
Kemudian aku, Zilan, Bagas dan Wawan pergi masuk ke kelas itu sambil menggotong mayat itu secara bersamaan. Kami masuk dan melihat banyak barang-barang aneh di kelas yang berisi lahan kosong ini. Ada sebuah cangkul dan sekop di dalamnya... lalu yang paling aneh... di atas kelas, tidak... lebih tepatnya di atas kuburan yang ada di kelas ini... terdapat sistem katrol sederhana.
"Kuburan itu... apakah ada orang yang lebih dulu mengubur seseorang disitu?" ucap Wawan yang berlindung di belakang kami karena ketakutan.
"Entahlah aku tidak tahu... kakek juga tidak pernah menceritakan hal ini" ucapku.
Kalau dilihat dari berbagai sisi dan kemungkinan dengan barang-barang yang ada di dalam kelas ini. Kuburan itu bukanlah kuburan yang tercipta karena seseorang menguburkan mayat seseorang. Lebih tepatnya... orang itu mengubur dirinya sendiri dengan menggunakan katrol itu yang masih mengikat karung besar yang kotor karena tanah.
Orang yang ingin mengubur dirinya itu pasti sudah menyiapkan lahan untuk mengubur dirinya sendiri dan memikirkan cara untuk mengubur dirinya dengan membuat katrol yang berada di atas kuburannya. Begitu orang itu masuk ke dalam kuburan itu, maka dia hanya perlu melepas tali katrol yang menahan karung yang berisi setumpuk tanah yang dia gali untuk menimbunnya kembali.
"Bagas dan Zilan bantu aku menggali kuburan. Wawan, kau pergi menghubungi teman-teman kita yang ada di bawah untuk segera ke kelas ini" ucapku yang mulai serius untuk menjalankan operasi ini.
Wawan langsung menuruti perintah ku dan berlari keluar kelas untuk menghampiri teman-temanku yang ada di lapangan dengan cepat. Sementara itu aku dan Bagas bertugas untuk menggali kuburan ini karena hanya ada satu cangkul dan satu sekop. Sementara itu Zilan bertugas untuk menjaga kelas ini, untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang datang, entah apa itu firasat ku mengatakan kalau akan terjadi sesuatu yang buruk kepada kami.
Mengenai sosok hitam... yang ada pada mimpiku itu... terus menghantui pikiran dan hatiku. Bahkan tanganku juga masih bergemetar sedikit sampai saat ini. Sosok yang sangat menyeramkan, saat mulutnya terbuka lebar dengan gigi tajam yang memakan setengah tubuh Pak Budi. Itu membuatku merasakan rasa ngeri yang luar biasa padaku.
Kemudian Wawan yang ku perintahkan untuk membawa teman-teman kita yang ada di lapangan sudah tiba di kelas ini. Mereka datang dan masuk ke kelas dengan bersamaan karena tidak ingin tertinggal. Ekspresi mereka juga sama seperti kami saat pertama kali melihat tempat ini, mereka benar-benar terkejut melihatnya.
"Setelah ini... apa yang akan kita lakukan? Fajar?" ucap Rahmat kepadaku yang seolah-olah sekarang aku adalah pemimpin bagi mereka karena memiliki banyak informasi yang ku ketahui tentang tempat ini karena kakekku yang menceritakannya padaku.
"Setelah selesai menguburkan mayat ini, kita sementara kita akan beristirahat di salah-satu kelas" ucapku sambil menggali tanah.
__ADS_1
Karena saat kni kami sedang membutuhkan istirahat yang cukup setelah semuanya bertugas dengan tugas mereka masing-masing seharian. Untuk mengisi stamina kami dan melanjutkan tugas kami di lain waktu, kami membutuhkan istirahat di tempat yang tidak mengenal waktu ini.
"Teman-teman... apa kita... benar-benar bisa keluar dari sini?" ucap Lilis yang mulai membuat suasana ini menjadi kacau lagi.
"Aku benar-benar sangat mengerti perasaan kalian saat ini. Kalian merasa gelisah dan resah kan, tapi yakinlah pada kami dan dirimu sendiri Lilis... kalau jika kita bersama kita pasti akan menemukan jalan keluar yang terbaik untuk keluar dari sini" ucapku yang mencoba untuk menghilangkan kembali suasana yang kacau ini.
"Kak Fajar benar... kita harus selalu berfikir positif dan jangan membiarkan pikiran negatif kita membuat kita terpecah belah lagi seperti sebelumnya..." ucap Zilan.
"Haha, kau sudah pintar sekarang ya, Zilan " ucap Rahmat sambil mengusap-usap rambut Zilan hingga berantakan.
"Hahahaha!..." tawa Agus yang tiba-tiba dan membuat kami terdiam memperhatikannya.
"Kau kenapa Agus?..." ucap Wawan dengan heran.
"Huwahahahaha! apa-apaan kau ini Agus! hahaha, kau ini memang tidak pandai melawak!" ucap Rahmat sambil menepuk-nepuk badan Agus dengan keras.
"Memangnya anak nakal seperti mu bisa melawak?" ucap Wawan yang membuat kita semua tertawa.
Saat ini... aku merasa lega... akhirnya kami saling tertawa satu sama lain. Ini membuat keadaan persahabatan kami kembali menjadi dulu, dipenuhi dengan canda dan tawa. Semuanya terlihat tertawa dan bahagia, seolah-olah mereka sudah tidak peduli dengan keadaan yang saat ini. Benar... kita harus seperti ini, kita tidak boleh merasa takut karena kami akan selalu bersama!.
Setelah beberapa saat, dengan berganti-ganti saling menggali tanah, akhirnya kami sudah sial membuat galian kuburan untuk mayat yang pertama kali kami temukan. Kami segera bersiap-siap untuk memindahkan mayat itu ke dalam kuburan. Aku dan Rahmat sudah berada di bawah kuburan dan sementara Agus dan Bagas menggotong mayat itu untuk diserahkan kepada kami yang berada di bawah kuburan.
__ADS_1
"Baiklah hati-hati..." ucap Rahmat sambil meraih mayat itu bersama dengan ku.
Setelahnya aku dan Rahmat dengan perlahan-lahan menaruh mayat itu di atas tanah kuburan. Karena kami tak memiliki kain untuk menutup mayat itu dan kayu atau bambu untuk menutup bagian atas mayat itu. Akhirnya yang bisa kami lakukan hanya segera menguburkan mayat itu kembali dengan tanah galian kami. Sebenarnya kami bisa menggunakan karung yang menggantung di katrol itu, tapi kurasa karung itu tidak pantas untuk digunakan pada mayat seseorang yang tak bersalah masuk ke tempat ini dan mati.
Setelah kami selesai menguburkan mayat itu, kami mendoakan mayat itu dengan kepercayaan kami masing-masing. Setelah itu kami pergi keluar kelas ini dan pergi ke kelas yang ada di depan yaitu kelas 3-2 untuk beristirahat di kelas itu. Kelasnya sangat berantakan, banyak meja dan kursi yang diletakkan di depan scream acak-acakan.
Di setiap kelas setidaknya berisi satu lemari besar, papan tulis, meja guru. Sementara itu kami merapihkan meja dan kursi yang mengganggu dan kami akan tidur di lantai tanpa alas dan bantal atau guling seperti di rumah kami. Lalu di saat yang lain sudah bergeletakan di atas alas kayu yang merupakan lantai di sekolah ini, tiba-tiba saja Agus pergi mendekati lemari itu.
"Agus... kau mau apa dengan lemari itu?" ucap Wawan yang membuat kami semua berpikir buruk kalau akan keluar sesuatu dari dalam lemari itu.
"Aku hanya ingin tahu isi lemari ini, mungkin saja ada sesuatu yang kita perlukan..." ucap Agus yang tanpa basa-basi segera membuka lebar lemari itu.
Namun syukurlah tidak ada apa-apa di dalam lemari itu seperti yang kami pikirkan. Hanya ada tikar yang penuh debu dan seragam sekolah yang mirip dengan seragam sekolah kami. Lemari itu penuh dengan debu, jadi Agus segera mengeluarkan tikar itu dan membersihkan tikar yang penuh dengan debu itu untuk dijadikan alas tidur.
"Syukurlah ada tikar, meskipun berdebu setidaknya ini membantu kita untuk cepat tidur dari pada tidur di alas kayu yang keras dan rusak itu" ucapku sambil membantu untuk menggelar tikar yang sudah di kibas kibaskan.
Setelah itu Wawan segera menempati tikar yang baru di gelar sambil meloncat, "Ukh! tikarnya sama sekali tidak bagus..." keluh Wawan karena tikarnya masih bau debu dan menyumbat pernapasannya.
"Benar... tapi setidaknya ada alas untuk ditempati kan" ucap Zilan yang ikut berbaring.
Setelahnya kami berbaring bersama-sama di tikar itu untuk beristirahat untuk melanjutkan hari esok. Haha, padahal disini kami sama sekali tak mengenal waktu, tapi setidaknya dengan beristirahat membuat keadaan menjadi lebih baik untuk memulai tugas kami saat bangun nanti.
__ADS_1
Tapi sebelum itu, aku harus memberitahukan dulu kepada teman-temanku mengenai tempat ini dari yang ku tahu melalui cerita kakek. Karena ini adalah cerita yang penting untuk teman-teman ku agar bisa tenang meski keadaan membuat mereka merasa putus asa. Setidaknya dengan beberapa informasi yang ku tahu, akan memudahkan kami untuk melanjutkan tugas kami. Aku juga telah memberitahu kepada teman-teman ku yang belum mengetahui kalau kelas ini dapat berpindah pindah dengan waktu yang tak menentu. Operasi ini akan dilanjutkan setelah kami sudah siap untuk beraktivitas lagi!.