Jembatan Setan

Jembatan Setan
Alasan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Aku dan tim pencari kelas dan makanan sudah mengumpulkan banyak makanan dari seluruh kelas yang ada di lantai 2. Kami merasa bangga dan tersenyum licik karena bisa mengambil makanan yang kami suka sekarang. Ini adalah hal yang kami impikan saat pergi ke warung untuk membeli camilan dan makanan lainnya. Tak disangka tinggal dan hidup disini membuat keinginan kami terkabul, tapi ini tidak sepadan dengan apa yang terjadi!. Kau tahu! bagaimana bisa aku berpikir begini disaat diriku berbahaya dan salah-satu temanku mati!.


"Baiklah ayo kita pergi ke tim pencari buah!... eh? ada apa dengan wajahmu Fajar?" ucap Wawan yang terlihat bersemangat setelah memiliki sekarung makanan di dalam karungnya.


"Ah, tidak... hanya saja aku memikirkan hal yang keterlaluan. Ayo kita pergi ke bawah dan berkumpul..." ucapku.


Kemudian kami pergi menuruni tangga dan menghampiri Anis dan Lilis yang berada si dekat semak-semak beri liar itu. Tapi anehnya mereka terlihat seperti sedang menangis... dan... kenapa ada Agus disana?. Dimana Rahmat yang bersama dengan Agus? dan kenapa mereka terlihat sedang bersedih? firasat ku mengatakan ada hal yang buruk terjadi. Aku dan tim pencari kelas segera menghampiri mereka sambil membawa sekantung makanan di punggung kami.


"Hei! apa yang terjadi! kenapa kalian menangis?..." ucapku yang merasa resah karena melihat mereka menangis dan Agus yang pulang tanpa Rahmat.


"Rahmat... Rahmat sudah mati!..." ucap Lilis yang terlihat sedih dan menahan air matanya untuk tidur terjatuh ke tanah.


Kami yang mendengar kalau Rahmat telah mati benar-benar terkejut. Tanpa sadar aku melepaskannya karung makanan yang ku pegang dan terdiam. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau salah-satu temanku akan mati lagi dalam waktu yang dekat. Aku benar-benar kesal! sangat kesal pada diriku! dan aku malah melampiaskan amarahku kepada Agus yang satu tim dengan Rahmat untuk mencari mayat.


Aku menarik kerahnya hingga membuat dia berdiri, "Kenapa kau masih hidup!? apa kau meninggalkan Rahmat sendirian dan membiarkannya mati!" ucapku dengan amarah yang menggebu-gebu.


Agua hanya terdiam hingga akhirnya dia menjawab, "Apa kau ingin aku mati juga? apakah menurutmu akan lebih baik jika dua orang temanmu mati sekaligus?" ucap Agus yang membuatku tak bisa berkata-kata.


Kata-katanya membuatku terdiam dan membuatku tak bisa melakukan apapun. Aku sangat kesal! kesal sekali dan membenci diriku! aku selalu menyalahkan diriku atas penderitaan dan kematian teman-temanku. Padahal aku tahu kami sama sekali tak melakukan kesalahan, kami hanya ingin selalu bersama dan tertawa.


Tapi melihat teman kami mati dan hilang dari hadapanku dan juga senyumannya. Membuat hati kami hancur dan terkikis, apa lagi saat aku mengingat janji kita saat selesai bertengkar dan menyalahkan satu sama lain. Janji kalau kita akan terus bersama dan keluar dari tempat ini bersama-sama. Tapi apa ini!? kenyataan yang kejam berkata lain dan merebut nyawa teman-temanku.


"Itu mereka Pak..." ucap Rahmat yang baru saja datang sari hutan bersama dengan Pak Budi sambil menggendong mayat si punggungnya.


"Syukurlah mereka masih selamat... tapi kenapa suasananya terlihat seperti itu?" ucap Pak Budi yang melihat kami dengan heran.


"Huh, sepertinya mereka berkelahi lagi, entah karena apa. Ayo kita hampiri mereka Pak... hei Teman-teman! aku kembali!" teriak Rahmat kepada kami dari hutan.


Mendengar suara Rahmat memanggil kami, membuat kami terdiam. Kami mengira kalau suara Rahmat yang memanggil kami adalah halusinasi dari kesedihan kami. Bahkan suaranya terdengar lembut dari biasanya yang selalu keras, dan dia terus memanggil kami dari alam sana.

__ADS_1


Rahmat merasa kesal karena panggilannya tidak di jawab dan mereka masih asik bertengkar. Itu membuat Rahmat kesal dan menjatuhkan mayat itu dan segera menghampiri kami. Buak! begitu Rahmat sampai tiba-tiba saja dia memukulku yang sedang menarik kerah Agus dan alhasil aku dan Agus terpental jatuh.


"Hei berhentilah berkelahi!" ucap Rahmat yang terlihat kesal.


Kami yang melihat Rahmat pulang tanpa luka sedikitpun di tubuhnya hanya bisa menatap bengong. Hal itu membuat Rahmat mengerutkan dahinya dan jadi kebingungan. Kami terdiam sejenak menatap Rahmat yang ternyata masih hidup dan saat ini berada di hadapan kami.


Aku dan Agus segera berlari ke arahnya dan meraba-raba tubuhnya.


"Apa benar ini Rahmat? bukan Rahmat jadi-jadian kan?" ucapku kepada Agus yang juga ikut meraba-raba tubuh Rahmat untuk memastikan dia hantu atau tidak.


"Benar... ini benar-benar Rahmat, buktinya kita masih bisa memegang tubuhnya" ucap Agus yang terlihat lega.


Rahmat terlihat kesal dan tidak suka karena kami meraba-raba tubuhnya dan dia segera menggunakan kedua tangannya untuk mencekik kami. Wajahnya merah dan terlihat sangat kesal sekali, sepertinya dia sekarang benar-benar berniat untuk membunuh kami.


"Ada apa sebenarnya dengan kalian semua! jelaskan!..." ucap Rahmat.


"Hahhh... jadi seperti itu... lalu kenapa kau berlari meninggalkan ku Agus?" ucap Rahmat sambil memegang kepalanya dan menahan amarahnya agar tidak keluar.


"I-itu... karena aku takut..." ucap Agus yang membuat semuanya terkaget. Karena kami sangat mengenal Agus adalah orang yang pemberani sejak dulu dan aku sebagai sahabat dari kecil juga sangat mengetahui kalau Agus adalah anak yang pemberani.


Tapi semuanya telah berubah sejak Zilan meninggal, rasa takut dan trauma itu mulai tumbuh dan membuatnya jadi seperti ini. Agus si pemberani menjadi seorang yang penakut, meski begitu jika di bandingkan dengan Wawan si paling penakut. Agus masih memiliki keberanian dalam dirinya.


"Lalu... suara Semak-semak yang mengejar kita itu...? apa?" ucap Agus yang penasaran.


"Oh itu..." ucap Rahmat yang tiba-tiba saja Pak Agus datang sambil menggunakan masker gas yang penuh lumpur dan membuat kami kaget dan berteriak.


"Sekarang Monster lumpur! aaaakkhhh!" teriak Wawan yang jadi kesurupan.


"Hei tenanglah! dia Pak Budi! dia masih hidup saat ini!" ucap Rahmat yang membuat kami terdiam dan terkejut. Kemudian Pak Budi melepaskan masker gas dari kepalanya dan menunjukkannya kepada kami bahwa dia benar-benar Pak Budi.

__ADS_1


"Bapak masih hidup!?" ucapku yang kaget sekaligus merasa senang kalau Pak Budi masih hidup saat ini.


"Iya... sudahlah bapak tidak bertemu dengan dengan kalian semua ya..." ucap Pak Budi yang mengulurkan kedua tangannya untuk minta di peluk.


"Maaf pak... kami tak bisa memeluk bapak karena pakaian bapak penuh dengan lumpur dan darah..." ucap Anis dan kami mengangguk setuju.


"Jadi yang tadi itu Pak Budi yah... huh..." gumam Agus.


"Huh, bapak jadi sedih, padahal bapak dan Rahmat sudah membawakan mayat untuk kalian" ucap Pak Agus yang lagi-lagi dia membuat kami terkejut.


"Kata-katanya kurang pas untuk digunakan, terdengar sangat ambigu" gumam Bagas.


"Da-dari mana kalian bisa mendapatkan 4 mayat sekaligus?" ucap Wawan yang terlihat kagum, padahal itu bukan hal yang harus di kagumi dasar orang gila.


Setelahnya Pak Budi menjelaskan dengan detail bagaimana dia bisa mendapatkan 4 mayat itu pada kami dan juga menceritakan dirinya yang terjebak disini dari sebulan yang lalu kepada kami. Tidak hanya itu saja, Pak Budi juga menceritakan mengenai dirinya kenapa pergi melewati jembatan itu.


Alasan Pak Budi melewati jembatan itu adalah karena hal yang sepele dan membuat kami geleng-geleng kepala. Yaitu singkatnya karena pak Budi kalah bertaruh saat di hari perkumpulan para guru bertaruh dalam sebuah permainan dan yang kalah akan ditantang untuk melewati jembatan setan itu. Sebenarnya bukan hanya untuk ditantang melewati jembatan saja, sebenernya mereka juga masih penasaran dan tak percaya bahwa jembatan itu akan membawa seseorang yang melewatinya pergi ke dunia lain dan tak akan pernah bisa kembali.


Karena Pak Budi kalah bertaruh dan haru melewati jembatan itu, mau tak mau karena Pak Budi ada seseorang pria, dan seorang pria harus menepati janjinya. Maka Pak Budi pergi melewati jembatan itu dan sementara para guru yang lain memperhatikan Pak Budi yang melewati jembatan itu.


Tapi... kejadian yang sama terjadi seperti kami...


"Pak Budi! ngapain masuk ke hutan!? sudah cepat kembali!" teriak Pak Yono yang terlihat panik melihat Pak Budi terus berjalan lurus masuk ke dalam hutan di tengah kabut hingga akhirnya Pak Budi menghilang.


"Pak! Pak Budi! jangan bercanda! cepat kembali!" teriak Pak Bowo namun Pak Budi tak kunjung kembali setelah melewati jembatan itu meski mereka sudah menunggu cukup lama di depan jembatan. Kejadian itu terjadi pada malam hari di saat semua guru sudah selesai bekerja menginput data-data nilai siswa.


Karena tidak ada satupun diantara mereka yang mau menyebrang ke jembatan itu untuk menolongnya. Akhirnya mereka menutup kasus ini dari semua orang dan diam untuk sementara hingga akhirnya beberapa warga desa menyadari kalau Pak Budi tidak pernah kelihatan. Disaat itulah para guru berencana untuk memanfaatkan momen ini dan menyebar gosip kalau kemungkinan hilangnya Pak Budi karena pergi menyebrangi jembatan itu.


Lalu alasan itu akhirnya diterima oleh semua warga desa karena dahulu juga pernah terjadi kasus yang sama seperti hilangnya orang-orang saat melewati jembatan itu. Hingga membuat kabar itu berlalu begitu cepat ke seluruh desa dan meyakini kalau hilangnya Pak Budi disebabkan karena melewati jembatan setan itu. Seperti itulah penyebab Pak Budi terjebak di tempat ini seperti kami saat ini.

__ADS_1


__ADS_2