Jembatan Setan

Jembatan Setan
Sedikit Masalah Mulai Terpecahkan!


__ADS_3

Keesokan harinya setelah kami beristirahat dengan puas. Aku terbangun dan segera pergi keluar dari tempat pos satpam untuk melihat situasi di luar sekaligus menghirup udara segar setelah bangun. Rasanya lebih puas lagi setelah aku meregangkan seluruh tubuh sambil menatap langit.


Beberapa menit kemudian semua teman-temanku sudah bangun dan juga Pak Budi. Aku terkejut melihat penampilan mereka yang acak-acakan. Mereka memiliki kantung mata yang sangat hitam! apakah mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam? apakah hanya aku yang bisa tidur dengan tenang?.


"Kalian terlihat tidak bisa tidur semalam? apa karena masih memikirkan kejadian sebelumnya?..." ucapku yang menatap mereka dengan kasihan karena masih memiliki trauma.


"Tidak! itu karena kau! karena kau tidak bisa diam saat tidur, terus saja menendang kami!" ucap Anis dengan kesal dan matanya melotot tajam padaku.


Aku sungguh terkejut kalau ternyata yang membuat mereka tidak bisa tidur bukan karena memikirkan kejadian sebelumnya, akan tetapi karena aku. Tapi aku tidak percaya kalau aku tidur seperti itu, aku sangat yakin kalau diriku saat sedang tertidur pasti akan diam dan tenang.


"Ba-baiklah... maafkan aku..." ucapku sambil menggaruk-garuk kepalaku dan tersenyum cengengesan.


"Jadi... ayo kita segera menguburkan mayat mayat nya..." ucap Agus dengan mendadak, tiba-tiba saja dia berkata begitu disaat semua orang baru aja bangun dari tidur mereka.


"Kau sungguh mau melakukannya sekarang juga?..." ucap Wawan yang terlihat belum siap untuk melakukannya.


"Kalau kita menundanya lagi... kalian pasti mengerti kan apa yang akan terjadi ke depannya?..." ucap Agus dengan perkataannya yang membuat mereka terdiam dan berpikir untuk kedua kalinya.


Ucapannya memang sangat pedas, tapi apa yang dia katakan itu benar. Kami tidak boleh lagi menundanya untuk waktu yang cukup lama hanya karena kami merasa takut. Kita harus bersama untuk menghilangkan rasa takut itu, tidak ada waktu untuk mengembalikan mental kita yang hancur di tempat ini. Kita harus menyesuaikan mental kita di tempat ini agar bisa berjuang dan bertahan hidup.


"Agus benar... ayo kita lanjutkan anak-anak..." ucap Pak Budi yang setuju dengan perkataan Agus.


Mendengar Pak Budi yang berkata seperti itu membuat rasa takut kami sedikit hilang karena ditemani oleh orang dewasa. Pak Budi juga sepertinya sudah mengatasi rasa takutnya tadi malam dan dia tampak lebih bersemangat kali ini. Inilah wajah Pak Budi yang kami kenal selalu saat ia mengajar pelajaran fisika di kelas kami. Wajah yang penuh dengan semangat dan tenang, bukan seperti sebelumnya yang tampak gelisah dan tidak bisa merasa tenang.

__ADS_1


Kami kembali memasuki sekolah yang mengerikan ini dan menaiki tangga untuk mencari mayat-mayat yang kami letakan di tangga antara kelas 2 dan kelas 3. Seharusnya mayat-mayat itu masih ada kan? dan semoga saja makhluk itu tidak muncul si hadapan kami. Sebelum kami mencari mayat itu, seperti biasa kami berpencar untuk mencari kembali dimana kelas yang berisi lahan kuburan itu.


Kami membagi tim lagi menjadi tiga seperti sebelumnya. Rahmat, Pak Budi yang mendapatkan bagian untuk mencari kelas itu di lantai tiga, pergi bersama dengan Anis dan Lilis untuk menjaga mayat itu begitu sampai di lantai 3. Kami harus bergegas untuk mencarinya, sudah tidak ada waktu lagi karena mungkin saja sebentar lagi makhluk itu akan memunculkan diri dihadapan kami. Entah siapa yang akan melihatnya lebih dulu, semoga saja tidak akan ada korban lagi.


Aku mendapatkan lantai satu bagian kanan seperti sebelumnya... lagi-lagi ada pintu yang sulit di buka karena dihalang oleh banyak meja dan kursi yang menghalangi pintu masuk kelas. Pertama aku menemukan kelas yang seperti itu di kelas 1-3 dan yang kedua kelas yang terakhir aku periksa yaitu kelas 1-8 merupakan kelas terakhir yang aku periksa di lantai satu.


"Sepertinya kelas itu tidak ada di lantai satu yah..." ucap Bagas sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


"Benar..." ucapku dengan singkat karena saat ini aku sedang memikirkan sesuatu.


Entah kenapa tiba-tiba pikiran ku teralihkan dengan kelas yang di depan pintu masuknya berisi banyak meja dan kursi yang ditempatkan. Lalu... yang membuatku aneh dan baru kepikiran sekarang mengenai kelas yang kelebihan meja dan kursinya adalah... mengapa kelas itu selalu saja berhadapan satu sama lain.


Seperti contohnya saat ini... kelas 1-3 dengan kelas 1-8, kedua kelas itu sama-sama kelebihan meja dan kursi yang ditaruh di depan pintunya. Kejadian ini selalu ku alami, seperti yang sebelumnya saat aku memeriksa pintu kelas 1-7 yang kelebihan meja dan kursi di depan pintu kelas. Begitu juga di depan kelas 1-7 yaitu kelas 1-4 yang serupa.


Tiba-tiba saja suatu ingatan terbesit di pikiran ku dan ini benar-benar membuat terkejut. Kalau tidak salah saat itu, saat pertama kali membagi tim untuk pencarian kelas lahan kosong, aku dan Zilan lah yang pertama kali menemukan kelas itu di lantai tiga dan lebih tepatnya di kelas 3-10. Saat itu kami benar-benar terkejut karena ternyata perkataan Kakek benar mengenai ada satu kelas yang isinya terdapat lahan kosong.


Lalu jika ku ingat kembali di depan kelas 3-10 yang merupakan kelas yang pertama kali kami temui saat itu... adalah kelas 3-1 yang merupakan satu-satunya kelas yang berisi kelebihan meja dan kursi di lantai 3. Tidak seperti lantai 1 dan 2 yang memiliki dua kelas yang kelebihan meja dan kursi. Hanya di lantai tiga sajalah yang satu-satunya memiliki kelas yang kelebihan meja dan kursi. Namun... kelas 3-1 bersebrangan dengan kelas 3-10 yang merupakan kelas yang berisi lahan kosong saat itu.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku merasa seperti menemukan solusi yang lebih cepat san tepat untuk mencari kelas yang berisi lahan kuburan itu. Tanpa basa-basi aku segera berlari menaiki tangga menuju lantai 2 dengan cepat dan meninggalkan Bagas dengan tiba-tiba dan membuatnya heran.


"Fajar!?... hei tunggu!" ucap Bagas yang berteriak memanggilku sambil mengikuti ku dari belakang dengan heran.


Begitu sampai di lantai dua, aku segera berlari ke arah kanan dan memeriksa kelas 2-3 dan kelas 2-8. Begitu aku membukanya... ternya benar seperti dugaanku... kalau sudah begini aku tidak perlu repot-repot memeriksa lagi seluruh kelas dan kami juga tidak perlu lagi membagi tim untuk menelusuri seluruh kelas di sekolah ini. Karena di kelas 2-3 dan kelas 2-8 juga terdapat kelebihan meja dan kursi seperti kelas 1-3 dan kelas 1-8 di lantai satu.

__ADS_1


Maka jawabannya hanya satu untuk mencari kelas yang berisi lahan kuburan itu... Yaitu kelas itu berada di antara kelas 3-3 atau kelas 3-8 saat ini. Aku sudah mengerti garis besarnya untuk perpindahan kelas agar dapat lebih mudah untuk dicari. Kami sangat beruntung kalau ternyata di sini ada sebuah teka-teki, meskipun kakek tidak memberitahu ku soal ini. Kurasa ini tak menjadi masalah dan aku juga yakin sepertinya saat itu juga kakek sudah menceritakan semuanya tentang tempat ini padaku.


Jadi aku memiliki kesimpulan yang menyatakan mengapa kelas yang berisi lahan kuburan itu berada si lantai 3 dan si antara kelas 3-3 dan kelas 3-8. Mudah saja, ibarat kelas yang berisi kelebihan meja dan kursi adalah sebagai penanda atau penentu untuk menemukan kelas yang berisi lahan kuburan itu. Karena semua kelas yang kelebihan meja dan kursi berada pada jalur vertikal. Yang artinya jika di lantai satu terdapat dua kelas yang berisi kelebihan meja dan kursi seperti yang aku temukan di kelas 1-3 dan kelas 1-8.


Maka di secara vertikal di lantai dua di kelas 2-3 dan kelas 2-8 juga sudah pasti berisi kelebihan meja dan kursi. Dengan begitu setelah kita menemukan kelas yang berisi kelebihan meja dan kursi, kita sudah tidak perlu repot-repot mencarinya ke seluruh kelas yang ada untuk mencari kelas berisi lahan kuburan itu.


Pertama kita hanya perlu menelusuri lantai satu bersama-sama dan saling menghubungi jika sudah menemukan kelas yang berisi kelebihan meja dan kursi. Hal ini juga tidak berlaku apakah kelas yang berisi lahan kuburan itu hanya terdapat di lantai 3 saja atau bukan. Karena semua isi kelas terus berpindah-pindah, akan tetapi kelas yang berada di jalur vertikal tidak akan pernah berpindah tempat.


Jadi ku ulangi sekali lagi, jika kita sudah menemukan salah-satu kelas di lantai satu yang berisi kelebihan meja dan kursi. Maka sudah di pastikan kelas yang berada di sebrang dan di sampingnya berkemungkinan berisi kelas yang sama atau mungkin beruntungnya langsung ketemu kelas yang g berisi lahan kuburan.


Sebagai contoh gambar :



Inilah kelas yang terjadi saat ini, karena itu dengan yakin aku mengungkapkan kebenaran bahwa kelas yang berisi lahan kuburan itu berada di antara kelas 3-3 dan kelas 3-8. Aku segera lanjut untuk menaiki tangga ke lantai 3 setelah mengecek kelas 2-3 dan kelas 2-8 yang tidak berisi lahan kuburan akan tetapi berisi kelebihan meja dan kursi yang sebagai penentu letak kelas yang berisi lahan kuburan.


"Semuanya ayo ikut aku..." ucapku yang menyuruh teman-temanku Agus dan Wawan yang ada di lantai 2 untuk ke lantai 3.


Kemudian kami bertemu dengan Lilis dan Anis di tangga menuju lantai 3 yang sedang menjaga mayat, aku juga menyuruh mereka untuk ke lantai 3 dan biarkan kami membawa mayat itu ke lantai 3. Begitu sampai aku sudah melihat kelas 3-3 yang terbuka dan itu artinya kelas itu berisi kelebihan meja dan kursi sesuai dugaanku.


"Semuanya! lihat ini dan saksikan lah!" ucapku kepada semua teman-temanku dan juga Rahmat dan Pak Budi yang masih menelusuri kelas si lantai 3.


Teman-teman ku melihat ku dengan kebingungan karena aku bertingkah aneh dan senyum-senyum sendiri. Setelah semua orang berkumpul di sekeliling ku, aku segera berjalan menuju kelas yang ada di depannya, yaitu kelas 3-8. Cklek... tanpa basa-basi aku langsung membuka kelas itu dan ternyata...

__ADS_1


"Sesuai dugaanku..." ucapku sambil tersenyum menyeringai kalau kelas yang kita cari sudah ketemu di hadapan kami saat ini.


__ADS_2