Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Villa


__ADS_3

Part ini isinya membagongkan 😂 Bocil sebaiknya skip dan jangan mengintip. Wokeeyyyy


Blushhh!!!


"Sekarang, bukalah matamu!" titah Pangeran Hans sembari menyingkirkan tangannya yang sempat menutupi kedua netra indah milik Mila.


Perlahan Mila membuka matanya kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu. Tempat baru yang benar-benar begitu asing baginya.


"Di mana kita?" tanya Mila yang masih kebingungan.


Ia memperhatikan segenap sisi ruangan yang tampak seperti sebuah kamar. Namun, ukurannya jauh lebih besar dari kamar sederhananya yang hanya berukuran 3x4 meter. Ada satu tempat tidur mewah berukuran king size. Di mana banyak sekali kelopak bunga mawar bertaburan di atasnya. Aroma ruangan itu pun tercium wangi sekali dan membuat siapa pun yang berada di ruangan itu merasa betah dibuatnya.


"Ini sebuah villa. Villa yang sengaja aku persiapkan untuk hari istimewa kita. Bagaimana menurutmu, apa kamu menyukainya?"


Hans menuntun Mila menuju sebuah jendela yang ada di ruangan itu. Ia membuka jendela tersebut hingga tampaklah sebuah pemandangan yang begitu menakjubkan terlihat di luar villa.


Mila melongokkan kepala keluar jendela kemudian melihat ke sekelilingnya.


"Wow ... benar-benar indah! Aku suka," pekiknya sambil berdecak kagum melihat keindahan pemandangan yang tersaji di luar sana.


Pangeran Hans memeluk Mila dari belakang dan meletakkan dagunya ke pundak gadis itu sambil sesekali menggigit lembut daun telinganya. "Syukurlah, kalau kamu menyukainya. Setidaknya usahaku mempersiapkan semua kejutan ini tidaklah sia-sia," ucap lelaki itu sambil tersenyum hangat.


"Terima kasih," ucap Mila.


Pangeran Hans melepaskan kancing kebaya pengantin yang masih melekat di tubuh indah Mila, satu persatu hingga akhirnya seluruh kancing kebaya itu pun tersebut terlepas. Tangan kekar lelaki gaib itu perlahan menarik kebaya tersebut dan membuatnya sedikit melorot.


Pundak putih mulus milik Mila pun terlihat dan membuat pangeran Hans menelan salivanya. Dengan rakus ia mencium serta mengecup pundak putih mulus itu hingga menjalar ke leher jenjangnya dan meninggalkan titik-titik merah.


Mata Mila terpejam saat menikmati cumbuan dan sentuhan lembut dari lelaki gaib itu. Bahkan sesekali terdengar dessahan kecil yang keluar dari bibir seksinya.


Pangeran Hans kembali menuntun Mila. Ia melangkah menuju tempat tidur mewah berukuran king size yang ada di sudut ruangan kemudian perlahan merebahkan tubuh mungil Mila di sana.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap melakukan itu bersamaku?" bisik Pangeran Hans di samping telinga Mila sambil mencium dan mengigitnya pelan.


Mila mengangguk pelan dengan wajah merah merona menahan malu. Pangeran Hans tersenyum melihat wajah Mila yang terlihat sangat cantik ketika wajahnya merona seperti itu. Ia pun semakin semangat dan mulai melakukan pemanasan.


Pangeran Hans menyerang bibir seksi berwarna merah itu dengan rakus. Mencium dan melumattnya secara bergantian. Tak lupa menautkan kedua lidah mereka secara liar.


Setelah puas bermain di bibir seksi itu, Pangeran Hans beralih ke leher serta dada Mila yang sudah terpampang jelas di hadapannya. Memberikan sedikit kecupan serta meninggalkan jejak kepemilikannya.


"Aaakhhh ...." Dessahan kecil itu kembali terdengar dari bibir Mila dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.


Kini perhatian pangeran Hans tertuju pada dua buah bulatan kenyal yang masih tersembunyi di balik braa berwarna abu-abu. Dengan secepat kilat tangan kekarnya melepaskan pengait braa dan menariknya dengan sedikit kasar.


Dua buah bulatan kenyal yang tak pernah terjamah oleh siapa pun itu mencuat di hadapan mata kepala pangeran Hans. Puncaknya yang berwarna pink kecoklatan membuat gairah lelaki gaib itu semakin bergejolak dan tak sabar untuk mencicipinya.


Ia memainkan kedua bulatan kenyal itu dengan liarnya. Meremass dan sesekali menjilati puncaknya hingga menegang. Lagi-lagi Mila mendessah dan kali ini terdengar semakin intens.


Matanya terpejam dan tampak beberapa kali Mila menjilati bibirnya sendiri. Menikmati sensasi nyaman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tangannya mencengkram rambut lebat pangeran Hans sembari mendorong kepala lelaki itu lebih dalam lagi ke dadanya.


"Kamu menyukainya?" tanya Pangeran Hans sambil terus meremass kedua bulatan itu.


Lagi-lagi Mila mengangguk dan matanya masih saja tertutup rapat. "Ya. Uuuhhhh ...."


Puas bermain-main dengan benda padat, kenyal dan menggairahkan itu, kini Pangeran Hans mulai bermain di perut serta pusar istrinya itu. Mila meringkukkan badannya ketika Pangeran Hans menciumi area pusarnya. Semakin turun dan semakin turun hingga kepala lelaki itu sudah berada di hadapan area pribadi Mila yang masih tertutup kain tipis berenda berwarna pink.


Perlahan Pangeran Hans melepaskan kain tipis yang menutupi area pribadi Mila kemudian melemparnya ke sembarang arah. Mila yang merasa canggung, mencoba menarik kepala Pangeran Hans agar kembali ke hadapannya. Namun, sepertinya percuma saja. Lelaki itu sudah terlanjur penasaran dengan benda itu.


"Pangeran, jangan!" ucap Mila sambil menutupi area tersebut dengan tangannya.


Pangeran Hans tampak tidak peduli. Ia menepis tangan Mila yang mencoba mengusik keinginannya kemudian dengan secepat kilat menyerang area pribadi gadis itu dengan bibirnya.


"Oh, Pangeran! Hsssttt ... apa yang kamu lakukan!" desisnya dengan tubuh bergelinjangg hebat.

__ADS_1


"Hmmm, hmmm, hmmmmmm ...."


Pangeran Hans bergumam sambil menikmati area pribadi istrinya itu. Mencium dan menjilati area itu dengan rakusnya. Sementara Mila sudah tidak bisa mengontrol gerakan tubuhnya sendiri. Tubuh Mila bergetar hebat dan tangannya tanpa sadar terus meremass kedua bulatan kenyal miliknya sendiri sambil sesekali mengintip apa Pangeran Hans lakukan di bawah sana.


Baru beberapa menit Pangeran Hans memainkan area itu, tiba-tiba Mila mengacak rambutnya dengan kasar.


"Pangeran apa yang kamu lakukan! Aku tiba-tiba ingin ... aaakhhh!"


Seluruh tubuh Mila menegang dan cengkraman tangannya di kepala Pangeran Hans semakin erat saja. Sebuah cairan lengket keluar dari area pribadinya dan Mila semakin tak karuan saja. Tubuhnya bergetar dan detak jantungnya semakin cepat.


"Ya ampun, apa ini? Nikmat sekali," gumamnya dengan napas tersengal-sengal.


Pangeran Hans tersenyum tipis. "Apa kamu ingin merasakan yang lebih nikmat dari ini?"


Mila yang masih ngos-ngosan, membuka matanya dan menatap lelaki itu sambil tersenyum. "Ya, berikan rasa itu padaku," jawabnya.


"Baiklah."


Pangeran Hans bergegas melepaskan seluruh pakaiannya di hadapan Mila hingga ia polos tanpa sehelai benang pun. Benda besar, panjang dan sedikit berbulu itu tampak berdiri tegak dan berhasil membuat Mila terpelongo ketika melihatnya.


"Be-besar sekali!" pekik Mila dengan mata membulat.


Mila menelan salivanya sambil terus menatap benda itu. Perasaannya campur aduk. Ia penasaran sekaligus takut membayangkan jika benda besar dan panjang itu menyeruduk lorong sempitnya. Pasti sakit, itu lah yang ada di pikirannya saat itu.


"Ya. Besar! Dan kamu pasti akan terpuaskan olehnya," sahut Pangeran Hans sembari menyeringai menatap Mila.


"Ehm, tapi ...." Dada Mila bergerak turun naik dan tarikan napasnya pun terdengar sangat cepat tatkala lelaki gaib itu mendekat ke arahnya.


"Ingat! Dia hanya lelaki gaib, Mila. Dan bukan manusia! Dan benda itu tidak akan bisa menyakitimu," gumam Mila dalam hati sambil mencoba menenangkan hatinya sendiri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2