
Sementara Agus dan Rahmat sedang makan buah-buahan dan beristirahat di luar sekolah, tepatnya di lapangan bersama dengan Lilis dan Anis. Aku, Bagas, Zilan dan juga Wawan pergi ke lantai 2 ke kelas yang berisi lahan kosong yang di temukan oleh Wawan dan Bagas sebelumnya. Kami segera bergerak bersama sambil membawa mayat itu ke atas.
Ukh, mayatnya bau sekali dan tampilannya sangat mengerikan, keadaannya sangat tragis. Kami mencoba untuk tidak bernapas agar baunya tidak menyengat. Baunya semakin busuk, jadi kami semakin cepat berjalan untuk meletakkan mayatnya di kelas yang berisi lahan kosong itu. Tapi...
"Dimana kalian menemukan mayat itu?" ucap Lilis yang sedang mengobrol bersama dengan tim pencari mayat di lapangan.
"Di sebuah goa..." ucap Rahmat yang membuat Lilis dan Anis ketakutan.
"Hiii... bagaimana bisa kalian berani masuk ke dalam goa itu!" ucap Anis dan Lilis serentak.
"Kami tidak masuk, mayat itu ada di mulut goa, jadi kami segera mengambilnya dan membawanya kembali..." ucap Rahmat yang terlihat santai sambil menyantap buah-buahan itu.
"Oh ya, ngomong-ngomong sekarang sudah jam berapa? apa ada diantara kalian yang menggunakan jam tangan?" ucap Agus yang mulutnya penuh dengan buah-buahan.
"Seperti tidak, lagi pula bukankah biasanya kau selalu membawa jam tangan kemana-mana?" ucap Anis.
"Benar, tapi saat itu aku lupa memakainya sebelum berangkat sekolah " ucap Agus yang seketika membuat keadaan menjadi suram. Karena ucapan Agus membuat mereka mengingat kembali kenangan dimana saat mereka masih bisa tertawa bersama di sekolah dan bukannya di tempat seperti ini.
Sementara itu keadaan tim pencari kelas lahan kosong menemukan kejanggalan. Mereka saat ini sedang kebingungan dan juga merasa ngeri begitu membuka pintu kelas dan melihat kelas 2-4 yang merupakan kelas berisi lahan kosong itu hilang dan menjadi kelas seperti biasa yang berisi meja dan kursi.
"H-hei... ke-kenapa tiba-tiba kelasnya berubah?" ucap Wawan yang penakut.
"Benar! kami yakin ini ada kelasnya! kalian juga melihatnya kan tadi!" sambung Bagas yang terlihat panik dan resah.
__ADS_1
Sementara itu Zilan hanya terdiam dan aku sedang memikirkan kenapa kejadian ini terulang lagi padaku. Aku segera berpikir dan mencerna semua yang terjadi di otakku untuk mengetahui masalah yang ada di sini. Dari yang pertama, kelas 3-10 yang berisi lahan kosong seketika hilang dan kelas lahan kosong itu berada di kelas 2-4.
Tapi sekarang kelas yang berisi lahan kosong itu tidak ada di kelas 2-4. Padahal saat itu kami sangat yakin kalau kelas yang berisi lahan kosong itu adalah kelas ini, kelas 2-4. Ada sesuatu yang aneh jika aku pikirkan kembali mengapa kelas yang berisi lahan kosong itu menghilang begitu saja.
Akhirnya aku tahu kenapa kelas yang berisi lahan kosong itu menghilang. Aku semua kelas yang ada di sekolah ini terus berpindah pindah tanpa sepengetahuan kami dan juga berpindah secara acak. Soal waktu dan tempatnya masih belum ku ketahui, yang ku tahu saat ini yang pasti adalah semua kelas yang ada di sekolah ini sudah berpindah tempat.
"Teman-teman! dengarkan aku... mulai dari sini kita berpencar kembali dan membagi tim!" ucapku yang membuat mereka heran karena tiba-tiba aku menyuruh mereka tanpa mengatakan maksud dari tujuan yang ku katakan.
"Apa maksudmu? kenapa?" ucap Bagas yang terheran-heran padahal dirinya sedang dilanda dengan kepanikan.
"Kelas yang sedang kita cari sudah berpindah tempat!" ucapku yang membuat mereka terkejut.
"Apa benar begitu?" ucap Wawan.
"Baiklah, tapi... bagaimana dengan mayat ini?" ucap Wawan yang mulai bersiap.
"Kita taruh saja disini, aku jamin mayat ini tidak akan berpindah tempat. Karena yang berpindah tempat hanya isi kelasnya saja, bukan kelas itu ataupun lantai sekolahnya juga ikut berpindah. Karena itu bisa dibuktikan kelas yang bernomor 2-4 ini tetap do tempat yang sama kan" ucapku yang membuat mereka paham dan saling menyemangati satu sama lain.
"Kau memang jenius Fajar, baiklah ayo kita telusuri lagi seperti sebelumnya. Kalian di sisi kiri dan kami di sisi kanan " ucap bagas.
Kemudian kami melanjutkan pencarian kami dan meninggalkan mayat itu di lorong depan pintu kelas 2-4. Kami segera bergegas mencari dimana kelas yang berisi lahan kosong yang sedang kami cari. Kami memulai pencarian dari lantai satu ke atas seperti sebelumnya.
Brak! cklek! krieet! kami membuka kelas satu persatu dan menutupnya kembali terus seperti itu dan lanjut naik ke lantai dua. Terkadang juga kami kesulitan membuka pintu karena ada kelas yang berantakan yang di depan pintunya dihalangi oleh meja dan bangku kelas.
__ADS_1
"Di kelas 2-9 tidak ada. Uh, pantas saja pintu ini sulit di buka, kelas ini banyak meja dan kursi di depan pintu kelas. Zilan! di kelas 2-10 ada tidak?" ucapku yang sedang menggeledah kelas satu-satu bersama dengan Zilan.
"Tidak ada... ayo kita lanjut ke lantai 3 kak" ucap Zilan yang baru selesai memeriksa kelas 2-10.
Kemudian kami melanjutkan pencarian kami dan naik ke lantai 3, lantai teratas sekolah ini. Di saat yang bersamaan, tim Bagas dan Wawan baru saja naik ke lantai 2 untuk menggeledah kelas yang kami cari. Aku dan Zilan memeriksa kelas 3-1 dan kelas 3-2 dan isinya tetap sama. Kecuali kelas 3-2 yang di periksa olehku lagi-lagi di depan pintu kelas banyak meja dan kursi yang berantakan.
Kemudian aku lanjut menggeledah kelas yang berada di depan kelas 3-2 yaitu kelas 3-9. Cklek! begitu aku membuka kelasnya, aku terkejut dan merasa lega kalau pada akhirnya kami berhasil menemukan kelas yang berisi lahan kosong itu. Aku segera memanggil Zilan kalau kelasnya sudah ketemu dan segera turun untuk menghampiri Bagas dan Wawan yang berada di lantai dua untuk memberitahu kepada mereka kalau aku sudah menemukan kelasnya.
"Bagas! Wawan! kelasnya sudah ketemu, ayo cepat kita bawa mayatnya!" ucapku yang segera menggotong mayat itu.
"Baiklah, ada di kelas mana?" ucap Bagas yang ikut yang membantu mengangkat mayatnya.
"Ada di kelas 3-9..." ucapku
"Eh, itukan bersampingan dengan kelas yang kalian temukan pertama kali" ucap Wawan yang sedikit terkejut.
Memang benar, kelasnya itu bersampingan dengan kelas yang pertama kali kami temui, yaitu kelas 3-10. Tapi aku masih belum bisa menemukan mekanisme perpindahan kelasnya. Jika aku sudah tahu kapan waktunya, seperti berapa jam sekali kelas itu berpindah dan pola kelas itu berpindah. Aku sama sekali belum menemukan seperti apa mekanisme nya.
Kalau di pikir-pikir, pertama kali kelas itu di temukan di lantai tiga kelas 3-10 yang ada di sebelah kiri. Kemudian berpindah dengan cepat di lantai dua kelas 2-4 setelahnya karena aku tak menghitung perkiraan waktu karena kami sedang mencemaskan kepulangan Agus dan Rahmat yang bertugas mencari mayat. Kelas itu berpindah lagi dan sepertinya waktu berpindahnya berbeda jauh dengan yang sebelumnya yang hanya berpindah dalam waktu yang singkat.
Tapi setidaknya sekarang yang terpenting kami sudah mengetahui kalau hanya isi kelas saja yang berpindah. Jika gantungan nama kelasnya juga ikut berpindah, pasti akan semakin repot untuk kami untuk memastikan kelas mana yang berisi lahan kosong, karena itu artinya kelasnya juga ikut di pindahkan dan bukan hanya isinya saja.
Ini merupakan awal bagi kehidupan kami untuk bertahan hidup di dunia ini. Entah apa yang akan terjadi di ke depannya, baik itu semakin memburuk atau membaik. Kami akan terus bersama dan sebelumnya kami juga sudah berjanji untuk keluar dari sini bersama-sama. Kami membuat janji itu setelah menyelesaikan pertengkaran yang terjadi di antara kami saat itu dan kini, kami harus selamat dan keluar dari sini bersama-sama.
__ADS_1