
Karena kami tidak tahu saat ini sudah malam hari atau belum, karena di dunia ini dunia terlihat begitu gelap dan kegelapan semakin menyertai di dalam sekolah ini. Jadi kami memulai mengobrol terlebih dahulu sampai mengantuk. Karena kami masih kesulitan untuk tidur karena baru pertama kali kami tidur di tempat seperti ini yang kondisinya jauh berbeda saat kami tidur di kamar kami sendiri.
"Hei kalian masih belum tidur kan..." ucap Wawan sambil menatap atap kelas.
"Iya nih, aku kesulitan untuk tidur..." ucap Rahmat yang kesal karena tidak bisa tidur sedari tadi padahal dia sudah berusaha untuk memejamkan matanya untuk tidur.
"Seharusnya kau bisa tidur dengan cepat, karena setiap hari saat pelajaran berlangsung kau selalu saja tidur" ucap Bagas yang menyindir Rahmat.
"Haha! kau benar... Rahmat tidak pernah bolos dari tidurnya" ucap Agus yang membuat kami tertawa terbahak menertawai Rahmat sehingga Rahmat kesal.
"Dari pada kau yang pernah memakai rok saat disekolah!" ucap Rahmat yang kini gantian mengatai Agus dan membuat kami menertawai Agus sehingga membuat Agus malu.
"I-itu kan karena aku tidak tahu kalau itu rok! lagi pula dari mana datangnya rok itu dimeja ku, aku jadi memakai rok gara-gara seseorang saat mengganti seragam setelah berolahraga!" ucap Agus yang menyangkalnya.
"Apa jangan-jangan kau sering memakai rok di rumahmu ya? hahaha!" sambung Wawan yang ikut-ikutan meledek Agus.
"Kau jangan ikut-ikutan dasar penakut! kau bahkan tidak berani untuk pergi ke toilet sendirian!" ucap Agus yang kali ini membalas Wawan dan membuat kami menertawai Wawan sehingga membuatnya malu.
Kami saling membicarakan aib kami saat di sekolah dan dijadikan candaan untuk bahan candaan. Yah... ini sama sekali bukan ide yang buruk untuk menciptakan suasana yang baik disaat seperti ini. Kami akhirnya mengantuk dan tertidur dengan pulas setelah saling meledek dan tertawa bersama. Tanpa sadar semuanya tertidur begitu saja karena kelelahan.
Untuk memulai tugas kami selanjutnya setelah bangun, aku berencana untuk membuat banyak lubang kuburan terlebih dahulu dengan tim pencari kelas. Meski kelas itu terus berpindah-pindah tempat, tapi bagi kami itu adalah hal yang mudah karena kami sangat mengenali struktur sekolah ini yang mirip seperti sekolah kami. Di tambah dengan total 4 orang yang bertugas di tugas yang sama seperti ku termasuk diriku.
Aku berencana untuk menggali beberapa lubang sementara karena kami masih tidak tahu ada berapa banyak mayat di tempat ini. Mungkin akan semakin sulit bagi Agus dan Rahmat yang bertugas sebagai pencari mayat untuk mencari mayat lagi dan lagi. Entah ada berapa banyak, kami hanya perlu menguburkannya saja dan setelahnya kembali, semoga saja semudah itu.
Sementara itu...
__ADS_1
"Uhhh... apa yang lainnya sudah pada tidur?" gumam Zilan yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya karena ingin ke pergi ke toilet untuk buang air kecil.
"Sepertinya aku harus ke toilet sendiri, aku tidak boleh merepotkan kakak-kakak kelasku..." gumam Zilan yang akhirnya dia beranjak dari tidurnya dan segera pergi keluar kelas dengan keadaan terkantuk-kantuk.
Zilan sadar bahwa dirinya hanyalah beban bagi kami, jadi dia memutuskan untuk mencoba tidak merepotkan kami. Karena itu dia tidak meminta kami untuk menemaninya ke toilet. Suasana lorong-lorong kelas terasa semakin gelap dan menakutkan bagi Zilan dan membuatnya takut.
"Aku tidak boleh takut... lagi pula disini tidak ada apa-apa kan..." gumam Zilan yang mencoba untuk membuat dirinya berani dan tidak takut lagi.
Setelah itu dia keluar kelas dan menutup pintunya lagi. Kemudian Zilan berjalan melewati lorong-lorong kelas yang gelap. Zilan berjalan dengan perlahan-lahan melewati satu-persatu kelas dengan keadaan yang masih mengantuk. Karena toiletnya berada di ujung sebelah kanan lorong kelas, jadi Zilan harus berjalan lebih jauh.
Kresek! kresek! tiba-tiba saja Zilan mendengar suara yang aneh dan itu membuat matanya terbuka lebar dan berwaspada terhadap suara aneh itu. Seketika dia merasakan rasa takut yang luar biasa dan berhenti melangkahkan kakinya.
Karena dia tahu kalau di tempat ini tidak ada siapapun kecuali kami berdelapan termasuk Zilan. Suara itu terdengar semakin keras, suara seperti seseorang yang sedang mengacak-acak kelas. Suara itu... terdengar dari kelas 1-4 dan disaat itulah Zilan sadar kalau kelasnya sudah berpindah lagi. karena begitu dia keluar dari kamar, dia berada di lorong kelas 1 yaitu di lantai 1.
Kelas 1-4 itu persis berada di depan samping kiri Zilan yang saat ini dia sedang berdiri di lorong depan pintu kelas 1-3 dan 1-7. Meski Zilan merasa takut, dia tetap berusaha untuk mengatasi rasa takut itu dan pergi berjalan dengan perlahan untuk mengecek kelas 1-4. Tap... tap... Zilan semakin mendekati kelas itu dan suaranya terdengar semakin jelas.
Sreeet... deg! deg! deg!
Jantung Zilan berdebar-debar begitu kencang begitu melihat ada sosok hitam yang menyerupai manusia, hanya saja dia panjang dan tubuhnya robek-robek. Sosok itu seperti sedang memegang sesuatu di tangannya yang memiliki kuku yang tajam itu. Seketika Zilan jadi teringat dengan mayat yang ditemukan oleh Agus dan Rahmat yang memiliki luka besar yang terlihat seperti di cakar dengan bengis oleh binatang buas hingga organ tubuhnya keluar melalui celah-celah tubuh yang robek itu.
Sraaat... tiba-tiba saja sosok itu menghadap Zilan dan mata Zilan saling bertatap dengan makhluk itu...
"UWAAAAAAAAAAAA!" Teriak Zilan yabg segera melarikan diri ke arah toilet dengan cepat karena ketakutan.
Sementara makhluk itu segera mengejarnya dengan mulutnya yang terbuka lebar dan memperlihatkan giginya yang tajam. Zilan langsung masuk.ke toilet dan bersembunyi di salah-satu kamar mandi yang ada di toilet itu dan menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat agar dia berhenti berteriak dan agar nafasnya yang tersengal-sengal tidak terdengar oleh makhluk itu.
__ADS_1
Tanpa sadar Zilan mengeluarkan air matanya karena sangat ketakutan. Tubuhnya terasa dingin dan keringat dingin bercucuran di wajahnya dengan deras. Bulu kuduknya juga berdiri dan pori-porinya terbuka lebar.
Krieet!
Zilan semakin takut dan dia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya begitu mendengar suara sosok itu masuk dan membuka pintu toilet. Di toilet ini terdapat 4 kamar mandi dan saat ini Zilan berada di urutan ke 4 kamar mandi jika di hitung melalui kamar mandi yang paling dekat dengan pintu keluar.
Zilan tidak bisa melakukan apapun selain menahan dirinya untuk tetap tidak panik. Dia tidak bisa keluar, bergerak bahkan bernafas karena takut makhluk itu mendengarnya.
"Hooooooooohhhh" itu adalah dengkuran makhluk itu yang di dengar oleh Zilan. Suaranya sangat nyaring dan terdengar sangat mengerikan hingga suara itu terus berputar-putar di pikiran Zilan.
Brak! makhluk itu membuka pintu kamar mandi itu dan itu membuat Zilan semakin takut. Brak! lagi-lagi makhluk itu membuka pintu kamar mandi selanjutnya dan jantung Zilan semakin berdebar-debar ketakutan. Brak! terdengar suara pintu kamar mandi yang ketiga itu membuat Zilan pasrah pada hidupnya dan dia mulai meneteskan air matanya dengan deras.
"Teman-teman... maafkan aku... karena telah membuat kalian terjebak disini bersamaku. Aku benar-benar minta maaf, oleh karena itu... kalian jagalah diri kalian baik-baik, karena sepertinya aku akan pergi meninggalkan kalian" ucap Zilan dalam batinnya sambil meringis ketakutan akan akhir hidupnya yang mengerikan.
Namun setelah beberapa saat Zilan menunggu untuk makhluk itu membuka pintu kamar mandi terakhir yaitu pintu kamar mandi yang saat ini ia tempati. Makhluk itu tak kunjung membukanya bahkan suara dengkuran yang mengerikan makhluk itu pun sudah tidak terdengar lagi. Saat itu Zilan mulai merasa lega karena sepertinya hantu itu tidak ada.
Tapi dia masih belum boleh merasa dirinya aman dari makhluk itu. Dia tidak berani untuk keluar dari kamar mandi itu karena takut makhluk itu sedang menunggunya disana dengan menutupi suara dengkurannya. Jadi untuk sementara Zilan tetap berada di toilet itu dan memejamkan matanya dengan lega sambil menyenderkan badannya di dinding toilet.
"Hahhh... sepertinya aku sudah aman" gumam Zilan dengan suara yang pelan.
Lalu.... begitu Zilan membuka matanya saat melihat ke atas. JRENGGGGGG! tiba-tiba saja makhluk itu menunjukkan dirinya dengan kepalanya yang panjang dan sedang menatap Zilan dengan melotot tajam. Zilan segera berteriak ketakutan dan dirinya tidak bisa bergerak karena saking takutnya.
"AAAAAAAAAAAAKKKHHHHHHKKKHH"
Hap!... makhluk itu... telah memakan kepala Zilan... kepalanya putus dari tubuhnya dan lehernya bercucuran dengan darah yang kental. Makhluk itu meninggalkan tubuh Zilan setelah menggigit kepalanya dengan gigi tajamnya dan menghilang begitu saja. Tubuh Zilan tergeletak di lantai kamar mandi itu dan kondisi kematiannya sangat tragis.
__ADS_1
Dari semua yang sedang tertidur pulas tidak ada satupun yang mendengar suara teriakan Zilan karena kami sangat lelah dan tertidur dengan pulas. Saat ini... kami sudah kehilangan satu teman kami yang berharga... dan saat ini total orang yang masih hidup ada 7 orang.