
“Dek, kamu lagi ngapain?” Handphoneku bergetar. Mas Danial mengirim pesan tapi aku enggan untuk membalasnya langsung. Tidak sekali dua kali dia juga membiarkanku menunggu balasan darinya. Ingin rasanya aku protes, tapi mulutku seperti terkunci begitu saja. Hari-hari bahagiaku dengan Mas Danial sudah tidak aku rasakan lagi, sering kali aku merindukan obrolan ringan dan candaan yang terkadang sepele darinya.
Aku menganggap dia sudah bosan dan tidak membutuhkan aku lagi, dia tidak menginginkanku lagi. Pikiran-pikiran itu menggelayut di kepalaku, bukan salahku sehingga sampai berpikir seperti itu. Mas Danial seolah tidak menyadari apa yang aku rasakan saat ini.
Aku tidak tahu apakah dia menyadari perubahan sikapnya terhadapku. Jika memang seperti itu, lalu mengapa dia tidak bicara saja padaku untuk menghentikan hubungan ini. Toh aku tidak pernah menuntutnya untuk menikahiku, dia aku berikan kebebasan untuk kapan pun melepaskan tanganku.
Berkali-kali dulu aku mengatakan itu padanya, jangan menunjukkan sikap yang tak acuh padaku jika sudah bosan atau sudah tidak menyukaiku lagi, karena aku tidak akan protes kapan pun dia ingin menghentikan hubungan ini.
Dan pada akhirnya, semua teori dan perjanjian itu tidak akan pernah mudah untuk dilakukan. Mas Danial lebih memilih mengabaikanku pelan-pelan agar aku akhirnya mundur sendiri dengan teratur. Apakah laki-laki lebih mudah melakukan itu daripada dia bersikap tegas dalam sebuah hubungan? Entahlah.
Sepandainya aku menyembunyikan perasaanku, tetap saja aku merasa lelah menjalani hubungan ini sendirian. Sering aku memaki diriku yang sangat bodoh, masih bertahan, tapi aku tidak mungkin mengingkari komitmen sendiri untuk menerima cinta ini tanpa syarat. Aku ingin melihat sampai ujung mana akhir dari hubungan kami seperti yang Mas Kent sarankan. Biarlah Allah yang mengatur cara kami untuk berpisah secara baik-baik.
“Mencintaimu adalah hadiah terindah untuk hidupku. Aku sangat tahu bahwa hidupku tidak sempurna, namun kehadiranmu membuat aku merasa cinta masih ada untukku. Cintamu juga bukan cinta sempurna bahkan air mataku tidak luput ikut serta dalam perjalanan cerita kita.”
Pilu masih menemani hatiku saat aku mencintai Mas Danial, namun aku sangat tahu, itu adalah rencana Tuhan terindah untuk mengukuhkan hatiku sebagai pemenang dalam semua ketakutan yang menghantui hidupku.
Jika cinta tak mengenali rindu kekasihnya
Maka dia bukan kekasih
Jika cinta tak mengenali air mata kekasihnya
Maka dia bukan pecinta
Jejeran huruf sudah bercerita
Namun, hatinya tak sedikit pun bergerak
Maka biarlah dia menjadi dirinya saja
Cukup lembayung senja menjadi saksi
Tidaklah bisa aku seperti Aisyah
Ketika kedua matanya menjadi siang dan malam dari Muhammad
Kekasih dari Sang Kekasih
Jika cemburuku bukan lagi ada makna
__ADS_1
Seperti picisan yang hanya bisa diabaikan
Maka aku bisa apa?
Hanya bisa jadi penonton yang tidak boleh bersuara
Sampaikan salamku pada buih-buih
Jika aku belum berhak untuk mencintai
Dan aku masih naif bersama hatiku yang malang ini..
Mas Danial semakin sering mengabaikanku, namun anehnya aku semakin mencintainya. Aku sangat tersiksa oleh rindu, tapi kembali lagi, nuraniku melarangku untuk egois apalagi sekedar berharap karna aku tidak pantas untuk meminta lebih. Aku hanya bisa menangis sendirian dalam diamku. Apakah aku memang tidak pernah bisa layak untuk cinta?
Mungkin saja Mas Danial tidak menyadari perubahan sikapnya untukku. Mungkin baginya aku hanya wanita yang berperan menjadi teman kesepiannya saat dia memiliki masalah dengan istrinya. Hanya sebuah pelarian.
Aku berusaha untuk memakluminya, dan saat hatiku melemah, hanya mampu mengingat masa-masa di mana Mas Danial awal mendekatiku, awal dia begitu menyayangiku. Sesekali aku membaca chatting kami di handphone, sangat cukup untuk aku tersenyum bahagia.
Ahhh … entah dengan cara apa aku menjelaskan perasaanku untuknya. Aku seperti buta oleh cinta. Sesakit apa pun rasanya aku masih ingin bertahan lebih lama lagi.
Aku bahagia bahwa hatiku masih ada untuk cinta, bahwa hatiku masih hidup untuk cinta. Bukankah tidak ada alasan untuk diriku mengeluh? Adakah alasan aku untuk mengingkari karuniaNya? Tidak ada.
Jika ada yang bisa aku lakukan untuk segera melenyapkannya dari hatiku, maka saat ini, akan aku lakukan. Hatiku bukan milikku, hatiku milik-Nya.
Hanya Dialah yang mampu membolak-balikkannya. Walaupun aku memohon dengan air mata sebanyak air lautan jika Dia tidak izinkan, maka aku bisa apa?
Beritahu aku caranya? Jika ada!
Dan akhirnya aku berdamai dengan semua rasa yang ada. Karena semakin aku tolak, semakin besar rasa cinta yang tumbuh.
“Dek … apa kabar?”
Pesan whatsApp dari Mas Danial setelah sekian lama dia menghilang. Aku ragu untuk menjawabnya karena air mataku terus mengalir. Begitu lemahnya hatiku ini, harusnya aku marah atau mengabaikannya juga?
Namun, semua itu tidak aku lakukan karena sangat merindukannya. Aku tidak punya kekuatan untuk bertanya mengapa dia begitu tega mengabaikanku selama ini?
Apakah aku tidak berharga baginya? Apakah aku hanya kekasih yang tidak akan pernah kecewa jika diabaikan? Apakah hatiku ini hanyalah seonggok batu yang tidak punya rasa rindu atau kecewa?
Ah, begitu banyak pertanyaan dalam hati yang tentu saja tidak bisa aku ucapkan.
__ADS_1
“Alhamdulillah baik, Mas. Mas gimana kabarnya?”
“Aku baik juga, Dek. Minggu depan aku mau berangkat ke Singapura. Ada project bersama temen-temen di sana. Doakan aku, ya.”
“Aamiin. Semoga lancar semua dan jaga kesehatan, ya.”
“Iya, Dek. Makasih, ya.”
Dan hanya begitu saja, Mas Danial seolah tidak tahu apa yang aku rasakan. Baginya itu sudah cukup sebagai komunikasi kami. Entah sejak kapan dia berubah seperti itu, walaupun sebenarnya aku tahu dia sedang sibuk dengan project besarnya.
Manusia memang selalu berubah bahkan berlaku juga untuk rasa cinta. Pada awalnya aku tersiksa dengan kondisi hubungan kami, mungkin karena aku sedang sayang-sayangnya.
Mas Danial juga tidak akan pernah tahu betapa aku sering menangis merindukannya tanpa bisa aku utarakan. Bukan karena aku gengsi, tapi aku hanya ingin tidak terkesan merengek seperti anak kecil padanya.
Kembali lagi, Allah ingin aku mendewasa dengan skenario yang Dia berikan dalam hidupku. Bahkan melalui laki-laki yang sempat aku pikir bisa menghapus luka dan air mataku.
Laki-laki yang saat awal selalu membuatku tertawa, laki-laki tempat aku bermanja dan menjadi wanita seutuhnya. Di mana aku tidak harus pura-pura lagi bahagia dan baik-baik saja.
Perubahannya kembali lagi menamparku, bahwa tidak ada yang sama dan selamanya di dunia ini.
Sebut saja aku memang bodoh dalam cinta, tidak jera dengan luka yang pernah ada begitu hebatnya. Bukan tidak tahu, tapi aku memang sudah berubah mendewasa; bahwa aku semakin memahami skenario cinta Tuhan untukku.
Saat hatiku sedang jatuh dan lemah, aku mengajarkan diri sendiri agar selalu peka pada setiap pesan Allah. Seperti itulah aku menemukan diriku yang mencintai Mas Danial tanpa syarat apa pun lagi.
Dia ingin datang, aku akan membuka tanganku dengan lebar. Dia ingin pergi, maka aku pun akan melepaskan genggaman. Sampai Allah menginginkanku untuk berhenti.
Karena cintaku bukan sebuah kompromi, cintaku bukan sebuah beban, cintaku bukan perasaan yang harus dipertanggungjawabkan oleh siapa pun selain diriku sendiri.
Aku juga sangat yakin Mas Danial tidak pernah memiliki niat untuk menyakitiku, dia hanya tidak tahu atau lupa cara mencintai. Mungkin saja Mas Danial juga pernah kecewa dengan cinta sehingga dia lupa cara mencintai.
Namun, begitulah manusia selalu menganggap sudah mencintai dan merasa sudah melakukan semuanya. Tapi yang tidak pernah dipelajari adalah bagaimana “cara mencintai” sehingga tanpa sadar dia sedang menyakiti orang yang dia cintai.
__ADS_1