
Saat ini... di dunia yang sebenarnya... kami sudah hilang selama 1 hari. Kabar tentang kami yang menghilang sudah tersebar dengan cepat di seluruh penjuru desa. Para guru dan teman-teman sekolah kami merasa sedih dengan kehilangan kami dan juga mereka merasa takut akan jembatan itu. Tentunya rumor hilangnya kami pasti akan disangkutpautkan dengan jembatan itu dan memang itulah kenyataannya rumor mengenai orang-orang hilang di desa, jembatan itulah yang merampas semua penduduk desa yang hilang.
Karena kejadian ini, hilangnya 8 murid dan juga satu guru sebulan yang lalu. Akhirnya kepala sekolah terpaksa untuk menutup sekolah ini terlebih dahulu untuk sementara hingga keadaan membaik lagi. Kasus ini adalah yang paling parah dan para orang tua peserta didik tidak mengizinkan anaknya untuk sekolah disitu lagi.
Beberapa dari warga desa berencana untuk meninggalkan kampung halaman mereka demi melanjutkan anaknya menempuh jenjang pendidikan yang baik dan juga aman tanpa rasa takut dan khawatir akan kehilangan anaknya.
Padahal sudah 1 hari sejak hilangnya aku dan teman-temanku di dunia Setan itu. Tapi sudah ada puluhan warga desa yang meninggalkan desa ini karena tidak merasa aman. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, mungkin saja desa ini akan di tinggalkan karena akan semakin banyak para penduduk desa yang meninggalkan kampung halaman mereka untuk keluar kota.
Brak!
"Ayaaaaaah! ini semua salah ayah!" ucap ayahku kepada kakekku sambil mendobrak pintu kamarnya.
Namun kakekku tak menanggapi perkataan ayahku dan hanya terdiam sambil memandangi jendela dan di tangannya juga saat ini sedang memegang sebuah foto yang dimana di foto itu terdapat foto dia dengan istrinya waktu masih muda.
"Pah! jangan kasar sama ayahku!" ucap ibuku yang menarik lengan ayah untuk keluar dari kamar kakek.
"Lepaskan! Siti! anak kita! anak kita hilang!" ucap ayahku yang matanya berkaca-kaca dan tak sanggup untuk menahan air matanya lagi karena kepergian ku.
Kemudian ibuku hanya bisa terdiam dan tak dapat membantah kata-katanya lagi karena memang itu kenyataannya. Anak mereka yang tak lain adalah aku, Fajar... menghilang dan membuat kedua orang tuaku sedih. Ayahku menangis terduduk di lantai sambil memukul-mukul lantai rumah yang berupa kayu, ibuku juga ikut menangis melihat ayahku yang gagah itu menjadi rapuh.
Sementara itu kakekku masih terdiam sambil memperhatikan jendela luar. Melihat semakin lama semakin banyak para penduduk desa yang bersiap untuk pergi meninggalkan desa ini. Kemudian setelahnya kakekku menaruh foto yang ia pegang di atas mejanya dan bangun dari kasurnya dan pergi keluar kamar.
"Anakmu... akan selamat... karena dia anak yang jenius" ucap kakekku sambil melewati ayahku yang sedang menangis di depan pintu.
Lantas ayahku yang mendengar perkataan kakek menjadi terkejut mendengarnya, ibuku pun juga sama kagetnya. Kemudian ayahku berdiri dan berhenti menangis, "Kenapa ayah begitu yakin... apa karena... itu?..." ucap ayahku sambil mengusap-usap air matanya.
__ADS_1
Kakek tak menjawab pertanyaan dan tetap pergi keluar pintu rumah dan duduk di tangga rumah sambil memandangi desa yang ia tinggali. Padahal Kakek tidak pernah keluar sedikitpun dari rumah, tapi untuk kali ini kakek pergi keluar rumah dan duduk sambil memandangi desanya.
"Tia... apakah kamu..."
...****************...
Sementara itu, saat ini di posisi Rahmat dan Agus yang baru saja menemukan satu mayat yang berada di mulut goa. Segera menggotong mayat itu dengan kedua tangan mereka dan membawanya kembali. Mereka mencoba membawanya kembali sambil mengikuti jejak yang mereka tinggalkan berupa ranting-ranting kayu yang di tinggalkan oleh Agus untuk penanda agar mereka dapat pulang dengan selamat.
Namun ranting-ranting kayu yang mereka tinggalkan di tanah tiba-tiba saja menghilang. Mereka terkejut dan berusaha untuk tidak panik dan menenangkan hati mereka. Seperti yang sudah mereka rencanakan, jika cara pertama untuk pulang gagal, maka masih ada cara kedua untuk pulang. Yaitu memilih jalan lurus yang tadi mereka lewati.
"Ayo kita jalan lurus saja Agus..." ucap Rahmat yang memimpin jalan.
"Baiklah... tapi, ukh... bau mayatnya busuk sekali... kondisinya juga sangat parah seperti dicabik-cabik oleh binatang buas berukuran besar" keluh Agus yang sudah tidak tahan dengan bau mayat yang mereka bawa saat ini.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang melewati jalan yang mereka lewati sebelumnya. Mereka berjalan dengan lebih cepat dari pada saat mencari mayat, tapi... sudah 30 menit berlalu mereka belum bisa kembali menemukan sekolah itu. Di saat itulah mereka tersadar bahwa diri mereka sudah tersesat.
"K-kau benar... kita masih memiliki cara terakhir. Ayo berteriak memanggil Teman-teman kita, mungkin saja jarak kita tidak jauh dengan mereka" ucap Rahmat yang ikut merasa gelisah.
"FAJAAAR! BAGAAAS! SEMUANYAAA! KALIAN DIMANAAA!" teriak Agus dan juga Rahmat dengan sangat keras. Mereka terus berteriak dan mengulangi hal yang sama tapi sepuluh menit sudah berlalu. Mereka masih belum bisa keluar dari sana dan mereka merasa kalau mereka semakin jauh dari kami.
"Agus bagaimana ini!? apa yang harus kita lakukan!" ucap Rahmat dengan suara yang sedikit keras karena mulai resah.
"Aku tidak tahu!... eh... apa itu?" ucap Agus begitu melihat ada sebuah pohon memiliki sebuah goresan tanda silang.
Kemudian mereka menghampiri pohon itu dan melihat goresan pohon itu. Goresan itu... terlihat sekali kalau itu adalah bekas goresan seseorang, mungkin masih ada orang yang hidup di sini atau seseorang yang sudah mati meninggalkan goresan ini sebagai tanda. Itulah yang mereka pikirkan, hingga akhirnya mereka menemukan goresan bertanda silang lagi di pohon sebelah.
__ADS_1
"Agus lihat pohon ini..." ucap Rahmat.
"Sepertinya tanda silang ini akan membawa kita ke suatu tempat. Semoga saja goresan ini menuju sekolah itu, ayo kita ikuti goresan ini Rahmat!" ucap Bagas yang kemudian mereka bergegas mengikuti pohon yang bertanda itu ke pohon lainnya yang memiliki tanda yang sama.
Mereka terus mengikuti pohon bertanda itu sambil berlari. Mereka sangat yakin kalau tanda ini akan membawa mereka pulang. Namun... begitu mereka sampai, yang mereka temukan adalah kembali ke goa tadi. Mereka terkejut karena ternyata tanda ini membawa mereka kembali ke tempat asal mereka menemukan mayat ini.
"A-apa-apaan ini!? kita... kembali! yang benar saja! aku sudah lelah!" ucap Rahmat yang merasa kesal karena sedari tadi berjalan dengan sia-sia karena tidak menemukan jalan kembali.
"Tunggu sebentar Rahmat, mungkin saja jika kita mengikuti tanda itu secara terbalik, tanda ini akan membawa kita kembali ke sekolah" ucap Agus yang jawabannya masuk akal, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali mengikuti tanda pohon itu secara terbalik.
Sementara itu... aku dan teman-temanku masih menunggu kedatangan Agus dan juga Rahmat yang tak kunjung kembali. Kami mulai merasa khawatir kalau mereka akan tersesat jauh dari kami dan tak akan pernah kembali. Kami benar-benar tidak menginginkan hal itu terjadi, kami masih berharap kalau mereka akan kembali.
"Teman-teman... bagaimana ini... apakah mereka baik-baik saja disana?..." ucap Wawan yang terlihat cemas.
"Jangan berkata seperti itu Wawan... jangan membuat kami ketakutan..." ucap Lilis.
"Benar... kita hanya perlu menunggu mereka lebih lama lagi... mereka pasti akan kembali, aku yakin..." ucapku yang mencoba membuat suasana ini menjadi tenang kembali.
Beberapa saat kemudian... Agus dan Rahmat masih mengikuti tanda di pohon itu sembari menggotong mayat itu. Mereka mulai lelah dan kehabisan tenaga... tapi mereka masih memiliki harapan untuk kembali, dengan tekad mereka yang kuat, mereka masih bisa melangkahkan kakinya untuk pulang.
Hingga akhirnya...
"Itu mereka! kita berhasil kembali Agus!" ucap Rahmat yang merasa lega dan senang.
"Kau benar ayo kita hampiri mereka" ucap Agus yang bersemangat kembali.
__ADS_1
"Eh... teman-teman! mereka kembali!" ucap bagas yang segera menyusul Agus dan Rahmat, lalu kami ikut menyusul Bagas yang lebih dulu menyusul mereka.
Karena Agus dan Rahmat sudah kehabisan tenaga, ini adalah giliran kami yang membantu mereka mengangkat mayat itu, sementara Agus dan Rahmat bisa makan buah-buahan yang di petik oleh Lilis dan Anis sekaligus beristirahat untuk mengembalikan tenaga mereka.