
Tidak ada yang berubah dari rumah yang pernah aku tinggali sebelum menikah setelah pindah ke rumah yang diberikan Bintang untukku.
Jingga lebih senang kami pindah lagi ke sini agar aku tidak terlalu bersedih jika mengingat Bintang. Mungkin benar, namun hatiku juga enggan meninggalkan banyak kenanganku bersama Bintang di rumah kami itu.
Jalan tengahnya aku bisa mondar mandir untuk menyesuaikan keadaan psikisku, toh jaraknya tidak terlalu jauh bahkan bisa dibilang dekat.
Aku berniat untuk resign dari pekerjaanku, aku ingin pergi keliling dunia saja menghabiskan waktu dengan bebas tanpa ada ikatan tanggungjawab. Sebenarnya dulu aku punya cita-cita jika usiaku sudah mencapai 45 tahun aku akan pensiun dini dari perusahaan.
Tentu saja saat Jingga sudah besar dan siap hidup mandiri ketika itu. Niatku sudah aku sampaikan pada JIngga dan dia tidak melarang sama sekali. Nania sudah bisa aku andalkan untuk menggantikan posisi Bintang untuk mengurus perusahaan.
*
Berdalih aku menepis cinta
Mengatakan aku tidak sanggup mengukir luka baru
Tanpa lelah ia menjuntai mimpi
Mimpi bersamaku yang masih keras kepala
Lalu dia terlepas tanpa aku sadari
Bukan dia, tapi aku
Yang sudah kalah dan menyerah sejak mula
Apa arti air mataku kini?
Rasa sakit yang mungkin tidak akan pernah hilang
Kehilangan dia yang begitu berarti
Kini aku sudah tersesat
Karena Bintang sudah pergi dari langitku
Menyinari hati yang lebih pantas
__ADS_1
Dari aku yang hanya orang buta
Pergilah, biarkan aku di sini
Dengan hati yang kembali tertutup
*
Duhai embusan angin, ceritakan aku tentang yang di sana apakah rinduku adalah sebuah dosa juga? Aku ingin sekadar tahu, jika tak apa aku sangat merindukannya. Tubuhku seolah hanya bergerak mengikuti derap langkah sang perindu yang sedang tersesat. Melihat jalannya sudah gelap tanpa Bintang lagi yang menemani.
Lalu bagaimana diri akan sampai ke tempat tujuan?
Bisikkan padanya ada hati yang sudah kalah dan mengaku salah. Apakah sudah sangat terlambat ia menebusnya? Aku semakin tertunduk mengetahui ada serpihan lelah yang kini sedang berserakan. Bagaimana lagi aku bisa mengumpulkannya menjadi satu?
Semua tidak ada yang memberi jawaban, apakah semua kini membisu? Berikan aku sedikit saja pelita agar aku tahu sekarang aku di mana.
“Halloo, Bu.” Suara Nania ditelpon.
“Tiket ibu sudah bisa issued kapan pun ibu siap.”
Sepertinya aku harus memulai mempersiapkan semua perjalanan panjangku. Aku berencana memulainya dari Turki. Negara yang pernah ingin kami kunjungi bersama.
“Kamu bisa ke sini nanti sore?”
“Bisa, Bu. Anytime ibu butuh apa-apa Nania siap 24 jam.”
Nania termasuk peninggalan Bintang yang luar biasa. Dia pernah berkata kalau Bintang selalu menitip pesan ke semua timnya di perusahaan jika kepentinganku adalah yang paling utama. Tidak ada yang meragukan cinta Bintang padaku.
Malam itu aku mengumpulkan semua orang untuk membicarakan hal yang paling penting. Tanpa menunggu lama, mereka semua datang. Nania dan semua tim kepercayaan Bintang di kantor, Bik Nah juga Jingga.
Aku mengutarakan niatku untuk memulai perjalanan panjang minggu depan. Aku menitipkan Jingga pada Bik Nah, kantor pada Nania. Aku sangat percaya mereka adalah orang-orang yang Allah kirimkan untuk menemaniku dalam suka dan duka. Mereka adalah keluargaku sekarang, jadi apa pun yang menyangkut hidupku merekalah yang paling utama yang aku beritahu.
Aku melihat mereka semua tersenyum penuh haru. Aku yakin hati mereka berkecamuk seperti aku, kehilangan orang yang begitu berharga tidak akan pernah mudah. Tidak ada kata-kata yang mampu menghibur orang yang sedang kehilangan, karena waktulah yang akan menemaninya sampai air mata kami tergerus dan semakin berkurang.
“Maafkan aku yang selalu membuat kalian bersedih dan lelah,” ucapku mengakhiri pertemuan kami.
__ADS_1
“Ibu jangan lupa bahagia di sana ya. Jangan khawatirkan yang di sini, biar kami semua yang akan urus,” jawab Nania sambil menyeka air matanya.
“Jingga juga akan Bibik urus sebaik-baiknya, Bu,” jawab Bik Nah.
“Mama tidak usah terlalu mikirin Jingga, kini Jingga sudah besar. Jingga hanya ingin Mama bahagia dan segera sembuh dari semuanya.”
“Iya, Sayang. Mama janji pada kalian semua. Mama akan bahagia demi semua yang mencintaiku. Setelah Mama sudah sembuh dari luka-luka ini, Mama akan pulang dan menjadi orang yang baru.”
Kami semua berpelukan penuh haru.
*
Dear Mas Danial
Maafkan aku yang belum sempat berterima kasih untuk semua yang Mas lakukan untuk Bintang dan kami semua. Terima kasih sudah menjadi laki-laki yang pernah begitu berarti dalam hidupku. Aku sangat beruntung dengan skenario yang Allah berikan karena dengan begitu aku bertemu dengan suamiku yang luar biasa.
Aku tidak pernah membencimu sama sekali, Mas. Bahkan dengan mencintaimu aku belajar banyak hal yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu.
Ikhlaskan aku mencari bahagia dengan jalan yang kini aku tempuh. Aku tidak menyangka Bintang menitipkan aku padamu, Mas. Ahhh ... entah hatinya terbuat dari apa sehingga mampu melakukan sesuatu yang pasti bertolak belakang dengan nuraninya. Namun, aku tahu dia begitu karena dia tidak ingin aku sendirian lagi di dunia ini. Dia lupa bahwa dia sudah memberikanku segalanya sehingga aku tidak akan pernah merasa sendirian. Aku hanya sering merindukannya saat ini dan itu adalah anugerah yang harus aku terima.
Aku janji sama kamu Mas. Aku akan bahagia seperti dulu aku juga berjanji padamu untuk bahagia tanpamu.
Terima kasih untuk cinta kalian berdua untukku. Aku adalah wanita yang sangat beruntung dicintai kalian berdua. Namun, hatiku ini cuma satu. Ragaku cuma satu. Hidupku cuma sekali maka aku tidak mungkin membaginya pada dua orang.
Dan pilihanku adalah suamiku Bintang. Biarkan dia yang akan selalu memiliki hidup dan diriku sampai di syurga nanti.
Mas, berbahagialah bersama Mbak Hana, dia juga pasti sangat mencintaimu. Lupakan aku seperti embusan angin yang tidak bisa kau genggam.
Aku pun akan melanjutkan hidupku ini tanpa menjadi beban orang lain. Bahagiaku adalah urusanku sendiri bukan tanggungjawab siapa pun. Bahkan Bintang pun hanya manusia biasa yang punya kemampuan terbatas untuk membahagiakanku. Jika dia bisa, maka dia tidak akan meninggalkanku di dunia secepat ini.
Bismillah Mas. Doakan aku bisa menjadi orang yang selalu mendewasa dari setiap jalan cerita yang Allah berikan dalam hidupku. Baik itu bahagia dan pilunya.
Selamat tinggal mimpi indahku yang dulu.
~Embun
__ADS_1