
Aku membuka mata, kepalaku masih berat. Aku melihat Bik Nah sudah sembab matanya seolah habis menangis lama.
“Aku kenapa, Bik?”
“Ibu pingsan lama. Saya khawatir sekali.”
“Bapak gimana, Bik?”
Bik Nah terdiam sambil sesegukan dengan air mata yang deras mengalir. Masih jelas aku mendengar nama Bintang adalah korban kecelakaan tadi sore.
“Bapak dirawat di mana, Bik?”
“Sebentar lagi Mbak Nania kesini jemput Ibu, Mbak Nania ngurus Bapak dulu baru ke sini.”
“Nggak, Bik! kita berangkat sekarang juga naik taksi. Aku gak mau menunggu lama.”
Baru saja aku menggerakkan badan, Nania sudah datang menjemput, sehingga aku tidak perlu pergi sendiri.
Sesampainya kami di rumah sakit, aku langsung berlari menuju ruang ICU tempat Bintang dirawat intensif.
“Bapak sudah dioperasi langsung, Bu, tadi. Karena tidak mungkin menunggu keluarga datang. Bapak harus ada tindakan segera,” ucap Nania menjelaskan.
Beberapa kali aku meminta Bintang memakai supir saja kalau ke mana-mana biar kalau kecapekan dia bisa istirahat dimobil tanpa harus fokus menyetir sendiri.
“Ibu boleh masuk nanti setelah satu jam,” ucap perawat yang keluar dari ruangan itu. Apa bisa aku menunggu selama itu untuk bisa berada di dekatnya.
“Ya Allah, tolonglah suamiku,” pintaku pada Tuhan dengan suara parau.
Satu jam terasa begitu lama, aku sudah tidak bisa lagi menunggu terlalu lama.
“Tolong izinkan saya masuk, Sus! Saya mohon.” Aku mengiba dengan suara yang hampir pecah oleh air mata.
Akhirnya dia mengizinkanku masuk walaupun aku tidak boleh menyentuhnya dulu.
“Sayaang, banguuun! Jangan begini! Aku harus bagaimana kalau kamu tidak bangun-bangun.” Aku menangis tidak karuan dengan menutup mulut agar tidak terlalu berisik, menahan isak tangisku.
Dia bergeming, begitu parahnya kecelakaan itu sehingga tubuh suamiku sudah tidak karuan. Mengapa aku semakin bergidik ketika meilhat sekujur tubuhnya dipenuhi oleh perban. Apa yang terjadi ya Allah?
“Saya ingin menjelaskan keadaan Bapak, Bu,” ucap dokter yang menangani Bintang.
__ADS_1
“Iya, Dok.”
“Kecelakaan yang terjadi, membuat abdominal Bapak pecah dan mengalami pendarahan hebat, walaupun kami sudah melakukan tindakan operasi untuk mencegah pendarahan lebih parah lagi, namun semua itu tergantung keajaiban, Bu. Semoga Bapak bisa melalui masa kritisnya.”
Kakiku lemas seolah tidak berdiri di tempatnya. Seperti disambar petir siang bolong aku mendengar informasi yang diberikan dokter itu. Aku harus bagaimana?
Nania hanya mampu menahanku agar tidak terjatuh. Aku meremas perut, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk memberi kabar padanya bahwa dia akan menjadi seorang ayah untuk anak yang baru saja aku tahu sudah ada dalam kandunganku?
“Sayang, minta sama Allah untuk kesembuhan Papa, Nak!” Aku bergumam berbicara pada janinku.
“Ibu sedang hamil?” tanya Nania serentak dengan Bik Nah.
“Ya Allah, Bu.” Bik Nah tak kuasa menahan tangisnya lagi.
Nania memelukku sambil menangis sesenggukan. “Bapak akan segera sadar, Bu. Dia pasti akan kuat demi buah hatinya, anak yang Bapak impikan selama ini.”
Mendengar kalimat Nania, membuatku terjatuh duduk di lantai sambil menangis sejadinya. Izinkan aku memberikan berita baik ini padamu, Bintang.
Berhari-hari aku menunggu Bintang untuk bisa sadar dari komanya. Aku tidak ingin meninggalkannya agar saat dia sadar akulah orang yang dia lihat pertama kali.
Penantian terpanjang yang pernah aku rasakan, bahkan penantian untuk bisa bertemu dengan pasangan hidupku tidak sama rasanya ketika aku menanti keajaiban satu kali saja dari Allah untukku. Yaitu kesadaran Bintang.
“Sayaang, kamu tidak ingin bangunkah? Aku ingin memberitahumu bahwa di perutku sekarang ada calon bayi kita.” Aku berusaha berbicara pada Bintang, entah dia dengar atau tidak. Aku membelai tangannya yang masih terpasang selang-selang infus.
“Kamu tahu, Sayang, aku mengetahui diriku hamil di hari kamu berjanji akan pulang cepat. Namun ternyata aku mendapatimu di sini terbaring tanpa bisa bicara denganku.”
Aku melihat dari balik pintu kaca ICU Bik Nah melambaikan tangannya seolah memanggilku untuk keluar.
“Ada apa Bik?”
“Ibu dipanggil sama dokter ke ruangannya.”
Aku langsung bergegas ke ruangan dokter setelah aku meminta Bik Nah untuk standby menjaga Bintang.
“Kondisi Bapak semakin membaik walaupun belum sadar, jadi kemungkinan hari ini kami akan pindahkan Bapak ke ruangan perawatan biasa, namun tetap dalam pantauan intensif sampai Bapak bisa sadar kembali. Saya harap Ibu bisa sabar untuk menunggu ya.”
“Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Dok.”
Berita yang tentu saja membuatku bahagia. Aku hanya perlu berdoa yang semakin banyak agar Bintang segera sadar.
__ADS_1
Setiap aku bersembunyi di balik tirai usang
Aku selalu tidak mampu menutupnya dengan sempurna
Mengapa dirimu datang saat aku sudah terkulai tak bernyawa
Aku bisa berjalan tapi tak menapak
Aku bisa tersenyum seperti robot
Aku bisa jadi seperti yang dunia mau
Namun hatiku sudah tidak di tempatnya
Karena hidupku bukan milikku
Sudah hampir satu bulan Bintang belum sadar, seolah dia sedang tertidur, istirahat yang panjang. Kondisi fisiknya memang masih dalam perawatan, luka-luka yang mengenai sekujur tubuhnya juga sudah mulai membaik.
Apa gerangan yang membuatnya belum mau sadar dari tidur panjangnya? Namun aku sudah tahu bahwa dia sebenarnya mendengar setiap ocehanku ketika aku berbicara dengannya.
Menurut dokter kandungan, usia kehamilanku sudah memasuki trimester kedua yaitu empat bulan berjalan. Karena usiaku yang sudah tidak muda lagi, sehingga kehamilanku memiliki risiko, sehingga aku harus bisa ekstra menjaga tubuh dan janinku. Setiap hari aku menjaga Bintang.
Aku juga sudah izin untuk cuti panjang dari kerjaan, perusahaan sangat memahami keadaanku, dan karena memang selama berkerja aku tidak pernah cuti sama sekali sehingga ketika aku minta izin cuti panjang, tidak ada yang keberatan.
Bik Nah juga setia mondar-mandir memenuhi kebutuhanku sehari-hari selama menjaga Bintang. Bersyukurnya aku memiliki orang-orang yang selalu setia membantuku, termasuk anak buah dari Bintang yang memang sudah cekatan untuk mengurus urusan kantor walaupun Bintang tidak terlibat langsung.
Bintang memang pengusaha andal dalam membina timnya untuk keadaan yang genting sekalipun. Setiap hari Nania juga melaporkan keadaan kantor yang berjalan baik-baik saja selama Bintang sakit.
Karena hal itulah, aku akhirnya sedikit tahu mengenai perusahaan Bintang. Dia laki-laki pekerja keras selama ini sehingga ketika dia sakit, dia tidak perlu banyak mengkhawatirkan bisnisnya yang sudah berjalan sesuai yang dia rancang selama ini.
Aku merasakan mual yang luar biasa, baru sadar belum sarapan dan saat ini Bik Nah aku minta untuk tidak datang, karena pagi ini Jingga akan pulang biar ada orang yang menyambutnya di rumah. Jingga sangat menyayangi Bintang sehingga dia rutin setiap minggu mengunjungi Bintang di rumah sakit.
Jingga sudah tahu kalau dia akan segera punya adik, yang sejak lama dia impikan juga walaupun dia akan mendapatkannya saat dia menginjak usia remaja. Dia pernah mengatakan bahwa dia tidak malu memiliki seorang adik bayi ketika dia sudah berseragam abu-abu. Itu lebih baik daripada menjadi anak tunggal yang kesepian.
Aku meminta seoarang perawat untuk menjaga suamiku selama aku sarapan di kantin rumah sakit, biar bagaimanapun aku tidak boleh egois dengan janinku. Aku harus selalu menjaga asupan gizinya setiap saat.
Saat aku tengah santai mengunyah sarapanku, tepat di depan mata, aku melihat sosok yang tidak akan pernah aku lupakan.
“Mas Danial,” ucapku dalam hati.
__ADS_1
Sedang apa dia di sini, di rumah sakit ini dan mengapa aku harus bertemu di tempat yang jarang dikunjungi oleh orang umum yang tidak ada kepentingan sama sekali. Dia juga melihatku, kami sudah tidak bisa lagi menghindar terutama aku yang sedang mengunyah makanan yang belum habis. Tidak mungkin bagiku untuk pergi begitu saja.