
Kesendirian membuatku menganggap semua kebahagiaan tidak berpihak padaku.
Sampai akhirnya Bintang mengajarkanku cara untuk bahagia. Kini laki-laki itu sedang terbaring tanpa suara.
“Sayang, aku kangen. Apakah kamu tidak kangen sama aku? Bangunlah, bangunlah.”
Aku menangis sejadinya karena tidak kuasa menahan rindu, aku tidak suka dengan kebisuan Bintang yang sangat lama.
Kepalaku terasa ada yang menyentuhnya dengan pelan. Aku mengangkat kepalaku dan keajaiban itu terjadi. Bintang akhirnya membuka mata, dia tersadar dari tidur panjangnya.
Aku menangis semakin kencang dan memeluknya. Akhirnya suamiku sudah kembali.
Masih terbata-terbata Bintang berbicara, namun aku tidak terlalu mempermasalahkan karena dengan dia sadar saja sudah memberiku harapan besar bahwa dia akan pulih sebentar lagi.
Aku membelai rambutnya yang sudah mulai memanjang. Rambutnya yang masih hitam semua tanpa sehelai uban pun yang menyelinap di antaranya.
Berulang-ulang aku mencium kening, pipi dan bibirnya. Aku ingin dia merasakan rasa rinduku padanya. Sesekali dia melihatku dengan tatapan yang sendu walaupun tanpa bisa berbicara dengan lancar.
“Sayang ... aku kangen rumah, kangen dipeluk kamu. Cepet sehat ya biar kita segera pulang. Aku bosan di sini.”
Bintang hanya mengedipkan matanya beberapa kali seolah menyetujui omonganku. Bibirnya berusaha dia gerakkan agar bisa menjawab kata-kataku, tapi aku melarangnya. Aku tidak ingin dia terlalu memaksakannya.
“Bapak belum terlalu lancar berbicara karena ada benturan keras di kepalanya saat kecelakaan terjadi, namun Ibu tidak perlu khawatir karena tidak akan membuat masalah yang terlalu besar. Hanya dengan terapi, perlahan-lahan bicara Bapak akan seperti sedia kala lagi. Kondisi Bapak masih harus dipantau karena pendarahannya masih ada.”
“Iya, Dok. Dengan suami saya sadar saja sudah membuat saya sangat bersyukur, saya yakin dia akan segera pulih.”
“Iya, Bu. Kita akan pantau Bapak dengan Intensif selama 24 jam. Ibu harus banyak berdoa dan bersabar.”
“Bismillah, Dok.”
Aku kembali ke ruangan tempat Bintang dirawat, namun ada pemandangan yang aneh. Aku melihat ada Mas Danial di sana seolah tengah berbicara dengan Bintang. Aku urungkan niatku untuk masuk langsung. Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukan Mas Danial di ruangan Bintang selama aku pergi konsultasi dengan dokter.
Cukup lama mereka berdua di dalam ruangan. Sesekali aku mengintip dari balik kaca pintu. Aku akhirnya membiarkan mereka berdua dan menuju ke kantin. Pikiranku meraba-raba apa yang sedang terjadi dengan mereka.
Selang satu jam kemudian aku kembali untuk melihat mereka dan benar saja Mas Danial masih ada di sana. Aku tidak ingin bergabung dengan mereka karena pasti akan sangat canggung sekali.
Aku kembali ke kantin lagi untuk menunggu mereka selesai berbicara. Kali ini sengaja melama-lamakan diri agar saat aku kembali ke sana, mereka sudah selesai berbicara. Bintang belum lancar berbicara mungkin itu sebabnya butuh waktu yang lebih lama untuk mereka berkomunikasi.
Saat aku kembali Mas Danial sudah tidak ada, berarti mereka sudah selesai. Aku pun tidak memberitahu Bintang jika aku melihat mereka berdua berbicara lama. Aku ingin Bintang sendiri yang memberitahuku saatnya tiba nanti.
Aku mencium kembali keningnya. Lalu dia terbangun
__ADS_1
“Ssa ... yy ... aang ...,” ucapnya dengan terbata-bata.
“Iya, Sayang ... mau apa?”
Dia menggelengkan kepalanya.
“Aa ... kkuuu ... mmaa ... uuu … pee ... luu ... k.”
Tanpa basa-basi lagi aku memeluknya dengan erat. Aku merasakan pipi basah tapi itu bukan air mataku. Apakah air mata itu berasal dari Bintang?
Benar saja Bintang sedang menangis.
“Kenapa Sayang menangis? Yang sakit yang mana?” tanyaku, namun dia hanya menggelengkan kepalanya.
Aku mengusap air matanya yang semakin deras mengalir. Aku tidak pernah melihat Bintang menangis, apa yang sudah mereka bicarakan sehingga Bintang menjadi sangat emosional begitu? Apa aku harus menanyakan langsung ke Bintang atau pada Mas Danial? Dua-duanya tidak mungkin aku lakukan karena pasti mereka tahu jika aku melihat mereka berbicara tadi. Dilema.
“Ada apa, Sayang? Apa yang sudah terjadi? Jangan nangis gitu, ah. Nanti aku ikutan nangis, lho.”
Setelah mendengarku berkata begitu, Bintang langsung berusaha untuk menghentikan tangisannya. Tangannya berusaha menggapaiku, lalu aku menyambut dengan sigap. Aku menempelkannya di pipiku seraya mencium punggung tangannya.
“Ma … aff ... kaan ... aak ... kuu.”
Suara derap langkah kaki begitu banyak orang membuatku terbangun. Aku melihat sudah banyak perawat dan dokter sedang melakukan pijat jantung untuk Bintang.
“Ada apa, Suster? Ada apa dengan suamiku?” Aku begitu panik melihat suasana yang mencekam itu.
Berkali-kali dokter melakukan CPR, namun aku belum melihat ada tanda-tanda baik pada Bintang. Aku tidak tahan melihat kondisi itu, aku seolah tidak menginjak bumi. Aku melayang, pikiran tidak menyatu dengan tubuhku.
“Kamu bisa, Bintang. Kamu jangan jahat sama anakmu!” Aku berkata dalam hati berharap Bintang mendengarku.
“Waktu kematian hari kamis tanggal 30 Nopember tahun 2022 pukul 21: 47 WIB.”
Gelap.
Aku tidak ingin memakai pakaian hitam karena aku tidak terlalu suka. Jingga mulai membersihkan kakiku dan memakaikan baju yang lebih hangat.
“Mama masih kedinginan, ya? Jingga pakaikan yang lebih hangat.”
“Ini sudah cukup, Sayang.”
“Jingga siapkan makanan dulu biar mama makan baru kita berangkat ya.”
__ADS_1
“Mama tidak lapar, Nak.”
“Mama harus makan biar adek bayi gak ikut kelaparan.”
Aku memegang perutku yang sudah terlihat membesar, sebentar lagi usia kandunganku menuju enam bulan, akhir trimester kedua.
Dengan sedikit paksaan, makanan yang disiapkan oleh anak gadisku itu aku kunyah. Cukup untuk memberi asupan gizi buah hatiku yang belum lahir ini.
Aku mendongak sedikit untuk melihat jam didinding.”Sebentar lagi kita mau antar Papa, Nak.”
Aku menuju luar rumah yang sudah banyak berdatangan tamu dan keluarga. Aku juga melihat semua anak buah Bintang.
“Banyak sekali yang menyayangimu, Sayang,” gumamku.
Aku berjalan sambil dipapah Jingga dan Bik Nah. Aku memperhatikan mereka yang berusaha sekuat tenaga menahan air matanya. Mungkin agar aku tidak ikut terpengaruh.
“Tidak, Bintang. Aku akan mengantarmu bukan dengan air mataku tapi dengan cintaku.”
Bunyi sirene ambulans yang menyala sangat memekakkan telingaku. Aku mencoba menutup telingaku, namun tidak cukup untuk mengecilkan suaranya.
“Sayang, jangan khawatirkan kami bertiga. Aku berjanji akan hidup bahagia seperti yang kamu cita-citakan untukku. Tidak akan pernah aku lupa hal itu. Cukup bagimu di sana untuk menunggu kami, anak-anak akan aku ajarkan tentang bagaimana cara mencintai seperti caramu mencintai mamanya. Tenanglah di sana, Sayang. Sekarang giliranku untuk mencintaimu seperti kamu mencintaiku sampai akhirnya kita bertemu lagi. Aku mencintaimu, aku mencintaimu sayangku. Suamiku.”
Aku mencium kening jenazah suamiku itu, laki-laki yang tidak akan pernah aku tukar dengan seisi dunia ini.
“Selamat jalan, Sayang.”
__ADS_1