
Dimana aku?... kenapa tiba-tiba aku ada di lapangan? bukankah tadi aku berada di dalam kelas bersama dengan teman-temanku dan kalau tidak salah Anis Lilis dan Pak Budi disuruh untuk pergi mengambil makanan di poa satpam. Pos satpam berada di sebelah kanan dari lapangan dan aku melihat Anis, Lilis dan Pak Budi sedang mengambil makanan di dalam pos satpam.
"Hei! apa kalian butuh bantuan?..." ucapku sembari masuk ke pos satpam.
Tapi anehnya, mereka sama sekali tak menjawab pertanyaan ku dan hanya sibuk mengumpulkan makanan yang keluar dari kantong makanan. Seolah-olah... keberadaan ku tidak di anggap oleh mereka, ini aneh!? kenapa mereka tidak bisa melihat ku yang berada di depan mereka saat ini?.
Brak! tiba-tiba saja sosok itu datang dan membuatku lari ketakutan segera bersembunyi di pojok pos satpam. Pak Budi segera melindungi Anis dan Lilis di belakangnya meski terlihat ketakutan dan tangannya yang bergemetar. Makhluk itu teriak berjalan masuk dan mengangkat tangannya yang panjang dan tajam untuk mencabik-cabik mereka.
"KYAAAAAAAAAAAA!!!"
Apa-apaan ini!? kenapa tiba-tiba aku berada di luar lagi dan suara siapa yang berteriak itu!. Seakan-akan aku telak melewatkan sesuatu yang terjadi saat ini. Aku melihat Anis yang perutnya di tusuk oleh kuku tajam makhluk itu, sementara Lilis dan Pak Budi berlari meninggalkan Anis yang nyawanya sudah tidak terselamatkan lagi. Mereka berlari pergi masuk ke dalam sekolah dan saat ini Anis sedang tersiksa oleh makhluk itu.
"UAAAKHHHH TO.... TOLONG..." ucap Anis dengan suaranya yang melemah.
Krak! crat! ssrreekkk! makhluk itu mencabik-cabik Anis tanpa ampun hingga semua orang dalamnya keluar berceceran di tanah bersamaan dengan darah yang kental mengalir keluar. Saat itulah Anis sudah tidak sadarkan diri dan benar-benar telah mati. Aku yang melihatnya hanya bisa menatapnya sambil menangis dan menutup mulutku dengan kedua tanganku agar tidak muntah.
Tiba-tiba saja... Plak!
Kepalaku sakit sekali dan kenapa gelap sekali disini? kemudian aku membuka mataku dan ternyata aku masih berada di kelas. Aku bangun dan melihat-lihat sekitar,. sebenarnya apa yang terjadi padaku?... oh iya, tadi kalau tidak salah aku muntah dan tak sadarkan diri setelahnya. Eh... muntah?... kenapa saat itu aku muntah?... seketika aku langsung ingat dengan apa yang terjadi barusan.
"Anis! dimana Anis!" ucapku yang segera menatap Pak Budi dan Lilis yang saat ini sedang bersedih.
Tidak... bukan hanya mereka berdua lah yang terlihat sedih, tapi semua teman-temanku saat ini sedang terlihat sedih. Yang paling menderita di antara kami semua adalah Wawan... dia saat ini sedang menangis di pojokan sambil berbaring. Terdengar suara tangisan yang terisak-isak, pasti Wawan sangat sedih sekali dan juga dia merasa putus asa.
__ADS_1
Lilis juga menangis tapi dia tetap mencoba untuk tidak menangis di saat sahabat terbaiknya telah pergi meninggalkannya. Ia tak bisa menahan tangisannya hingga membasahi kacamata yang ia gunakan untuk membantu penglihatan. Semuanya bersedih... melihat mereka semua bersedih ikut membuatku merasakan perasaan mereka.
"Ayo..." ucap Rahmat dengan tiba-tiba, padahal semuanya sedang bersedih saat ini dengan kepergiannya Anis.
"Apa maksudmu?..." ucap Bagas.
"Ayo kita bawa mayat Anis yang sudah tidak memiliki bentuk..." ucap Rahmat yang kata-katanya membuat kami semakin sedih.
"Nanti dulu... kita semua bisa mati nanti..." ucap Bagas yang takut untuk pergi mengambil mayat Anis. Takut karena makhluk itu akan datang membunuhnya sama seperti apa yang telah dilakukannya kepada Anis dan takut karena tubuh Anis yang tidak berbentuk karena isi tubuhnya telah dikeluarkan oleh makhluk itu.
"Aku tidak butuh orang-orangan pengecut! siapa yang mau pergi bersamaku!" teriak Rahmat kepada kami... aku melihat tangannya yang di kepalkan itu bergemetar.
Rahmat... dia juga sedang sangat takut saat ini... tapi dia mencoba untuk memaksakan kehendak dirinya dan tidak mau kalah dengan rasa takut. Matanya juga... berkaca-kaca dan mulutnya juga sedang digigit olehnya. Dia... benar-benar ketakutan saat ini dan hanya akulah yang menyadari perasaan Rahmat sebenarnya disaat teman-temanku mengira Rahmat orang yang tidak kenal takut. Padahal dia sama seperti kita... dia bergemetar dan ketakutan.
"Jika tidak ada yang mau... maka biar aku sendiri saja yang membawakan mayatnya. Aku akan membawa mayatnya dengan utuh termasuk organ-organ tubuhnya yang sudah keluar. Aku akan memungutnya san memasukannya ke dalam karung ini!" ucap Rahmat yang berjalan dan mengambil karung yang tergantung di atas katrol tempat dimana itu adalah korban bunuh diri mayat pertama yang ada di kelas ini. Aku sudah menceritakannya kepada kalian sebelumnya mengenai ada satu kuburan di kelas ini.
Aku tak bisa mendengarnya seperti itu... dia berjuang seorang diri di tengah rasa takut yang di alaminya. Aku tidak bisa membuatnya membawa beban yang berat sendirian di pundaknya, seharusnya kami memikul beban itu bersama-sama layaknya seorang teman sejati. Tapi karena hati kami takut dan di kuasai oleh kegelisahan.
Tidak ada satupun di antara kami yang dapat menggerakkan tubuh kami untuk membantu Rahmat yang berjuang sendirian. Bahkan satu jari pun tidak bisa kami gerakan kecuali bergemetar karena ketakutan. Rahmat berjalan keluar kelas sambil membawa sebuah karung di tangannya. Melihatnya sudah berjuang demi teman kami yang sudah mengorbankan dirinya, kami tetap tak bisa melakukan apapun dan hanya diam dengan dipenuhi rasa takut.
"Kenapa... kenapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku dan membantunya..." ucapku yang merasa kesal pada diriku yang takut dan bergemetar seperti ini.
"Fajar..." gumam Agus yang melihat ku sedang geram pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aaaaaaakkkhhh! aku sudah tidak peduli lagi! aku akan membantunya!" ucap Bagas yang tiba-tiba berlari keluar kelas untuk menyusul Rahmat. Padahal dia ketakutan... dan sedang menangis... tapi kenapa dia masih bisa menggerakkan tubuhnya dan memberanikan diri untuk mendekati maut.
Itu membuatku bingung dan tak mengerti...
"Aku juga... aku tidak bisa terus diam saja seperti seorang pengecut disini..." ucap Wawan yang ikut Bagas dan mengusap-usap air matanya yang terus mengalir.
Kemudian selanjutnya Lilis... selanjutnya Pak Budi... selanjutnya Bagas. Mereka semua telah memaksakan diri mereka dari rasa takut meski tubuh mereka bergemetar mereka tetap memaksakan dirinya untuk tetap bergerak padahal maut sudah berada di depan mereka. Hanya aku... lagi-lagi hanya aku yang tertinggal dan selalu berada di urutan terakhir untuk bergerak.
Hal ini mengingatkan ku kepada diriku yang saat itu berada di posisi terakhir menyebrangi jembatan itu di saat teman-temanku memberanikan diri mereka untuk melewati jembatan itu untuk menolong Zilan. Aku memang orang yang payah... aku payah sekali... seperti saat itu, aku takut dan seluruh tubuhku bergemetar hebat.
Jantungku berdebar-debar dengan kencang. Aku masih tak bisa menggerakkan tubuhku, aku kesal sekali!. Padahal teman-temanku saat ini sedang berjuang di depanku dan aku masih tetap diam disini! ini membuatku kesal dan frustasi. Memangnya kenapa! kenapa kalau aku takut! kenapa takut dijadikan alasan untuk diriku agar tidak bergerak!.
Padahal teman-temanku juga sangat ketakutan! dan mereka bisa menggerakkan tubuh mereka meski dalam keadaan terpaksa. Tapi lihatlah aku... aku sama sekali tak bergerak dan hanya menyesali diriku di sini...
"AAAAAAAAAAAKKKHHHHHH UAAAAAAAAAAAAAKHHHHHH!!!" teriakku dengan sangat kesal dan putus asa menyerah pada diriku. Aku memukul-mukul tanah dengan bertubi-tubi hingga tanganku berdarah dan terasa sakit pun aku masih tetao kesal pada diriku san tetap memukul tanah dengan kencang.
"Hooooooooohhhh..."
Suara itu... terdengar kembali... pintunya terbuka karena teman-teman ku telah keluar dari sini dan lupa untuk menutup pintunya kembali. Aku melihat ke depan... makhluk itu berdiri di depan pintu dan sedang menatapku dengan tajam. Tubuhnya... wujudnya semakin mengerikan dari sebelumnya... aroma busuknya semakin menyengat.
Tap! tap! tap!
Tanpa sadar aku... bisa bergerak dan berlari saat ini. Tapi kenapa aku berlari ke arah jendela yang di hancurkan oleh Rahmat itu?. Jendela itu terbuka lebar dan tiba-tiba saja tubuhku bergerak sendiri dan loncat melalui jendela itu. Aku melihat perlahan-lahan diriku Semakin mendekat dataran... sepertinya aku akan jatuh dan mati saat ini. Ini kan lantai 3 sepertinya aku akan benar-benar mati dengan segala penyesalan yang tersisa. Seorang pengecut pasti akan mati seperti orang pengecut kan.
__ADS_1