Jembatan Setan

Jembatan Setan
Dua Mayat


__ADS_3

Rahmat masuk ke dalam toilet untuk menemui kami, namun wajahnya terlihat heran saat melihat kami. Padahal sebelumnya kami tidak seperti ini dan Rahmat melihat kami seperti orang yang putus asa.


"Sudah berakhir ya..." ucap Agus sambil tersenyum kesal.


"Hah? apa maksud kalian?..." ucap Rahmat yang membuat semua orang memperhatikannya dengan tajam sehingga membuat Rahmat takut.


"Hantu itu... mengejar mu kan?..." ucap Bagas sambil menahan tangis.


"Apa? hantu? kalian ini bicara apa sih?..." ucap Rahmat yang semakin bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Eh!? lalu kenapa kau berlari dan berteriak-teriak tadi!" ucap Wawan dengan matanya yang melotot tajam.


"Itu karena aku menemukan mayat lain di kelas 2-9 bukannya di kejar hantu. Kalian ini kenapa sih!" ucap Rahmat yang kesal sendiri karena sikap kami tiba-tiba aneh.


"HAAAAAAHHHH!!!" ucap kami yang terkejut kalau ternyata yang membuat Rahmat berlari sambil berteriak-teriak memanggil nama kami bukan karena dikejar oleh hantu yang membunuh Zilan. Kesalahpahaman ini membuat kami merasa malu dan saling diam untuk sementara.


"Sudahlah ayo... aku tahu ini perkataan yang kejam. Tapi kita tak memiliki waktu untuk bersedih sekarang! kalau kita menghabiskan waktu kita untuk bersedih seperti ini hanya akan membuat korban bertambah! kita harus menyelesaikannya secepat mungkin dan kembali ke desa, lalu saat itulah kita harus bersedih untuk orang yang berkorban untuk kita karena mati disini!" ucap Rahmat yang membuat kami tertegun oleh kata-katanya.


Padahal dia hanya anak nakal yang suka memalak orang dan tertidur di kelas saat pelajaran berlangsung. Tapi kami tak menyangka kalau orang sepertinya bisa berkata seperti ini dan memberikan kami motivasi disaat sedang hancur. Kami memang tidak salah memilih teman, meskipun orangnya seperti Rahmat sekalipun


Alasan kami berteman dengan Rahmat disaat semua orang tidak ada yang mau menemani nya dan menjauh karena takut akan dipukuli olehnya. Adalah karena kami tahu bahwa dia adalah orang yang baik, dia hidup susah bersama dengan ayahnya saja di desa. Saat itu kami melihat kalau Rahmat membantu seseorang nenek yang kesulitan dengan wajahnya yang tersenyum ikhlas. Wajah senyumannya itu tidak pernah terlihat saat di sekolah, jadi kami bisa tahu seperti apa orang yang bernama Rahmat saat itu dan berteman dengannya.


"Seperti apa keadaan mayat yang kau temukan Rahmat?" ucapku sambil berdiri untuk melanjutkan perjalanan kami yang belum selesai.


"Kalian akan tahu saat melihatnya dan jangan lupa membawa mayat Zilan..." ucap Rahmat yang membuat kami terdiam.


"Eh kenapa?..." ucapku yang tak mengerti.

__ADS_1


"Sekarang dia juga menjadi salah satu syarat untuk bisa keluar dari sini kan dan lagi apa kau akan membiarkan mayatnya disini secara tidak terhormat?" ucap Rahmat yang perasaannya selalu saja kesal dan nada suaranya yang tinggi.


Perkataan Rahmat memang benar, padahal aku sendiri yang memberitahu satu-satunya cara untuk keluar dari sini tapi aku malah melupakannya. Benar... Rahmat juga menjadi salah satu syarat mayat yang harus kami kuburkan sekarang.


Lalu... seperti ucapannya... kami tidak memiliki waktu untuk bersedih disini dengan orang yang sudah berkorban di tempat ini demi kami. Kami harus segera menyelesaikannya dan keluar dari sini dan bersedih bersama untuk pengorbanannya meskipun kuburannya tidak ada di dunia asal kami. Setidaknya pengorbanannya masih teringat oleh kami.


Tidak hanya itu... senyumannya dan tawa yang selalu ia pancarkan saat bermain bersama kami, terutama permainan sepak bola. Dia selalu tersenyum kesal setiap kami kami mengalahkannya, meski begitu sebenarnya dia terlihat senang dan bersemangat untuk mengalahkan kami di pertandingan selanjutnya.


Lalu... dia juga adalah rival sepak bola ku, kami selalu bertanding untuk merebut lapangan sepak bola dan dia selalu memenangkan nya dengan tertawa puas karena hanya di balap lari saja aku bisa dikalahkan olehnya. Kira-kira seperti apa rasanya jika bermain bola tanpa rival yang selalu berada di dekat ku... aku benar-benar tidak tahu akan seperti apa.


"Hei Fajar, kita sudah sampai dikelasnya..." ucap Agus yang membuatku sadar kembali karena sedari tadi aku bengong karena memikirkan banyak hal.


Krieet! Agus segera membuka pintu kelas yang dimaksud oleh Rahmat kalau di kelas 2-9 ada mayat seseorang. Entah dari mana asal mayat itu... apakah itu mayat baru atau tidak, yang artinya ada seseorang yang masih bertahan hidup disini atau mungkin bisa saja mayat yang sudah lama ada di kelas ini tapi kami belum pernah memeriksanya.


"Ukh!... i-itu mayatnya Rahmat?" ucap Agus yang terkejut melihat kondisi mayat itu yang tangan dan kakinya lepas dari badannya.


"Ja-jadi... selama ini dia masih hidup?" ucap Bagas yang merasa mual melihat kondisi mayat itu yang mengerikan.


"Benar... kemungkinan besar dia adalah orang yang lebih dulu terjebak di tempat ini dibandingkan dengan kita" ucapku yang lalu memperkirakan kematiannya berdasarkan jejak kematiannya yang tertinggal.


Darahnya yang berasal dari dalam lemari itu dan lemarinya yang memiliki bekas lubang cakaran!. Tidak salah lagi ini pasti sosok hitam yang ku lihat di mimpiku saat itu. Cakarnya yang tajam membuat mayat ini terluka dan mengeluarkan darah saat bersembunyi di dalam lemari ini.


Lalu sosok itu membuka lemarinya dan menyeret si mayat dengan kukunya yang tajam. Lalu karena bekas seretan darah tidak berantakan, itu berarti si korban tidak memberontak dan hanya pasrah pada hidupnya. Kemudian si korban di angkat dan diletakkan di atas meja ini kemudian bagian tubuhnya di potong-potong dengan kejam dan di robek-robek badannya.


Ini benar-benar kematian yang tragis baginya, dia pasti sangat ketakutan sekali sampai terus bersembunyi di dalam lemari itu dalam waktu yang sangat lama. Terlihat dari ada banyak kotoran juga di dalam lemari itu... tapi... dari mana asal plastik cemilan yang menumpuk di dalam lemari itu. Dia pasti bertahan hidup di lemari itu hanya dengan memakan camilan itu kan.


"Hei teman-teman! aku menemukan banyak makanan di kolong meja!" ucap Wawan yang sedari tadi memunguti cemilan di setiap meja kelas dengan semangat.

__ADS_1


Kemudian Anis dan Lilis segera menghampirinya dan melihat camilan itu, "Benar... ini camilan sungguhan... eh!? tapi camilan ini sudah kadaluarsa!" ucap Lilis yang memperhatikan tanggal expired camilan itu.


"Benar... tanggal expired nya juga sudah lama!" ucap Anis yang kecewa karena tidak bisa makan camilan itu.


Krek! kemudian Wawan membuka camilan itu, "Tapi... teman-teman, ini seperti camilan yang masih baru. Dia tidak terlihat busuk meski tanggal expired nya sudah lebih bertahun-tahun!" ucap Wawan yang membuat semuanya terkejut dan pergi menghampirinya.


Sementara itu aku dan Agus masih memeriksa mayat ini dan mempersiapkannya untuk di kubur. Mengenai camilan yang ditemukan oleh Wawan, pasti si korban tidak hanya berdiam diri di lemarinya saja. Si korban hanya bisa berdiam di kelas ini sambil memakan camilan yang ada di kolong meja dan kembali bersembunyi ke dalam lemari begitu dia sudah cukup untuk mengambilnya.


Namun alasan dia mati adalah... dia tidak memiliki waktu yang tepat di saat dia sedang mengambil camilan itu... tiba-tiba saja sosok itu datang dan mengejutkannya. Kemudian si korban segera berlari meninggalkan camilan yang ia pegang dan jatuh di berserakan di lantai seperti camilan yang ada di sana!.


Si korban segera bersembunyi masuk kembali ke lemari ini. Namun sayang sekali... karena sosok itu sudah melihatnya, maka dia pasti akan mati di bunuhnya. Lalu mengenai makanan yang masih segar yang padahal tanggal expired nya sudah berlalu bertahun-tahun, kemungkinannya adalah...


Aku pergi ke Wawan dan meninggalkan Agus yang sedang membereskan mayatnya, "Mungkin... alasan makanan itu tidak basi atau membusuk meski sudah kadaluarsa adalah... karena waktu di tempat ini tidak berfungsi" ucapku yang membuat semuanya terkejut mengenai fakta yang baru saja ku katakan.


Meskipun aku masih tidak sepenuhnya yakin dan kakek juga tidak memberitahu ku soal waktu yang terjadi di dunia ini, atau mungkin belum sempat menceritakannya karena ayah datang dan menghentikan cerita kakek. Tapi aku rasa aku mengetahui satu hal yang tidak diceritakan oleh kakek mengenai waktu yang berjalan di tempat ini.


"Apa benar begitu Fajar? jika benar aku akan memakannya sampai puas!" ucap Wawan yang tak ragu-ragu lagi jika aku sudah berkata begitu dan dia langsung melahap camilan itu dengan cepat.


Sementara itu yang lainnya masih tidak yakin dengan kualitas makanan itu karena tanggal expired nya yang sudah lewat bertahun-tahun. Mereka mungkin berpikir kalau itu adalah ilusi, yang dimana sebenarnya makanan yang sedang kita lihat adalah bahan-bahan busuk seperti yang ada di film-film saat aktornya sedang makan tiba-tiba saja makanannya berubah menjadi belatung atau semacamnya.


"Kalian tidak perlu khawatir akan makanan itu, makanlah kalau tidak Wawan akan menghabiskan semua camilan itu" ucapku yang mencoba membujuk mereka agar tidak ragu-ragu lagi.


Hingga akhirnya mereka terpengaruh oleh kata-kataku dan tak peduli lagi jika apa yang mereka makan nantinya akan berubah seperti yang ada di film-film. Sementara itu aku dan Agus harus menggotong mayat itu dan tidak sempat untuk mencoba camilan itu.


Lalu sebelum kita pergi dari kelas ini, aku menyuruh Anis, Lilis dan Wawan untuk mengumpulkan camilan yang banyak dari kelas ini. Sementara itu Rahmat dan Bagas membawa mayat Zilan dan kami setelahnya kami meletakkan kedua mayat itu di lorong.


Kemudian membagi tugas dengan Rahmat dan Bagas untuk kembali mencari kelas yang berisi lahan kosong itu atau mungkin yang sekarang di sebut sebagai kelas yang berisi lahan kuburan. Sementara itu Lilis, Anis dan Wawan disuruh menjaga mayat itu dan tetap di lantai dua untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


Seperti biasa aku mendapatkan bagian di lorong sebelah kiri dan Rahmat dengan Bagas di bagian lorong kanan. Meskipun sebelumnya aku pergi mencari kelas itu bersama dengan Zilan, tapi itu sudah berlalu dan kami harus melanjutkan semua pengorbanan yang pernah dilakukan.


__ADS_2