
Aku menutup mataku dengan surat itu. Aku akhirnya bisa menangis sejadinya. Tubuhku gemetar tidak karuan. Sampai detik terakhirnya dia tetap hanya memikirkan hidupku. Tidak ada celah secuil pun untuk aku bisa membencinya bahkan saat dia pergi meninggalkanku begitu saja dari dunia ini.
Aku harus bagaimana dengan hatiku yang sudah hampa tanpa dia disisiku? Mengapa dia meninggalkanku saat cintaku semakin besar untuknya. Disaat aku sudah terikat seluruh jiwa dan ragaku padanya. Apakah ini hukuman buatku karena perasaanku yang tidak murni untuknya selama ini?
Mas Danial diam membisu, dia tidak ingin menganggu reaksiku membaca surat dari Bintang. Aku memanggil Nania dan memintanya memapahku menuju mobil untuk pulang. Aku tidak memedulikan Mas Danial yang masih terpaku sendirian.
Di kamar aku menangis sejadinya. Aku mengunci kamar agar Bik Nah dan Jingga tidak mendengarku. Aku merindukan Bintang, jika saja saat ini Allah ingin cabut nyawaku maka aku sudah siap. Aku tidak tahu bagaimana hatiku setelah kepergian Bintang.
Jiwaku seolah sudah tidak ada dalam tubuhku. Nyawaku sudah ikut dengan Bintang. Aku tidak tahu seberapa banyak lagi mengeluarkan air mataku untuk bisa merindukannya. Merindukan laki-laki yang selalu mendekapku ketika bermimpi buruk, mengusap air mata ketika aku menangis dalam tidur.
Aku belum sempat mengatakan “Aku mencintaimu” bahkan sekali pun tidak pernah aku ucapkan. Aku adalah wanita yang paling berdosa pada suaminya, kekasihnya. Kekasih yang tidak pernah mengeluh ketika istrinya mencintai laki-laki lain. Entah berapa kali mungkin Bintang cemburu tanpa bisa dia ungkapkan padaku. Aku memang layak dihukum seperti ini oleh Tuhan.
Aku akan menjalani hidup ini dengan hukuman yang harus aku terima sepanjang hidupku. Aku ikhlas, karena aku memang layak untuk hukuman seumur hidup. Penyesalanku tidak akan mengubah apa pun, tidak akan menghidupkan Bintang kembali.
Perutku keram, aku merasakan kontraksi yang luar biasa hebat. Aku menjerit kesakitan, aku merasakan di antara kedua pahaku sudah basah. Ketubanku mungkin sudah pecah. Belum saatnya aku melahirkan, namun karena aku terlalu stress sehingga itu mempercepat prosesnya.
Aku dibawa ke rumah sakit. Tindakan operasi caesar terpaksa dilakukan karena usiaku sudah sangat mengkhawatirkan untuk menjalani proses persalinan normal terlebih ketuban sudah pecah duluan.
Aku tidak tahu berapa lama aku dalam pengaruh obat bius pasca operasi persalinan. Namun, aku belum melihat bayiku. Di mana dia? Siapa yang mengazaninya?
“Mama .…” Jingga memelukku sangat erat.
“Ada apa, Sayang? Adek mana? Kenapa kamu menangis?”
“Adek laki-laki, Ma! Mirip sekali sama Papa.”
“Di mana adek, Nak?”
“Adek masih harus dirawat diruangan NICU, Ma.”
“NICU? Bukankah itu untuk bayi yang kritis.”
“Adek belum boleh digendong, Ma.”
“Jangan berbelit-belit, Nak! Ada apa dengan adek?”
“Biar Jingga panggilkan dokter aja ya.”
Sesaat kemudian dua dokter datang mendatangiku.
“Bayi ibu mengalami gagal jantung sehingga kami harus memantaunya secara intensif.”
“Gagal jantung, Dok? Maksudnya bagaimana?”
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin bu, semoga si kecil bisa melewati masa kritisnya.”
Deg.
Apa lagi yang akan menjadi hukumanku, ya Allah? Begitu bersalahkah aku sehingga hukuman ini begitu berat aku terima. Jika memang itu salahku maka biar aku saja yang menanggungnya, jangan anak yang tidak punya salah apa-apa.
Aku menangis sejadinya. Aku tdak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah habis. Habis menjadi serpihan debu.
“Istigfar, Ma! Mama gak boleh seperti ini. Adek akan segera sembuh kok, Ma. Adek kuat seperti Mama.”
Kami berpelukan sambil menangis tanpa berjeda.
******
Aku melihat tubuh mungil yang ada di pelukan, belum sempat aku dengar tangisnya. Terpejam seperti aku sedang melihat malaikat yang berwujud manusia kecil.
__ADS_1
“Salam sama papa nanti kalau kamu ketemu di sana ya, Nak! Bilang kalau Mama kangen sama Papa.”
Aku mencium kening dan pipinya yang sudah dingin. Aku memeluknya erat. “Oh, Sayang, maafkan Mama, ya. Maafkan Mama yang sudah banyak salah ini sehingga Mama harus kehilangan Papa dan sekarang Mama harus kehilangan satu-satunya peninggalan Papa untuk Mama, yaitu kamu, Nak.”
Air mataku sudah tidak ada sisanya. Aku sudah menjadi mayat hidup, kehilangan bertubi-tubi membuatku berpikir apakah aku bukan manusia? Sehingga Allah menginginkanku harus bisa tahan dengan semua kehilangan ini.
Tidak ada satu pun yang berani mencegahku untuk terus memeluk tubuh bayiku yang sudah tidak bernapas lagi. Aku belum sempat melihat matanya terbuka.
Benar kata Jingga, wajahnya sangat mirip Bintang.
“Mama, adek kenapa gak pengen bersama kita?” Jingga menangis sejadinya.
“Dia pengen bersama Papa, Nak. Adek gak pengen Papa sendirian di sana nungguin kita.”
“Lalu kita gimana Ma? Apa adek gak sayang kita.”
“Jingga punya Mama. Mama punya Jingga tapi Papa di sana sendirian jadi biar Papa ada temennya.”
“Apa kita akan berdua lagi kayak dulu Ma?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya lagi. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
***
~Sapa Ilahi~
Malam kelam bersembunyi menghindarimu. Aku tergugah
Aku berlari
Aku tengok kebelakang tidak ada yang mengejarku.
Telingaku pekak
Kuintip sekelilingku, sepi hanya aku
Lalu aku di mana?
Aku sendiri ssenyap
Kugigit bibirku sampai mati ras, sakit
Aku tidak bermimpi
Mengapa aku masih di sini?
Dan aku siapa?
Siapa yang membuatku seperti ini?
Karena hanya ada aku, tdak ada siapa-siapa
Lalu aku menjerit meminta pertolongan
Tidak ada yang mendengarku
Sampai akhirnya suara itu datang
Menghampiriku
__ADS_1
Lalu berkata
Jangan takut dan jangan bersedih
Aku akan selalu bersamamu!
Makam Alfatih tepat di samping makam Bintang, papanya. Dua nisan dari dua laki-laki dalam hidupku yang hadir begitu singkat. Dua-duanya tidak sempat mendengarku mengatakan “Aku sangat mencintaimu” bahkan yang satu belum sempat aku dengar tangisannya. Sepi, pergi tak bersuara.
“Ma, kita sekarang berdua lagi.”
Aku memeluk Jingga, aku tidak bisa menghiburnya kali ini. Karena aku pun tidak tahu cara menghibur hatiku. Hatiku yang sudah dibawa oleh mereka berdua.
“Apa kita juga akan pindah kerumah lama kita Ma?”
“Nanti kita pikirkan itu, Sayang.”
Kami melangkah pergi meninggalkan pusara orang-orang yang aku cintai itu. Tepat di dekat mobil kami terparkir, berdiri seorang laki-laki yang tentu saja begitu aku kenal.
“Ma, Om itu yang mengazani adek pas lahir Ma.”
Kalimat Jingga membuat langkahku terhenti.
“Jingga tunggu di mobil duluan ya. Mama mau bicara sama Om itu.”
“Iya, Ma.”
Aku mendekati Mas Danial setelah Jingga masuk ke mobil.
“Sudah berapa lama Mas di sini?”
“Sejak awal pemakaman, Dek. Aku tidak berani mendekat takut kamu tidak nyaman.”
“Terima kasih sudah mengazani Fatih ya.”
“Sama-sama.”
“Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir, Mas,” ucapku.
“Setelah aku mengatakan ini, aku berjanji akan menghilang dari hidupmu, Dek.”
“Apa itu , Mas?”
“Ketika Bintang memintaku untuk menikahimu jika sampai dia meninggal sudah aku tolak, namun dia bersikeras memintaku terus menjagamu. Dia memintaku untuk berjanji tidak meninggalkanmu walaupun kamu menolak dan mengusirku dari hidupmu. Akhirnya aku berjanji. Aku juga tidak ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesedihanmu ini, namun aku terikat janji pada Bintang.”
“Aku sudah membebaskanmu dari janji itu, Mas. Karena aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku juga bisa bahagia tanpa harus orang lain bertanggungjawab untuk itu. Aku sadar, bahagia itu harus aku cari sendiri tanpa bantuan orang lain.”
“Aku tahu kamu wanita yang tegar, Dek. Kamu wanita yang bisa kuat dengan kaki sendiri. Aku tidak berhak untuk memaksamu untuk mengikuti kemauan Bintang terlebih aku.”
“Mas, aku memang pernah begitu mencintaimu bahkan sampai Bintang hadir dalam hidupku belum berhasil menghilangkanmu dari hatiku. Dia laki-laki tanpa cela saja tidak mampu mengusirmu dari hatiku sepenuhnya. Aku pernah bermimpi bisa menjadi istrimu pastilah sangat membahagiakan, karena aku begitu mencintaimu."
Mas Danial menunggu kata-kataku selanjutnya.
"Namun, takdir tidak seindah mimpiku dan ternyata aku bisa bahagia tanpa harus lelah bermimpi saja karena Allah memberikanku yang nyata yaitu menjadi istri Bintang. Aku sadar saat ini giliranku untuk hidup mencintai Bintang. Ini hukuman sekaligus anugerah terbaik dalam hidupku. Aku ingin di syurga nanti aku menjadi istri Bintang bukan istri siapa-siapa selain dia. Karena jika itu aku lakukan, maka di sana aku tidak akan bertemu dia dan anak kami.”
“Jangan lupa bahagia ya, Dek. Itu saja doaku untukmu.”
“Aamiin. Iya pasti, Mas. Mas juga harus mulai bahagia lagi.”
__ADS_1
Dan kami pun berpisah.