Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Suasana Hati yang Berbeda


__ADS_3

Aku mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan. Walaupun hatiku selalu merindukannya, anehnya sudah terbiasa dengan sikap Mas Danial yang sering mengabaikanku seharian. Sikapnya yang tak acuh tidak merubah perasaan cintaku padanya sedikit pun. Aku sudah memahami bahwa cinta tidak harus dipaksakan sesuai dengan yang kita mau.


Bahkan saat ini aku sudah siap kehilangan Mas Danial kapan pun itu. Rasa sakit yang akan aku alami nanti ketika saat itu tiba mungkin akhirnya menutup pintu hatiku untuk cinta yang bukan milikku.


“Dek, aku sudah sampai di hotel. Hari ini bakalan hectic banget jadi mungkin aku tidak bisa telpon kamu.”


“Iya, Mas gapapa. Dijaga jam makannya, ya.”


“Makasih ya, Dek.”


Sesekali Mas Danial mengabarkan apa yang sedang dia lakukan, walaupun singkat dan tidak ada basa basi lainnya seperti dulu. Aku hanya tersenyum membaca pesannya, mengingat bagaimana dulu dia begitu intens berkomunikasi. Bahkan Mas Danial membuatku terbiasa dengan kabarnya yang selalu detail dan diselipkan candaan, gurauan yang membuat hari-hariku selalu berbeda.


Rasa bahagia yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, mampu dia hadirkan dalam hidupku dengan cara yang sederhana. Pernah sisi diriku berkata bahwa Mas Danial adalah penjahat sebenarnya dalam kisah percintaanku. Dia yang sangat tahu aku pernah terluka dan pernah memiliki trauma mendalam, namun dia sendiri yang menabur garam di atas lukaku itu tanpa dia sadari.


Untungnya dia hadir ketika aku sudah mendewasa, diriku yang sudah semakin memahami tentang cinta. Sempat begitu terpuruk mendapati diriku yang kembali lagi menangis oleh rasa kecewa. Tapi aku sudah bisa mengontrol emosi dan hati untuk tidak berlama-lama dalam kesedihan.


Biar bagaimana aku pernah bahagia dicintainya, dia tidak pernah benar-benar melukaiku. Karena itulah aku tidak bisa membencinya. Bahkan kehadirannya aku anggap sebagai hadiah hidup.


Pekerjaanku semakin menuntutku untuk bisa ekstra fokus sehingga sejenak aku tidak terlalu banyak memikirkan kabar Mas Danial. Jarak kami semakin jauh, aku juga akhirnya berpikir bahwa Mas Danial sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi dalam hidupnya.


Aku bertekad untuk kembali menjalani hidupku seperti sebelum aku bersamanya. Bahwa hidup tidak selalu menawarkan manis saja, tapi juga pahit yang tentu mengajarkan kita banyak hal.


“Hallooo … Dek.”


Suara di seberang adalah Mas Danial. Suaranya sedikit berat, aku menangkap ada getaran kesedihan dalam nada suaranya. Hatiku berkecamuk antara rindu dan sedih.


“Iya, Mas.”


“Kamu sedang apa?”

__ADS_1


“Lagi di kantor seperti biasanya. Mas?”


“Aku lagi di rumah.” Suaranya tercekat.


“Suaranya Mas kok kayak gitu, ada apa?”


“Aku lagi kalut, Dek. Projectku terancam gagal dan aku harus menangung kerugian yang sangat besar. Aku gak tahu harus berbuat apa.”


Ya Allah, apakah ini yang membuatnya menghilang begitu lama? Entahlah, tapi yang jelas dia sekarang sedang membutuhkanku. Paling tidak untuk semua keluh kesah dan penatnya yang mungkin tidak bisa dia ceritakan pada siapa pun lagi sehingga dia meneleponku.


“Aku harus bagaimana, Dek? Aku kalut dan kacau.” Suaranya semakin berat.


“Mas tarik napas dulu. Lalu cerita secara detail.”


Dia pun melakukan apa yang aku minta dan mulai menceritakan semua dari awal. Setelah menceritakannya, aku memang tahu bahwa tidak ada jalan keluar lagi, selain mengikhlaskan dengan segala risiko.


“Aku tahu ini memang salahku, Dek, dan aku harus bertanggungjawab. Aku juga tahu sebenarnya aku hanya butuh kamu mendengarkan curhatanku saja. Aku begitu merindukanmu.”


Oh Mas Danial, andaikan saja Mas jadi diriku lalu bagaimana hatimu bisa setega itu padaku. Namun aku segera buang jauh perasaan yang akan membuatku terluka?


“Mas sudah makan?” Dengan suara yang tegar agar tidak terdengar habis menangis, aku bertanya hal yang tidak ada sangkut pautnya dari ungkapan Mas Danial.


“Kamu nangiskah, Dek? Aku banyak salah, ya, sama kamu? Maafin aku,” ucapnya yang membuatku semakin tidak bisa membendung air mata lagi.


“Tidak apa-apa, Mas. Aku minta maaf juga tidak bisa menemani Mas yang sedang punya banyak masalah. Harusnya aku bisa lebih memahamimu.”


“Gak, Dek. Mas yang salah sama kamu.”


Kami berdua menangis bersama di telepon. Aku tidak tahu persis yang Mas Danial rasakan sehingga dia pun ikut menangis setelah mendengar isak tangisku. Karena aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang aku tangisi.

__ADS_1


Cinta kami memang terhalang oleh restu tapi kami sadar kami belum bisa benar-benar berhenti dalam perjalanan yang tidak ada ujungnya.


Hati itu memang begitu lemah, saat dilukai berkali-kali, dia akan memaafkannya. Satu kalimat saja bisa membuatnya lupa akan air mata yang jatuh akibat luka itu. Contohnya aku, rasa kecewa dan rasa sedih yang aku rasakan akan sirna begitu saja ketika kekasihku mengucapkan “Aku merindukanmu”.


Biarkan jejakku menyentuh hatimu sekali saja


Lalu biarkan aku pergi tanpa  melihatmu lagi


Karena kini aku sedang bersiap


Berjalan tanpa dirimu di sisiku lagi


Bukan karena aku tak cinta


Namun, karena aku tahu cintamu tak bersamaku lagi


Aku bukan pilihan hatimu


Aku bukan yang terbaik untukmu


Izinkan aku melepas tanganmu lebih dulu agar kau segera bebas


Bebas dari cinta yang tidak kau inginkan


Cinta ini akan ikut bersamaku, bersama hatiku


Hatiku yang malang


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2