Jembatan Setan

Jembatan Setan
Sudah Berakhir Ya?


__ADS_3

Besoknya kami terbangun, ini hanya kata ungkapan untuk kami menentukan hari. Setiap kali kami tidur bersama maka kami akan menghitungnya telah melewati 1 hari. Aku terbangun lebih dulu daripada teman-temanku dan aku segera membangunkan teman-temanku yang masih tertidur dengan pulas.


Aku menggoyangkan tubuhku mereka yang sulit sekali untuk bangun ketika tertidur. Terutama anak ini! siapa lagi kalau bukan Rahmat yang merupakan anak yang suka tidur dikelas bahkan dia mendapatkan julukan di sekolah yaitu, "Si Pangeran Tidur". Yang paling anehnya dia malah bangga mendapatkan julukan itu karena ada kata pangeran di julukannya, padahal julukan itu bermaksud untuk menyindir dirinya.


Kemudian aku meminta teman-temanku yang sudah ku bangunkan untuk membantuku membangunkan Rahmat Si Pangeran Tidur.


"Ayo kita lakukan ini secara bersamaan Teman-teman" ucap Wawan yang terlihat sangat bersemangat sekali.


"Baiklah... aku yang menghitung... 3... 2... 1... hiyaaaaaaaaa!" teriak Agus.


Sesuai rencana untuk membangunkan Rahmat, kami bersama-sama meloncat dengan tinggi-tinggi dan menjatuhkan diri kami di badan Rahmat. Hingga akhirnya dia terbangun terkejut dan tubuhnya menjadi nyeri dan sakit-sakitan. Dia sangat kesal, tapi dia tak bisa membalasnya karena masih harus menahan sakit sambil meringis.


"Ukhh.... a-awas saja kalian!" ucap Rahmat sambil memegang pinggangnya yang nyeri.


Sementara itu kami hanya bisa menertawakannya dan mulai bersiap-siap untuk melaksanakan tugas kami lagi dan lagi untuk yang kedua kalinya. Sementara itu kami menyusun kembali kelasnya dan akan membawa tikarnya keluar dari sekolah. Karena jika tikarnya di tinggal di dalam kelas pasti akan sulit untuk menemukan kelasnya kembali karena berpindah-pindah tempat.


Lalu...


"Teman-teman... apa kalian menyadari kalau sedari tadi... Zilan tidak keliatan..." ucap Zilan dengan suaranya yang serak.


Seketika kami langsung teringat Zilan, karena memang benar Zilan tidak terlihat sedari tadi, bahkan saat membereskan kelasnya saja kami tidak melihatnya. Saat baru keluar dari kelas setelah membereskan kelas, kami baru teringat akan Zilan, dan saat ini Zilan hilang begitu saja.


"Mungkin dia pergi sebentar... dia pasti akan kembali kan..." ucap Lilis yang mencoba untuk berpikir positif dan membuat yang lainnya ikut berpikir positif sehingga mereka tidak merasa resah kembali.


"Baiklah kalau begitu, kita akan memulai tugas kita masing-masing lagi saat ini dan sepertinya saat kita tertidur kelasnya sudah berubah lagi!" ucapku sambil menundukkan jariku ke atas yang di atas terdapat gantungan informasi kelas.


"Benar, sekarang kita ada di kelas 1-5 di lantai satu" ucap Rahmat sambil meregangkan badannya yang masih nyeri.


"Hei... apa kalian... mencium sesuatu?..." ucap Anis yang memiliki indra penciuman yang baik.

__ADS_1


Mendengar Anis berbicara seperti itu membuat kami mencium hal yang sama dengan apa yang Anis rasakan. Baunya... seperti bau busuk... bau busuk yang sama seperti mayat yang kami kuburkan kemarin. Lalu ada bau samar-samar yang tercium di antara bau busuk itu... seperti bau darah yang masih segar.


Seketika kami langsung merinding dan memikirkan hal yang sama saat ini. Isi pikiran kami saat ini menuju pada satu hal mengenai bau busuk seperti mayat dan bau darah yang samar-samar. Ya... kami saat ini sedang berpikir kalau bau itu adalah baunya Zilan, yang artinya... Zilan sudah mati!.


"Hei... Ini tidak mungkin kan?..." ucap Bagas yang mulai panik dan wajahnya pucat.


"Benar... mungkin saja ini tidak seperti apa yang kita pikirkan..." ucap Lilis yang masih tetap berpikir positif.


"Benar, bisa saja bau yang kita cium adalah bau bangkai binatang yang baru mati..." ucap Anis yang ikut berpikir positif dan tak mau memikirkan hal-hal yang menakutkan.


Akhirnya kami memutuskan untuk berdiam diri di depan kelas itu dan tak melakukan apapun. Kami sangat takut untuk mengecek sumber bau itu yang berasal dari kamar mandi yang tepat berada di samping kelas ini. Kami sangat takut kalau apa yang kami pikirkan saat ini adalah sungguhan.


Karena itulah kami memilih diam dan tak melakukan apa-apa seperti orang bodoh yang kehilangan jalan. Padahal... padahal kami sudah berjanji satu sama lain untuk saling mengutamakan dan menyemangati. Tapi... apa-apaan ini... kenapa semuanya menjadi gentar dan takut seperti ini. Bisa saja bau yang kita cium saat ini bukan Zilan kan! mungkin saja perkataan Anis benar, yang mengatakan kalau ada bangkai binatang di dalam kamar mandi itu.


"Kalau tidak ada yang mau memeriksanya, biar aku saja... tapi aku ingin mengambil sesuatu yang ku tinggalkan..." ucap Agus yang kembali masuk ke kelas dan mengambil sebuah senter yang sepertinya dia temukan dari kolong kolong meja kelas.


Tak! tak! Agus memukul-mukul senter itu hingga akhirnya senter itu masih dapat berfungsi dengan baik meski tidak terlalu terang setidaknya senter itu membantu penglihatan kami. Setelahnya Agus lagi-lagi nekat untuk melakukan semuanya sendirian lagi dan lagi. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi itu dengan senter yang ia pegang.


"UWAAAAAAAAAAAA!"


Teriakan histeris Agus membuat kami terkejut dan segera masuk ke dalam toilet itu dengan beramai-ramai untuk melihat apa yang membuat Agus teriak begitu keras. Kami melihat Agus terjatuh di toilet sambil menatap tajam kamar mandi yang ada di depannya dengan penuh keringat, yaitu kamar mandi yang berada di paling ujung.


Kami segera menghampiri apa yang ia lihat... namun... seharusnya kami tak melihatnya, kalai tidak kami akan merasa semakin takut dan lebih takut lagi. Kami melihat ada tubuh yang tergeletak dikamar mandi tanpa kepalanya, dan kami yakin kalau tubuh itu adalah tubuh Zilan meskipun tidak ada kepalanya kami bisa memastikan dari pakaian yang ia pakai saat itu.


"Apakah itu... benar-benar Zilan..." ucap Bagas yang bergemetar ketakutan.


Wajah teman-teman ku saat ini benar-benar ketakutan dan beberapa teman-teman ku menangis ketakutan karena ingin segera pulang dan bertemu dengan keluarga mereka. Lilis, Anis, Wawan menangis dengan tersendat-sendat dan bergumam ingin segera pulang. Sementara yang lainnya hanya bisa diam dalam ketakutan yang mereka rasakan.


"Bagaimana ini bisa terjadi... apa tidak ada diantara kalian yang melihatnya pergi?" ucapku dengan suara yang serak dan pelang sambil mengepalkan tanganku dengan keras.

__ADS_1


Mereka semua menggeleng kan kepala mereka dan mengatakan tidak.


"Mungkin dia pergi sendirian ke toilet tanpa membangunkan kita..." ucap Bagas yang menggertakkan giginya.


"Lalu kenapa dia bisa mati dengan tragis seperti ini..." ucapku yang menahan emosi ku yang sudah meluap-luap.


"Apakah... ada sosok yang menyeramkan seperti monster atau hantu yang membunuhnya!" oceh Wawan yang membuat kami terdiam dan hanya membuat suasana ini jadi lebih buruk karena saat ini kami benar-benar sedang ketakutan, dan perkataan Wawan membuat kami lebih takut saat ini.


"Fajar... ta-tanganmu berdarah!" ucap Agus.


Aku benar-benar tidak sadar kalau aku terlalu keras menggenggam tanganku, bahkan aku tidak sadar kalau aku menggenggam tanganku. Ini karena untuk menahan emosiku... aku ingin sekali mengutarakan semuanya kepada teman-temanku, tapi aku malah menahannya. Karena aku takut keadaan akan jauh lebih buruk setelahnya.


"Aku pergi keluar sebentar..." ucap Rahmat tiba-tiba yang keluar dari toilet dan membuat kami resah kalau Rahmat akan menjadi korban kedua setelah Zilan.


Tapi tidak ada yang mau menghentikan Zilan karena saat ini kami takut, kami takut kami akan terseret bahaya jika mencoba menghentikan Rahmat dan akan berakhir tragis seperti Zilan. Hingga akhirnya kami membiarkan Rahmat pergi sendirian entah kemana, kami hanya bisa berharap dia baik-baik saja dan jangan sampai ada korban untuk kedua kalinya.


"Benarkan! mungkin saja ada hantu atau monster yang menyerang Zilan saat itu! dan monster itu memakan kepalanya!" ucap Wawan yang bicaranya semakin keras sambil menangis histeris.


"Diam Wawan!..." ucap Bagas yang membuat Wawan terkejut dan diam.


Sementara itu... tiba-tiba saja aku teringat sesuatu mengenai perkataan Wawan yang baru saja ia katakan. Mengenai hantu atau monster yang menyerang Zilan! seketika sekujur tubuhku bergemetar hebat dan angin dingin menghembuskan ke seluruh tubuhku. Wajahku penuh dengan keringat dingin dan pupil mataku membesar.


"Ada apa Fajar?... apa kau baik-baik saja?" ucap Agus yang terlihat khawatir padaku karena aku terlihat aneh dan tidak baik-baik saja.


Aku tak bisa mendengar perkataan Agus saat itu karena saat ini seluruh tubuhku dipenuhi rasa takut. Rasa takut mengenai mimpi buruk yang ku alami saat itu, sosok yang mengerikan muncul dan memakan setengah tubuh Pak Budi begitu saja. Itulah yang ku pikirkan saat ini dan ku takutkan mengenai hantu atau sosok yang menyerang Zilan, karena sosok itu memiliki wujud yang sangat menyeramkan.


Drap! drap! drap!


Tiba-tiba saja ada Rahmat berlari dengan kencang sambil memanggil nama kami dari kejauhan. Suara teriakannya sangat histeris sehingga membuat kami diam tak bergeming sambil memikirkan kemungkinan yang terburuk yang terjadi pada Rahmat. Pikiran kami benar-benar tidak bisa berpikir dengan positif karena apa yang sudah terjadi saat ini pada Zilan.

__ADS_1


Kami hanya bisa mendengar suara Rahmat yang berteriak-teriak memanggil nama kami dari kejauhan dan suaranya semakin dekat. Kami hanya bisa pasrah dan diam di dalam toilet ini menunggu semuanya terjadi. Karena jika Rahmat datang sembari membawa sosok mengerikan itu, sudah pasti kami akan mati semua di bunuh oleh makhluk itu. Kami hanya bisa pasrah dan terduduk sambil menahan tangis untuk kehidupan kami yang berakhir buruk.


Mendengar suara Rahmat yang semakin dekat, maka semakin dekat juga ajal kami. Makhluk itu pasti sedang mengejarnya kan? hingga membuat Rahmat berlari sambil berteriak-teriak seperti itu. Brak! Rahmat mendobrak pintu kamar mandinya dengan wajah yang ketakutan dan saat itu kami sudah berputus asa dan menunggu makhluk itu datang ke sini dan membunuh kami.


__ADS_2