Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Satu Warna Pelangi


__ADS_3

Apakah benar selama ini aku buta ketika melihat dunia yang tidak pernah berwarna bagiku? Bintang belum aku ceritakan bagaimana aku memiliki warna yang sangat banyak dalam hidupku. Hanya saja saat ini aku lebih ingin menyimpannya saja sampai saatnya tepat aku bicarakan dengannya.


“Pernahkah kamu berpikir bahwa seseorang yang terlihat tidak menikmati hidup sebenarnya bukan karena dia tidak tahu cara menikmatinya tapi karena dia tahu bahwa hidup bukan sekedar untuk dinikmati tapi perjuangan untuk bertahan agar tetap hidup?”


“Itu bagi orang yang merasa hidupnya tidak adil.”


“Bisa jadi. Tapi bukankah orang itu tidak bisa dinilai kebahagiaannya hanya karena dia mencoba menjalani hidupnya dengan caranya sendiri?”


“Maksudmu ingin mengatakan bahwa kamu saat ini sudah bahagia?”


“Hmmmm .…”


“Lalu apa arti air matamu yang tak berhenti malam itu?”


Aku terdiam mendengar penuturan Bintang, aku tidak tahu harus menjawab apa atas kejadian malam itu.


“Aku senang ngobrol denganmu, Bintang tapi aku harus kembali kekantor.” Aku melihat jam di tanganku, sudah saatnya kembali pada kerjaanku.


“Baiklah, selamat berkerja. Aku masih ingin di sini dulu menghabiskan minumanku,” jawab Bintang yang aku iyakan.


“Aku selalu melihat punggungmu meninggalkan aku, Embun.” Pesan singkat yang aku terima dari Bintang, selang beberapa detik ketika aku meninggalkannya masih duduk di kantin yang membuatku menghentikan langkahku.


Aku sangat ingat betapa aku sangat membenci punggung Mas Danial ketika meninggalkanku setiap kali kami berpisah. Aku sangat sedih dan sangat tahu rasanya seperti apa, dan kini Bintang mengatakan hal yang sama seperti aku dulu.


Aku membalikkan badanku untuk melihat Bintang yang masih di sana sedang melihatku. Aku berusaha untuk tersenyum seraya membalas pesannya.


“Aku tunggu besok di kantin ini dan di tempat yang sama kita duduk tadi ya?”


Kemudian aku melihat ke arah Bintang karena ingin melihat reaksinya membaca balasanku. Dia mengangguk dengan senyumannya yang menawan.


Malam ini aku tidak bisa memejamkan mataku, apa aku terkesan memberi harapan pada Bintang dengan balasanku tadi siang? Ah, entahlah.


Lalu kenapa aku punya keberanian seperti itu? Apa karena aku pernah merasakan sedih yang luar biasa saat Mas Danial menjadi bagian terpenting dalam hidupku, namun dia tidak membalas cintaku seperti aku yang begitu mencintainya. Lalu kembali lagi diriku harus menyadari bahwa aku hanyalah wanita kedua dalam hati dan hidup Mas Danial.


Aku bukan wanita yang dianggap seperti harta karun dalam hidupnya, aku hanya wanita yang menemani kehampaan dan kesepiannya. Hanya itu, lalu apa yang bisa aku perbuat untuk memaksakan hati Mas Danial untuk sama sepertiku.


Air mataku menetes lagi. Ohh inikah yang dikatakan oleh Bintang bahwa aku sebenarnya memang seorang yang buta warna yang tidak bisa melihat pelangi?


“Mas, tahukah kamu jika aku masih begitu naif dengan hatiku? Jikapun waktu masih perlu menemaniku lebih lama lagi untuk bisa berhenti mencintaimu, maka biarlah ini menjadi rahasiaku saja. Akuu pasti sanggup Mas. Sanggup untuk benar-benar menepati janjiku untuk bahagia tanpamu.”


Hujan, malam ini begitu deras


Seolah tahu apa yang sedang terjadi padaku

__ADS_1


Bukan dunia yang aku tangisi, tapi cerminan diri yang begitu gelap


Membayangi langkahku


Begitu banyak yang harus aku bayar di sini


Agar diri semakin bersih dari noda


Entah dengan cara yang luar biasa begini dari Tuhan


Agar aku tahu, diri dan hidupku berada dalam genggaman-Nya


Ampuni aku ya Rabb


Begitu indah Kau berikan diri ini anugerah cinta


Melalui dirinya yang menawan hatiku


Aku mendapatkan kebahagiaan sekaigus luka dalam waktu yang sama


Dia yang menemaniku, dia yang membuatku tertawa, menangis


Terima kasih untuk cinta ini Rabb terima kasih


Kau biarkan hatiku terkunci begitu lama


Akhirnya Kau izinkan dia datang dan membukanya dengan mudah


Aku sadar tidak ada yang terlepas dari rancangan-Mu


Begitupun dia yang aku cintai


Biarlah hujan menjadi saksi diriku tetaplah memiliki hati


Dia yang berharga dihatiku saat ini


Aku mencintainya karna aku mencintai hatiku


Yang berharga ini.


****


Bintang sudah duduk manis di tempat kami kemarin menyantap makan siang. Dia melambaikan tangannya dengan sedikit senyuman.

__ADS_1


“Hari ini aku tidak berpakain terlalu resmi kan?” sapanya dengan nada yang ceria.


“Hmmm ... kamu sepertinya lagi senang?”


“Tentu saja, sampai tadi malam aku tidak bisa tidur saking bahagianya.”


“Emang ada apa?”


“Akhirnya wanita yang aku anggap punya hati sekeras batu bisa sedikit luluh untuk melihat satu warna pelangi.”


“Ah … terlalu cepat menyimpulkan.”


“Aku tidak peduli kalau aku salah. Karena yang jelas wanita itulah yang menawarkan aku untuk makan siang bersama hari ini.”


Aku tak bisa menahan senyumku mendengar ucapan Bintang. Baiklah, aku berdamai dengan alam yang ingin aku menghabiskan waktu makan siang lagi bersama laki-laki ini.


“Oh ya, minggu depan aku mau ke Jerman,” ucapku memberi tahu Bintang.


“Berapa lama?”


“Dua minggu paling lama.”


“Di sana sedang dingin-dinginnya lho.”


“Iya memang. Tapi aku tidak bisa menunda keberangkatanku karena aku harus cek produksi di sana.”


“Apa aku boleh ikut?”


“Hah, aneh-aneh aja kamu!”


“Kenapa harus aneh, aku juga punya cabang di sana jadi aku bisa aja atur keberangkatanku sama kamu minggu depan.”


Dengan santainya dia bisa mematahkan semua omonganku. Aku memang tidak akan pernah bisa mengalahkan Bintang untuk berdebat ketika dia ingin melakukan sesuatu.


Dia selalu serius dengan apa yang dia katakan, terkadang sedikit membuatku takut. Namu,n aku bisa apa untuk mencegahnya pergi ke sana, negara itu bukan punyaku.


Dan benar saja, apa yang dia ucapkan pasti dia lakukan tanpa ragu sedikit pun. Kami sudah berada di pesawat yang sama menuju Berlin.


Lebih dari tujuh belas jam perjalanan kami menuju Berlin, jadi sangat banyak waktu kami habiskan untuk mengobrol dan lebih mengenal satu sama lain.


Salah satu yang dia ceritakan bagaimana dia berpisah dengan mantan istrinya. Ternyata kisahnya juga bisa dibilang tragis ketika dia begitu mencintai istrinya, mantan istri yang tidak mampu menahan kesedihannya ketika mereka kehilangan anak semata wayang karena kecelakaan.


Dengan segala upaya, mereka mengobati psikis mereka untuk menghilangkan rasa bersalah, namun akhirnya sang mantan istri benar-benar tidak bisa melanjutkan pernikahan, agar mereka tidak saling menyakiti.

__ADS_1


Aku tidak bisa menghakimi siapa pun dalam hal itu karena semua orang punya caranya sendiri untuk bertahan hidup dan mencari bahagianya.


__ADS_2