Jembatan Setan

Jembatan Setan
Dalang


__ADS_3

Setelah kami membicarakan keributan sebelumnya akhirnya kami bersedia dan memutuskan untuk pergi ke dalam sekolah agar selamat dari rendaman air yang semakin tinggi yang disebabkan hujannya yang tak henti-henti. Kabut tebal menghalangi pandangan kami ditambah hujan dan udara yang dingin membuat nuansa yang mengerikan.


Kami berjalan keluar bersama-sama dari pos satpam sambil membawa kedua mayat itu bersama-sama. Karena kabut yang tebal kami tidak bisa melihat dimana letak sekolahnya. Namun dengan mengkirakan dimana letaknya, kami terus berjalan Dengan pakaian yang basa kuyup. Brrr! dingin sekali, membuat tubuh kami menggigil kedinginan.


"Ayo cepat... dingin sekali!" ucap Wawan yang suaranya bergemetar karena kedinginan.


Kami terus berjalan dengan perlahan-lahan dan hati-hati karena takut makhluk itu akan tiba dan mengejutkan kami. Hingga akhirnya kami melihat sesuatu di depan sana dan sepertinya jarak antara kami ke sekolah sudah semakin dekat. Kami segera berjalan dengan cepat ke arah sekolah itu.


CTAAAARRRR!!! tiba-tiba saja kilat menyambar dan cahayanya yang sekilas itu memperlihatkan kami apa yang kami lihat di depan sekolah itu. Itu adalah sosok hitam yang memburu kami! kami berteriak terkejut dan segera melarikan diri dari makhluk itu dan tanpa sadar kami meninggalkan mayatnya di tengah hujan dan kabut yang tebal.


Semuanya melarikan diri ke arah yang berbeda-beda dan ini membuat situasinya menjadi semakin gawat!. Aku... kehilangan keberadaan teman-temanku karena spontan berlari meninggalkan mereka, begitu juga teman-teman ku yang dalam keadaan sama. Kami saling tersesat dan sendirian di tengah hujan dan kabut yang tebal.


"Teman-teman! kalian dimana!" teriak seseorang yang mu dengar, sepertinya suara itu adalah suara si penakut Wawan.


"Aku disini!" ucapku yang berbarengan dengan orang lain.


Karena semuanya berkata, "Aku disini" saat menjawab pertanyaan Wawan, kami jadi kebingungan. Jadi kami menyebutkan nama kami satu-persatu di tengah kebutaan yang melanda kami di kondisi seperti ini.


"Rahmat disini!"


"Agus disini!"


"Bagas disini!"


"Fajar disini!"

__ADS_1


ucap kami yang berbicara dengan keras Secara bergiliran agar suaranya terdengar jelas karena suara hujan sangat menggangu pendengaran kami. Tapi anehnya tidak ada suara orang lain selain kami berlima para murid laki-laki. Lilis... dan Pak Budi tak mengeluarkan suara dan itu membuat kami resah apalagi dengan situasi yang semakin parah seperti ini.


"Katakan dimana kira-kira tempat kalian!" ucap Wawan agar bisa menelusuri kami satu-persatu dengan mudah.


"Kami tidak tahu karena semuanya terendam air!" ucap kami bersama-sama dari tempat yang berbeda.


"KYAAAAAAAAAAAA! AAAAKKHHH!"


Deg! deg! deg!


Suara itu... suara itu membuat kami terkejut sekaligus merasa takut. Karena tiba-tiba saja seseorang berteriak meringis kesakitan dan itu adalah suara seorang perempuan, yang tak salah lagi itu adalah suara Lilis!. Rasa takut menyelimuti hati kami... dan tiba-tiba saja langit menjadi sangat gelap dan mengerikan setelah menerima suara teriakan itu.


Tanpa sadar aku segera berlari ke arah suara itu, karena suaranya terdengar sangat jelas jadi aku bisa memperkirakan dari mana asal suara itu dengan pasti. Kraaakk! kroaaakk! suara aneh kembali bermunculan, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena suara hujannya mengganggu.


Hingga akhirnya ada sesuatu yang menyentuh ku dan membuatku terkejut, "UWAAAAAA!" teriakku yang takut kalau makhluk itu berhasil menemukan ku.


Kami berkumpul kembali dengan ajaib setelah mendengar suara teriakan itu. Tapi tetap saja... mendengar suara jeritan Lilis membuat kami takut. Craaak! krreeek! lagi-lagi suara aneh terdengar dan sepertinya suara aneh itu berasal dari tempat yang sama seperti asal suara jeritan Lilis sebelumnya.


Hati kami tergerak untuk berlari dan melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan suara-suara aneh itu. Kami mendekati suara aneh itu dan suaranya Semakin terdengar sangat jelas di depan kami. Hingga akhirnya... CTAAAARRRR!!! lagi-lagi kilat datang dan membuat kami melihat apa yang terjadi di depan kabut yang tebal itu.


Lilis... berada di dalam genggaman makhluk itu dan sedang berada di depan pintu masuk sekolah seperti tempat yang kami temukan sebelumnya, ternyata sosok itu masih menunggu kami disana. Tapi bagaimana bisa! bagaimana bisa Lilis pergi berlari ke arah pintu masuk sekolah saat semuanya berpencar kecuali dia berniat untuk bunuh diri!.


Tapi Lilis yang kami kenal bukan orang yang seperti itu, karena dia terlihat sangat takut sekali untuk menghadapi kematian. Jadi mustahil jika saat kami berpencar berlarian Lilis malah berlari ke arah makhluk itu. Seharusnya dia pergi ke belakang menjauhi makhluk itu dan berlari. Kecuali...


"AAAAAAAARRRGGGGGGHHHHH! MATI KAUUUUU!" teriak Wawan yang mengambil lumpur dan melempari lumpur itu ke makhluk itu. Wawan menangis dan terlihat putus asa hingga dia terus melakukan hal yang sia-sia.

__ADS_1


"LILIS! LILIS!" teriak bagas yang ikut menangis sambil berteriak memanggil namanya.


Rahmat mengeluarkan pisau dari kantung celananya dan melemparkannya ke arah makhluk itu. Namun seperti yang dikatakan oleh Pak Budi sebelumnya kalau semua perlawanan kita akan sia-sia karena kita tidak bisa menyentuh makhluk itu menggunakan benda apapun. Alhasil pisau yang di lempar Rahmat tembus melewati tubuh makhluk itu.


Makhluk itu kesal menatap kami sambil mengorek-ngorek tubuh Lilis yang sudah tidak bergerak. Makhluk itu melotot dan semakin melotot hingga matanya copot dan terjatuh ke air. Hiiii! mata kanannya copot sebelah dan menyisakan nanah dan sesuatu yang berlendir.


"P-pak... B... Bu-budi..." ucap Lilis yang tiba-tiba saja dia menyebut nama Pak Budi di akhir hidupnya hingga akhirnya wajahnya pucat dan mati.


Setelah mendengar dua kata itu yang keluar dari mulut Lilis... kami terdiam dan pikiran kami menjadi kosong. Wawan yang menggila melempari lumpur ke arah makhluk itu pun ikut terdiam. Pak Budi!?... apa maksud dari perkataannya itu?... kenapa dia menyebut nama Pak Budi di akhir hidupnya!?. Tapi tanpa berpikir lama kami langsung mengerti kenapa Lilis menyebut nama Pak Budi di akhir hidupnya.


Tentu saja Lilis tidak mungkin bunuh diri dan berlari ke arah makhluk itu saat itu... kecuali ada seseorang yang telah membuatnya mati dan orang itu adalah Pak Budi!. Amarah kami... rasa kesal kami... kebencian kami... timbul bersamaan dengan perasaan yang mendalam kepada Pak Budi.


"Orang tua sialan itu... yang membuat Anis dan Lilis mati kan? haha! hahahahaha! huwaaaaaa! aaaaaaaaaaaaakkkkkhhhhh!" teriak Wawan yang perasaan bercampur aduk saat ini hingga ia tak bisa mengendalikan perasaannya dan menjadi depresi berat.


"Brengsek! dimana orang tua sialan itu! Aaaaaaaaaaaaakkkkkhhhhh! huaaaaaaaa!" teriakan Bagas yang dipenuhi kebencian dan amarah yang mendalam kepada Pak Budi.


"Bajingan tua! akan ku bunuh dia dengan kematian yang lebih parah dari pada makhluk itu!" teriak Rahmat yang ikut kesal dan putus asa, dia sangat marah sekali dan memukul-mukul air yang menggenang dengan tangannya.


"Fajar... bagaimana denganmu?..." ucap Agus yang menunggu jawabanku.


Bagaimana denganku? mengenai perbuatan Pak Budi saat ini?... itulah yang ditanyakan oleh Agus kepadaku. Karena aku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Pak Budi, sangat dekat sekali sampai kami bisa bercanda dan tertawa bahkan berbagi cerita yang menyenangkan. Tapi... itu tidak ada gunanya lagi bagiku, karena orang yang seperti itu tidak bisa dimaafkan!.


"Kita bunuh! kita harus membunuhnya sebelum dia membuat kita mati terbunuh oleh makhluk itu atas perbuatannya!" ucapku kepada teman-temanku.


"Bagus... aku juga setuju dengan pola pikir mu! kita tidak boleh membiarkan dia merenggut nyawa teman kita yang berharga!" ucap Agus dengan kesal.

__ADS_1


Kami benar-benar sangat marah dan membenci Pak Budi dengan dalam. Perbuatannya yang seperti itu tidak bisa dimaafkan sama sekali!. Kami harus membunuhnya sebelum dia membunuh kami. Tak peduli kami melakukan hal yang kejam seperti pembunuhan kepada seseorang.


Toh kita hidup di dunia yang mengerikan seperti ini, tentu saja kita juga bebas melakukan hal-hal yang mengerikan seperti apa yang telah dilakukan Pak Budi pada Anis dan Lilis. Tapi saat ini kami tidak tahu dimana keberadaan Pak Budi. Pertama-tama kita harus mencari dimana Pak Budi bersama-sama. Di tengah hujan badai berkabut ini... kami memutuskan untuk membunuh Pak Budi.


__ADS_2