
Tak lama setelah aku mengingat kembali sekilas kenangan yang menyenangkan saat diriku sedang melayang jatuh. Bruk!... hal itu telah mengakhiri segala kenangan yang pernah terjadi... seseorang yang kehilangan orang yang paling disayanginya akan merasa hidupnya berakhir. Seperti itulah sifat manusia yang dikendalikan oleh hati.
Sementara itu... beberapa saat sebelumnya...
"Fajar!? itu suara teriakan! sepertinya telah terjadi sesuatu padanya!" ucap Agus yang berhenti melangkahkan kakinya padahal pintu keluar sekolah sudah berada di depan matanya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ucap Bagas yang benar-benar bingung dengan situasi ini.
"Kita harus menyelamatkannya! aku akan pergi!..." ucap Agus yang tanpa basa-basi segera pergi meninggalkan mereka. Namun Pak Budi mencegahnya dan menarik tangan Agus sebelum sempat pergi.
"Jangan... mungkin saja Fajar... sudah..." ucap Pak Budi yang berhenti berbicara karena tak kuat untuk melanjutkan perkataannya.
"Itu tidak mungkin... dia pasti masih hidup!" ucap Agus yang tidak mempercayai bahwa aku mati dengan semudah itu.
"Lalu kenapa dia berteriak? dia berteriak seperti itu pasti karena bertemu dengan makhluk itu kan!" ucap Pak Budi yang membuat Agus tak bisa menyangkal ucapannya dan hanya bisa diam.
"Kita juga tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi sebelum itu ayo kita pergi mengambil mayat Anis..." ucap Rahmat yang bergabung ke rombongan setelah semua orang setuju padanya untuk ikut bergabung.
Setelah itu mereka pergi keluar sekolah untuk melanjutkan apa yang harus mereka lakukan lebih dulu. Yaitu mengurus mayat Anis dan mengumpulkan satu-persatu organ tubuhnya yang terpisah dari tubuhnya dan di masukannya ke dalam sebuah karung yang cukup besar untuk menampung satu mayat.
Keadaannya begitu tragis setelah mereka melihat mayatnya dari dekat. Rasa mual dan mengerikan mereka rasakan secara bersamaan setelah melihat anggota tubuhnya yang tercerai-berai. Tapi mereka tetap mencoba mengumpulkannya satu-persatu dengan mata tertutup.
__ADS_1
Tangan mereka yang memegang organ tubuhnya terasa lembek dan mengerikan. Hingga membuat mereka muntah karena betapa menjijikannya hal itu. Meski dalam keadaan seperti itu pun mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk kematian seorang temannya yang telah berjuang untuk kami.
Tak peduli seperti apa mayatnya, tapi kami harus tetap mengingat perjuangannya. Perlahan-lahan setiap Rahmat mengambil bagian-bagian tubuh Anis, dia semakin merasa bersalah karena ucapannya saat itu. Dia terus semakin merasa bersalah karena saat itu dia membentaknya dan memaksanya untuk mengambil makanan yang tertinggal di pos satpam.
Tidak hanya Rahmat yang merasakan hal yang sama, akan tetapi teman-temannya yang saat itu ikut-ikutan untuk menyuruhnya mengambil makanan dan juga temannya yang hanya diam dan tak membelanya saat itu kecuali diriku. Mereka terus merasa bersalah hingga tak sadar rintikan air mata mereka menetes ke tanah.
"Semua ini salahku... ukh... aku yang telah membuatnya mati!" teriak Rahmat yang merasa menyesal sambil memungut tubuhnya satu-persatu.
Semua teman-temannya yang mendengar hal itu tidak menyalahkan Rahmat. Mereka juga ikut merasa kalau dirinya sendiri lah yang membuatnya menjadi seperti ini. Tidak ada seorangpun yang menyalahgunakan orang lain dan mereka hanya menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat membantunya sebelum hal ini terjadi.
"Kenapa... kenapa hal ini terjadi... huwaaaaaa!" tangis Lilis yang kembali menangis dengan keras karena kepergian sahabat baiknya yang selalu menemaninya.
"Tersisa berapa orang... apakah hanya kita saja yang tersisa! apakah kita sanggup untuk keluar dari sini!" ucap Wawan yang mulai kehilangan kendali atas dirinya, ia mulai merasa terancam dan takut.
Setelah ini mereka harus kembali mencari kelas yang berisi lahan kuburan itu untuk menggali liang lahat dan menguburkan mayat Ania id kelas itu. Setelah itu mereka harus mencari mayatku, karena mereka sudah mengira aku telah mati setelah mendengar suara jeritan itu sebelumnya.
Tapi...
"Teman-teman! semuanya masuk ke dalam pos satpam itu!" ucapku yang tiba-tiba saja datang ke arah mereka dengan wajah pucat dan berlari ke arahnya.
Teman-temanku terkejut melihatku masih hidup dan dengan spontan mereka mengikuti arahan yang ku berikan. Makhluk itu tiba-tiba saja keluar dari jendela dan mencoba untuk mengejar ku setelah keluar dari jendela. Aku terus berlari tanpa berpaling ke belakang, sepertinya makhluk itu tersangkut karena tubuhnya yang panjang dan tinggi untuk keluar dari jendela itu.
__ADS_1
Brak! aku masuk ke dalam pos satpam itu bersama dengan teman-temanku yang sudah berada di dalam lebih dulu. Nafasku tersengal-sengal dan segera berbaring di atas matras untuk rehat sejenak. Teman-temanku bertanya-tanya kepada dengan apa yang terjadi padaku, karena mereka telah mengira kalau aku telah mati saat mendengar suara teriakan aku.
Tapi... beberapa saat yang lalu... saat aku melompat lewat jendela kelas itu. Sebenarnya kelas yang berisi lahan kuburan itu telah berpindah tempat dari lantai tiga ke lantai satu. Saat itu aku berhalusinasi karena masih mengira kalau aku berada di lantai tiga dan melihat aku jatuh bebas di atas. Padahal Sebenarnya aku loncat keluar jendela dari lantai satu.
Beberapa saat aku tak sadarkan diri karena terbawa suasana dan putus asa karena akan mati begitu diriku terbentur ke tanah. bruak! krak! tapi setelah aku mendengar makhluk itu berada si jendela dan sedang berusaha untuk keluar dari jendela. Aku segera tersadar kalau ternyata aku masih hidup dan tidak terluka sedikitpun kecuali benjol di bagian kepalaku.
"Hooooooooohhhh! kroaaakk!!" makhluk itu mendengkur dan menjerit sambil mencoba mengeluarkan dirinya dari jendela itu untuk meraih ku dan membunuh ku.
Aku segera tersadar dan bangun dari tanah dan saat itu juga segera berlari ke arah teman-temanku yang sedang mengumpulkan mayat Anis di depan pos satpam. Makhluk itu terlihat mengerikan... dia mencoba untuk membelah dirinya agar bisa keluar dari jendela yang sempit itu bagian.
Crek! plek! organ tubuh makhluk itu berceceran keluar saat mencoba untuk keluar dari jendela itu karena membelah tubuhnya. Itulah yang aku lihat saat dia mencoba keluar dari jendela sebelum aku berlari dan menghampiri teman-temanku disini.
"Wujud makhluk itu... kenapa terlihat lebih mengerikan!" ucap Wawan yang ketakutan.
"Aku tahu tapi sepertinya itu bukan alasan yang penting sekarang!" ucapku yang segera mengambil sebuah pisau yang ada di lantai.
"Apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu?" ucap Rahmat yang heran dan panik.
Aku tak mempunyai waktu untuk menjelaskannya kepada Mereka, karena yang penting saat ini kita semua selamat dan terhindar dari makhluk itu yang sedang bergerak ke sini. Breet! sreet! aku memotong kain matras itu dan mengeluarkan isinya untuk di taruh di depan pintu.
"Ayo kita bersembunyi sekarang!" ucapku yang menyuruh semua orang untuk segera berbaring dan menutup diri dengan kain matras yang ukurannya besar dan lebar. Kemudian kami segera berselimut dan bersembunyi di bawah kain matras.
__ADS_1
Drap! drap! drap! sementara itu makhluk itu sudah berhasil keluar dan berjalan cepat ke arah sini dengan suara yang mengerikan. Bruak! makhluk itu mendobrak pintu hingga terbuka lebar. Kami segera menahan nafas kami setelah mengambil nafas dalam-dalam sebelum makhluk itu tiba dan juga berhenti bergerak.
Lagi-lagi kami terkejut di situasi yang tidak menyenangkan seperti ini dan hanya berharap makhluk itu segera pergi meninggalkan tempat ini agar kami berhasil selamat.