
Akhirnya setelah sekian kalinya kami menemukan kembali kelas itu di kelas 3-7. Kami masuk bersama dan meletakkan kedua mayat itu di atas tanah dan sementara itu dua orang bertugas untuk menggali tanah untuk menyiapkan dua liang lahat untuk kedua mayat. Setiap galian tanah itu membuat kami sedih melihat Zilan akan dikuburkan di dalam tanah, tapi kami sudah siap untuk ini semua.
Rahmat dan Agus menggali tanah kuburan itu secara masing-masing. Kami tidak bisa membantu selain memperhatikan kedua teman kami yangs sedang menggali tanah karena kekurangan alat untuk menggali. Sementara menunggu mereka selesai menggali, kami yang hanya menonton sedang makan camilan yang di bawa dari kelas sebelumnya.
"Hei jangan kalian habiskan cemilan itu!" ucap Agus yang terlihat kesal karena seperti camilannya akan habis oleh kami.
"Bersiaplah untuk gantian menggali setelah kami menggali setengah liang lahatnya" sambung Rahmat yang menggali tanah itu dengan cepat dan kasar sampai tanahnya berantakan kemana-mana. Sepertinya dia ingin menyelesaikan tugasnya dan segera menyantap camilan seperti kami.
Melihat Rahmat menggali tanah itu dengan terburu-buru, itu membuat Agus ikut-ikutan menggali tanahnya dengan brutal. Sepertinya mereka ingin sekali memakan camilan ini dari pada hanya makan buah beri liar dan buah ceri yang dikumpulkan sebelumnya.
Setelah mereka selesai menggali setengah bagian dari liang lahat itu mereka segera berlari menuju kami yang sedang makan camilan dan merebut camilan itu dengan cepat. Rahmat dan Agus saat ini sedang berselisih karena Rahmat mendapat lebih banyak camilan dari pada dirinya.
Lalu aku dan Bagas segera melanjutkan pekerjaan mereka dan menyisakan camilan yang sedang kami santap untuk mereka berdua. Setelah kami menguburkan kedua mayat ini, apa yang akan kami lakukan selanjutnya? apakah kita akan langsung melanjutkan tugas kita masing-masing seperti sebelumnya.
"Tentu saja setelah kita berdoa untuk kematian mereka aku dan Agus akan kembali melanjutkan pencarian mayat" ucap Rahmat yang mulutnya penuh dengan camilan.
"Benar... kita harus bergerak cepat, tidak boleh lagi ada orang yang jadi korban" sambung Agus yang mulutnya juga penuh dengan camilan.
"Lalu tugas kami yang sebelumnya sebagai pencari kelas lahan kuburan, apa yang harus kami lakukan selain itu?" ucap Wawan yang termasuk ke dalam tim pencari kelas itu.
Sementara semua orang terdiam, akhirnya Lilis menemukan ide, "Bagaimana jika kalian mengumpulkan makanan yang ada di loker meja!" ucap Lilis yang akhirnya usulannya disetujui oleh kami.
Meski kami memiliki tugas tambahan untuk mencari makanan di dalam sekolah. Tim pencari buah-buahan akan tetap mengambil buah di luar sekolah sebagai kebutuhan nutrisi kami. Tidak mungkin juga kami setiap harinya hanya makan camilan, bisa dibayangkan kami akan sakit-sakitan karena makan-makan itu setiap harinya tanpa makanan lain.
Setelah kami selesai menguburkan kedua mayat itu dan mendoakannya. Kami harus segera meninggalkan kelas ini dan melanjutkan tugas kami masing-masing dan lagi perut kami sudah terisi semua dan siap untuk bertugas. Tapi sebelum itu tiba-tiba saja aku teringat sesuatu yang sangat penting dan aku malah melupakannya!.
"Teman-teman tinggu!..." ucapku yang menghentikan mereka yang akan keluar kelas.
"Apa? kita harus segera menyelesaikannya" ucap Rahmat yang terlihat tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ada satu hal yang lupa ku katakan kepada kalian mengenai sosok yang menyerang Zilan dan juga penyebab kematian mayat yang ada disini" ucapku sambil menundukkan kepalaku karena aku merasa bersalah karena lupa mengatakannya kepada teman-teman ku.
"Apa itu? cepat katakan..." ucap Rahmat yang kesal karena aku tidak bicara langsung ke intinya.
"Aku lupa mengatakannya kepada kalian cara mengatasi sosok itu..." ucapku yang tiba-tiba saja Rahmat dengan cepat menghampiri ku dan menarik kerah ku.
"Apa katamu! kau tahu caranya? dan kau lupa memberitahukan nya kepada kami!?" ucap Rahmat yang marah besar padaku, dia adalah orang yang mengerti dan cepat tanggap.
"Benar... maafkan aku..." ucapku.
Tap! Agus dan Bagas memegang pundak Rahmat untuk menghentikan keributan ini. Karena pemikiran mereka sudah terbuka untuk tempat ini. Keributan atau hal semacamnya tidak akan membuat keadaan lebih baik, hal semacam itu hanya akan membuat keadaan semakin buruk.
"Rahmat hentikan... aku tahu apa yang kau pikirkan... kau pasti berpikir jika Fajar tidak lupa memberitahukan kepada kami cara mengatasi makhluk itu, Zilan pasti masih ada disini... itu yang kau pikirkan kan..." ucap Agus yang membuat Rahmat terdiam dan melepaskan tangannya dariku.
"Ini hanya akan membuang waktu kita, jadi... Fajar cepat beritahu kami bagaimana cara mengatasi makhluk itu" sambung Bagas yang akhirnya membuat Rahmat pergi menjauh dariku dan mendengarkan ku dari jauh.
Aku memang terlambat untuk memberitahukan hal ini kepada mereka sehingga membuat Zilan mati. Apakah mungkin jika aku tidak lupa dan memberitahukan cara mengatasi sosok itu kepada teman-teman ku... Zilan tidak akan berakhir seperti ini?. Semua penyesalan itu tak lagi berguna karena semuanya telah berlalu begitu saja.
Kita harus tetap berjalan maju di dunia yang mengerikan ini tanpa memandang kebelakang. Oleh karena itu kami segera melakukan tugas kami lagi, Agus dan Rahmat sudah berpamitan dengan kami untuk menelusuri tempat ini demi mencari mayat yang kemungkinan bertebaran di tempat ini dibunuh oleh sosok itu.
Sepanjang pencarian makanan di loker meja, aku hanya diam saja dan tak berani untuk berkata-kata dihadapan mereka. Karena aku berpikir akulah yang telah membuat Zilan mati. Aku terus berpikir seperti itu dan kesal kepada diriku sendiri sampai-sampai aku tak bisa untuk memaafkan diriku.
"Jangan kau pikirkan lagi Fajar..." ucap Bagas yang sedari tadi memperhatikan raut wajahku yang lesu dan pucat.
"Benar... bahkan sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan perasaan ku..." sambung Wawan sambil menaruh tangannya di dadanya.
"Apa maksudmu?..." ucapku.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan rasa takutku! aku juga tidak peduli lagi pada diriku dan sudah siap jika aku yang akan menjadi korban selanjutnya karena aku seorang pengecut!" ucap Wawan yang terlihat sangat serius sekali dengan kata-katanya.
__ADS_1
Mendengar perkataannya itu membuatku marah karena itu artinya dia sudah tidak peduli pada hidupnya. Bahkan dia sudah bersedia untuk mati dan meninggalkan kami yang merupakan teman baiknya. Apakah dia sungguh peduli dengan pertemanan kami, sampai dia berani berkata begitu?.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu Wawan! kau!..."
Cklek! deg! deg! deg! deg! deg!
Seketika suasana menjadi hening dan mencengkeram. Semuanya terdiam seketika begitu menyadari kalau sosok itu masuk ke kelas yang sedang kami tempati untuk mencari makanan di loker. Deg! deg! jantung kami tak bisa berhenti untuk berdetak dan perlahan semakin kencang karena takut.
Seperti yang ku katakan sebelumnya mengenai cara mengatasi makhluk itu. Kami segera memejamkan mata kami dan berhenti bergerak bahkan menahan nafas kami yang berat agar tidak terdengar oleh makhluk itu seolah-olah kami sudah mati dibunuh olehnya. Tap! tap! tap! makhluk itu bergerak memasuki kelas dengan langkahnya yang berat dan besar.
"Hooooooooohhhh!!!.... hhhhrrrrrrrrrr!...." makhluk itu mendengkur dengan sangat keras hingga membuat jantung kami terasa dingin karena ketakutan.
Biasanya disaat orang ketakutan atau kaget yang luar biasa, pasti mereka akan merasakan dada mereka dingin karena kaget atau takut dan saat ini kami sedang merasakan hal itu. Kami kami bergemetar dan kami menahannya sekuat tenaga.
Sekedar aku teringat ucapan Wawan yang barusan kalau dia sudah siap akan kematiannya. Pikiran ku langsung berpikir kemungkinan yang terburuk terjadi padanya, aku berpikir kalau dia akan menyerahkan dirinya dan mati dibunuh sosok itu.
Tanpa sadar aku membuka mataku sedikit dan makhluk itu segera menengok ke arahku. Aku kembali menutup mataku... tap! tap!... suara langkah kakinya semakin keras! makhluk itu... sedang berjalan ke arahku. Tapi saat aku membuka mataku ternyata Wawan tak melakukan hal konyol dan mengikuti cara untuk menghindari makhluk itu, aku sangat bersyukur untuk itu.
Tapi saat ini... makhluk itu berjalan dengan pelan ke arahku...
Tap!... tap!... tap!...
"Hooooooooohhhh!!!" dengkuran nya terdengar lagi dan membuatku semakin takut.
Perasaan ngeri yang luar biasa seperti ini pernah ku alami sebelumnya, perasaan yang sama saat pertama kali aku melihat makhluk ini di mimpi buruk ku saat itu. Krieet! makhluk itu mencakar meja kayu yang ada di sebelah ku dengan kuku kasarnya.
JRENGGGGGG! dia berhenti melangkahkan kakinya saat berada tepat si depan ku saat ini!. Aku bisa merasakannya... perasaan ngeri yang menakutkan... dengkurannya yang sangat keras dan serak itu bergema di telinga ku. Makhluk itu saat ini sedang melototi ku dengan matanya yang mau keluar dan berurat merah. Kulitnya yang robek itu membuatku mendengar suara daging yang masih segar dan lembek sedang bergetar.
Crek! crek! daging di tubuh makhluk itu seperti hendak akan keluar dan terpisah dari tubuhnya. Aku bisa merasakannya... itu sangat mengerikan meskipun aku tidak bisa melihat seperti apa wujudnya dari dekat. Makhluk itu tetap diam san berdiri di hadapan ku, apakah aku akan dibunuh oleh dengan tragis seperti apa yang dia lakukan kepada semua orang dan temanku Zilan?.
__ADS_1