Jembatan Setan

Jembatan Setan
Bahaya!


__ADS_3

Cerita Pak Budi masih berlanjut. Pak Budi harus menjalani kehidupannya di tempat ini secara terpaksa. Seperti yang kami lihat begitu berjalan lurus setelah menyebrangi jembatan itu, pasti akan menemukan sekolah. Awalnya Pak Budi tak merasa ada yang aneh dengan sekolah itu dan dia berniat untuk tinggal di sana. Pak Budi adalah orang yang pemberani dan tidak kenal takut.


Berhari-hari Pak Budi tinggal di sekolah itu dan dia juga telah menyadari bahwa isi kelas yang ada di sekolah itu terus berpindah-pindah. Meskipun begitu Pak Budi tak mempedulikannya dan tetap bertahan hidup dengan berpindah-pindah kelas setiap harinya untuk mencari makanan dan kalau memerlukan air minum, Pak Budi yang perlu keluar sekolah dan di dekat sekolah terdapat keran yang berisi air bersih.


Itu juga adalah sumber air bagi kami, meskipun kami meminum air mentah setidaknya itu membuat kami menghilangkan rasa dahaga.


Hingga akhirnya setelah Pak Budi mengambil air dan masuk kembali ke dalam sekolah.. Tiba-tiba saja sosok hitam yang mengerikan itu muncul di hadapan Pak Budi. Sosok itu muncul di tangga dan sedang turun dengan kakinya yang bengkok bengkok seakan mau patah. Pak Budi yang melihat sosok itu segera melempar botol minum yang ia pegang ke arah sosok itu.


Wush!... namun botol air itu menembus tubuh makhluk itu dan makhluk itu berteriak-teriak keras sambil mengejar Pak Budi. Saat itulah Pak Budi lari meninggalkan sekolah itu yang merupakan tempat bertahan hidupnya. Makhluk itu berlari sangat cepat mengejar Pak Budi yang berlari ke arah jembatan itu.


"Krroooooookkkkk!!!" teriak makhluk itu sambil mengejar Pak Budi.


Begitu jembatan itu sudah ada di hadapan Pak Budi, saat itu kakinya tersangkut dan Pak Budi terjatuh ke sungai yang berada di bawah jembatan itu. Ia terjatuh dan pingsan hingga akhirnya dia terdampar di ujung sungai dalam keadaan banyak luka gores. Lalu melanjutkan hidupnya untuk terus bertahan hidup dan berkelana hingga akhirnya Pak Budi menemukan kami.


Lalu Pak Budi sadar kalau jarak dirinya antara saat dia terdampar di sungai mulai mendekat kembali ke sekolah karena bertemu dengan Rahmat. Membuat hatinya merasa resah san panik... kalau ternyata perjalanan dia selama ini hanya akan kembali membawa ke tempat yang di kutuk itu, yaitu sekolah itu. Hatinya yang sudah mulai tenang karena berpikir bisa lepas dari genggaman makhluk itu, kini kembali menjadi resah dan tak karuan.


Kemudian setelah Pak Budi menyelesaikan cerita yang di alaminya sampai saat ini. Kami bergantian menceritakan tentang mengapa kami mencari mayat mayat itu. Kami juga memberitahu cara keluar dari dunia setan ini dengan cara mengubur seluruh mayat yang ada dan menjelaskan cara mengatasi makhluk itu kepada Pak Budi.

__ADS_1


"Oh ya Wawan, saat kau berteriak, sekarang Monster lumpur... apa maksudmu?" ucap Rahmat yang merasa aneh dengan itu.


"Ah itu... ka-kami... bertemu dengan sosok yang membunuh Zilan. Matanya merah berurat dan hendak akan copot... tubuhnya yang robek-robek dengan daging busuk yang bergerak-gerak... i-itu membuatku sangat takut!... bagaimana bisa ada sosok seperti itu!" ucap Wawan yang membuat semua orang takut terutama Anis dan Lilis yang merupakan seorang perempuan.


"Kalian bertemu dengannya! dan kalian masih bersikeras untuk tinggal disini!" ucap Pak Budi yang wajahnya terlihat putih pucat berkeringat.


"I-iya... agar kami bisa segera keluar dari sini dengan menguburkan mayat yang ada. Lalu, disini juga terdapat banyak sumber makanan dan minuman. Memangnya ada apa pak?..." ucapku.


"Ti-tidak ada apa-apa... apakah bapak bisa membantu kalian?" ucap Pak Budi yang membuat kami tersenyum dan merasa sangat terbantu dengan kehadirannya.


Tentu saja kami akan membantu Pak Budi bergabung ke dalam tim kami, hal ini juga akan mempermudah urusan kami agar bisa lebih cepat keluar dari tempat ini. Lalu kehadiran Pak Budi yang sebagai satu-satunya orang dewasa di tim ini juga akan sangat membantu untuk mengkoordinasikan tim ini agar berjalan dengan lebih baik lagi ketimbang aku yang memerintahkan tim.


Tim 1 berisi aku dan Bagas ditempatkan untuk mencari kelas itu di lantai 1. Tim 2 berisi Wawan dan Agus ditempakan untuk mencari kelas itu di lantai 2. Lalu tim terakhir berisi Pak Budi dan Rahmat ditempat untuk mencari kelas itu di lantai 3. Sementara Anis dan Lilis bertugas hanya untuk menjaga mayat itu di tengah lantai satu dan jangan kemana-mana. Jika mereka bertemu dengan sosok itu, maka mereka harus segera lari dan meninggalkan mayat mayat itu.


Kami segera bubar dan bergerak secepat mungkin sebelum sosok itu muncul atau isi kelas berganti. Aku memeriksa lantai satu bagian kanan dan Bagas memeriksa bagian kiri. Wawan memeriksa lantai dua di bagian kiri dan Agus di sebelah kanan. Lalu Pak Budi memeriksa lantai tiga bagian kanan dan terakhir Rahmat bagian kiri.


Cklek! cklek! cklek! cklek! suara kami membuka pintu dengan tergesa-gesa pun terdengar oleh kami yang jaraknya berjauhan. Lagi-lagi aku menemukan kelas yang berantakan, yang di depan pintu berisi banyak meja dan kursi yang diletakkan asal di depan pintu kelas 1-7.

__ADS_1


Sementara itu... saat Pak Budi membuka salah-satu pintu di lantai tiga. Akhirnya dia menemukan kelas yang dimaksud itu dan tercengang begitu melihat ke dalam. Pak Budi benar-benar tak menyangka kalau apa yang kami bilang mengenai kelas yang berisi kuburan itu ada di depan matanya sekarang. Saat ini ia berdiri di depan kelas 3-4 dan segera memanggil Rahmat untuk memberitahukan padanya kalau ia sudah menemukan kelasnya.


"Baiklah, kalau begitu bapak tunggu sini dan kami akan segera ke atas sambil membawa mayat mayatnya" ucap Rahmat yang segera turun ke bawah untuk memberitahukan kami. Tapi Pak Budi mengikuti Rahmat dan tak mau menunggu sendirian di depan kelas yang berisi kuburan itu.


Setelah kami berkumpul kembali di lantai satu, kami segera kembali ke atas sambil membawa mayat mayat itu untuk di kuburkan di kelas yang ditemukan oleh Pak Budi. Tenaga kami sudah habis semua... rasanya mayat ini terasa semakin berat saja setiap kami melangkah satu persatu dari anak tangga sebelumnya.


Begitu sampai... di lantai 3... hal yang mengejutkan terjadi pada kami. Padahal kami baru saja menaiki tangga dan tiba-tiba saja makhluk itu sudah berada di depan pintu kelas yang terbuka, yaitu kelas 3-4 yang berisi kuburan yang ditemukan oleh Pak Budi. Makhluk itu seakan-akan sedang menunggu kami, sebelum makhluk itu melihat kami.


Aku, Pak Budi dan semua teman-temanku segera berjalan mundur kembali menuruni tangga sebelum makhluk itu menyadari kami. Brak! kemudian tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang di tutup dengan keras. Sepertinya itu suara yang diperbuat oleh sosok itu.


"Hooooooooohhhh!!!" lagi-lagi makhluk itu mengeluarkan suaranya yang membuat jantung kami bergetar ketakutan.


Tap!...tap!... tap! makhluk itu sedang berjalan ke arah kami, kami bisa mendengar suaranya yang semakin lama semakin jelas. Sementara itu kami masih berada di pertengahan tangga antara kelas 3 dan kelas 2. Kami tidak boleh menimbulkan suara dan berlari dengan cepat menuruni tangga, jika tidak maka makhluk itu akan mengejar kami dan membunuh kami.


Kami tidak akan mungkin bisa melarikan diri dari makhluk itu setelah mendengar cerita Pak Budi yang di kejar oleh makhluk itu, kalau makhluk itu berlari dengan sangat cepat sambil menumpahkan dagingnya busuknya yang hijau kehitaman. Kami terus berjalan menuruni tangga dengan perlahan hingga akhirnya, JRENGGGGGG!!! makhluk itu sudah sampai di depan tangga dan sedang memperhatikan kami. Lantas dengan spontan kami segera menutup mata dan berhenti bergerak.


Posisi kami saat ini yang terdekat adalah Anis dan Lilis yang selangkah lagi turun tangga sudah tiba di lantai 2. Lalu di belakangnya ada Wawan dan Rahmat, kemudian di lanjutkan dengan Bagas dan aku yang sedang menggendong mayat. Lalu di urutan terakhir ada Agus dan Pak Budi yang jaraknya paling dekat dengan sosok itu. Kami hanya bisa diam saat berhadapan dengan makhluk itu... dan keringat kembali bercucuran. Tapi... makhluk itu masih menatap kami sambil mengeluarkan suara dengkurannya.

__ADS_1


Kaki kami sudah lelah dan sudah tidak bertenaga... kami sudah kelelahan dan ingin segera duduk atau berbaring untuk waktu yang lama dan beristirahat. Akan tetapi bagaimana dengan aku, Bagas, Agus dan Pak Budi yang saat ini sedang mengangkat mayat di punggung kami. Kakiku sudah tidak kuat hingga bergemetar sedikit, tapi aku masih menahannya. Makhluk... itu... sepertinya saat ini sedang memperhatikan kami yang sedang membawa mayat di punggung kami.


Apakah... kali ini... kami akan baik-baik saja?.


__ADS_2