Jembatan Setan

Jembatan Setan
Membagi Tugas


__ADS_3

Tata letak wilayah :



Dengan bekerja sama yang baik antara satu dengan yang lainnya, kami yakin akan baik-baik saja disini dan bisa keluar dengan selamat. Karena itulah kami, kami bukan teman yang hanya ada di saat senang saja, karena kami selalu bersama dan tidak akan terpisahkan. Saat ini aku bersama dengan ketiga temanku, Bagas, Wawan, Zilan sedang mencari kelas yang beralaskan tanah kosong.


Sementara yang lainnya memiliki tugas mereka masing-masing. Aku pergi mencari kelas itu bersama dengan Zilan di lorong samping kiri dari lantai 1 sampai lantai 3. Sementara Bagas dan Wawan mencari di lorong samping kanan. Tangga di sekolah ini berada di tengah-tengah tepat di depan pintu masuk sekolah ini, denahnya juga persis seperti sekolah kami.


Denah kelas :



Setiap lantai memiliki sepuluh kelas yang saling berhadapan dengan tingkat kelas yang berbeda di setiap lantainya. Saat ini kami terus mencari-cari kelas itu, keadaan di dalam sekolah jauh lebih gelap ketimbang berada di luar meskipun keadaannya juga gelap karena terdapat sedikit kabut dan juga langit yang gelap karena tertutup awan yang sangat tebal.


"Zilan... maafkan soal teman-temanku ya..." ucapku yang merasa bersalah kepada Zilan karena teman-temanku bersikap kasar padanya.


"Tidak apa kak... lebih baik jangan dibahas lagi" ucap Zilan yang merasa tidak enak.


Kemudian kami aku dan Zilan lanjut mencari kelas itu di lantai ke 3, setelah selesai menelusuri lantai 1 dan lantai 2 di sisi kiri. Karena disisi kiri jumlah kelasnya hanya dikit yang totalnya ada 4 kelas saja di setiap lantainya. Kami bisa mencarinya lebih cepat dari pada Bagas dan Wawan yang mencari disisi kanan yang total kelas di setiap lantainya ada 6 kelas di tambah dengan 2 toilet yang saling berhadapan di ujung kanan di setiap lantainya juga.

__ADS_1


Kelas 1 di sisi kiri terdapat kelas 1-1, 1-2, 1-9, 1-10. Kemudian kelas 2 di sisi kiri terdapat kelas 2-1, 2-2, 2-9, 2-10 dan yang terakhir di kelas 3 di sisi kiri terdapat kelas 3-1, 3-2, 3-9, 3-10. Kemudian aku membuka pintu kelas 3-1, begitu aku membukanya aku sedikit heran karena di kelas ini terdapat banyak meja dan kursi yang berantakan di depan pintu kelas.


"Lagi-lagi ada beberapa kelas yang kelebihan meja dan kursinya" gumam ku sambil melanjutkan memeriksa kelas 3 yang terakhir yaitu kelas 3-10.


Aku dan Zilan terkejut begitu melihat ke dalam kelas. Karena ceritanya benar seperti apa yang kakek katakan padaku kalau di sekolah ini terdapat satu kelas yang alasnya adalah tanah kosong. Tapi... kakek tidak pernah mengatakan kalau di kelas yang tanahnya lahan kosong itu terdapat satu kuburan di depan sana.


"Kak... apakah kelas ini yang kakak maksud?" ucap Zilan yang merinding ketakutan.


"Be-benar... ta-tapi... kenapa ada satu kuburan disana!?" ucapku yang ikut merasa takut.


"Kak lebih baik kita memberitahukan yang lain lebih dulu, ayo cepat!" ucap Zilan yang lari lebih dulu dan aku terpaksa mengikutinya karena tidak mau di tinggal sendirian.


"Wawan! Bagas! aku sudah menemukan kelasnya!" ucapku kepada mereka.


"A-apa? kau juga menemukannya?" ucap Bagas yang membuatku terkejut.


Lalu karena aku penasaran apa yang dari tadi mereka lihat sampai wajahnya terkejut, aku pergi melihat apa yang mereka lihat di kelas ini. Jreng! aku sangat terkejut dan jantungku berdebar-debar begitu kencang. Aku menjadi semakin takut kalau ternyata mereka melihat kelas yang sama seperti apa yang ku lihat sebelumnya.


"Fajar... bukankah kau bilang hanya ada 1 kelas di sekolah ini yang alasnya adalah tanah kosong. Lalu bukankah kau bilang lahannya itu kosong? tapi kenapa... ada kuburan di sana..." ucap Wawan yang merasa ketakutan begitu juga dengan kami, karena merasakan kejanggalan.

__ADS_1


"Benar... tapi, coba kalian ikut aku sebentar ke lantai 3" ucapku dan kemudian kami berempat pergi menaiki tangga dan menuju kelas 3-10 yang merupakan kelas berisi lahan kosong yang sama seperti kelas yang di temukan oleh Wawan dan Bagas saat ini.


Cklek! aku membuka pintunya dan... aku dan Zilan terkejut melihatnya. Kalau kelas yang kami lihat tadi tidak ada, yaitu lahan kosong seperti kelas yang ditemukan oleh Wawan dan Bagas. Ini benar-benar aneh, kemudian aku menyuruh teman-temanku untuk keluar dari sekolah ini untuk menemui teman-teman kami yang lainnya yang berada di luar sekolah terlebih dahulu untuk membicarakan hal ini.


Kami berlari di sepanjang tangga karena merasa ngeri dan keluar dari sekolah dengan selamat. Sementara itu Lilis dan Anis baru saja selesai memetik buah beri merah liar dan juga buah ceri dengan keranjang yang kami temukan sebelumnya di gudang yang ada di bagian sebelah kiri sekolah.


"Semuanya? kenapa kalian berlarian?" ucap Anis yang merasakan firasat buruk melihat kami berlari sampai nafas kami tersengal-sengal. Bahkan diriku yang memiliki stamina yang paling banyak langsung kecapekan karena rasa takut ini menguras banyak energi ku.


"Dimana Agus dan Rahmat? apakah mereka belum kembali?" ucapku kepada Lilis dan Anis yang sedari tadi di luar sekolah.


Sementara itu Agus dan Rahmat masih asik pergi menelusuri jauh ke dalam hutan. Mereka adalah dua orang yang paling berani diantara teman-teman ku yang lainnya termasuk diriku juga. Mereka pergi menelusuri ke dalam hutan tanpa takut tersesat karena meninggalkan ranting-ranting pohon di sepanjang jalan mereka.


Namun jika ranting-ranting yang mereka taruh di sepanjang jalan itu menghilang entah karena tiupan angin atau ulah makhluk halus.. Mereka sama sekali tak mempedulikan itu, karena mereka berjalan lurus terus sedari tadi, jadi mereka bisa kembali dengan mudah dengan membalikkan tubuh mereka dan berjalan ke arah sebaliknya untuk kembali.


Namun jika semua kemungkinan itu tidak berhasil karena sesuatu yang di luar akal sehat manusia. Cara mereka satu-satunya adalah dengan berteriak-teriak memanggil kami yang berada di dekat sekolah. Karena mereka yakin kalau saat ini kami tidak akan terpisah karena kami berada di dunia setan ini bersama-sama atau terjebak disini bersama.


"Apa karena sedari tadi kita jalan lurus, kita jadi tidak bisa menemukan satu mayat pun ya?..." keluh Rahmat yang mulai bosan.


"Mungkin saja... tapi dalam keadaan yang di tutupi kabut kita hanya bisa berjalan lurus untuk mengetahui arah pulang" ucap Agus sambil melirik lirik ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Kemudian akhirnya mereka berhenti melangkahkan kaki mereka. Mereka terdiam dan terkejut melihat apa yang ada di depan mereka, yaitu sebuah gua. Mulut gua itu terbuka lebar dan dipenuhi dengan lumut dan juga jaring laba-laba di pintu masuk gua itu. Lalu ada satu mayat di depan mereka yang keadaannya cukup tragis bersandar di dalam samping pintu gua itu.


__ADS_2