Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Kejutan


__ADS_3

Hampir enam bulan kami resmi menjadi suami istri, tidak ada yang berubah dari Bintang bahkan dia pernah berkata semakin mencintaiku, semakin ingin membahagiakanku. Aku belum pernah bisa membalas kalimatnya ketika dia mengucapkan rasa cintanya. Aku tidak ingin berbohong padanya, aku hanya sedang menunggu Allah meyakinkanku atas semua yang masih tersimpan dalam hatiku.


Aku menunggu sampai hatiku sudah murni untuk Bintang. Aku harap aku tidak terlalu terlambat untuk bisa melakukan itu


Hari ini aku tidak dalam keadaan yang baik, badanku rasanya seperti dihantam puluhan orang. Aku juga tidak bersemangat untuk berkerja, Bintang sangat peka akan perubahan moodku.


“Ada apa, Sayang?”


“Entahlah .. hari ini sepertinya aku ingin di rumah saja.”


“Kamu sakit?”


“Gak kok, hanya terasa pegal-pegal di sekujur badanku.”


“Kamu mau aku pijat?”


“Aih, ntar kamu telat ke kantor. Aku gapapa kok mungkin karena kecapekan aja karena kemarin tuh kerjaanku banyak banget.”


“Yaudah kamu istirahat aja di rumah, aku akan pulang cepat hari ini biar aku bisa temani.”


Dia mencium keningku yang masih terbaring di ranjang. Aku ingin beranjak untuk mengantarnya sampai depan. Namun, dia mencegahku.


Aku melihat punggung laki-laki yang sangat mencintaiku itu. Namun kenapa hatiku terasa sedih? .


“Sayaaang …,” panggilku. Entah dari mana aku memilki kekuatan untuk memanggilnya dengan sebutan sayang. Panggilan yang tidak pernah aku ucapkan walaupun sudah hampir satu tahun kami menikah.


“Apaaa? Coba ulangi lagi, Sayang,” ucap Bintang dengan spontan membalikkan badannya. Aku menggelengkan kepala tidak menyanggupinya. Ada rasa malu jika itu diulangi lagi..


“Ayo sekali lagi, please!” Dia benar-benar memohon tapi aku begitu keras kepala untuk menyanggupinya.


“Aku sedih lihat punggungmu.” Aku merajuk seperti anak kecil.


Dasar Bintang ada-ada aja caranya membuatku tertawa, dia berjalan mundur menuju pintu keluar kamar kami.


“Hahahaaa ….”


Allah Maha Baik memberikan hidupku laki-laki langit itu. Dia seolah dikirim dari syurga untuk hidupku yang tidak selalu indah. Jika saja aku tidak melewati masa-masa yang dulu, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Bintang. Oh … untuk pertama kalinya aku bersyukur hidupku pernah begitu kelam untuk bisa sampai ke pelukan Bintang. Suamiku yang luar biasa itu. Dia tidak pernah mengeluh apa pun tentangku, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak dia sukai dari diriku.

__ADS_1


Pikiran Bintang hanya bagaimana cara aku bisa bahagia, dia hanya ingin menunjukkan padaku bahagianya dicintai. Bahwa hidup itu indah bahkan dengan segala dukanya. Dia selalu mengibaratkan hidup itu seperti pelangi. Karena pelangi indah karena dia berwarna warni, pelangi itu indah karena dia muncul setelah hujan menyirami bumi.


Jika hidup tentang suka saja, maka itu tidak indah. Kita akan sangat menghargai kebahagiaan ketika kita pernah mengalami kemalangan atau kesedihan. Kita akan mampu melihat terangnya cahaya sekecil apa pun jika kita berada di tempat gelap. Bayangkan jika kita selalu berada di tempat yang terang terus, maka cahaya bintang tidak akan terlihat indah. Bahkan cahaya bulan saja tidak pernah kita anggap ada.


Kalimat-kalimat indah itu selalu Bintang ucapkan ketika kami sedang berduaan. Terimakasih ya Allah atas semua kehidupan yang telah Kau desain untukku.


“Ibuk mau dimasakin apa?” tanya Bik Nah ketika masuk ke kamarku.


“Lagi malas makan Bik. Entah kenapa badanku rasanya remuk gitu.”


“Hmm, Ibuk terakhir haid kapan?”


“Maksud Bik Nah apaan?” Sambil mengingat-ingat kapan terakhir aku datang bulan.


“Coba deh Ibuk cek tanggalan..”


Mana mungkin aku hamil sedangkan usiaku sudah 43 tahun. Rasanya tidak masuk akal, namun aku merasa bulan ini aku belum haid sama sekali. Sempat aku berpikir aku telat datang bulan karena kecapekan saja. Dulu juga pernah seperti itu.


Perkataan Bik Nah tidak bisa aku hilangkan dari pikiranku. Aku akhirnya meminta Bik Nah membeli tes kehamilan di apotek. Sekedar memastikan saja tanpa berharap apa-apa.


Aku masih ingat warna senja yang berwarna jingga, setiap kali aku mengingat saat-saat di mana aku selalu menantinya dalam kesendirianku. Renunganku akan seperti apa bahagia itu? Tidak ada jawaban selain alam memberikan banyak contoh dari pergantian musim dan sejenisnya.


“Apakah aku sedang dalam mimpi panjang, ya Allah? Aku tidak ingin bangun jika memang begini rasanya bahagia itu.”


Aku terpaku dan tak bisa menggerakkan badanku. Ada janin di dalam kandunganku saat ini? Saat usiaku sudah tidak muda lagi? Hadiah indah apa lagi yang ingin Kau berikan untukku, Ya Allah? Pantaskah diri ini begitu banyak Kau berikan anugerah sebesar ini?


“Bintang, ya Allah. Apakah ini hadiah untuk lelaki luar biasa itu?” ucapku dengan bibir bergetar.


Rencananya aku tidak ingin memberitahu Bintang terlebih dahulu sebelum aku memastikannya ke dokter kandungan.


Aku melihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul enam sore. Mengapa Bintang belum pulang sampai jam segini padahal dia berjanji untuk pulang lebih cepat. Tidak biasanya dia melakukan sesuatu yang bertolak belakang dari prinsipnya. Dia juga tidak mengabarkan apapun padaku.


Rasanya tidak bijak kalau aku menelponnya terlebih dahulu untuk bertanya kenapa dia belum pulang. Aku tidak ingin bersikap manja dan kekanakan.


Hatiku tidak tenang, malam semakin larut, namun Bintang belum mengabarkanku keberadaannya. Aku memaksakan diriku untuk menelponnya. Berdering namun tidak diangkat. Aku coba berkali-kali, nihil. Aku panik, ada apa dengan Bintang? Aku mencoba menelpon Nania sekretarisnya.


“Loh bapak dah pulang sebelum jam empat sore tadi kok, Bu,” jawab Nania.

__ADS_1


“Kamu yakin?”


“Iya, Bu. Bapak bilang Ibu lagi kurang sehat jadi semua kerjaan sore itu dipending besok.”


“Ya Allah. Coba kamu tanya yang lain siapa tahu Bapak ada keperluan mendadak.”


“Tapi Bapak tidak pernah begitu, Bu. Beliau selalu mengabarkan saya walaupun mendadak.”


“Yauda Nia. Tolong cek semua anak-anak kantor ya untuk mencari keberadaan Bapak.”


“Baik, Bu.”


Pikiranku kacau, apa yang sedang Bintang lakukan sehingga dia seperti ini? apakah aku harus lapor polisi?


“Bu.” Nania menelpon.


“Bagaimana?”


“Handphone Bapak ketinggalan di kantor, tadi satpam kantor cek ke ruangan Bapak dan menemukannya.”


“Ya Allah. Coba cek semua rumah sakit ya.”


Aku terpaksa meminta Nania melakukan pengecekan ke semua rumah sakit. Walaupun aku berdoa semoga Bintang tidak ditemukan di sana.


Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku harus bertindak dan menelpon polisi.


“Hallo, ada yang bisa dibantu?”


“Maaf, Pak, apakah dalam jangka waktu pukul empat sore sampai saat ini ada laporan tentang kecelakaan lalu lintas?” Ini adalah kantor polisi yang entah keberapa yang sudah aku hubungi.


“Oh iya ada, Bu. Sekitar jam lima sore tadi ada kecelakaan mobil  SUV yang dikendarai seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun. Kami sudah menghubungi alamat yang tertera di identitas korban namun tidak ada yang tersambung.”


Dengan jantung berdebar-debar aku menanyakan nama korban kecelakaan tersebut.


“Siapa nama korbannya, Pak?”


“Bintang Laksmana Bumi.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2