
Sementara itu yang terjadi pada Rahmat... saat ia terjatuh karena kakinya tersangkut oleh akar pohon. Suara Semak-semak dan langkah kaki yang mengejarnya semakin dekat dan Rahmat hanya bisa pasrah saja untuk menerima kematiannya. Srak! tiba-tiba saja sesosok sesuatu muncul dari balik semak-semak dan memperlihatkan wujudnya di depan Rahmat.
"UWAAAAAAAAAAAA!!!" teriak Rahmat untuk sekian kalinya. Dia memejamkan matanya dan menutup kepalanya untuk melindunginya.
Namun tak lama setelahnya..., "Rahmat!?..." ucap sosok yang membuat Rahmat takut itu.
Rahmat terkejut dan semakin takut kalau makhluk yang ada di depannya mengetahui namanya. Makhluk itu menggunakan masker gas dan pakaian yang sudah compang-camping penuh dengan lumpur dan juga bersimbah darah. Rahmat lagi-lagi berteriak dan berkata untuk jangan membunuh dirinya.
Kemudian sosok itu memegang tangan Rahmat, "Rahmat tenanglah!..." ucap sosok itu yang akhirnya Rahmat berani membuka matanya lagi dengan menyipitkan matanya.
"Si-siapa?..."
Kemudian sosok itu membuka masker gas yang ada di wajahnya dan memperlihatkan wajahnya kepada Rahmat yang terbaring ketakutan. Begitu melihat wajah yang ada di balik masker itu, Rahmat terkejut amat terkejut kalau ternyata orang yang ada di hadapannya itu adalah Pak Budi. Ya, Pak Budi yang dikabarkan hilang sebulan yang lalu karena menyebrangi jembatan itu dan ternyata rumor itu benar kalau Pak Budi menyebrang jembatan itu dan terjebak disini.
"P-pak! Budi!? bapak masih hidup!?" ucap Rahmat yang kaget dan segera bangun untuk duduk dan meminta penjelasan dari Pak Budi langsung mengenai dirinya.
"Iya... bapak masih hidup... huh... kau membuat bapak takut saja, bapak kira dia muncul... tapi ternyata kau yang ada di sini..." ucap Pak Budi yang menghembuskan nafasnya dengan lega dan ikut duduk di semak-semak itu bersama dengan Rahmat.
"Dia?... apa maksud bapak adalah monster atau sosok yang berkeliaran ditempat ini?" ucapku yang membuat Pak Budi terkejut dan dengan spontan langsung mencengkeram kedua tanganku dengan keras.
"Benar! apa kau pernah bertemu dengan sosok itu!? jika kau bertemu dengannya kau harus lari! tidak ada yang bisa kita lakukan untuk melawannya! bapak sudah mencoba untuk memukulnya menggunakan tongkat kayu tapi kayu itu tembus!" ucap Pak Budi yang membuat Rahmat terkesima karena Pak Budi masih bisa hidup bahkan setelah mencoba menyerang sosok yang membunuh Zilan. Tapi ini bukan waktunya untuk mengagumi Pak Budi.
"Tidak... saya tidak pernah melihatnya, hanya saja makhluk itu telah membunuh Zilan dengan tragis..." ucap Zilan dengan sedih.
__ADS_1
"A-apa!? Zilan yang sering bermain bola dengan kalian... ada berapa banyak orang yang masuk ke sini selain kalian berdua!?" ucap Pak Budi yang merasa khawatir dengan kondisi anak-anak muridnya.
"Ada delapan orang termasuk saya dan sekarang tersisa tujuh orang karena Zilan sudah mati..." ucap Rahmat.
"Sekarang dimana mereka!..." ucap Pak Budi.
"Mereka ada di sekolah..." ucap Rahmat yang membuat Pak Budi terkejut.
"Apa!? lalu apa yang kau lakukan disini? apa kau melarikan diri?" ucap Pak Budi.
"Tidak, saya bertugas sebagai pencari mayat dengan Agus. Tapi tiba-tiba saja dia menghilang, sepertinya dia sudah lari kembali ke sekolah" ucap Rahmat yang membuat Pak Budi kebingungan karena Pak Budi samas sekali tidak tahu apa yang dibicarakan Rahmat dan tentang untuk apa kami mencari mayat.
"Mencari mayat! untuk apa kau melakukan itu!?" ucap Pak Budi yang semakin heran.
"Nanti saya akan menjelaskannya, lebih baik sekarang kita kembali dulu dan memberitahukan kepada yang lainnya kalau bapak masih hidup..." ucap Rahmat.
"Iya..."
"Kalau begitu ikut bapak..." ucap Pak Budi yang menarik tangan Rahmat dan mengajaknya masuk lebih dalam ke semak-semak itu.
Sementara itu Agus yang sudah menyelesaikan cerita dan kejadian yang menimpa Agus dan Rahmat saat mencari mayat, itu membuat Anis dan Lilis terkejut dan menangis. Mereka tidak menyangka kalau salah-satu temannya akan mati lagi dalam waktu yang sangat dekat. Meskipun Rahmat belum dipastikan sudah mati atau tidak, tapi menurut asumsi Agus dia mengatakannya telah mati.
Dia berpikir begitu karena melihat kematian Zilan yang tragis. Jadi dia berpikir kalau Rahmat sudah mati saat ini. Mereka sangat sedih dan semakin takut kalau makhluk itu akan membunuh dirinya dan teman-temannya dalam waktu yang dekat seperti kejadian yang menimpa Rahmat. Mereka semakin takut dan takut akan keberadaan sosok yang belum pernah mereka lihat itu.
__ADS_1
Lalu sementara itu Rahmat yang saat ini sedang berjalan masuk ke dalam semak-semak bersama dengan Pak Budi menemukan hal yang tak terduga. Mereka sampai di suatu tempat yang berisi banyak mayat tergeletak dan di susun rapih di depan sana. Seketika Rahmat langsung merasa takut dan menaruh rasa curiga pada Pak Budi. Saat Rahmat melirik ke wajah Pak Budi, saat ini Pak Budi tersenyum melihat Rahmat dengan wajah yang mencurigakan.
"UWAAAAAAAAAAAA!!!" teriak Rahmat yang segera pergi meninggalkan Pak Budi. Namun semuanya terlambat! Pak Budi dengan sigap segera menangkap Rahmat dengan kedua tangannya dan menjatuhkannya ke tanah. Rahmat memberontak dan mencoba lepas dari Pak Budi.
"Hahaha! tenanglah! apa kau pikir bapak ini pembunuh! Haha! bapak hanya ingin mengerjai mu saja!" ucap Pak Budi yang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rahmat yang syok kalau ternyata Pak Budi sedang bercanda dengan menjahilinya dengan keterlaluan.
"Bapak jangan membuat candaan seperti itu... tapi Rahmat masih menaruh rasa curiga kepada Pak Budi meskipun sekalipun Pak Budi berkata hanya bercanda. Itu sudah cukup untuk membuat Rahmat menaruh rasa curiga padanya.
Kemudian Rahmat pergi berjalan mendekati mayat-mayat itu untuk memeriksanya. Mayat yang tersusun rapih itu berjumlah 4 orang dan kondisi kematiannya sangat tragis seperti di cabik cabik oleh binatang buas yang sangat buas, bahkan beberapa bagian tubuh mereka ada yang hilang dan orang tubuh mereka yang membusuk keluar dari dalam tubuhnya.
Setelah melihat kondisi kematian mayat itu yang sama seperti kondisi mayat yang pernah mereka temukan sebelumnya, yang penuh dengan cakar dan tubuhnya robek-robek. Kecuali Zilan yang tubuhnya tidak tercabik dan hanya kepalanya saja yang terpuruk seperti sebuah gigitan. Perasaan curiga Rahmat terhadap Pak Budi menghilang dan menyatakan kalau mayat-mayat itu bukanlah perbuatan Pak Budi.
Namun dari mana Pak Budi menemukan mayat-mayat ini dan kenapa dikumpulkan satu persatu?.
"Dari mana bapak menemukan mayat ini?" ucap Rahmat sambil memperhatikan seksama mayat-mayat itu. Mungkin saja ada material yang diperlukan dari kantong pakaian yang di pakai mayat itu.
"Bapak menemukannya dari berbagai tempat dan mengumpulkannya menjadi satu disini. Bapak berniat untuk mendoakan kematian mereka, tapi tiba-tiba saja bapaknya mendengar sesuatu dan ternyata itu kau, Rahmat..." ucap Pak Budi yang sekarang semuanya sudah jelas.
"Kalau begitu ayo kita angkat mayat-mayat ini Pak, setelah sampai di sekolah kami akan menjelaskannya kepada bapak mengenai mengapa kami mencari mayat" ucap Rahmat yang mengangkat satu mayat itu dan membiarkan Pak Budi mengangkat sisanya.
"Baiklah, tapi mengapa kau mengangkat satu mayat sedangkan bapak tiga?" keluh Pak Budi dengan niat bercanda
"Bapak kan orang dewasa dan memiliki tenaga yang lebih kuat, jadi bapak harus mengangkat mayat lebih banyak dari pada saya" ucap Rahmat yang tetap berjalan untuk kembali ke sekolah untuk berkumpul kembali.
__ADS_1
Setelahnya Pak Budi mengangkat ketiga mayat itu meski merasa jijik karena tubuh mayat itu sudah membusuk dan bentuknya terlihat mengerikan. Meski masih tak mengerti dengan apa yang akan kami lakukan untuk mencari mayat, tapi mereka pasti memiliki sesuatu yang penting mengenai mayat-mayat ini, itulah yang di pikirkan Pak Budi saat ini, meski dia terlihat kesulitan karena membawa tiga mayat sekaligus.
Tapi seharusnya itu tak terlalu berat dibandingkan ketika menggendong mayat-mayat itu ketika masih hidup. Karena beberapa bagian tubuhnya sudah ada yang hilang dan terurai. Hanya saja mengangkat mayat yang rupanya sudah tak berbentuk itu sangat mengerikan dan menjijikan.