Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Maka Menikahlah Denganku


__ADS_3

 “Maafkan aku, Bintang.”


“Untuk apa kamu minta maaf? Kamu tidak bersalah. Jangan pernah terbebani oleh hatiku ini! Aku hanya ingin kamu rasakan cintaku saja tanpa harus memaksakan dirimu untuk membalasnya. Aku ingin kamu tahu rasanya dicintai karena kamu layak, bahkan sangat layak untuk dicintai. Mereka adalah orang-orang bodoh yang telah menyakiti dan membuatmu menangis.”


Oh Tuhan, Bintangkah orang yang Engkau kirimkan kedalam hidupku untuk bisa tahu rasanya dicintai?


“Bahkan sampah yang dibuang oleh orang saja masih memiiki arti bagi orang yang memungutnya. Apalagi kamu yang sangat berharga dan bukan sampah.”


Air mataku tumpah. Sangat beruntung aku dicintai laki-laki seperti Bintang. Dia yang tidak pernah memaksakan apa pun terhadapku.


“Apakah kamu tidak keberatan menikahi wanita yang hatinya masih dihuni orang lain?”


“Aku mau jika itu kamu, Embun.”


“Maka nikahi aku, Bintang.”


Aku melihat mata Bintang berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, mungkin dia tidak menyangka akulah yang melamarnya malam ini. Aku pun tidak tahu dapat kekuatan darimana untuk mengucapkan kalimat itu.


Bintang berlutut di depanku dan memegang tanganku. Aku yakin semua mata sedang tertuju ke arah kami berdua.


“Apakah kamu tidak bercanda, Embun?” tanyanya dengan nada bergetar. Aku menggelengkan kepalaku.


“Apakah kamu mau menerima wanita yang bisa jadi tidak akan memberikanmu keturunan?”


“Aku mau jika itu kamu.”


“Apakah kamu mau menerima masa laluku yang sangat kelam?”


“Aku mau jika itu kamu.”

__ADS_1


“Apakah kamu mau menua bersamaku?”


“Aku mau, aku mau.” Bintang memelukku sangat erat. Dia menangis, menangis haru dan bahagia.


Rencana pernikahanku dengan Bintang sudah menyebar ke seluruh teman-teman dan keluarga. Tidak sedikit yang menangis haru karena aku memang cukup lama menyendiri sejak perpisahanku dua belas tahun yang lalu. Di saat usiaku mau menginjak empat puluh dua tahun.


Jingga juga sangat bahagia karena dia memang selalu mendorongku untuk mau menikah dengan Bintang. Dia sudah memanggil Bintang dengan panggilan “Papa” sejak awal mereka akrab. Bintang sangat menyayangi Jingga seperti anaknya sendiri.


Beberapa minggu lagi acara pernikahan kami akan digelar. Aku meminta acara tersebut tidak terlalu ramai, aku hanya ingin mengundang sahabat dan keluarga dekat saja. Terlebih pernikahan kami ini bukan yang pertama kalinya sehingga kami ingin acaranya sakral  tanpa pesta mewah yang tidak terlalu bermanfaat.


Untuk sesaat aku bisa melupakan perasaanku terhadap Mas Danial. Mungkin karena aku terlalu fokus untuk mempersiapkan diri menjadi seorang istri secara moral, karena pasti banyak hal yang akan berubah. Aku hanya harus meenyeimbangkan pekerjaanku sebagai wanita karir dan seorang istri. Dulu aku berkerja karena ingin menyibukkan diri saja, namun sekarang ada Bintang yang akan menjadi prioritasku juga.


Bintang tidak akan melarangku untuk tetap berkarir, bahkan dia bilang tidak akan merubah kemandirianku atau kehidupanku setelah aku menjadi istrinya.


Bintang marah jika aku kehilangan kebebasanku sebab kehadirannya dalam hidupku. Biarlah dia seperti itu, tapi tidak denganku yang pasti harus bisa menyesuaikan semua.


***


Acara akad berlangsung sahdu. Banyak air mata yang tumpah saat itu, terbawa suasana karena haru dan bahagia. Aku juga melihat Bintang sangat terharu setelah semua saksi mengatakan ijab qabulnya “sah”. Aku sudah resmi menjadi Nyonya Bintang Laksmana Bumi.


Malam pertama, kami habiskan di sebuah hotel yang jauh dari pusat kota. Tempatnya indah dan asri. Bisa dibilang seperti hotel pribadi. Bintang ingin menghabiskan waktu berharga kami yang pertama di tempat yang tidak akan pernah bisa kami lupakan.


Walaupun itu bukan pengalaman pertama buat kami, namun tentu saja tetap ada rasa kikuk, karena kesendirian kami sudah sangat lama. Kami tidak pernah mengalami hal seperti itu sejak lama. Terlebih kami sekarang dengan pasangan yang berbeda.


Kami masih duduk di sofa kamar hotel. Tidak ada satu pun dari kami yang berniat memulai duluan untuk berbicara. Pikiran kami masih ke mana-mana, canggung.


Aku merasakan tangan Bintang mulai menyentuh tanganku. Dia membelainya dengan lembut kemudian menciumnya. Kami saling memandang dengan penuh makna dan cukup dekat jaraknya.


“Aku tidak akan memaksamu malam ini,” ucapnya tiba-tiba.

__ADS_1


Aku belum mengerti maksud Bintang. Apakah dia berpikir aku belum siap memberikan diriku malam ini padanya?


“Aku sangat ingin sekali menyentuhmu malam ini, namun aku tidak akan melakukan itu jika kamu tidak nyaman,” sambungnya.


Aku mendekatkan tubuhku padanya sambil membelai pipinya yang halus. Rambutnya yang masih hitam semua. Untuk pertama kalinya aku berani memperhatikan detail wajah Bintang yang sekarang adalah suamiku.


“Aku istrimu. Aku sudah halal untukmu. Aku persembahkan diriku untukmu malam ini. Aku ikhlas.”


Bintang terharu dan mulai berkaca-kaca lagi. Betapa laki-laki yang ada di depanku saat ini begitu mencintaiku, lalu bagaimana mungkin aku tidak ikhlas memberikan penghormatan terbaikku untuknya?


Perlahan dia mencium ubun-ubunku, lalu mendarat ke keningku. Aku sempat mendengarnya mengucapkan doa saat mencium ubun-ubunku. Ahh, suamiku, kamu ternyata sangat paham sunnah itu.


Mata kami beradu cukup lama, dia mengecup bibirku lembut. Aku sudah bisa merasakan cintanya, dan malam itu adalah malam terindah untuk kami berdua.


“Jangan! Tolong lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Jangan!”


“Ada apa sayang? Ada apa?” Bintang mengayunkan tubuhku yang sudah basah kuyup karena keringat dingin.


“Kamu bermimpi burukkah, Sayang?” Bintang memelukku setelah tersadar dari mimpiku. Mataku masih basah oleh air mata.


“Badanmu penuh dengan keringat dingin.” Bintang mulai mengusap keringatku dengan tangannya. Aku pun memeluk Bintang, kemudian menangis mengingat mimpiku itu.


Aku melihat Bintang sangat sedih melihatku masih memiliki bekas trauma masa lalu.


“Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji akan membuatmu melupakan trauma itu. Aku tidak akan menyentuhmu lagi sampai kamu benar-benar sembuh.”


“Tidak. Jangan berkata begitu, itu hanya mimpi buruk biasa.”


Malam itu Bintang tidur sambil memelukku dengan erat. Betapa beruntungnya aku memiliki suami yang sangat mencintaiku. Terima kasih, ya Allah. Kau kirimkan laki-laki yang mau menerimaku dengan segala kekuranganku ini, padahal dia sangat bisa mendapatkan lebih dari aku.

__ADS_1


Berkali-kali Bintang mencium kening dan membelai pipiku yang sebenarnya masih terjaga walaupun mataku terpejam. Aku tidak ingin dia khawatir denganku.


 


__ADS_2