
Saat aku terjatuh... dan semakin jatuh ke bawah... tiba-tiba saja sekilas muncul kenangan yang paling menyenangkan saat itu. Mungkin di saat-saat terakhir seperti inilah yang membuat orang-orang akan mengingat kenangan mereka yang paling membahagiakan. Kenangan yang terlintas di pikiran ku kalau tidak salah itu terjadi beberapa tahun yang lalu.
Tepatnya saat aku masih SD dan belum sekolah di SMP Bulan Purnama. Saat itu aku sedang pergi bersama Agus yang merupakan sahabat ku sejak kecil karena orang tua kami berhubungan dekat dengan orang tuanya. Dikala itu aku pergi dengan Agus di sebuah sungai yang mengalir di dekat desa.
Aku berniat untuk pergi memancing di sungai itu bersama Agus, karena itulah aku sudah menyiapkan rotan pancing untuk memancing bersama. Tempatnya tidak terlalu jauh, jadi kami hanya perlu berjalan sebentar untuk sampai di sana. Saat kami sampai di sungai itu, kami melihat ada anak-anak lain yang ikut memancing lebih dulu di sungai itu.
Mereka adalah Bagas, Wawan, Anis dan Lilis yang akan menjadi temanku di masa depan. Aku dan Agus tidak mengenal mereka karena mereka tinggal di kampung sebelah. Mereka terus memperhatikan kami Seolah-olah wajah mereka mengatakan untuk jangan memancing disini karena ini adalah wilayah mereka.
Tapi aku tidak peduli dan tetap mancing dan menjauh dari mereka. Aku mengeluarkan alat pancing dan umpannya dan kami memancing bersama di sungai itu. Mereka terus memperhatikan ku dan Agus, itu membuat perasaanku tidak enak dan ingin cepat pergi dari tempat ini kalau sudah mendapatkan ikan satu saja. Kemudian tiba-tiba salah satu dari mereka datang menghampiri kami.
Yang tak lain anak itu adalah Bagas, "Hei kenapa kalian memancing disini?" ucap anak itu dengan wajahnya yang kesal karena ikut memancing bersama mereka.
"Kami hanya ingin memancing disini, memangnya sungai disini milik kalian?" ucapku dengan ketua dan menatapnya dengan tajam agar anak itu takut padaku.
Tapi bukannya takut, anak itu malah melotot balik ke arahku. Saat itu kami hampir akan berkelahi saat itu juga karena berebut tempat kekuasaan di sungai ini. Namun untungnya saat itu juga keributan sempat dicegah oleh Agus. Agus segera melerai kami dan memberikan tantangan kepada mereka.
"Jangan ribut... bagaimana kalau kita bertandingnya?..." ucap Agus sambil tersenyum angkuh.
"Bertanding apa? cepat katakan!" ucap anak itu yang terlihat tidak sabaran.
"Kita akan bertanding siapa yang akan mendapatkan ikan yang paling banyak di antara kita dan yang kalah harus pergi dari sini. Pertandingan akan selesai sampai matahari ada di atas langit" ucap Agus yang menantangnya, yang artinya pertandingan ini akan selesai sampai siang hari.
Kemudian anak itu tertawa terbahak-bahak bersama dengan ketiga temannya yang sedang memancing. Mereka menertawakan kami karena mereka mengira akan menang hanya karena jumlah mereka dua kali lebih banyak dari kami. Yah, memang kemungkinan besar mereka akan menang karena jumlah mereka lebih banyak dari kami.
__ADS_1
Tapi... siapa yang akan tahu siapa yang akan mendapatkan ikan lebih banyak. Karena ini bukan hanya tentang siapa yang lebih banyak memancing, tetapi siapa yang lebih beruntung diantara para pemancing lainnya. Akhirnya mereka setuju dan kami mulai bertanding memancing untuk melihat siapa yang akan memenangkan pertandingan ini.
Lagi pula dari yang aku lihat saat datang ke sini, sepertinya mereka belum mendapatkan ikan sama sekali karena embernya kosong dan hany terisi air.
"Agus... apa kau yakin kalau kita akan menang?" ucapku yang merasa kami akan kalah oleh mereka yang jumlahnya lebih banyak dari kami.
"Tenang saja, sepertinya kita punya peluang untuk menang. Lihat mereka yang sedari tadi belum mendapatkan ikan padahal mereka datang lebih dulu dari kita" ucap Agus yang mencoba membuat suasana yang tenang untukku dan tidak perlu khawatir akan kalah.
Tak disangka sangka suara Agus terdengar oleh mereka, "Kami mendengarnya tahu! awas saja kalian! kami akan membuat kalian kalah telak karena kami akan mendapatkan ikan yang sangat banyak! hahaha!" tawa anak itu lagi bersama dengan teman-temannya.
Seperti anak itu (Bagas) merupakan pemimpin dari ketiga teman-temannya. Mereka hanya bisa menertawakan kami, itu membuat kami sangat kesal mendengar mereka menertawakan ku dan Agus. Aku ingin sekali melempar cacing-cacing umpan ini kepada anak-anak perempuan itu. Apa lagi anak perempuan (Anis) yang wajahnya terlihat jutek dan menyebalkan itu.
Aku semakin yakin kalau mereka akan kalah karena sudah menertawakan kami!. Karena aku selalu mendengar cerita kalau orang yang sombong atau orang yang jahat akan kalah di akhir cerita. Hingga akhirnya beberapa jam berlalu dan pertandingan telah selesai karena matahari telah berada di atas langit yang menandakan siang hari telah tiba.
Jadi aku menutup embernya dengan kain dan membawanya kepada mereka. Wajah mereka terlihat senyum-senyum dan bangga, melihat mereka tersenyum seperti itu sepertinya mereka sangat percaya diri sekali karena mendapatkan banyak ikan. Kami bertemu di tengah-tengah sambil membawa ember, ternyata ember mereka juga tertutup oleh kain, sepertinya mereka berniat untuk meledek kami.
"Hahaha! kenapa kalian menutup embernya dengan kain? sepertinya kalian tidak mendapatkan ikan ya?" ucap anak itu (Bagas) sambil menertawakan kami, tapi wajahnya penuh dengan keringat.
"Cepat buka kainnya? dan perlihatkan kekalahan kalian!" ucap anak perempuan (Anis) yang menyebalkan itu yang wajahnya terlihat aneh.
"Kalian juga kenapa menutup embernya? seharusnya orang yang lebih banyak yang membuka embernya lebih dulu!" ucapku yang protes kepada mereka, tapi sebenarnya ini hanya untuk mengalihkan mereka agar kami bisa disini lebih lama.
Mendengar ucapan ku seketika mereka terdiam sejenak. Hingga akhirnya mereka mengalah dan membuka penutup kain yang ada si ember mereka. Wajah mereka terlihat panik saat membuka kainnya dan ternyata di ember mereka tidak ada ikan satupun, yang artinya mereka juga tidak mendapatkan ikan sama sekali seperti kami.
__ADS_1
Aku dan Agus menatap mereka dengan diam dan sedikit tersenyum karena menahan tawa karena hasilnya seri.
"Kalian puas! ayo teman-teman kita pergi dan biarkan tempat ini menjadi milik mereka!" ucap anak itu (Bagas) dengan kesal dan segera pergi meninggalkan kami bersama dengan teman-temannya.
"Hei tunggu... kalian belum melihat apa yang kami dapat!" ucap Agus sambil menahan tawa, mereka berpikir kalau kami sedang menertawakan mereka.
"Jangan sombong hanya karena kalian mendapatkan ikan!" ucap anak itu (Bagas) yang terlihat semakin kesal.
"Setidaknya kalian lihat dulu apa yang kami dapat!" ucapku, yang kemudian dengan berat hati mereka menghampiri kami kembali untuk melihat ikan apa yang kami dapat. Padahal aku dan Agus tak mendapatkan satu ikan pun, karena itulah kami menahan tawa.
"Cepat tunjukkan kepada kami!" ucap anak itu (Bagas) yang sepertinya kesabaran tinggal selembar kertas, wajahnya terlihat merah kesal karena melihat kami yang sedang menahan tawa.
Jreng! kami membuka kainnya dan menunjukkannya kepada mereka bahwa kami juga tak mendapatkan satu ikan pun. Hanya ada air saja di ember kami dan setelahnya aku dan Agus tertawa terbahak-bahak.
"Ka-kalian juga tidak mendapatkannya?..." ucap anak itu (Bagas) yang terlihat malu setelah mengetahui apa yang terjadi.
"Benar! hahahaha! kami tak menyangka kalau ternyata kalian juga tak mendapatkan ikan satupun! hahaha!" tawaku yang terbahak-bahak di depan mereka bersama dengan Agus yang tawanya paling keras.
"Be-berhenti tertawa!" ucap anak itu (Bagas) yang menahan malu.
Tapi kemudian Teman-temannya ikut tertawa bersama kami, "Hahahaha! kalian juga tidak mendapatkannya! hahaha!" tawa Teman-temannya yang ikut tertawa terbahak-bahak bersama kami.
Karena anak yang bernama Bagas itu sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Akhirnya dia juga ikut tertawa bersama-sama dengan kami dan setelah berhenti tertawa kami saling berkenalan satu sama lain. Sejak saat itulah pertemanan kami di mulai, sampai bersekolah di SMP yang sama. Itu adalah kenangan yang paling menyenangkan untukku karena bisa mendapatkan lebih banyak teman dekat seperti Agus.
__ADS_1