Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Dunia Pangeran Hans


__ADS_3

Mila merasa ada yang aneh. Yang tadinya masih berada di jalan raya, tiba-tiba mereka sudah berada di tengah hutan belantara. Tampak gelap dan bahkan saking lebat dan suburnya pepohonan yang di sana, cahaya matahari sukar untuk menembusnya.


Lelaki berwajah sangar itu tiba-tiba menghentikan mobil yang mereka tumpangi tepat di samping pohon besar. Pohon yang paling besar, paling tua yang ada di hutan tersebut.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Mila dengan wajah yang tampak memucat menatap Pangeran Hans.


Namun, sayang lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Mila. Pangeran Hans mendorong pintu mobil yang ada di sampingnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat. Setelah ia berhasil keluar, ia pun segera mengulurkan tangannya ke hadapan Mila.


"Mari," ajaknya.


Mila tetap menyambut uluran tangan Pangeran Hans. Ya, walaupun sebenarnya ia sangat takut dan ragu melakukan itu. Lelaki gaib itu menuntunnya keluar dari dalam mobil dan baru beberapa detik ia keluar, tiba-tiba mobil itu menghilang dalam sekejap mata. Mila tampak terkejut dan sontak ia pun bertanya.


"Loh! Mobilnya?"


Pangeran Hans tertawa pelan. "Kenapa mobilnya?"


"Mobilnya menghilang! Eh, jangan-jangan mobil itu tidak nyata, ya? Sama seperti keretanya Cinderella," pekik Mila yang masih tampak syok melihat kejadian itu.


Pangeran Hans menarik tubuh Mila pelan kemudian memeluknya erat. "Sudah. Tidak usah kamu pikirkan. Sebaiknya sekarang kamu tutup mata dan buka setelah aku memintanya. Sama seperti biasa," ucap Pangeran Hans.


Mila pun segera menutup matanya rapat-rapat kemudian membenamkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Ketika Mila menutup matanya, ia merasa perjalanannya kali ini terasa begitu berbeda dari sebelumnya. Entah kekuatan apa yang saat ini dipergunakan oleh Pangeran Hans, yang pastinya ia tahu kekuatan itu sangatlah besar.


Mila bahkan merasa tubuhnya seperti ditarik-tarik dan karena takut, ia pun semakin mempererat pelukannya bersama Pangeran Hans. Namun, sayang rasa penasaran Mila kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia tidak tahan untuk tidak membuka kedua matanya dan melihat apa yang sedang terjadi.


Mila nekat membuka matanya dan menghiraukan peringatan pangeran sebelumnya. Hingga ...


"Aaakhhh!"


Hoeeekkkk! Hoeekkkk!


Tepat di saat itu mereka sudah berhasil menyebrang ke dunia asal Pangeran Hans. Mila yang mabuk akhirnya memuntahkan seluruh isi perutnya di tempat asing itu.

__ADS_1


Pangeran Hans hanya bisa menggelengkan kepala pelan sembari membuang napas panjang. "Siapa yang suruh kamu membuka mata? Dasar!"


Mila tidak bisa membalas celetukan lelaki gaib itu. Kepalanya masih terasa sakit dan berputar-putar. Sementara perutnya bergejolak dengan hebat dan mengeluarkan apa yang sudah ia masukkan tadi pagi.


Ternyata perjalanan menuju dunia Pangeran Hans tidaklah seindah yang ia bayangkan. Seumur hidupnya, Mila tak pernah mengalami yang namanya mabuk perjalanan. Namun, kali ini berbeda. Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik, tetapi berhasil membuatnya mabuk parah hingga ia terkulai lemas.


Pangeran Hans mengelus punggung Mila dan sesekali terkekeh. "Makanya, lain kali kalau aku bilang jangan, ya, jangan. Kamu ini memang keras kepala," ucapnya.


Setelah beberapa menit kemudian.


Mila menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar. Ia memperhatikan sekeliling dengan alis yang saling bertaut. Pemandangan yang begitu menakjubkan dan ternyata dunia asal Pangeran Hans jauh lebih indah dari dunia manusia.


"Pangeran, ini air minum serta pakaian untuk Putri Aurora." Lelaki bertubuh tinggi besar itu menyerahkan sebuah botol minuman kepada Pangeran Hans dan lelaki tampan itu pun segera menyambutnya.


"Hei! Ternyata lelaki ini bisa bicara, ya!" pekik Mila setelah sadar bahwa lelaki berperawakan tinggi besar itu berbicara kepada Pangeran Hans.


Pangeran Hans terkekeh pelan. "Yang bilang dia tidak bisa bicara siapa?"


Pangeran Hans dengan pakaian ala seorang pangeran sedangkan lelaki berperawakan tinggi besar itu mengenakan pakaian ala seorang pengawal kerajaan. Mila kembali memperhatikan dirinya dan ternyata pakaiannya masih sama seperti yang ia kenakan tadi pagi. Dress selutut berwarna putih natural.


Tepat di saat itu pangeran Hans datang mendekat. Lelaki itu menyerahkan sebuah botol berbentuk unik yang isinya air minum untuk Mila.


"Minumlah. Minuman ini sudah dicampur dengan ramuan agar rasa pusingmu bisa sedikit berkurang," ucap Pangeran Hans.


Mila menyambut botol itu kemudian segera menenggaknya. Namun, baru beberapa kali teguk, ia pun berhenti melakukannya.


"Iyuhhhh! Pahit," pekik Mila sambil bergidik.


"Sudah. Jangan banyak protes. Habiskan minumannya biar kita bisa melanjutkan perjalanan kita," titah Pangeran Hans.


"Memangnya perjalanan kita masih jauh, ya?" tanya Mila sembari memasukkan minuman itu kembali ke dalam tenggorokannya. Walaupun terasa pahit di lidah, tetapi Mila tetap berusaha menghabiskannya. Sama seperti perintah Pangeran Hans.

__ADS_1


"Kamu lihat puncak istana itu?" Pangeran Hans menunjuk sebuah puncak istana yang terlihat dengan jelas di balik pepohonan yang tubuh menjulang di sekitar mereka.


Mila melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Pangeran Hans. "Puncak itu?"


"Ya. Itu adalah kerajaan milik Raja Edward. Ayahku," jawab Pangeran Hans. "Perjalanan kita dari sini menuju istana megah itu lumayan jauh dan kamu butuh tenaga besar untuk melewatinya."


"Berjalan kaki?" Mila kembali bertanya.


"Tidak," jawab lelaki itu dingin.


"Terus, kita naik apa? Mobil?" celetuk Mila sembari menyerahkan botol minuman yang sudah kosong itu kepada pengawal setia pangeran Hans.


Lelaki gaib itu terkekeh pelan sembari berbalik menatap Mila yang masih bersandar di batang pohon besar itu.


"Kita akan menjadi mahluk paling aneh di dunia ini jika menaiki benda itu ke istana, Aurora. Semua orang akan bingung melihat kita," jawab Pangeran Hans.


"Lalu kita harus naik apa?" Mila begitu penasaran.


Pangeran Hans bersiul dengan keras hingga suaranya terdengar menggema di seluruh hutan rimbun tersebut. Setelah pangeran Hans selesai bersiul, tiba-tiba terdengar suara drap langkah kaki hewan yang berlari dengan cepat menuju ke arah mereka.


Mila yang begitu penasaran menatap sekeliling tempat itu dan memasang telinganya dengan baik. Hingga akhirnya muncul dua ekor binatang yang gagah perkasa berlari cepat ke arah mereka. Dua ekor kuda putih bertubuh besar dan sehat itu berhenti tepat di samping Pangeran Hans sambil meringkik kegirangan.


Seperti anak kecil yang baru bertemu dengan ibunya setelah sekian lama tidak bertemu. Kuda-kuda tampan itu terus meringkik sambil menyodorkan kepalanya kepada Pangeran Hans. Meminta lelaki itu mengelus kepala mereka.


"Wow! Kudanya cantik sekali!" pekik Mila sambil terus menatap kebersamaan mereka.


"Mereka kuda-kuda tampan karena mereka jantan," sahut Pangeran Hans yang kini tengah asik bercengkrama dengan kedua kuda besar dan gagah itu.


"Oh, maaf!" Mila terkekeh. "Jadi kita akan menaiki mereka untuk menuju istanamu, Pangeran?"


"Ya," jawab lelaki itu singkat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2