Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Membiarkan Berbahagia


__ADS_3

Kami terdiam sesaat sebelum Hana melanjutkan ucapannya.


 “Akhirnya aku berpikir mungkin dengan kehadiranmu di sisi Mas Danial bisa memberikan semangat dia untuk berjuang dan sadar dari komanya. Untuk itulah aku datang hendak minta tolong padamu.”


Tidak butuh waktu lama untuk kami berangkat menuju rumah sakit tempat Mas Danial dirawat. Gelapnya malam tidak menghalangi kami melajukan setir mobil. Selang beberapa lama akhirnya kami sampai di ruangan ICU.


Aku melihat tubuh laki-laki yang aku sangat cintai itu terbaring dengan banyak alat medis yang melekat padanya. Ingin rasanya aku menangis sejadi-jadinya tapi tidak kulakukan, karena aku tidak punya hak. Siapa aku? Bukankah ada yang lebih berhak yaitu Hana, dan dia sedang berdiri di sampingku.


“Masuklah, karena hanya boleh satu orang saja yang di dalam,” ucap Hana.


Dengan langkah pelan aku memasuki ruangan itu setelah memakai baju khusus. Aku sempat ragu untuk mendekati Mas Danial yang dalam keadaan tidak sadar. Suara khas dari alat medis cukup membuat bergidik, aku masih trauma dengan aroma ruangan dalam rumah sakit.


Aku pernah dalam keadaan seperti ini. Seolah rumah sakit adalah rumah keduaku. Kenangan masa lalu terlintas di benakku, dan kini yang terbaring adalah laki-laki yang aku cintai.


“Mas .…” Aku berusaha memanggil namanya perlahan.


“Aku Embun, Mas. Jangan lama-lama tidurnya. Kasian Mbak Hana nangis terus dan lelah nungguin Mas di sini.” Suaraku tercekat, tak kuasa rasanya aku menahan air mataku.


“Aku baik-baik saja Mas. Aku wanita yang kuat. Mas 'kan tahu aku seperti apa. Tolong ikhlaskan aku, ya. Jika Mas menganggap ini berat maka lepaskan saja semuanya. Aku janji akan bahagia walaupun aku tidak bersama Mas. Aku janji, Mas. Jadi bangunlah. Jangan membuatku menangis melihat Mas seperti ini. Aku masih mencintaimu bahkan semakin mencintaimu. Terima kasih sudah menjadi hadiah indah dalam hidupku.”


Aku memberanikan diriku menyentuh dan mencium punggung tangannya. Lalu ketika aku ingin membalikkan badanku untuk pergi, suara mesin dari monitor berbunyi dan berdatangan tim medis yang memeriksa keadaan Mas Danial.

__ADS_1


Aku masih terbengong melihat alat pacu jantung yang ditempelkan ke dadanya. Apa yang sudah aku katakan sehingga reaksi Mas Danial seperti itu? Apakah aku semakin memperburuk keadaannya? Mataku terus melihat tubuh Mas Danial yang terangkat berkali-kali. Air mataku deras mengalir. Bibirku bergetar tidak menentu.


Jika terjadi sesuatu, maka akulah yang harus bertanggung jawab. Akulah yang menyebabkan kekacauan ini. Aku tidak boleh mengganggu hidup mereka.


Aku terduduk di lantai ruangan ICU itu sambil melihat keadaan Mas Danial yang belum baik.


“Dia sudah kembali, Dok.” Suara perawat itu membuatku mengangkat kepala.


“Ok, good.”


Terdengar suara langkah dokter itu menghampiriku. “Bapak sudah kembali, Bu. Sekarang dia sudah normal, jadi beliau sudah melewati masa kritisnya.”


“Alhamdulillah, ya, Allah,” ucapku dengan suara masih bergetar.


Aku kembali menuju tempat Hana berdiri sedari tadi, dia juga pasti sangat khawatir.


“Mas Danial sudah sadar dan akan dipindahkan ke ruangan biasa,” ucapku memberi kabar terbaru padanya.


Aku membalikkan badanku berniat untuk pergi meninggalkan mereka. Namun, aku merasakan tanganku diraih oleh Hana. Dia menggelengkan kepalanya seolah melarangku untuk pergi.


Lalu aku memegang tangannya seraya berkata, “Berbahagialah kalian berdua, tugasku sudah selesai dan aku tidak akan pernah muncul lagi dalam hidup kalian. Kalian tidak akan melihat sehelai rambutku. Aku akan berusaha untuk benar-benar menjauh dari Mas Danial. Semoga kalian bisa saling mencintai seperti dulu ketika awal kalian membina rumah tangga. Terima kasih sudah membiarkanku mencintai Mas Danial. Terima kasih sudah sangat baik tidak mengutuk kesalahanku padamu, Mbak. Kamu wanita luar biasa yang memang seharusnya paling berhak dicintai oleh Mas Danial. Lupakan aku yang pernah menyakitimu. Maafkan aku, jika boleh aku lancang memintanya.”

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu lalu dia memelukku..


[Embun…


Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku, aku memang tidak pandai mengucapkan apa yang aku rasakan. Karena itulah banyak laki-laki tidak pernah berhasil mempertahankan wanita yang dicintainya. Termasuk aku..


Maafkan aku yang sering mengabaikanmu, aku yang tidak peka telah membuat lukamu semakin menganga. Maafkan aku, Sayang.


Bisa jadi aku berpikir kamu akan selalu bersamaku apa pun itu dan bagaimanapun aku memperlakukanmu. Karena aku yakin kamu tidak akan pernah meninggalkanku.


Tidak pernah sedetik pun aku berpikir akan kehilanganmu secepat ini, namun aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Aku yang tidak bisa menjanjikan apa pun demi cinta kita. Aku yang tidak tegas dalam hubungan kita. Aku yang pengecut dan egois.


Aku tidak tahu seberapa sering aku membuatmu menangis. Maafkan aku. Maafkan aku.


Aku sekarang menyadari arti kehadiranmu dalam hidupku. Aku tidak pernah membayangkan rasanya sesakit ini berpisah darimu.


Aku memang tidak berhak untuk dimaafkan bahkan untuk mencintaimu, aku tidak layak menerima cintamu yang luar biasa untukku.


Aku akan selalu berdoa agar kamu bahagia dan menemukan cinta sejatimu. Cinta yang akan membuat air matamu tidak tumpah lagi karena kamu memiliki hati yang tulus.


Terima kasih sayangku. Terima kasih untuk cintamu selama ini. Terima kasih sudah menerimaku. Terima kasih untuk semua dukunganmu selama bersamamu.

__ADS_1


Aku laki-laki yang masih terus belajar bagaimana cara mencintai ini..


Danial]


__ADS_2