
Makhluk itu terus berdiam diri sambil menoleh ke kanan-kiri di depan pintu. Dia terus menunggu kami... zrassssss! hingga akhirnya tiba-tiba saja hujan deras turun dengan begitu mendadak. Makhluk itu segera pergi meninggalkan kami sambil berteriak-teriak. Hujan deras itu disertai oleh petir yang menggelegar dengan sangat keras seperti dentuman langit.
Ctar! ctar! kilat menyambar dimana-mana dan membuat kami merasa gelisah. Kami keluar dari kain matras dan menyaksikan keadaan langit dengan seksama melalui jendela. Hujan deras dan petir yang menyambar di atas langit seperti retakan.
"Langitnya menakutkan..." ucap Wawan yang tidak berani dekat-dekat dengan jendela karena takut tersambar.
"Karena selalu ditutupi dengan awan tebal dan kabut, kita jadi bisa melihat seperti apa langitnya..." ucap Bagas.
Saat kami sedang asik melihat langit yang turun hujan di sertai dengan petir. Krek! tiba-tiba saja karung yang berisi mayat Anis terbuka dan mengeluarkan kepalanya dari dalam karung itu. Semuanya berteriak kaget dan segera memasukan kembali kepalanya yang keluar dari karung.
"Bagaimana bisa kepalanya keluar!?" ucap Wawan yang syok melihatnya karena saat itu dia berada tepat di samping kantung mayat Anis.
"Ini karena aku tidak mengikat karungnya..." ucap Rahmat yang memasukan kembali kepalanya yang keluar dari kantung.
Sementara itu... aku yang sedang memperhatikan suasana diluar jendela... melihat sesuatu di tengah hujan badai berkabut ini. Aku tidak tahu apa yang ku lihat di depan sana karena kabut dan hujan menghalangi pandangan ku. Meskipun aku sudah menyipitkan mataku, tapi aku tetap tak bisa melihatnya dengan jelas. Benda itu diam dan tak bergerak di depan sana meski keadaan sedang seperti ini.
"Teman-teman... benda apa yang ada di depan sana?..." ucapku yang menyuruh mereka untuk melihatnya.
"Aku tidak tahu, karena tidak dapat melihatnya dengan jelas..." ucap Bagas yang menyipitkan matanya tapi tetap tak bisa melihatnya karena kabut yang semakin tebal saat hujan.
"Itu seperti..."
WUUSHHH! tiba-tiba saja benda itu terbang dengan cepat kemari hingga menabrak jendela dan membuatnya retak. JRENGGGGGG! kami terkejut dan terjatuh ketakutan saat melihat ternyata benda yang kami lihat itu adalah mayat yang tak memiliki kulit di tubuhnya. Kami berteriak ketakutan, melihat mayat itu menempel di kaca jendela dengan wujud yang seram.
__ADS_1
"Aaaakkhhh! apa itu!" teriak Bagas yang tak berani membuka matanya dan menutup dirinya kembali dengan kain matras.
"UWAAAAAA! rambut makhluk itu bergerak-gerak!" teriak Lilis yang ketakutan.
Kami benar-benar terkejut dengan kedatangan mayat itu yang mengejutkan kami. Aku, Bagas dan Agus yang saat itu sedang memperhatikan keluar jendela sebelum mayat itu datang. Kami benar-benar terkejut dan kaget sekali seakan-akan ruh kami tertarik keluar. Makhluk itu terbang mendadak dan menabrak jendela, itu membuatku masih merasa takut.
"Teman-teman... sepertinya ini hanya mayat..." ucap Agus yang memberanikan diri untuk memperhatikan mayat yanga ada di jendela itu.
Mengenai rambut yang berterbangan itu adalah karena sedang hujan badai yang membuat rambutnya bergerak-gerak karena tertiup angin. Kami bisa merasa sedikit lega setelah mengetahui kalau itu ternyata mayat, kami mengira mayat itu adalah sosok yang akan membunuh kami sama seperti sosok hitam itu.
Tapi syukurlah kalau ternyata tidak begitu... tapi... bagaimana bisa tiba-tiba makhluk itu terbang ke arah kami. Bukankah itu tidak masuk akal dan mengerikan, padahal sebelumnya mayat itu diam saja di depan sana hingga akhirnya berada di depan kami dan mengejutkan semua orang.
Agus pergi keluar dan membawa mayat itu masuk ke dalam. Sepertinya Agus sudah mulai terbiasa dengan kehidupan yang mengerikan disini. Dia tidak takut lagi dan tidak merasa jijik saat menyentuh mayat itu. Wajahnya terlihat biasa saja saat membawa mayat itu ke dalam. Seolah-olah dia sudah biasa melakukan ini sejak dulu.
"Yah... begitulah..." ucap Agus dengan singkat sambil membaringkan mayat itu di lantai.
"Kita hanya perlu menunggu hujannya berhenti, lalu setelah itu kita harus menguburkan mayat lagi..." ucap Rahmat dengan tiba-tiba sambil memegangi kantung yang berisi mayat Anis.
Sepertinya dia masih merasa bersalah sekali atas kematian Anis. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang putus asa, tidak... ternyata semua orang. Pak Budi pun begitu... dia lagi-lagi terdiam syok karena kedatangan makhluk itu sebelumnya. Matanya melotot tajam tanpa ekspresi... itu membuatku takut dan tak berani menatapnya.
Petir masih menyambar dimana-mana dan hujan terasa semakin deras saja. Kami berpikir mungkin hujan ini akan sangat lama untuk berhenti. Meski begitu kami tetap menunggu sampai hujan ini reda atau berhenti untuk melakukan penguburan mayat Anis dan mayat seseorang yang tanpa kulit ini.
Namun... rasanya sudah beberapa jam kami menunggu agar hujannya berhenti. Tapi hujannya tak kunjung berhenti begitu juga dengan kilat yang menyambar dimana-mana. Bahkan hujan ini sepertinya akan menciptakan banjir, permukaan airnya menjadi setinggi 10 cm. Sebenarnya apa yang terjadi!? apakah hujan ini adalah malapetaka untuk kami.
__ADS_1
Mustahil jika seluruh tempat ini sekarang terendam oleh air hujan. Kami masih tetap berada di dalam pos satpam dan Rahmah bersama Agus memegang kantung mayat Anis agar tidak basah. Ini membuat kami resah karena mungkin saja air ini akan semakin tinggi.
"Bagaimana ini! airnya terus naik!" oceh Wawan yang tak habis-habisnya merengek.
"Tidak ada cara lain selain kita masuk ke sekolah itu! hanya itu saja satu-satunya tempat yang tinggi!" ucap Rahmat yang menyarankan semua orang untuk masuk ke sekolah sekarang.
"Tapi bagaimana dengan makhluk itu!? kabutnya sangat tebal bagaimana jika makhluk itu muncul saat kita sedang mencari jalan untuk ke sekolah itu!" bantah Bagas yang memilih untuk tetap disini karena dia percaya sebentar lagi hujannya akan berhenti dan airnya akan surut kembali.
"Lihatlah dengan matamu baik-baik! dari pada kita diam disini menunggu mati karena tenggelam! lebih baik kita mencoba untuk menyelamatkan diri meski hasilnya sama sekali tidak diketahui!" ucap Rahmat yang kesal dengan pernyataan Bagas.
"Tunggulah sebentar lagi mungkin hujannya akan berhenti dan airnya segera surut!" sambung Bagas yang tak mau kalah.
"Kau pikir... ditempat seperti ini akan terjadi sesuai dengan apa yang kita pikirkan?..." ucap Rahmat dengan datar yang sudah bosan dengan semua ini.
"Apa maksudmu?..." tanya Bagas yang sedikit heran dengan perkataannya dengan ekspresi nya yang datar.
"Bukankah kita dulu berpikir akak keluar dari sini bersama-sama... namun lihatlah kenyataannya! dua teman kita sudah mati! karena kita tak menyangka kalau ada makhluk yang mengerikan disini dan merenggut nyawa teman-teman kita!" teriak Rahmat yang terlihat kesal dan dia sudah mengatakan kenyataan yang paling kejam kepada kami.
Memang benar perkataannya... tapi itu terdengar menyakitkan meski itulah kenyataan yang kami alami sekarang. Kami berpikir kami bisa keluar dari sini dengan mulus, tapi kami tak menyangka sama sekali kalau hasilnya akan menjadi mengerikan seperti ini.
"Lihatlah diri kita sendiri Bagas... seperti apa penampilan kita sekarang dengan yang dulu?..." ucap Rahmat.
Benar... kehidupan yang kita rasakan sudah berbeda dengan yang dulu. Penampilan kami penuh dengan darah dan sudah tidak ada lagi wajah yang tersenyum. Tidak ada lagi candaan yang membuat kami tertawa. Tidak ada lagi sesuatu yang menyenangkan untuk dimainkan bersama. Tangan penuh dengan darah dan wajah yang lesu karena kurang tidur, pakaian yang kotor terkena tanah.
__ADS_1
Penampilan kami memang benar-benar sudah berbeda dengan yang dulu. Kami terlihat suram dan mengenaskan... tidak ada lagi kehidupan yang menyenangkan tanpa rasa takut seperti dulu. Karena kita hidup di dunia setan! dimana ini adalah mimpi buruk semua orang. Dengan teman-teman yang tersisa dan semakin berkurang... kami harus terus melanjutkan perjalanan ini bersama.