Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Perasaan yang Berkembang


__ADS_3

Dengan kemampuan tingkat tinggi untuk mendeteksi kebohongan, tak ada dusta, betapapun halus dan tersembunyinya, yang bisa lolos dari pengawasan hati. Bagaimanapun, pada level berbeda-beda, setiap orang memakai topeng. Begitulah yang aku yakini.


Aku sudah mulai sering berbohong tentang perasaanku pada Mas Danial. Terperangkap di tengah gelombang rahasia yang sudah terbiasa aku hadirkan padanya agar aku tidak perlu repot lagi merengek untuk sesuatu yang bukan untukku.


Hubungan kami sudah tidak aku rasakan lagi ada getarannya, inikah yang dinamakan semua tidak ada yang akan pernah sama selain perubahan itu sendiri. Bahkan cinta Mas Danial semakin mengikis oleh waktu.


Di jalan itu, ada sebuah mobil yang berhenti dengan aneh. Seolah sang pengemudi sedang kebingungan mau menuju arah mana? Apakah mau belok atau memutar balik. Aku sebenarnya tidak terlalu memedulikannya, tapi dikarenakan dari arah depan, sebuah mobil yang sedang melaju dengan kencang tanpa menghiraukan ada mobil yang sedang berhenti di depannya.


“Hey!” teriakku.


“Mobilmu kenapa?” Dengan setengah berteriak, aku membuka jendela mobil untuk bertanya pada sang pengemudi.


“Aku juga tidak tahu,” jawab sang pengemudi yang ternyata seorang laki-laki.


“Tuh di depan ada mobil yang bakalan siap nerjang kamu.”


Dengan sigap dia mencoba memaksakan sesuatu di bagian penting mobilnya dan akhirnya bisa menyala lagi. Dia menepi dan keluar dari mobil. Aku masih menunggunya ,karena ingin tahu apa dia membutuhkan bantuanku.


“Makasih ya,” ucapnya setelah menghampiriku.


“Ada yang bisa aku bantu?”


“Bensinnya ternyata sudah habis, aku gak cek tadi saking buru-buru asal pakai aja. Aku sudah minta orang kantor untuk jemput aku kok.”


“Hmmm ... mobil mewah gitu bisa juga kehabisan bensin yah?” batinku.


“Ok, deh aku lanjut dulu ya kalau memang sudah tidak perlu bantuanku lagi.”


Dia kemudian menyodorkan sebuah kartu nama padaku lalu kembali menuju mobilnya. Aku melirik kartu nama tersebut “Bintang Laksmana Bumi”.


Aku menaruh kartu nama itu di laci mobil lalu kembali melajukan setir lagi. Hari yang aneh.


Graffiti berwarna ceria menghiasi setiap bidang dinding kafe ini. Namun, semua menjadi suram apabila disandingkan dengan aura kelam yang menyorot dari batinku hari ini. Aku sedang tidak bersemangat, kerjaanku tidak ada yang rampung. Aku ingin berdiam saja di sini.


“Tidak ada yang menarik dari menu ini. Hhhhhhh.” Aku mendesah setelah membaca semua list menu makanan kafe yang katanya terkenal di kota ini.


“Memang tidak ada seblak di sini, Mbak.” Suara yang begitu tidak asing dalam hidupku itu menghampiri telingaku. Aku sibuk mencari asal suara itu.


“Mas Kent!”


Aku kegirangan setelah melihat siapa yang punya suara itu. Dia adalah sahabat terbaikku, sahabat yang selalu menemani saat aku kuliah dulu. Bisa dibilang dialah yang paling tahu aku seperti apa. Usianya di bawahku dua tahun, namun dia terlalu bijaksana dan dewasa, sehingga aku  menghormatinya dengan sebutan “Mas” di depan namanya.

__ADS_1


Dengan senyuman yang begitu khas dia menghampiri mejaku. Rupanya dialah pemilik kafe ini.


“Apa kabar mbakku yang paling bawel sedunia?” ejeknya dengan sapaan hangat.


“Aihhh … aku gak bawel kali!”


“Iya, ya, deh.”


“Dari mana aja, Mas? Kok lama menghilang dari peredaran?”


“Aku berbakti ama ibuku, Mbak. Beliau sedang membutuhkan anak di sampingnya jadi aku tinggal di sana beberapa tahun.”


Mas Kent memang ada keturunan Turki, ibunya asli orang sana yang menikah dengan seorang laki-laki dari Indonesia. Singkat cerita Mas Kent adalah anak blasteran Turki-Indo.


Sempat dulu teman-teman kuliah menganggap kami sedang pacaran saking dekatnya. Namun, yang mengherankan tidak ada di antara kami berdua yang pernah merasakan saling ketertarikan seperti lawan jenis lainnya. Kami berdua dari awal memang hanya bersahabat. Saat Mas Kent menyukai seorang wanita pun, akulah yang paling pertama yang tahu.


“Kamu bagaimana, Mbak?”


“Panjang ceritanya, Mas. Suatu hari nanti aku akan ceritakan satu per satu. Yang jelas saat ini aku sudah sendiri lagi.”


Mas Kent adalah sahabat yang membantu semua acara dalam pernikahanku dengan ayahnya Jingga. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi dalam hidupku, aku tidak menyalahkannya karena dia sedang berada di Turki.


“Ada yang bikin harimu tidak menyenangkankah kok sampai auranya terdampak sampai ke arah ruanganku.” Mas Kent menunjuk ruangannya yang tidak jauh dari meja kasir.


“Ini mau dijawab yang mana dulu?”


“Hehehe.”


“Kafe ini dah tiga tahun aku miliki, sebenarnya kafe ini sudah hampir bangkrut pas aku beli, jadi dapatnya lumayan murah. Nah, karena di Turki aku punya kafe juga, jadi ya aku ubah aja konsepnya sama dengan yang di sana. Alhamdulillah dua tahun ini aku sudah balik modal.”


“Keren. Salut!”


“Ah gak keren-keren amat dibandingkan Mbak Embun yang sukses jadi wanita karir.”


“Jiaah, yang keren tuh yang gak jadi karyawan siapa-siapa alias jadi boss sendiri. Nah aku tetap aja jadi kuli orang.”


“Semua itu harus disyukuri, Mbak. Semua punya perannya sendiri-sendiri, kalau semua jadi boss lalu siapa yang bakalan ngerjain?”


“Iya ya deehh. Susah ngomong ama orang tua.”


“Hahahahahaa .…” Kami tertawa penuh kerinduan.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu kami mengobrol ke sana kemari tentang masa lalu saat memiliki kenangan semasa kuliah, akhirnya Mas Kent sampai pada pertanyaan tentang seseorang yang membuatku tidak bersemangat hari ini.


Aku menceritakan tentang hubunganku bersama Mas Danial. Awalnya aku ragu bahkan malu untuk menceritakannya, tapi aku tahu Mas Kent bukan orang yang mudah menghakimi orang dari satu sudut pandang.


Dia sangat bijaksana sama seperti dahulu aku mengenalnya. Dia cukup lama terdiam tanpa merespons ceritaku, mungkin dia ingin mencoba mengatur kata-kata yang lebih tepat agar aku tidak semakin terpuruk.


“Merasa bersalah boleh-boleh saja asal porsinya tidak berlebihan, sekadar untuk kehati-hatian dalam bersikap dan bertutur. Yang tidak boleh adalah terlalu menyalahkan diri sendiri karena masalah hati itu tidak ada hakimnya, Mbak! Yang ada hanya penerimaan, lalu mencari cara agar kita tidak salah langkah.”


“Lalu aku harus bagaimana, Mas?”


“Serahkan sama Allah, karena yang mempertemukan Allah maka biarkan Allah yang memisahkan dengan cara-Nya!”


“Berarti aku harus menjalani hubungan ini terus?”


“Hadapi dan lihat nanti hasilnya seperti apa.”


Aku belum mampu menangkap saran dari Mas Kent.


“Akan datang petunjuk Allah bagaimana Mbak akan bersikap kok, tenang aja.”


“Baiklah, Mas.”


Aku sangat yakin Mas Kent ikut merasakan kegundahanku, namun dia masih berhati-hati untuk mencerna masalah yang tentu memang tidak bisa dibilang mudah. Posisiku menjadi wanita kedua adalah posisi yang tidak akan pernah dianggap benar oleh siapa pun.


“Istrinya sebenarnya sudah tahu, namun sepertinya Mas Danial belum tahu tentang itu sehingga sampai sekarang dia tidak pernah membahas itu. Entahlah.”


“Apakah Mbak ingin menjadi istrinya?” Pertanyaan Mas Kent membuat hatiku terhenyak. Aku terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Mas Kent yang begitu tiba-tiba.


“Jika aku bilang tidak ingin, pasti aku bohong, aku bahkan pernah ingin memiliki dia seseutuhnya. Namun keinginan itu dikarenakan cintaku semakin berkembang padanya. Perasaan itu tidak berlangsung lama setelah aku merasa bahwa Mas Danial tidak terlalu menginginkanku.”


“Berarti jika dia meminta menjadi istrinya, apakah Mbak mau?”


“Entahlah Mas, yang jelas sampai detik ini perasaan itu sudah aku buang jauh-jauh. Itu hanyalah akan menjadi impian terindahku.”


“Hmmmm ….” Mas Kent bergumam tanpa merespons kembali jawabanku.


“Aku sangat tahu bahwa hubungan kami sepertinya tidak jelas, namun aku meyakini perasaanku ini suatu saat akan membawaku pada sebuah jawaban lain. Aku tidak tahu apa itu.”


“Aku juga percaya bahwa Mbak pasti bisa mendapatkan hikmah terbaik dari kejadian ini.”


“Iya, Mas. Tidak ada yang lebih indah ketika aku mengetahui bahwa aku masih bertahan sampai detik ini. Aku masih hidup dan aku baik-baik saja.”

__ADS_1


Hari itu pertemuan kami berakhir dengan membuat janji, jika ada kesempatan lagi Mas Kent akan selalu menemani hari-hari terburukku dengan Mas Danial.


Bahkan dia berkata siap menjadi pundak untukku. Yang membuatku sedih adalah Mas Kent tidak akan lama di Indonesia, dia bisa saja berangkat ke Turki secara tiba-tiba tanpa rencana karena ibunya memang sudah berusia lanjut membutuhkan perhatian khusus anaknya.


__ADS_2