Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Dinner


__ADS_3

Sore pun menjelang.


Mila dan Rika kembali ke kontrakan mereka.


"Ya Tuhan, aku lelah sekali. Aku mau istirahat sejenak kemudian baru mandi," ucap Rika sambil melangkah gontai menuju kamarnya.


"Ya, sudah. Istirahatlah."


Rika masuk ke dalam kamarnya, begitu pula dengan Mila. Rika yang kelelahan segera menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk berukuran kecil itu. Matanya terpejam dengan posisi tubuh terlentang tepat di tengah-tengah kasur.


Drrett ... dreeettt ....


Rika tersentak kaget. Ia segera membuka matanya kemudian menggapai benda pipis itu dari dalam saku celananya.


"Siapa, sih?" gumam Rika sembari membuka kunci layar kemudian menatap sebuah aplikasi pesan chat berwarna hijau tersebut dengan seksama. Rika menekan aplikasi chat tersebut dan tampaklah sebuah pesan baru dari seorang laki-laki.


"Mas Rangga?" Rika mengerutkan alisnya.


[Rika, bisa kita ketemuan malam ini? Ada sesuatu yang penting, yang ingin aku bicarakan denganmu.] Tulis Rangga di aplikasi chat tersebut.


Rika memperhatikan pesan chat dari Rangga. Ternyata lelaki itu masih online dan menunggu balasan darinya. Rika bergegas mengetik balasan untuk Rangga kemudian mengirimkannya.


[Baik, Mas. Di mana?] Balas Rika.


[Di rumahku. Aku tunggu kedatanganmu.]


Setelah mengirimkan pesan tersebut, Rangga pun off. Rika kembali menautkan kedua alisnya heran.


"Singkat amat, Mas Rangga. Memang apa yang ingin dia bicarakan, sih? Apa ini soal Mila? Ah, bikin penasaran aja," gumam Rika sembari bangkit dari posisi enaknya.


Sementara Rika melanjutkan aktivitasnya, Mila di dalam kamarnya, terlihat kebingungan.


"Ke mana Pangeran Hans?" gumam Mila yang sejak tadi tidak melihat keberadaan pangeran dari dunia gaib tersebut. "Jangan bilang dia kelayaban lagi kemudian menakuti seseorang," lanjut Mila dengan wajah menekuk.


"Kalau benar begitu, awas saja kamu, Pangeran Hans!"


Selang beberapa jam kemudian.


Mila yang masih asik rebahan di atas kasur sambil memainkan ponsel miliknya, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan dari depan pintu kamar.

__ADS_1


"Rika?"


"Ya, ini aku, Mil. Bisa buka pintunya sebentar?"


"Oh, baiklah. Tunggu sebentar," ucap Mila sembari bangkit dari posisi enaknya. Ia berjalan menghampiri pintu kamar kemudian membukanya.


"Wow, Rika! Kamu mau kemana malam-malam begini? Ngomong-ngomong, kamu cantik sekali," celetuk Mila sambil memperhatikan penampilan Rika yang tampak berbeda dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Rika tampak tersipu malu. "Ah, kamu bisa aja, Mil."


"Serius, aku tidak bohong! Kamu cantik sekali malam ini. Kamu mau ketemuan, ya! Sama siapa? Ish, aku 'kan jadi kepo!" sambung Mila sambil menggoda sahabatnya itu.


Rika tersenyum kecut. Tidak mungkin ia berkata jujur kepada Mila kalau malam ini ia sudah janjian sama Rangga untuk bertemu. Bisa-bisa sahabatnya itu salah sangka dan cemburu kepadanya.


"A-aku ingin bertemu teman lama, Mil. Teman dari kampung," sahut Rika.


"Benarkah? Kok, kamu tidak pernah bercerita kepadaku?" Mila semakin penasaran.


"Iya kah? Ehm, kalau begitu ceritanya nanti saja, soalnya aku sudah terlambat. Tolong jaga rumah, ya. Aku janji tidak akan lama, kok!" ucap Rika yang sudah tidak sabar ingin mengakhiri perbincangan mereka.


Mila pun mengangguk pelan. "Baiklah. Hati-hati di jalan, ya, Rik. Selamat bersenang-senang! Jangan lupa pintunya di kunci dan kuncinya di bawa, nanti kamu malah gak bisa masuk lagi," sahut Mila sembari mengingatkan sahabatnya itu.


Sementara Mila kembali melanjutkan waktu istirahatnya, Rika sudah melaju bersama driver ojek online yang ia pesan sebelumnya.


Beberapa menit kemudian.


Rika tiba di depan kediaman Rangga. Di mana lelaki tampan itu sudah menunggu kedatangannya di sana.


"Maaf, Mas. Aku terlambat," ucap Rika sembari turun dari motor driver tersebut.


"Tidak apa-apa," jawab Rangga yang kemudian menghampiri driver ojek online yang masih menunggu bayarannya.


Rangga menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada driver tersebut. "Terima kasih, Pak. Ambil saja kembaliannya."


"Wah, terima kasih banyak, Mas." Driver ojek online tersebut tampak senang karena kembaliannya lumayan banyak.


"Loh, Mas!" Rika tersentak kaget ketika Rangga sudah membayarkan ongkos ojeknya. Padahal gadis itu sudah mempersiapkan uang pas untuk membayar jasa lelaki tersebut.


"Tidak apa-apa. Mari masuk," ucap Rangga sembari menuntun Rika masuk ke dalam rumahnya yang berukuran cukup besar.

__ADS_1


Rika memperhatikan penampilan Rangga yang selalu terlihat rapi, sama seperti biasanya. Rambut hitam pekat dan lebat itu tersisir dengan rapi pula. Membuat penampilan lelaki itu terlihat semakin sempurna.


Puas memperhatikan Rangga, kini perhatian Rika beralih pada sekeliling rumah milik lelaki itu, yang juga tidak kalah rapi dan bersih. Semua barang-barang yang menghiasi di setiap sudut rumah tersebut tertata dengan begitu rapi. Memang tidak diragukan lagi. Rangga adalah sosok laki-laki yang begitu mencintai kebersihan.


"Mas tinggal sama siapa di sini?" tanya Rika heran karena sejak tadi ia tidak melihat siapa pun di rumah itu. Hanya seorang pelayan yang sempat berpapasan dengannya sambil melempar senyum.


"Sendiri. Tapi kadang-kadang ibu menginap di sini jika beliau merindukan aku," jawab Rangga tanpa menoleh sedikit pun kepada Rika.


"Memang ibunya Mas tinggal di mana?" tanya Rika yang semakin penasaran dengan kehidupan pribadi lelaki itu.


"Ayah dan ibuku tinggal di komplek perumahan Cempaka. Sementara aku sengaja membeli rumah di sini karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kerja."


"Oh." Mila pun mengangguk pelan tanda mengerti.


Rangga menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah ruangan yang pintunya masih tertutup rapat. Perlahan lelaki tampan itu membuka pintu tersebut.


Tampaklah sebuah meja dan kursi yang sudah dihias dengan sedemikian rupa hingga terlihat begitu cantik. Di atas meja sudah tertata beberapa sajian yang terlihat begitu menggiurkan. Dua buah lilin yang menyala, turut menambah kesan romantis di ruangan tersebut.


Rika sempat berdecak kagum. Namun, hanya sebentar. Setelah itu ia pun menautkan kedua alisnya heran. Ia bingung sebenarnya mau apa Rangga mengajaknya ke ruangan itu. Ruangan yang cocok untuk pasangan kekasih yang ingin dinner bersama.


"Ruangan apa ini, Mas?" tanya Rika lagi.


Rangga membuka pintu ruangan itu dengan lebar kemudian tersenyum kepada Rika. "Silakan masuk, Rika. Malam ini aku ingin mengajakmu dinner. Kamu mau 'kan?"


Rika membulatkan matanya dengan sempurna. Ia seakan tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibir Rangga barusan.


"Apa, Mas? Dinner!" pekik Rika dengan wajah merah merona.


"Ya, dinner."


Rangga meraih tangan Rika yang masih mematung di tempatnya berdiri kemudian menuntun gadis itu ke meja. Rika kembali tersentak kaget ketika melihat sebuah kue tart yang di atasnya berhiaskan bunga-bunga mawar serta tulisan R&R, yang artinya Rangga dan Rika.


"Ya Tuhan, Mas Rangga! Aku tidak tahu apa artinya ini semua, tetapi yang pasti kamu sudah berhasil membuat aku terharu," ucap Rika dengan mata berkaca-kaca.


Rangga hanya tersenyum tipis kemudian menarik sebuah kursi untuk Rika.


"Duduklah."


"Terima kasih, Mas."

__ADS_1


...***...


__ADS_2