
Sementara itu kami masih berteriak memanggil Zilan untuk kembali menyebrangi jembatan. Tapi semuanya sia-sia , tapi... apa yang terjadi sebenarnya? ini membuat Zilan merasa heran dan ada suatu kejanggalan yang sedang terjadi. Akhirnya Zilan berhasil menyebrangi kembali jembatan dan menghampiri kami.
"Kak? kak Fajar?... kak Agus?... kak Bagas?... kak?. semuanya... hah!? kenapa kalian diam saja!?" ucap Zilan yang ketakutan melihat kami diam saja dengan tatapan kosong. Itulah yang Zilan lihat, sementara apa yang kami lihat Zilan sudah menjauh dari kami dan masuk ke dalam hutan.
Kemudian Agus segera berlari menyebrangi jembatan itu tanpa pikir panjang, "Agus! apa yang kau lakukan!?" ucapku yang semakin lama hatiku dipenuhi dengan rasa takut yang mendalam.
"Aku harus menyelamatkan Zilan! kalian juga kalau mau ikut, ikutlah dengan ku!" ucap Agus yang berjalan melewati jembatan itu dengan hati-hati sambil bergerak dengan cepat.
"Aaaaarghhh, ayo teman-teman kita ikuti Agus!" ucap Wawan yang akhirnya ikut menyusul Agus yang sedang menyebrang jembatan. Sementara itu yang lainnya mulai dari Rahmat ikut menyebrang hingga akhirnya satu-persatu dari kami ikut menyebrang jembatan itu. Tapi... lagi-lagi aku terdiam disini... melihat temanku semakin jauh dariku dan melewati tempat yang mengerikan itu.
Pikiran ku dipenuhi dengan rasa takut, begitu juga hatiku. Rasanya aku seperti mendengar dengkuran yang mengerikan dari makhluk yang kulihat di mimpiku itu. Oooooorrrrrhhhh! dengkuran makhluk itu terus terdengar di telinga ku meskipun aku sudah menutup telinga ku dengan rapat-rapat menggunakan kedua tanganku.
Sementara itu kami yang ada di pandangan Zilan tiba-tiba saja bergerak melewati jembatan yangs sebelumnya dilewati oleh Zilan. Zilan merasa heran dan terkejut melihat tingkah kami yang aneh dan dirinya juga merasa ketakutan.
"Semuanya!? ke-kenapa kalian menyebrang ke sana!" teriak Zilan dengan ketakutan.
Sementara itu aku yang ada di pandangan Zilan ikut berjalan dengan perlahan melewati jembatan itu. Sebenarnya... apa yang dilihat Zilan adalah gambaran diri kami yang terjadi sebenarnya. Karena saat ini pun aku juga sedang menyusul teman-temanku yang sudah di sebrang sambil melewati jembatan dengan perlahan. Tangan dan kakiku bergemetar hebat, aku tak kuasa berjalan jika hanya dengan kakiku, jadi tanganku membantuku untuk tetap berdiri dengan memegang tali yang menjadi pembatas sekaligus gantungan untuk jembatan itu.
"Kak... Fajar? kenapa kau juga menyebrangi... jembatan itu?" ucap Zilan yang menjatuhkan dirinya dengan lemas karena ketakutan.
Sementara itu aku segera menyusul teman-temanku yang sudah tiba lebih dulu. Kabutnya menghalangi pandangan ku, walaupun tidak tebal, tapi itu cukup untuk mengganggu. Aku mendengar teman-temanku berteriak memanggil nama Zilan dan aku segera datang ke arah suara itu.
"Teman-teman..." ucapku yang baru saja sampai di tempat mereka berkumpul mencari Zilan yang pergi melewati kabut.
"Fajar, apa kau sudah menemukan Zilan?" ucap Agus.
"Belum..." ucapku.
__ADS_1
Kemudian tiba-tiba saja kami mendengar suara teriakan seseorang yang sangat keras dari arah jembatan. Suara teriakan keras yang meminta tolong itu terdengar seperti suara Zilan. Kami segera kembali ke jembatan itu mengikuti sumber suara itu. Kemudian akhirnya kami menemukan Zilan yang sudah berada di sebrang jembatan dan dia terlihat sangat ketakutan sambil menutupi matanya.
Kemudian kami segera menyebrang kembali dan menghampiri Zilan, "Zilan..." ucapku sambil memegangnya.
"UWAAAAAA!... eh!? kalian kembali?" ucap Zilan yang terkejut melihat kami kembali.
"Seharusnya kami yang bilang begitu, huh... bikin takut saja. Lagian kamu ngapain sih pergi ke dalam hutan yang di sebrang" ucapku yang merasa lega sambil mengelus-elus dadaku.
"Hah? apa maksud kalian?... aku tidak masuk ke hutan yang ada di sebrang jembatan itu, bukankah kalian yang pergi masuk ke dalam hutan yang di sebrang?" ucap Zilan yang membuat kami heran dengan ucapannya.
"Haha, apaan sih... sudahlah jangan mengerjai kami untuk kedua kalinya!" tawa Anis sambil mencubit Zilan.
"Sudahlah, yang penting sekarang kita sudah baik-baik saja. Kalau gitu ayo kita kembali ke lapangan, pertandingannya kan belum selesai" ucapku.
"Aku serius... kalian pergi meninggalkan ku, ah yasudah lah" ucap Zilan yang pasrah karena yang lainnya tidak mempercayainya dan kami segera kembali ke sekolah.
"Ada apa lagi sih Gas? sudahlah cepat kembali ke sekolah " ucap Wawan.
"Sebentar, tunggu aku disini!" ucap Bagas yang berlari meninggalkan kami dan pergi kembali melewati jembatan itu. Kami terkejut melihat Bagas yang kembali menyebrangi jembatan itu. Kami terdiam dan tak dapat berkata-kata karena Bagas tiba-tiba melakukan hal yang aneh.
Kami terus menunggu kedatangan Bagas, setelah menunggu Bagas yang tak kembali juga kami memutuskan untuk masuk kembali menyebrangi jembatan itu untuk membawa Bagas kembali. Tapi saat kami baru saja bangun untuk menjemput Bagas, tiba-tiba saja Bagas lari dengan tergesa-gesa. Setelah sampai di hadapan kami dia terlihat sangat capek, wajahnya pucat dan dipenuhi dengan keringat dan Nafasnya tersengal-sengal.
"Ada apa Gas?..." ucap ku yang merasa heran, begitu juga dengan yang lainnya.
"Teman-teman... ki-kita... terjebak..." ucap Bagas yang membuat kami terkejut dan langsung merinding begitu mendengarnya. Semuanya menjadi resah dan tidak mempercayai omongan Bagas. Kemudian beberapa dari kami pergi meninggalkan Bagas untuk kembali ke sekolah karena tidak mempercayai omong kosongnya.
Aku, Zilan, Agus dan juga Bagas masih duduk terdiam di dekat jembatan. Sementara Wawan, Rahmat, Anis, dan juga Lilis pergi meninggalkan kami. Aku, Bagas dan Zilan duduk terdiam dan keringat bercucuran di dahi kami. Karena Kamilah yang paling mengetahui apa yang sebenernya terjadi saat ini dari pada yang lain. Agus hanya menuruti kata-kataku karena aku menyuruhnya untuk tetap disini.
__ADS_1
"Kenapa belum sampai-sampai juga sih... dan lagi kenapa ada kabut disini?" keluh Rahmat yang sudah capek berjalan.
"Benar... hah!? a-apa-apaan ini!?... teman-teman... lihat..." ucap Lilis yang mengarah telunjuk jarinya ke suatu bangunan yang sudah tidak terpakai.
Yaitu sebuah gedung sekolah yang bangunannya mirip sekali dengan bangunan sekolah kami. Ada lapangan di tengah, gudang di sebelah kiri sekolah, dan pos satpam di sebelah kanan Sekolah. Hanya saja semua bangunan dan tempatnya... terlihat seperti tempat yang sudah terbengkalai. Kumuh... kotor... berdebu... rusak... retak... terlihat sangat mengerikan.
"Apa maksudnya ini? bukankah kita sudah menyebrang kembali!?" ucap Anis yang mulai panik dan yang lainnya ikut merasa panik.
"Kau benar, ayo coba kita kembali menyebrang ke jembatan lagi! mungkin saja kita keliru!" ucap Wawan.
Kemudian mereka segera kembali menuju jembatan itu lagi dan aku bersama dengan yang lainnya berpapasan dengan mereka lagi. Aku melihat mereka sedang berlari panik tanpa mempedulikan kami yang ada di hadapan mereka. Mereka segera menyebrangi jembatan itu dan aku merasa heran kenapa mereka malah menyebrangi jembatan itu lagi.
"Teman-teman kalian ngapain!?" ucapku.
"Kita salah menyebrang! kalian cepatlah kembali!" ucap Rahmat sambil berlari menyebrangi jembatan bersama dengan yang lainnya.
"Jangan... percuma saja... kita sudah terjebak" ucap Bagas yang bergumam dan matanya terlihat ketakutan.
"Sebenarnya ada apa sih? kalian semua aneh tahu!" ucap Agus yang masih belum mengetahui situasinya dan merasa kesal dengan sikap kami yang ketakutan.
"Di sebrang sana... aku melihat gedung sekolah yang terbengkalai... pasti mereka juga baru saja menemukannya tadi. Karena itulah mereka bilang kita salah menyebrang. Kita benar-benar sudah terjebak" ucap Bagas yang membuatku kami takut. Agus anak si paling pemberani menelan dahaganya begitu dalam dan mulai merasa resah di hatinya.
Sementara itu teman-temanku yang sudah menyebrangi jembatan itu... sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bagas. Mereka benar-benar kembali melihat gedung sekolah yang terbengkalai itu lagi. Mereka mulai panik dan putus asa... akhirnya mereka kembali lagi ke jembatan dan menemui kami.
"Bagas... kata-kata mu... benar..." ucap Rahmat yang putus asa dan jatuh tersungkur ke tanah karena syok. Sementara itu Agus masih terheran-heran dengan semua teman-temannya, dia adalah orang terakhir yang masih tidak mempercayai apa yang sudah terjadi pada semuanya dan juga dirinya sendiri.
Kami.... benar-benar sudah terjebak... di dunia... setan!.
__ADS_1