Jembatan Setan

Jembatan Setan
Dia Muncul Begitu Cepat!


__ADS_3

Semuanya kembali merasa panik setelah mendengar dengkuran makhluk itu yang membuat telinga kami bergema seperti terus mengulang-ulang mendengar suara dengkuran itu yang padahal makhluk itu hanya mendengkur sekali. Ini membuat kami takut dan merasa gelisah, terlebih lagi sosoknya yang sepertinya akan semakin menyeramkan karena kami telah menguburkan mayat mayat baru lagi.


Jadi benar, sesuai dengan dugaan ku sebelumnya juga mengenai kemunculan makhluk itu. Kalau Semakin banyak kami menguburkan mayat mayat yang tersebar di tempat ini, kemunculan makhluk itu akan semakin cepat muncul karena makhluk itu tidak menginginkan kami selamat dan bisa keluar dari sini hidup-hidup.


Brak! drap! drap! brak! drap! drap! brak!


Tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras. Suara langkah kaki makhluk itu seperti sedang berlari sambil menutup kembali pintu pintu kelas yang terbuka!. Sepertinya makhluk itu sedang sangat marah sekali karena pintu-pintu kelasnya terbuka. Suara langkah kakinya yang berat dan cepat menginjak lantai kayu, membuat ketakutan kami bertambah setiap langkah kakinya.


Brak! tiba-tiba saja makhluk itu mendobrak pintu kelas 3-8 yang dimana itu adalah kelas yang sedang kami tempati saat ini. Makhluk itu masuk berjalan dan mendekati ke arah kuburan itu. Entah apa yang dia lakukan, "KKKKHOOOOOOOOOKKKKKSS!!!!" teriak makhluk itu dengan suaranya yang nyaring dan membuat jantung kami bergetar ketakutan.


Krriiittt! ckiiiittt! setelah makhluk itu berteriak tiba-tiba saja terdengar goresan dinding kelas yang membuat kami ngilu mendengarnya. Krriiittt! krriiittt! ckiiiittt! makhluk itu masih menggores dinding kelas itu menggunakan kukunya yang tajam. Entah apa yang dia lakukan dengan menggores dinding kelas itu, tapi itu membuat perasaanku tidak enak.


Tap! tap! tap! brak! setelah selesai menggores dinding kelas itu, makhluk itu segera pergi meninggalkan kelas san kembali menutup pintunya lagi. Untuk sementara kami tidak bergerak selama beberapa waktu, karena takut makhluk itu akak kembali lagi memasuki kelas dengan tiba-tiba. Jadi kami menunggu situasi benar-benar aman kembali dan juga memberikan waktu untuk menyiapkan hati kami agar tidak takut kembali.


"Huuuuaahhhh..." dengan serentak dan bersama-sama kami menghembuskan nafas dengan dalam-dalam.


Kemudian kami melihat ke depan dinding kelas. Dinding kelas itu bercorak corak dan dipenuhi dengan darah yang berlumuran. Seolah-olah corak yang di tinggalkan makhluk itu seperti sebuah pesan yang diberikan kami. Tapi kami sama sekali tak mengerti apa yang di maksud corak-corak yang seperti sebuah tulisan di dinding itu. Ini membuat perasaan kami tidak enak.


Karena keadaan sudah kembali membaik, kami melanjutkan untuk mengubur kedua mayat itu yang belum sempat dikuburkan tadi. Tanah galiannya baru setengah jadi sampai makhluk itu datang, Agus dan Rahmat hanya perlu menggali tanahnya dengan sangat cepat sebelum makhluk itu kembali lagi.


Kami bersama-sama memutuskan untuk membantu menggali liang lahatnya menggunakan tangan kami agar pekerjaan lebih cepat selesai. Tapi... lagi-lagi setelah bertemu dengan sosok itu Pak Budi terdiam lagi dengan wajahnya yang lebih pucat dari sebelumnya. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu benar-benar membuatku takut.

__ADS_1


Seeet!... tiba-tiba saja Pak Budi menatap mataku saat aku sedang memperhatikannya. Aku terkejut dan segera membuang muka, lalu segera melanjutkan menguruk tanah menggunakan tanganku seolah-olah aku tak sedang menatapnya tadi. Apa-apaan tatapannya tadi!? itu benar-benar membuatku sangat takut! sebenarnya ada apa dengan Pak Budi? dia selalu terlihat aneh setelah bertemu sosok itu.


"Ayo kita cepat selesaikan ini dan setelah kita menyelesaikan ini. Ayo kita beristirahat sebentar sambil makan camilannya..." ucap Agus yang kemudian kami baru sadar kalau ternyata tidak ada satupun diantara kami yang membawa kantong makanan itu. Sepertinya kantong makanan itu di tinggal di pos satpam karena tidak ada yang menyuruhnya untuk membawanya.


"Haduh kenapa bisa-bisanya kita melupakan makanannya!" keluh Bagas kepada para perempuan yang merupakan bagian tim untuk mengumpulkan makanan.


"Kalian berdua cepatlah kembali ke pos satpam dan ambil makanan itu" ucap Rahmat yang tidak berbelas kasihan pada Lilis dan Anis.


"Kami takut..." ucap Lilis dan Anis yang menolak permintaan mereka.


"Kalau begitu bagaimana kita bisa makan! selagi kami menggali tanah seharusnya kalian pergi mengambilnya!" ucap Rahmat yang marah besar kepada mereka dan menganggap mereka sebagai beban saja.


Memang benar Lilis dan Anis tidak banyak melakukan hal yang besar dan sejak awal hanya di suruh untuk mengumpulkan buah-buahan saja. Mereka bahkan tidak mau membantu membawa mayatnya karena merasa jijik, membantu menggali tidak mau karena beralasan mereka perempuan. Hal itu membuat sebagian orang seperti Rahmat san Bagas kesal melihat mereka seperti beban.


"Kau tidak boleh bersikap seperti itu Rahmat..." ucapku dengan tatapan tidak suka kepadanya yang bersikap kasar.


"Lalu siapa yang mau pergi mengambil makanan itu selagi kita menggali tanahnya!" bentak Rahmat kepadaku yang merasa kesal karena tiba-tiba aku ikut campur dan membela Anis dan Lilis.


"Kita tunggu sampai selesai, lalu kita bisa pergi mengambilnya bersama-sama..." ucapku yang menghadapinya dengan berani.


Kemudian di tengah keributan itu, tiba-tiba saja Pak Budi datang dan melerai kami yang sedang adu mulut. Pak Budi mengelus-elus dada kami dan menyuruh kami untuk bersabar. Melihat Pak Budi wajahnya terlihat kembali baik-baik saja, membuat satu beban pikiran ku hilang.

__ADS_1


"Sudah kalian jangan bertengkar... bapak akan menemani Anis dan Lilis untuk pergi mengambil makanannya" ucap Pak Budi sambil menatap Anis dan Lilis untuk memberikan kepercayaan kepada mereka agar tidak takut lagi karena pergi bersama dengannya seakan dirinya merasa aman.


"Baiklah... terima kasih Pak" ucap Anis yang merasa aman dan tenang jika pergi di dampingi oleh Pak Budi.


"Tapi Pak..." ucapku yang ingin menghentikan Pak Budi karena keadaan di luar sepertinya masih berbahaya. Tapi Pak Budi tiba-tiba memotong pembicaraan ku dan berkata, "Jangan khawatir... bapak akan menjaga Anis dan Lilis dari makhluk itu jika kami bertemu" ucap Pak Budi yang meyakinkan semua orang terutama Anis dan Lilis yang akan pergi bersamanya untuk mengambil makanan yang tertinggal di pos satpam.


Anis dan Lilis sudah merasa aman dan tenang sepenuhnya setelah mendengar Pak Budi akan menjaganya dengan baik jika bertemu dengan makhluk itu. Yang artinya tak lain adalah Pak Budi akan pasang badan jika terjadi sesuatu yang buruk untuk menyelamatkan Anis dan Lilis. Tapi... meski Pak Budi sudah berkata seperti itu, hatiku masih merasa resah dan khawatir kepada keselamatan mereka.


Pak Budi, Anis dan Lilis pergi meninggalkan kelas san segera berjalan menuju tujuan mereka sebelum makhluk itu muncul dihadapan mereka. Sementara kami para laki-laki sedang menggali tanah yang sedikit lagi selesai di gali dan kedua mayat yang tersisa dapat ditempati dengan layak.


"Huft... baiklah, cepat angkat mayatnya, aku dan Rahmat akan membantunya dari bawah" ucap Agus yang terlihat kelelahan.


Kemudian aku dan Bagas segera mengangkat salah-satu mayat itu dan memberikannya dengan hati-hati kepada Agus dan Rahmat yang berada di dalam liang lahat. Setelah itu kami kembali menguburnya kembali menggunakan tanah galian yang tadi di gali. Begitu juga dengan mayat terakhir, kami melakukan hal yang sama hingga semuanya kini benar-benar telah selesai.


"KYAAAAAAAAAAAA!!!" teriak seseorang dari bawah. Kami yang berada di dalam kelas terkejut mendengar suara teriakan itu, entah Lilis atau Anis yang berteriak, kami tidak bisa membedakan suara teriakannya.


Untung saja kelas ini sedang menghadap ke arah lapangan, jadi kami bisa melihat apa yang terjadi pada mereka lewat jendela. Akan tetapi jendelanya tertutup oleh papan kayu yang sepertinya masih kokoh. Bruak! prang! tiba-tiba saja Rahmat menghantam jendela itu dengan tangannya dengan sangat kuat hingga jendela itu hancur pecah berkeping-keping.


Kami tidak ada waktu untuk melongo karena kagum melihat kekuatan Rahmat yang kuat. Setelah itu dengan bergerombol kami saling berebutan untuk melihat keluar jendela dan melihat apa yang terjadi pada mereka. JRENGGGGGG!!! seseorang... seseorang telah mati dan saat ini tubuhnya sedang di koyak koyak oleh sosok itu di lapangan. Sementara Pak Budi dan salah-satu teman perempuan kami berlari masuk ke dalam sekolah kembali dan meninggalkan entah siapa yang sedang di bunuh makhluk itu.


Sebenarnya... apa yang baru saja terjadi pada mereka! kami merasa ngeri dan takut. Melihat tubuh teman kami di koyak koyak dengan sadis hingga seluruh organ tubuhnya berceceran keluar. Hoeekk! aku muntah karena tidak tahan melihat tangan makhluk itu masuk dan mengorek-ngorek organ dalem teman kami!. Bruk!... Teman-temanku menjatuhkan dirinya ke lantai karena kaki mereka lemas setelah melihat kejadian yang tak terduga itu.

__ADS_1


Benar-benar menyeramkan dan membuat kami merasakan ketakutan yang luar biasa. Setelah melihatnya, tubuh kami juga seakan-akan sedang di koyak koyak jaga oleh makhluk itu. Pandangan ku buram dan keringat terus bercucuran di dahi ku... hingga aku kehilangan kesadaran ku, tapi aku masih bisa mendengar sedikit suara kalau ada seseorang yang memanggil namaku. Bruk! aku terbaring jatuh di lantai karena kehilangan kesadaran ku sepenuhnya.


__ADS_2