadi pagi ketika Ibu keluar bersepeda.” Pak No satpam komplek perumahan memberitahu sesaat setelah aku ingin membuka gerbang rumah.
“Saya taruh di meja tamu, Bu.” Pak No memang sengaja aku pegangi kunci rumah untuk sesekali ngecek keadaan rumah jika aku berpergian ke mana-mana.
“Makasih ya, Pak.”
Setelah menaruh sepeda di garasi, lalu aku menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang mengirimkan bunga untukku.
Aku mencium aroma wangi bunganya sebentar, lalu meraih kartu yang terselip diantara tangkai bunga indah itu.
~Sehelai rindu untuk Embun~
Tidak ada nama pengirimnya. Kemudian aku menuju kamar dan membersihkan diriku sehabis berkeringat. Beberapa saat kemudian aku sudah selesai mandi dan memakai baju rumah untuk bersantai. Sambil membuka laptop, aku melihat kalender di layar.
”Hahh, bukankah sekarang adalah ulang tahunku?” buru-buru aku mengecek handphone, benar saja sudah ada puluhan chat yang terlewat dengan isi ucapan dan doa di hari aku genap berusia 40 tahun. Ada beberapa telpon juga, rupanya aku tidak membawa handphone ketika bersepeda tadi.
Memang kadang aku sengaja mematikan handphone di hari Ahad agar bisa fokus beristirahat dari rutinitas kerjaan dan informasi yang akan mengganggu pikiran.
Sesekali aku tersenyum membaca ucapan-ucapan nakal dari teman-teman kantor juga teman-teman mainku. Tidak sedikit juga mereka yang mendoakanku segera mendapatkan jodoh atau cinta sejati.
Apa pun itu biarlah doa-doa mereka yang terpanjat sampai akhirnya dari banyaknya doa itu, Allah mengabulkan yang mana. Tugasku hanya mengaminkan dan meminta yang terbaik saja menurut Allah.
__ADS_1
“Siapakah yang mengirimkan bunga itu? Mengapa tidak ada namanya. Apa yang dia ingin tunjukkan?”
Aku tepis semua kemungkinan teman-teman yang berniat jail untuk sekedar membuat kebingungan. Aku mengambil segelas air putih dan meneguknya lalu menjatuhkan badanku di sofa.
Aku pun tertidur…
“Aku merindukanmu Embun. Apakah kamu tidak merasakannya?”
“Aku sudah bahagia sekarang, Mas. Jangan khawatirkan aku, ya.”
“Aku belum bahagia. Aku masih terluka oleh perpisahan kita.”
“Mas juga harus mulai bahagia. Karena cinta tidak harus dipaksakan bersatu jika akhirnya saling menyakiti.”
“Apakah aku terlalu banyak salah sehingga kamu tidak mau memaafkanku?”
“Tidak ada yang salah, Mas. Cinta kita tidak salah. Hanya memang kita tidak bisa bersama.”
“Mas, berbahagialah seperti aku. Lupakan rasa sakit itu.”
“Apakah kamu masih mencintaiku?”
“Iya, Mas. Bahkan tidak ada yang berubah dari hatiku buat Mas.”
“Lalu mengapa kamu meninggalkanku seperti ini?”
“Cintaku tidak egois, Mas. Cintaku sama Mas tidak harus dipertanggungjawabkan. Cintaku bukan beban. Cintaku tidak ingin bahagia di atas air mata wanita lain. Cintaku tanpa syarat Mas.”
“Lalu bagaimana dengan aku? Apakah aku tidak boleh bahagia dengan memilikimu?”
“Jangan tanya aku, Mas. Karena aku tidak punya jawabannya.”
Keringat dingin membasahi tubuhku, aku terbangun. Mimpi itu sangat jelas. Mas Danial. Apa yang sedang terjadi padaku? Mengapa aku bisa bermimpi di siang bolong tentang Mas Danial?
__ADS_1