
“Tidurlah,” ucap Bintang seolah tahu aku masih terjaga.
“Malam ini kamu bersamaku. Bersamaku yang sangat mencintaimu,” sambungnya. Tak terasa air mataku mengalir lagi. Dia mengusapnya berkali-kali.
Keesokan harinya kami masih bermalas-malasan di atas ranjang. Kami seolah tidak ingin beranjak dari posisi kami.
Sesekali aku tersenyum melihat tingkah lucu Bintang yang memainkan hidung dan bibirku dengan tangannya.
“Kamu tidak pegal memelukku terus?”
“Nggak. Aku senang dengan aroma rambutmu.”
“Hmmm, aku belum keramas sebulan lho.” Aku cekikikan sendiri menggodanya.
“Sebulan gak keramas aja aromanya enak kayak gini, apalagi kalau rajin keramas ya.”
“Hahahah.” Aku tak bisa menahan tawa mendengar candaannya.
“Kamu tidak lapar?” tanyaku padanya.
Dia hanya menggeleng sambil membelai rambutku. “Aku masih ingin melihat wajah cantik istriku pagi ini,” ucapnya.
“Kamu tau gak, setiap kali kamu mengatakan aku cantik tuh rasanya kamu lagi gombalin anak ABG.”
“Iyakah? Apa aku harus menanyakan sama pemilik hotel ini apakah kamu cantik atau tidak?”
“Hahahaha, ada-ada aja.”
“Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, kamu harus mencintai dirimu sendiri sebelum orang lain mencintaimu.”
“Apakah aku terlihat tidak mencintai diriku?”
“Kamu selalu menganggap dirimu sangat hina. Banyak kekurangan dan lain-lain, padahal manusia itu diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna di antara mahluk Allah. Manusia mana yang tidak memiliki kekurangan? Untuk itulah dia diciptakan membutuhkan orang lain agar dia bisa saling menyempurnakan.”
“Iya, iya. Pak suami.”
“Rasanya seperti mimpi ya, sekarang kamu adalah istriku.”
“Apakah kamu tidak menyesalinya?”
“Nah kan mulai lagi, deh.”
“Hehee iya ya deeh. Yuk kita sarapan! Aku laper.”
“Hmm, bolehkah aku memelukmu sebentar saja baru kita sarapan?”
Aku mendekatkan diriku padanya agar dia bisa leluasa untuk memelukku. Aku sangat suka aroma tubuh Bintang. Kami saling memandang seolah baru saja jatuh cinta.
Benarkah aku sudah melupakan perasaanku pada Mas Danial?
“Lana.”
Aku mencari arah suara itu, bukankah itu suara Bintang? Aku masih di kamar mandi saat Bintang memanggil sebuah nama.
“Bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan Lana?” ujarnya tiba-tiba membuka pintu kamar mandi.
“Aih, aku masih belum berpakaian.” Aku sangat terkejut saat Bintang begitu saja membuka pintu kamar mandi.
“Ngapain malu? Lagian udah dilihat semuanya.”
__ADS_1
“Nakal.”
“Boleh ya?”
“Apanya?”
“Lana?”
“Silakan. Lana memang panggilan kecilku sejak dulu. Aku mulai dipanggil Embun saat kuliah.”
“Baiklah kalau begitu, deal!”
Dia mencium aku dengan genit yang masih tidak memakai sehelai kain pun di kamar mandi tanpa bisa aku hindari.
Beginikah rasanya bahagia dicintai? Aku mencubit pipiku, sakit. Aku tidak sedang bermimpi, cinta itu sedang mendatangiku dengan begitu indah dan ini nyata.
“Sayaaang, mau sarapan di kamar atau di resto?”
“Kita ke resto aja. Biar ada suasana beda, aku lihat di belakang resto ada pemandangan yang sangat indah,” jawabku dengan nada yang sedikit aku tinggikan karena masih berdandan di dalam kamar mandi.
“Ok deh.”
Kami tiba di tempat sarapan, tidak terlalu ramai karena tidak banyak orang yang berkunjung ke hotel tempat kami menginap. Hotel ini khusus untuk pasangan yang sedang bulan madu atau sejenisnya.
“Kamu ingin bulan madu ke mana?” tanya Bintang.
“Kan ini sudah.”
“Maksudku bulan madu ke suatu tempat semisal ke luar negri.”
“Terserah kamu. Aku ikut aja.”
“Dari dulu aku pengen banget pergi ke Turki, tapi karena kerjaanku, jadi aku belum sempat ke sana.”
“Kenapa kamu ingin ke sana?”
“Aku sangat mengagumi Muhammad al-Fatih dari dulu. Aku pengen melihat napak tilas dari beliau dan aku pernah bermimpi jika aku punya anak laki-laki, aku akan menamainya seperti beliau.”
“Masya Allah. Kalau nanti kamu sudah longgar kerjaannya kita ke sana ya.”
“Aku juga punya sahabat di sana.”
“Oya aku ingat, teman kuliahmu itu kan?”
“Iya, Mas Kent, dia yang selalu menemaniku saat aku terpuruk.”
“Dengan Mas Danial ya?”
Aku terdiam setelah Bintang menyebut nama itu.
“Aku tidak apa-apa, Sayang. Dia adalah masa lalumu dan aku adalah masa depanmu, jadi itu tidak masalah buatku. Aku hanya ingin kamu bahagia bersamaku. Kamu bebas membicarakan apa pun denganku tanpa merasa terbebani bagaimana perasaanku.”
“Tidak ada yang aku perlukan lagi di dunia karena aku sudah mendapatkan lebih dari yang aku pantas dapatkan.”
“Termasuk aku?”
Aku mengangguk setelah dia mengucapkan pertanyaan yang tidak perlu aku jawab itu.
Sepulang dari bulan madu kami yang pertama, Bintang mengatakan memiliki kejutan untukku. Aku sudah tidak berharap hadiah yang lebih istimewa lagi darinya, namun bukan Bintang namanya jika tidak ingin selalu membuatku menangis bahagia.
__ADS_1
Dia menutup mataku dengan kain agar aku tidak bisa melihat kejutannya. Dia menuntun langkahku ke sebuah tempat yang aku tidak tahu di mana.
Bintang ternyata sudah menyiapkan rumah yang sangat indah untuk kami berdua. Rumah yang tidak jauh dari rumahku. Ah, dia selalu ingin aku nyaman dan bahagia. Ingin sekali aku berkata bahwa dia tidak perlu membeli rumah lagi karena rumahnya saja sudah sangat bagus untuk kami tinggali. Namun, dia berkata ingin memulai semuanya dengan hal baru bersamaku.
Tidak henti-hentinya aku mengucap syukur untuk semua hadiah Allah untuk hidupku.
“Ada satu kejutan lagi jadi siap-siap ya!” Dia membisikkan ke telingaku. Dan betapa terkejutnya aku setelah kami masuk, ada Bik Nah di sana. Tanpa ragu kami berlari saling menyambut dan menangis tanpa henti.
“Ibuk!”
Aku tidak bisa berkata-kata, dari mana Bintang bisa menemukan seseorang yang paling tahu kehidupanku dulu. Saksi hidup yang menemaniku dalam gelapnya perjalananku. Orang yang sangat setia padaku tanpa pamrih. Bik Nah sangat menyayangiku, begitu juga aku sangat menyayanginya. Dia sudah menjadi pengganti mendiang Mama bagiku.
“Bapak yang mencari dan menemukan saya, Buk.” Dia masih menangis sambil memelukku. Apa yang harus aku katakan lagi pada suamiku itu, dia ingin mengembalikan semua kebahagiaanku.
Dari arah depan aku melihat Bintang tersenyum haru melihat kami, aku berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat.
“Terima kasih banyak suamiku,” bisikku padanya dengan haru bahagia.
“Sama-sama, Sayang.” Dia mengecup keningku berkali-kali.
Aku juga melihat Bik Nah sangat bahagia melihatku sudah bahagia dengan suami yang Allah kirimkan dari syurga untukku.
“Kakak Jingga di mana, Buk?”
“Dia di asrama, Bik. Kapan-kapan kita jenguk ya. Dia pasti akan sangat senang ketemu Bibik.”
“Sudah besar pasti ya, Buk.”
“Dan dia sudah semakin cantik, Bik.”
“Pastinya, mamanya juga semakin cantik sekarang.”
Kami menangis lagi seolah kenangan itu kembali terputar lagi seperti sebuah film dalam benak kami berdua. Bagaimana dulu Bik Nah aku paksa untuk pulang ke kampungnya.
“Sekarang aku lapar,” ucap Bintang menengahi kami yang masih nostalgia.
“Saya sudah masak makanan kesukaan Ibuk sebelum Ibuk sampai ke sini.”
“Iyakah?”
Dan kami bertiga menuju meja makan. Rumah yang sangat indah, aku tidak ikut mendesain interiornya, karena aku pikir Bintang lebih pengalaman dibanding aku. Aku melihat setiap inci dari rumah yang sudah disiapkan Bintang untukku.
“Kamu suka interiornya, Sayang?”
“Suka bangeet.”
“Kamu pernah bilang ingin rumah yang homey kan? Aku harap kamu suka dengan hasil akhirnya. Tapi jika ada yang ingin kamu ganti, silakan aja biar tim aku yang kerjakan langsung.”
“Ini sudah sangat indah. Aku yakin Jingga pasti akan sangat senang juga melihat rumah ini.”
“Kamar Jingga juga sudah aku foto dan kirimkan ke dia langsung, jadi dia sudah tahu kamarnya seperti apa.”
“Terima kasih.” Aku memeluknya lagi.
Malam ini adalah malam kesekian kami yang begitu indah. Kami hanya saling memeluk di atas ranjang. Memikirkan apa yang sudah kami alami sampai akhirnya kami menjadi sepasang suami istri.
__ADS_1