Jembatan Setan

Jembatan Setan
Keputusasaan


__ADS_3

Dulu... ketika aku dan Agus masih baru mengenal Wawan, Bagas, Lilis dan juga Anis. Kami jadi sering bermain bersama sejak saat itu dan sering memancing bersama. Kami menjadi lebih akrab dalam waktu dekat seolah-olah kami memang sudah ditakdirkan menjadi teman. Kami selalu bersama dan tertawa bersama, ada kalanya juga kami bertengkar karena sesuatu.


"Hahaha! ikan yang kau dapat lebih kecil Agus! lihat nih punyaku ikannya besaaaar sekali!" ucap Anis yang mengejek Agus karena mendapatkan ikan kecil.


Agus merasa kesal, "Kau hanya beruntung! lihat saja nanti aku akan mendapatkan ikan yang lebih besar dari punyamu!" ucap Agus sambil menahan rasa kesalnya.


"Wekkk utu tidak mungkin! soalnya punyaku ikannya besar sekali!" ucap Anis yang terus mengejek Agus padahal Agus sudah diam dan bersabar diri.


"Sudahlah Anis, jangan membuatnya kesal! kita kan sekarang teman" ucap Bagas yang menengadah keributan ini.


Lalu tiba-tiba saja umpan milikku tenggelam dan bertanda ada ikan yang memakan umpan milikku, "Teman-teman umpan ku dimakan! ugh... tolong bantu aku!" ucapku yang tak kuat menarik pancingannya karena ikannya terlalu kuat hingga membuatku tertarik.


Kemudian teman-temanku berkumpul dan membantuku menarik dari belakang secara bersamaan. Meskipun kami sudah bersama ikan itu berat sekali dan masih membuat kami tertarik ke arah sungai.


"Tarik dengan benar Fajar!" ucap Wawan yang berada di posisi paling belakang yang sedang menarik ku.


Uaaaaagghhh aku mengeluarkan seluruh kekuatan ku hingga akhirnya sesuatu mm uncul dari permukaan. Saat itulah aku terkejut dan segera melepaskan rotan pancingan ku dan berlari ke belakang. Agus dan Bagas yang berada di posisi kedua dan ketiga yang menarik ku ternyata juga melihatnya dan juga ikut berlari ke belakang menjauhi sungai.


Anis, Lilis dan Wawan yang berada si posisi belakang terlihat kebingungan melihat teman-temannya yang tiba-tiba berlari menjauhi sungai, sampai-sampai rotan pancing milikku tercebur ke sungai. Setelahnya mereka bertanya-tanya kepada kami mengapa tiba-tiba kami berlari seperti itu.


"Hei kalian kenapa?" ucap Lilis yang heran.


"Iya! kalian aneh sekali tiba-tiba berlari kebelakang!" ucap Wawan sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan heran.

__ADS_1


"Ke-kepala!..." ucapku yang membuat mereka yang tak melihat kejadian itu semakin heran dengan tingkah kami yang ketakutan.


"Hah? kepala? kepala apa?" ucap Anis yang kesal sambil melototi kami.


"Kepala seseorang muncul dari sungai!" ucap Bagas tiba-tiba yang bergemetar ketakutan dan menangis.


"A-apa maksud kalian? kalian bercanda kan?..." ucap Lilis yang tak percaya dengan omongan kami dan menganggapnya sebagai omong kosong.


"Umpannya itu dimakan oleh sebuah kepala seseorang yang sudah membusuk!" sambung Agus yang ikut menangis karena sangat ketakutan sekali.


"H-hei... ja-jangan menakut-nakuti kami!" ucap Anis yang sedikit merasa takut.


"Sepertinya mereka tidak berbohong! aku pulang duluan huwaaaaaa!" teriak Wawan yang terlanjur ketakutan dan berlari kocar-kacir meninggalkan kami.


"Kepala itu... menatap kami..." sambung ku san ikut menangis dengan pelan karena aku juga sangat takut sekali.


Perasaan takut yang kami alami itu menimbulkan trauma kepada semua orang, baik yang menyaksikan secara langsung atau yang mendengarnya dari orang yang melihatnya. Kami sangat takut dan jarang pergi keluar untuk bermain bersama selama beberapa waktu. Setelah keadaan dan suasana hati kami kembali membaik, kami mulai bertemu lagi dan bermain bersama. Tidak ada siapapun yang membicarakan tentang kejadian yang menakutkan itu.


...****************...


Hujan deras dan tidak pernah reda... saat ini aku, Bagas, Agus, Wawan dan Rahmat sedang berada di dalam sekolah. Lebih tepatnya berada di kelas yang berisi kuburan dan sedang duduk terdiam dengan pikiran kosong. Rasa putus asa kami setelah melihat kematian Lilis di depan mata kaki secara tragis oleh makhluk itu membuat hati kami terasa aneh.


Sangat sakit... dan juga kosong...

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu, saat kami masih berada di luar dan kehujanan. Kami melihat ada yang aneh dengan makhluk itu... setelah dia membuang mayat Lilis, makhluk itu tidak bergerak menghampiri kami untuk membunuh kami yang ada di depan matanya. Dia terlihat ragu-ragu untuk berjalan ke arah kami... lalu aku mulai teringat sesuatu.


Sesuatu dimana saat hujan deras pertama kali muncul begitu saja dan dadakan. Saat hujan turun dengan tiba-tiba, makhluk itu segera berlari kembali ke sekolah sambil berteriak-teriak nyaring. Aku menyimpulkan satu hal kalau makhluk itu tidak bisa terkena langsung dengan air.


Kalau cerita itu dihubungkan dengan cerita Pak Budi yang saat itu melarikan diri dari makhluk itu dan tercebur ke sungai. Makhluk itu tidak mengejarnya dan kalau memang makhluk itu mengejarnya sudah pasti Pak Budi mati dan makhluk itu tidak takut dengan air.


Setelahnya kami pergi mencari cara lain untuk masuk ke sekolah itu. Aku terpikirkan satu hal untuk bisa masuk kembali ke sekolah itu agar aman dari bencana banjir. Airnya sudah menggenang sekitar 40 cm, jika kami tetap berada disini akan semakin berbahaya.


Aku teringat kembali saat dimana aku loncat dari gedung sekolah melalui jendela yang pecat oleh Rahmat saat itu. Aku teringat kalau ternyata aku jatuh dari lantai satu, karena saat itu kelasnya yang sebelumnya berada di lantai 3, tiba-tiba saja berubah tempat saat aku melompat melalui jendela untuk menyelamatkan diri makhluk itu.


Kalau tidak salah kelas itu berpindah tempat ke kelas 1-7. Aku tidak tahu pasti kelas itu pindah kemana karena aku berada di dalam kelasnya saat kelasnya berpindah. Jadi kami pergi ke sebelah kanan untuk mencari kelas dengan jendela terbuka karena pecah. Tapi sebelum itu, seharusnya kelasnya sudah berpindah lagi karena sudah beberapa jam berlalu.


Tapi meski begitu tidak ada salahnya bagi kami untuk melihat kelasnya untuk berjaga-jaga. Tapi ternyata saat kami sudah sampai di depan, ternyata benar masih ada kelas dengan jendela yang pecah. Kami sangat bersyukur kalau ternyata kelasnya belum berpindah, padahal beberapa jam sudah berlalu sejak saat itu. Kecuali... jika hujan ini telah membuat kelasnya berhenti berpindah untuk beberapa saat sampai hujannya berhenti.


Kami segera masuk ke dalam kelas itu melalui jendela itu satu-persatu. Keadaan di kelas ini juga sama, air hujannya sudah merambat keseluruhan kelas yang ada di lantai satu dan semakin tinggi. Seperti itulah cara kami bisa masuk ke kelas ini sebelumnya. Tapi yang anehnya... hanya isi kelas saja yang ikut tenggelam, sementara lorong-lorong kelas ini tidak terendam air. Seperti ada sebuah pembatas di antara pintu masuk kelas yang membuat airnya tidak keluar. Yah tempat ini memang aneh dan mengerikan, kami sudah tidak terkejut lagi.


"Hei... bukankah seharusnya kita naik ke lantai 2?" ucap Wawan tiba-tiba disaat semua orang terdiam dengan pikiran kosong.


"... Benar... tapi makhluk itukan sedang berdiri di depan pintu masuk sekolah, dan tangga menuju ke lantai dua ada di depan pintu masuk sekolah..." ucap Rahmat dengan datar dan merasa pasrah.


"... Teman-teman... aku ada ide..." ucapku sambil berdiri.


Kalau tidak ada seorangpun yang dapat memimpin tim yang sudah putus asa dan pasrah. Maka aku harus bertindak dan mencoba menyelesaikan masalah kami bersama-sama. Kami memang berada di ambang keputusasaan, tapi kami masih memiliki peluang untuk hidup dan keluar dari sini walau kemungkinannya sangat kecil.

__ADS_1


Sebelum kami membunuh dalang awal mula permasalahan ini, kami harus menyelamatkan diri kami dan pergi ke lantai 3. Kenapa kami tidak tetap di kelas saja, bukankah makhluk itu takut air jadi tidak mungkin masuk ke kelas dan kami bisa aman, kalian pasti berpikir seperti itu.


Tapi melihat hujannya yang sangat deras dan tak berhenti disertai dengan kilat. Kami sadar bahwa hujan ini tak akan pernah berhenti sampai akhirnya hujannya berhenti sendiri. Karena itu kami harus segera menaiki tangga, sebelum makhluk itu datang dan kembali berjalan di lorong-lorong sekolah. Untuk saat ini sepertinya makhluk itu masih tetap berdiam diri di depan pintu masuk sekolah. Jadi kami harus bergerak cepat, dengan kemungkinan hidup yang sangat kecil.


__ADS_2