Jembatan Setan

Jembatan Setan
Keputusan


__ADS_3

Zrassss!


Hujan masih turun dengan begitu deras di sertai dengan kilat yang menyambar. Suasana menjadi lebih mencengkeram dan mengerikan karena ditutupi oleh kabut yang cukup tebal. Suara rintihan seseorang di lorong-lorong sekolah membuat suasana hati semua orang menjadi tidak karuan.


Tapi, kami sudah terbiasa berada di tempat yang mengerikan ini. Walau belum bisa beradaptasi sepenuhnya, setidaknya kami yang tersisa dan selamat di tempat ini harus tetap bertahan dan melewati semua rintangan yang ada. Rasa takut... kegelisahan... khawatir... dan kematian... kami harus menghilangkan perasaan itu dari lubuk hati kami yang terdalam untuk bertahan hidup di tempat ini.


Namun rasanya itu adalah hal yang tak mungkin, tapi setidaknya kami harus tetap mencoba melangkah lebih maju untuk keluar dari dunia setan. Meski tersisa 5 orang saja di antara kami dan satu orang berkhianat, kami akan tetap bersama dan membunuh pengkhianat itu sebelum kami keluar.


Saat ini kami sedang terjebak dan hanya memiliki peluang yang sangat kecil untuk tetap bertahan dengan jumlah yang sama. Tapi aku memiliki ide untuk keluar dari masalah ini dan memberitahukan kepada teman-teman ku, karena ini adalah rencana yang hanya bisa dilakukan bersama-sama.


Beberapa saat kemudian...


"Jadi begitu... tapi aku tidak yakin kita akan selamat semua..." ucap Rahmat dengan wajahnya yang lesu dan dia tahu akan keselamatan dirinya dan juga teman-temannya.


Yah, memang benar... semua teman-temanku pasti ragu jika kami bisa menjalankan rencana ini dengan sangat baik. Aku juga berpikir seperti itu dan menjadi ragu, karena kami sudah melihat kematian teman-teman kami sebanyak tiga kali, dan siapa yang bisa terus percaya diri di saat situasinya seperti ini jika kami akan selamat. Tidak ada, hati kami sudah dipenuhi pemikiran negatif akan kematian salah-satu diantara kami.


"Aku juga berpikir begitu... pasti salah-satu dari kita akan mati..." sambung Bagas yang terlihat kaku.


Melihat mereka putus asa seperti itu membuatku merasa sedikit kesal, tapi itu adalah kenyataan yang paling mungkin. Aku harus membenarkan pemikiran mereka, namun tiba-tiba saja Wawan datang menghampiri Rahmat dan juga Bagas yang sedang terdiam tak bersemangat.

__ADS_1


"Lalu memangnya kenapa?..." ucap Wawan sambil mengepalkan tangannya.


"Hah?... orang penakut seperti mu tidak layak untuk berbicara..." ucap Rahmat.


"Memangnya kenapa jika salah-satu di antara kita mati! biarkan saja! dan lanjutkan tujuan kita bagi kita yang masih hidup!. Tidak peduli siapa yang akan mati, tidak peduli akan ada yang mati, kita harus terus melanjutkannya dan anggap saja kematian teman kita sebagai pengorbanan diri mereka untuk kita yang selamat!" teriak Wawan yang matanya kesal dan auranya tidak seperti biasanya.


Aku bisa merasakannya, tatapannya yang selalu terlihat takut, resah... sudah tidak ada lagi di wajahnya. Apakah Wawan sudah berubah...


Lalu Rahmat dan Bagas berdiri dan menentang Wawan, "Hei! jaga ucapanmu! kau orang yang paling penakut adalah beban bagi kami!" ucap Rahmat yang merendahkan Wawan karena tidak terima dengan kata-katanya tadi yang bertentangan.


"Diamlah dan tetap menjadi orang yang penakut... kau tidak akan pernah berubah. Saat itu kau juga pernah berkata begitu kan... tapi kau tetap saja menjadi orang yang penakut" sambung Bagas dan lagi-lagi kami malah ribut dan mempermasalahkan masalah yang seharusnya bisa di atasi jika kami bersama dan bergandengan.


Aku terkejut dan ingin segera memisahkan mereka, tapi tiba-tiba saja Agus menghentikan ku, "Biarkan saja... Wawan tidak mungkin membunuh teman-temannya" ucap Agus kepadaku.


Blup blup blup Rahmat dan Bagas meronta-ronta sambil mencoba untuk keluar dari dalam air untuk mengambil nafas. Aku tidak bisa membiarkan teman-temanku seperti itu, aku harus segera menghentikan Wawan, kalau tidak nyawa teman-temanku akan dalam bahaya.


Zrassssss! Wawan tiba-tiba saja mengangkat kembali kepala mereka saat aku hendak menghentikan perlakuannya yang berbahaya. Nafas Rahmat dan Bagas tersengal-sengal dan segera menghirup udara. Aku sangat khawatir sekali tadi jika Wawan benar-benar membunuh mereka berdua.


"Sialan! apa yang baru saja kau lakukan! kau ingin membunuh kami!" teriak Rahmat yang nafasnya masih lemah.

__ADS_1


"Aku bisa saja membunuh kalian kapanpun aku mau... ayo Fajar... kita lakukan sesuai rencana yang kau katakan sebelumnya..." ucap Wawan sambil mengambil cangkul dan sekop di tangannya.


"Dia sudah gila..." ucap Bagas.


"Baiklah... ayo teman-teman, ikuti rencanaku... ayo kota buat lorong sekolah ini becek dengan air..." ucapku yang menerima sekop dari Wawan.


"Huft... lalu apa yang kami lakukan sisanya?" ucap Agus karena tidak ada alat yang dapat digunakan untuk menjalankan rencana ini.


"Lepas seragam kita..." ucapku.


"Apa? untuk apa?" ucap Agus.


"Aku baru ingat, pokoknya gunakan seragam kalian untuk memerasnya di lorong nanti. Lalu jangan lupa, ini adalah hal yang paling penting... pastikan seragam kalian tetap basah..." ucapku kepada mereka dengan serius.


Lalu sesuai rencanaku, Agus Rahmat dan juga Bagas melepaskan seragam mereka. Dengan begini... rencana kami untuk membuat seluruh lorong lantai satu terendam air akan berjalan. Ini adalah rencana kami, karena makhluk itu takut dengan air, maka kami berniat untuk membuat tempat ini terendam air. Mumpung makhluk itu sepertinya masih menunggu kedatangan kami di depan pintu sekolah.


Karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, tempat ini penuh dengan keanehan dan tidak masuk akal. Air yang ada di kelas tidak ikut keluar dan membasahi lorong, jadi aku dan Wawan mencoba mengambil airnya dengan mengeruk air yang ada di kelas. Memang benar-benar tempat yang aneh... seperti ada sebuah penghalang kaca yang tak terlihat, air itu tidak tumpah keluar dari kelas dan menggenang di dalam dengan ketinggian yang sama seperti yang ada di luar sekolah.


Rahmat, Agus dan Bagas menggunakan seragamnya untuk mengambil air keluar dari kelas untuk di peras. Meski cara ini sangat lama, tapi ini adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan dan yang paling aman. Tapi, tetap saja tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya yang terjadi pada kami.

__ADS_1


Namun hanya aku yang masih berharap tinggi, kalau tidak ada yang akan mati disini. Tidak akan pernah lagi... meski hatiku ragu... aku mulutku akan tetap berkata begitu. Meski pikiran ku tercampur aduk, aku tetap harus berkata seperti itu, kalau tidak akan ada lagi yang mati di antara kami berlima!.


__ADS_2