
Acara pemakaman Bintang penuh dengan khidmat. Aku melihat batu nisan yang bertuliskan namanya. Semua yang mencintainya tidak kuasa menahan air matanya kecuali aku. Aku juga tidak tahu mengapa air mataku tidak jatuh sama sekali. Dalam pikiranku, jika aku menangis seperti mereka, maka Bintang akan sangat sedih melihatku. Aku tidak ingin dia melihatku seperti itu, dia selalu menginginkan aku untuk selalu tersenyum dan bahagia.
Jingga hanya bisa memelukku sambil menangis dan memanggil papanya.
“Papa,” ucapnya dengan isak tangis. Bik Nah juga tidak bisa menahan air matanya sejak keluar rumah.
Sebagian besar orang-orang sudah pergi meninggalkan tempat pemakaman setelah acara selesai. Tinggal kami berempat termasuk Nania yang masih ingin lebih lama. Aku membelai nisan yang bertuliskan nama Bintang sembari berkali-kali menciumnya.
Bintang adalah yatim piatu, dia juga anak tunggal. Hidupnya dari dulu selalu sendirian, namun di sampingnya begitu banyak yang menyayangi, terlihat dengan banyaknya yang datang mengantarkan ke peristirahatan terakhir. Dia sangat tahu bahwa hidupnya tidak memiliki keluarga, sehingga dia membangun keluarganya sendiri bersama orang-orang yang dia bantu secara ekonomi dan lain sebagainya.
“Mama menangislah. Jangan ditahan,” ucap Jingga
“Nanti Papa sedih, Nak! kalau Mama menangis di depannya.”
“Jingga khawatir Mama sakit. Kasian adek bayi, Ma!”
“Mama gapapa, Sayang. Aek bayi juga sangat kuat kok.”
“Sekarang kita harus bagaimana tanpa Papa, Ma?”
“Papa akan selalu bersama kita, Nak. Ada Allah yang jagain kita juga.”
“Jingga udah rindu ama Papa, Ma.”
“Iya, Nak. Kalau Jingga rindu, doakan Papa. Maka Papa akan tahu kalau Jingga rindu.”
“Papa belum sempat lihat adek bayi ya, Ma.”
__ADS_1
“Yuk kita pulang, Nak. Besok kita ke sini lagi jenguk Papa.”
Kami pun kembali ke rumah untuk mengurus acara tahlilan nanti malam. Pasti akan banyak sekali yang datang. Sebelum naik mobil aku sempat melihat bayangan Mas Danial yang juga berjalan menuju mobilnya. Rupanya dia mengikuti acara pemakaman Bintang. Aku sudah tidak heran lagi bagaimana Mas Danial selalu terlibat dengan Bintang. Aku sudah tidak ingin tahu lagi karena itu bukan hal penting buatku.
Acara tahlilan berlangsung lancar. Air mata dari semua teman-teman dan karyawan Bintang masih mengalir ketika mereka membacakan doa-doa terbaik untuknya. Aku percaya Allah akan menyampaikan rasa kehilangan mereka pada Bintang.
“Lihatlah, Sayang. Banyak sekali yang menyayangimu dan banyak sekali yang akan menemaniku,” gumamku.
Waktu memang terasa begitu lama jika kehilangan orang yang kita sayangi. Melihat baju-baju Bintang yang tertata rapi sering aku ciumi. Wangi tubuhnya masih ada di kamar kami. Tak dipungkiri aku selalu merindukan pelukan hangatnya di kamar, tempat kami sering bercanda dan bercumbu.
Sebentar lagi aku akan melahirkan, badanku sudah terasa berat untuk berjalan. Hasil USG menunjukkan bahwa anak kami berjenis kelamin laki-laki. Persis yang Bintang dan aku imipikan. Aku berharap wajah dan sifatnya mirip Bintang.
Pemeriksaan terakhir sebelum aku masuk minggu persalinanku. Aku diantar Nania ke dokter kandungan dan di sana aku bertemu lagi dengan Mas Danial. Sepertinya untuk pertemuan kali ini dia sudah rencanakan sehingga tanpa canggung dia menghampiriku setelah aku keluar dari ruang pemerikasaan menuju parkiran.
“Dek, aku bisa minta waktumu sebentar?”
“Iya aku tahu, Dek. Sebenarnya aku juga tidak nyaman seperti ini, tapi aku harus menyampaikan pesan terakhir dari suamimu.”
Pesan terakhir Bintang? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa malah Bintang menitipkan pesannya pada Mas Danial bukan langsung bicara padaku. Apakah saat mereka bertemu hari itu?
Akhirnya aku mau untuk bertemu di kantin rumah sakit. Aku meminta Nania menemaniku walaupun dia duduk di meja yang berbeda agar kami nyaman berbicara tanpa canggung ada orang lain yang mendengar pesan terakhir Bintang padaku.
Mas Danial memberikanku sebuah surat.
“Bintang memintaku menulisnya namun semua yang ada di sana adalah kata-katanya tanpa aku kurangi atau lebihkan.”
__ADS_1
Dear istriku yang paling cantik di di dunia. Wanita yang paling aku cintai setelah ibuku.
Maafkan aku yang meminta Mas Danial mewakiliku menulis surat ini, jangan berpikir macam-macam ya. Mas Danial tidak bersalah karena akulah yang meminta dia menolongku menyampaikan ini padamu.
Sayang.
Mas Danial yang menolong dan membawaku ke rumah sakit ketika semua orang tidak ada yang berani menolongku saat kecelakaan itu. Entah Allah yang mengatur semuanya sehingga saat itu dialah yang menemukanku tergeletak di jalanan bersimbah darah. Dia sengaja berbohong kalau istrinya sakit di sini padahal dia hanya ingin tahu keadaanku setiap hari tanpa membuatmu tidak nyaman.
Sekarang aku tahu kenapa kamu tidak bisa melupakan Mas Danial dan mengapa kamu sangat mencintainya selama ini. Dia laki-laki yang sangat baik. Dia memang layak kamu cintai bahkan tidak bisa aku kalahkan.
Sayang, aku sangat tahu aku tidak akan lama lagi di dunia ini. Aku sangat tahu keadaanku yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Jika terjadi sesuatu padaku jangan terlalu lama menangis, jangan terlalu lama sendiri terlebih hanya sekedar menungguku. Jangan, Sayang. Menikahlah dengan laki-laki yang kamu cintai. Menikahlah dengan Mas Danial, laki-laki yang tidak akan pernah hilang dari hatimu. Aku ikhlas, Sayang. Kamu sangat tahu bahwa kebahagiaanmu adalah yang paling utama dalam hidupku.
Aku juga sudah diberitahu Mas Danial bahwa kamu tengah mengandung anak kita. Tidak ada yang paling membahagiakan dalam hidupku selain Allah menghadiahkan istri yang bisa memberikanku seorang keturunan.
Aku sangat bahagia, Sayang. Terima kasih banyak untuk hadiah itu. Jika dia laki-laki berilah dia nama seperti yang kamu impikan “Muhammad Alfatih Laksmana Bumi” dan jika dia perempuan namailah dia “Pelangi” agar dia seindah pelangi.
Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu lama. Tapi aku juga tidak ingin kamu berlarut dalam kesedihan, berbahagialah bersama Mas Danial. Dia juga masih mencintaimu terbukti dia selalu diam-diam memperhatikan perkembangan hidupmu bahkan ketika kita menikah dia juga ikut bahagia. Maafkan aku yang tidak menceritakan padamu bahwa dia mengirimkan karangan bunga untuk kita dan dialah yang memberi hadiah hotel tempat kita berbulan madu. Dia pernah bilang padaku bahwa kamu adalah wanita yang tidak sempat dia bahagiakan maka berikanlah dia kebahagiaan yang memang selayaknya dia dapatkan dari laki-laki yang mencintainya.
Sayang, tidak ada yang paling aku inginkan selain kebahagiaanmu. Aku sangat mencintaimu. Aku titip anak kita. Cintai dia sebesar cinta yang kamu miliki untukku. Salam cinta dan rinduku untuk anak gadisku Jingga. Ah, mengingat dia membuatku menangis. Bilang sama dia “titip jagain kekasih papa dengan baik ya”.
Sayang ….
Jangan lupa bahagia ya.
Dari suamimu.
Bintang
__ADS_1