
Kemudian kami masuk ke kelas 3-8 sambil membawa mayat di punggung kami dan menutup kembali pintunya. Dikhawatirkan makhluk itu akan muncul kembali secara tiba-tiba disaat kami sedang sibuk menggali kuburan untuk keempat mayat ini. Karena sekarang ada Pak Budi yang memiliki tenaga yang paling kuat dibandingkan aku, jadi aku dan Pak Budi lah yang mencangkul tanahnya.
Mengenai kejadian di hari sebelumnya, tentang suara keras yang membuat sosok itu pergi meninggalkan kami. Ternyata itu adalah suara sekop besi yang terjatuh ke lantai. Kami menganggap ini sebagai keberuntungan, jika tidak entah siapa saja yang akan dibunuh oleh makhluk itu dan siapa saja yang berhasil melarikan diri dari sosok mengerikan itu.
Sementara yang lain sedang mengobrol di depan pintu kelas, aku dan Pak Budi kembali membicarakan masa lalu. Masa lalu yang ku maksud adalah saat-saat dimana Pak Budi menganggap ku anak yang spesial. Seperti yang pernah ku katakan sebelumnya kalau Pak Budi terkadang sering mengajakku untuk ke kantin untuk makan bersama di traktir olehnya apapun yang ku mau.
Namun setiap ke kantin yang ku inginkan hanyalah membeli 2 potong roti saja, karena aku tak ingin membebani Pak Budi dan aku juga merasa tidak enak padanya jika minta traktir yang lain. Tapi Pak Budi terus mencoba menyarankan makanan lain untuk di beli, tapi aku menolak karena tidak enak padanya.
Meski begitu Pak Budi tetap tersenyum dan dia selalu menceritakan masa kecilnya padaku saat di kantin. Awalnya ceritanya terdengar sangat menarik dan menyenangkan hingga akhirnya Pak Budi terus mengulang-ulang ceritanya setiap kali Pak Budi mengajak ku ke kantin. Yah, meski ada yang di tambah sedikit dalam ceritanya, tapi aku tetap mendengarkannya sebagai bentuk menghormatinya.
"Pak Budi saya jadi kangen di traktir roti oleh bapak hehe" ucapku sambil cengengesan.
"Hahaha! iya... nanti setelah kita keluar dari aini bersama-sama, kamu harus makan semua makanan di kantin ya" ucap Pak Budi yang terlihat senang.
"Hehe, yasudah Pak, sebagai bentuk perayaan kita bisa keluar dari sini dan untuk pertama kalinya saya tidak minta roti lagi" ucapku yang setuju dan baru kali ini aku merasa ingin makan yang lain saat di traktir Pak Budi.
Sambil terus mengobrol membicarakan saat-saat disekolah, kami juga sedang bersemangat mencangkul. Aku dan Pak Budi sedang berlomba menggali kuburan, siapa yang lebih cepat dialah pemenangnya!. Sementara itu, tiba-tiba saja Agus menghampiri kami dan mengatakan sesuatu.
"Oh ya Fajar... saat aku melihatmu terlihat seperti sudah mengetahui dimana letak kelas ini tadi... apakah kau sudah benar-benar tahu sekarang?" ucap Agus yang perkataannya di dengar oleh teman-teman kami dan menarik perhatiannya.
__ADS_1
"Benar juga! aku yang bersamanya tiba-tiba saja Fajar terlihat seolah sudah mengetahui dimana tempat kelas yang berisi lahan kuburan ini" sambung Bagas yang ditempatkan di lantai satu dan menjadi satu tim dengan ku untuk mencari kelas tersebut.
"Meski tidak 100 persen keberadaannya tepat, setidaknya aku mengetahui beberapa hal yang membuatku tahu keberadaan kelas ini" ucapku yang kemudian menceritakan kepada mereka tentang bagaimana caraku bisa menemukan kelas yang berisi lahan kuburan ini dengan mudah.
Karena semua orang penasaran termasuk Pak Budi, jadi aku memberitahukan kepada mereka bagaimana aku bisa mengetahui dimana letak kelas yang berisi lahan kuburan ini. Meski tidak pasti keberadaannya akan dimana dengan tepat, setidaknya aku sudah menemukan solusinya jika diantara kami ada yang menemukan kelas yang berisi kelebihan meja dan kursi.
Aku menjelaskannya kepada mereka dengan jelas dan mudah agar dapat dimengerti. Seperti yang sudah ku jelaskan sebelumnya, jika kalian menemukan kelas yang berisi kelebihan meja dan kursi di lantai satu, maka kalian tidak perlu melanjutkan pencarian kelas yang ada di lantai satu lagi. Cukup memeriksa kelas yang ada di depannya dan terus seperti itu sampai ke lantai 3 jika masih belum menemukan kelas tersebut.
Setelah aku selesai bercerita, melihat mereka yang terlihat seolah-olah sudah mengerti dari semua yang ku jelaskan, sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi. Mereka pasti sudah mengerti dan dengan begini kami tidak perlu menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk mencari kelas berisi lahan kuburan ini.
"Kau memang luar biasa Fajar, aku tak menyangka kau bisa menyadari hal ini begitu cepat.. Padahal aku dan Wawan juga bertugas hal yang sama dalam pencarian kelas, tapi kau lebih dulu menyadarinya" ucap Bagas yang memujiku dengan kata-kata tidak langsung.
"Kau benar... Fajar ini termasuk orang yang curang!..." ucap Wawan dengan tiba-tiba dan membuat kami bingung dengan kata-katanya saat dia mengatakan kalau aku curang.
"Eh!? curang bagaimana maksudmu?..." ucapku yang bingung.
"Kau pintar dalam pelajaran dan juga hebat dalam olahraga! bahkan tidak ada diantara teman-teman kita yang mampu menyaingi kepintaran mu ataupun kekuatan mu!" ucap Wawan yang kalau dipikir-pikir perkataannya memang benar sih.
Yah, aku adalah anak yang berprestasi di sekolah, sepertinya aku belum pernah menceritakannya kepada kalian. Kalau aku selalu mendapatkan ranking satu di sekolah dan juga nilai kebugaran jasmani ku juga sangat baik. Sementara teman-temanku hanya bisa jago di satu bidang saja dan tak seperti ku yang jago dalam bidang apapun termasuk kebugaran jasmani.
__ADS_1
Sepertinya contohnya Anis, Lilis, Rahmat yang hebat dalam bidang akademik nya. Yah, kalian pasti tidak menyangka kalau Rahmat juga termasuk orang yang pintar di akademik nya, padahal dia selalu terlihat sembrono, arogan, dan juga kasar. Dia juga anak yang nakal dan selalu membuat masalah dan sering berkelahi dengan orang lain.
Meski begitu sebenarnya ranking dia di kelas ada si bawahku, yah... dia ada di ranking 2. Awal kami mengenalnya memang benar-benar di luar dugaan kalau anak yang terlihat seperti preman itu bisa masuk ranking 10 besar dan dia menempati ranking 2 di kelas. Anis dan Lilis selalu bersaing di ranking 3 dan 4 kadang salah-satu dari mereka ada yang ranking 3 dan kadang sebaliknya karena selalu bersaing.
Sementara itu Agus, Wawan dan Bagas adalah orang yang hebat dalam bidang olahraga atau kebugaran jasmani. Sebenarnya aku juga termasuk sih, tapi aku tak ingin tampil mencolok meski keberadaan ku saja sudah mencolok. Meski Agus terlihat pintar dan berpikir rasional, sebenarnya dia lebih hebat dalam bidang olahraganya.
Hanya saja pikirannya yang tetap tenang meski kami semua berada di tempat ini saat itu. Dialah yang membuat kami bersatu kembali saat bercerai berai dengan pemikirannya yang rasional dan berkepala dingin. Dia berada di ranking ke 14 saat ini, lalu Wawan yang penakut berada di ranking 13 dan yang terakhir si Bagas berada di ranking 17.
"Hei! kalian asik sekali mengobrol nya sampai tidak mengajak bapak yang sendirian mencangkul" ucap Pak Budi yang wajahnya terlihat di sedih-sedih kan.
Karena malah membicarakan saat masa-masa disekolah kami jadi lupa dengan tugas kami yang belum di selesaikan. Tahu-tahu aku juga berhenti membantu Pak Budi mencangkul dan sudah berada di dekat teman-temanku dan ikut mengobrol. Jadi aku segera melanjutkan menggali tanahnya sedikit lagi saja setelah itu menguburkan mayat mayat itu.
Begitu selesai menggali dan tersisa dua mayat lagi yang harus di tempatkan. Kini adalah giliran Rahmat dan Agus yang menggali liang lahat baru untuk mayat 3 dan 4. Aku dan Pak Budi hanya perlu menguburkan mayat mayat itu dibantu dengan Bagas dan Wawan secara bergantian. Setelah mayatnya dimasukan dan cangkul sama sekopnya sedang digunakan Agus dan Rahmat untuk menggali liang lahat baru.
Jadi kami berempat membantu menguruk tanah galian dan menimbun kembali. Urusan ku dan Pak Budi sudah selesai dan tinggal menunggu kuburan selanjutnya yang saat ini di gali oleh Agus dan Rahmat. Aku langsung membaringkan tubuh ku di atas tanah karena kecapekan sehabis menggali liang lahat sendirian yang seharusnya satu liang lahat dikerjakan oleh dua orang dengan menggali setengah-setengah.
"Hooooooooohhhh!!!..."
Lagi-lagi... suara itu terdengar lagi dan membuat kami berhenti melakukan aktivitas kami saat ini dan bersiap-siap untuk diam dan tidak berisik. Suaranya yang menggema di seluruh ruangan membuat buku kuduk kami berdiri. Tap!... tap!... dari suara langkah kakinya... sepertinya dia sedang menuju ke arah kami!. Ini gawat, padahal kami baru saja memulai menggali liang lahat baru untuk mayat-mayat yang tersisa.
__ADS_1
Jadi kami yang sebelumnya duduk di depan pintu kelas yang tertutup. Segera berpindah perlahan ke pojok kelas untuk bersembunyi dari makhluk itu jika datang dan masuk melalui pintu.