
Sementara itu... di sisi tim pencari mayat yakni Agus dan Rahmat. Mereka sedang memasuki hutan itu dalam-dalam dan tak takut untuk tersesat untuk kedua kalinya. Karena saat ini mereka sudah membawa sebuah pisau kecil yang ditemukan oleh Rahmat saat itu. Dengan pisau itu mereka membuat tanda di setiap kali mereka melewati pepohonan yang menjadi jalan mereka untuk mencari mayat.
Mereka menggores pohon itu dan meninggalkan tanda sebuah garis horizontal. Meskipun hal ini membuat pencarian mereka menjadi lambat, tapi setidaknya ini demi keselamatan mereka. Mereka melewati hutan yang berbeda dari yang sebelumnya untuk menelusuri tempat baru saat ini.
Hingga akhirnya mereka berhenti di suatu tempat... dan melihat suatu kejanggalan.
"Tunggu sebentar..." ucap Rahmat yang menarik pakaian Agus dengan tiba-tiba dan menyuruhnya berhenti berjalan.
Kemudian Rahmat menunjukkan jarinya untuk memberitahu kepada Agus apa yang ia lihat. Mereka terkejut ada sebuah jejak kaki di hadapan mereka yang arahnya terus lurus ke depan. Jejak kaki yang terlihat masih baru di jalan yang sedikit berlumpur. Saat ini mereka sedang bingung apakah mereka harus mengikuti jejak kaki itu atau lanjut lurus ke depan untuk melanjutkan pencarian.
"Jadi... apa yang akan kita lakukan? Rahmat..." ucap Agus yang menunggu keputusan Rahmat.
"Tentu saja kita akan mengikuti jejak kaki ini, mungkin saja masih ada orang lain yang hidup..." ucap Rahmat yang hendak mengikuti jejak kaki itu.
"Tunggu, bagaimana kalau kita di jebak? bagaimana kalau hantu yang membunuh Zilan itu menjebak kita?" ucap Agus yang terlihat ketakutan, padahal dia biasanya anak yang paling berani.
Dia menjadi sedikit lebih penakut karena Zilan meninggal tepat di depan matanya dan melihat kondisi kematian Zilan yang tragis. Mungkin itu membuatnya memiliki trauma, yah... memang itu adalah hal yang tidak bisa dihindari. Karena pada akhirnya rasa takut pasti akan mengisi hati orang-orang.
Namun Rahmat masih tetap berpikir rasional, "Bukankah hantu tidak meninggalkan jejak kaki?" ucap Rahmat yang membuat Agus terdiam malu.
Lalu pada akhirnya Agus mengikuti keputusan Rahmat untuk mengikuti jejak kakiku sambil meninggalkan tanda garis di setiap pohon yang mereka lewati. Bekas jejak kaki itu masih membekas di tanah yang sedikit berlumpur, yang artinya tempat ini baru saja dilewati oleh orang hidup. Karena lumpur ini pasti akan menutup kembali dan menghilangkan jejak jika tempat ini sudah lama dilewati.
__ADS_1
Mereka berdua terus berjalan ke depan mengikuti jejak kaki itu. Tapi semakin lama mereka merasa ada yang aneh dengan jejak kaki itu, bekas jejak kakinya semakin lama semakin tidak jelas karena ada bekas jejak yang lain yang membuat jejak kakinya tercampur dengan benda lain yang menyentuh tanah ini.
Kami menjadi semakin penasaran dan juga gelisah, meski begitu karena kami telah melalui tempat ini, mau tak mau kami harus mengikuti jejak kaki ini sampai akhir. Hingga akhirnya... kresek! kresek! tiba-tiba saja mereka mendengar sesuatu di depan mereka kemana jejak kaki itu pergi. Suara dan jejak kaki itu berada di belakang semak-semak yang rimbun itu.
Mereka menjadi semakin gelisah melihatnya, semak-semak itu terus bergerak-gerak dan membuat mereka menjadi merasa takut.
"Hei Gus... kira-kira apa yang ada di depan sana?..." tanya Rahmat yang tidak mau melanjutkan langkahnya untuk mengikuti jejak kaki itu yang mengarah di balik semak-semak itu.
"Aku tidak tahu, kau cek sana! kan kau yang ingin melewati tempat ini..." ketus Agus.
Lalu pada akhirnya, Rahmat memberanikan diri untuk melanjutkan langkahnya mendekati semak-semak belukar itu meski masih merasa takut. Agus berjalan di belakang Rahmat dengan pelan-pelan untuk berjaga-jaga berlari lebih dulu daripada Rahmat jika terjadi sesuatu yang buruk.
"Agus... berikan pisau itu..." ucap Rahmat untuk berjaga-jaga jika dia harus menusuk sesuatu jika keadaan berbahaya.
Srak! srak! Rahmat berjalan maju memasuki semak-semak itu sembari menyayat rumput-rumput yang tinggi itu. Sementara Agus berjalan jauh di belakangnya karena ketakutan. Srek! srek! srek! tiba-tiba saja mereka mendengar ada sesuatu dari depan yang berjalan dengan cepat ke arah mereka di balik semak-semak itu.
"AGUS! LARIIIIII!!!!" ucap Rahmat yang berlari keluar dari semak-semak itu.
Rahmat terkejut karena Agus tidak terlihat di depannya karena Agus sudah lari lebih dulu jauh dari Rahmat dengan kencang. Sementara itu Rahmat masih berada di dalam semak-semak itu dan sesuatu yang bergerak cepat di balik semak-semak itu sedang mengerjakannya dengan cepat. Rahmat membuang pisau yang ada di tangannya dengan spontan agar bisa berlari dengan leluasa.
Namun....bruk! Rahmat terjatuh karena kakinya tersangkut oleh akar-akar besar yang ada di tanah. Sementara itu makhluk itu terus mengejarnya dan...
__ADS_1
"UWAAAAAAAAAAAA!!!" teriak Rahmat dengan sangat keras hingga suara itu di dengar oleh Agus yang sudah jauh meninggalkannya.
Dengan perasaan bersalah Agus terus berjalan pulang mengikuti tanda-tanda yang ia tinggalkan di setiap pohon yang ia lalui. Teriakan Rahmat terus berputar-putar di pikirannya karena perasaan bersalah telah meninggalkannya seorang diri dalam bahaya.
...****************...
Sementara itu aku, Bagas dan Wawan sedang dalam bahaya. Sosok yang mengerikan itu tidak mau pergi juga dari hadapanku dan tetap diam di depanku. Meskipun dia menghilangkan suara dengkurannya, aku tahu itu kalau dia masih berada di depanku untuk menunggu hingga aku membuka matanya. Tapi aku tak akan membuka mataku sama sekali sampai aku benar-benar tahu bahwa dia sudah pergi.
Aku masih bisa mendengarnya... suara daging yang bergeliut dari tubuh sosok ini. Membayangkannya saja sudah membuatku mual dan takut setengah mati. Bagaimana bisa makhluk yang seluruh tubuhnya sudah busuk dan rupanya yang tidak berbentuk masih bisa hidup berkeliaran.
Aku tetap memejamkan mataku dan berhenti bergerak selama dia masih berada di depanku. Aku masih bisa bernafas dengan sangat kecil-kecil sekali untuk mengambil nafas agar kami dikira sudah mati olehnya. Nafasku menjadi sesak karena tidak bisa mengambil nafas dengan benar pada umumnya. Ini membuat dadaku tertekan dan semakin sakit sekali.
Tap!... tap!... tap!... krieet! bam! hingga akhirnya makhluk itu telah benar-benar meninggalkan dan menutup kembali pintu kelasnya. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega lagi dan membuka mataku lebar-lebar. Kemudian meregangkan tubuhku yang sedari tadi diam membatu, sementara itu teman-temanku masih diam dan mengira makhluk itu belum pergi.
Sepertinya mereka masih sangat ketakutan sekali sampai-sampai mereka tidak mendengar kalau makhluk itu sudah pergi sembari membanting pintu kelas. Kemudian aku memberitahu mereka kalau makhluk itu sudah pergi dan mereka bergerak bebas lagi seperti sebelumnya.
Mereka sangat lelah dan lemas karena harus merasakan takut yang luar biasa sekaligus tidak boleh bergerak dan bernafas dengan benar. Mereka menarik bangku dan duduk bersender dengan merentangkan tubuh mereka. Kami benar-benar sama sekali tak menyangka bisa lepas dari genggaman makhluk itu.
"Huh... aku benar-benar tak menyangka ini... kita bisa selamat..." ucap Wawan dengan lega sambil menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
Yah... bukan hanya Wawan saja yang tak menyangka kalau dirinya bisa selamat. Aku dan juga Bagas berpikir demikian, lalu untuk sementara kami tidak boleh keluar dulu. Karena bisa saja makhluk itu menunggu kami di depan pintu itu. Jadi yang kami lakukan adalah mengumpulkan makanan lagi yang belum terambil disini.
__ADS_1
Sementara itu Anis dan Lilis juga sedang bersemangat memetik buah beri liar dan juga buah ceri yang buahnya dapat di jangkau untuk di ambil. Terkadang mereka juga memakan buah-buahan yang mereka kumpulkan secukupnya karena mereka tak tahan dengan makanan yang manis-manis. Terutama si Anis yang selalu saja menyimpan permen di sakunya.
Lalu disaat Anis dan Lilis sedang asik memetik buah berduaan, tiba-tiba saja Agus datang seorang diri dan menghampiri mereka dengan wajah yang ketakutan. Anis dan Lilis terkejut melihatnya datang dengan kondisi seperti itu. Lalu... Agus segera menceritakan kejadian yang menimpa Rahmat saat ia meninggalkannya dan lari dengan kencang ke sini. Tapi karena Agus kelelahan dan nafasnya tersenggol karena lelah berlarian, jadi dia beristirahat dulu untuk sementara hingga bisa bernafas dengan benar.