
Rika yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, segera kembali ke kamar. Ia duduk di tepian tempat tidur kemudian meraih ponsel miliknya yang ia letakkan di atas nakas.
"Mila? Oh, ya ampun! Dia pasti khawatir," gumam Rika setelah melihat riwayat panggilan dari Mila yang tidak sempat ia jawab. Ditambah pesan chat dari Mila yang terus menanyakan keberadaan serta kabar darinya.
Rika mencoba menghubungi Mila dan segera diterima oleh gadis itu.
"Rika! Kamu dari mana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu," tanya Mila.
"Ehm, maafkan aku, Mil. Tadi pas kamu telepon, aku sedang mandi. Dan kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja, kok."
"Eh, sudah dulu ya, Rik. Soalnya di sini lagi banyak pembeli. Nanti sore kita sambung lagi, ya. Bye!"
"Oke, bye!"
Tak terasa sore pun menjelang. Mila bergegas kembali ke kontrakan sebab ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rika. Setibanya di kontrakan, ternyata Rika tengah asik bersantai di kursi ruang depan sambil melamun. Diam-diam Mila melangkah masuk tanpa sepengetahuan Rika kemudian mengagetkan sahabatnya itu.
"Dooor!" Mila tergelak ketika melihat Rika yang terperanjat.
"Ish, Mila!" Rika menekuk wajahnya kesal.
"Eh, kamu dari mana aja sih, Rik? Apa semalam kamu tidak pulang?" tanya Mila sembari menaruh pantatnya di atas sofa, di samping tubuh Rika.
Rika terdiam sejenak dengan tatapan yang masih tertuju pada Mila. Ia bingung harus menjawab apa.
"Rika," panggil Mila lagi karena sahabatnya itu tidak menggubris pertanyaannya.
"Ehm, iya. Tadi malam aku tidak pulang. Aku ketiduran di rumah teman," jawabnya.
"Temanmu yang mana sih, Rik?" tanya Mila penuh selidik. Mila merasa ada yang sedang ditutup-tutupi oleh sahabatnya itu. Padahal sebelumnya Rika selalu terbuka kepadanya.
Rika menundukkan kepalanya menghadap lantai. Tiba-tiba saja gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar dan pundaknya terlihat turun naik. Rika terisak di ruangan itu dan membuat Mila panik sejadi-jadinya.
"Ri-Rika, kamu kenapa? Apa pertanyaanku tadi menyinggung perasaanmu? Kalau itu benar, aku minta maaf. Maafkan aku," lirih Mila sembari mengelus punggung gadis itu dan mencoba menenangkannya.
Rika mengangkat kepalanya. Mata gadis itu penuh dengan air mata, bahkan hingga merembes ke kedua pipinya. Ia bergegas memeluk Mila kemudian meminta maaf.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mila. Maafkan aku," ungkapnya sambil terisak.
Mila tampak bingung. "Maaf? Maaf untuk apa, Rik? Kamu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadaku, jadi untuk apa kamu meminta maaf?"
Perlahan Rika melerai pelukannya bersama Mila. Ia masih menatap gadis itu dengan mata sembabnya.
"Maafkan aku atas ketidak jujuranku, Mil."
Mila terdiam dengan wajah bingung.
"Aku sudah membohongimu dan kesalahan yang aku lakukan ini memang tidak pantas untuk dimaafkan," tutur Rika yang berhasil membuat Mila semakin bingung saja.
"Membohongiku? Bohong tentang apa sih, Rik?"
"Sebenarnya tadi malam aku menemui mas Rangga. Mas Rangga memintaku menemuinya. Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa mas Rangga ingin membicarakan tentang dirimu, Mil. Namun, ternyata aku salah," tutur Rika sambil menggulung-gulung ujung dress yang ia kenakan.
"Mas Rangga?" pekik Mila dengan wajah heran. "Bukankah kemarin kamu bilang padaku bahwa kamu ...." Mila menghentikan ucapannya sejenak. "Kenapa kamu tega membohongiku, Rik?" lanjut Mila dengan wajah serius.
Lagi-lagi Rika terisak dan kali ini tangisnya terdengar lebih kencang dari sebelumnya. "Maafkan aku, Mil. Maafkan aku," ungkapnya.
"Tadi malam mas Rangga mengajakku makan malam bersama di rumahnya. Setelah makan malam berakhir, mas Rangga memintaku untuk minum minuman beralkohol bersamanya. Karena ini pertama kalinya aku menyentuh minuman itu, akhirnya aku mabuk berat, Mil. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan pada malam itu. Bangun-bangun, aku sudah berada di pelukan lelaki itu. Dan yang lebih memalukan lagi, kami berdua kepergok oleh ibunya mas Rangga," jelas Rika dengan wajah penuh penyesalan menatap Mila.
Mila begitu syok setelah mendengar penjelasan Rika barusan. Dadanya tiba-tiba saja menjadi sesak dan napasnya seakan tersekat. Bahkan gadis itu merasakan tubuhnya yang terasa panas dingin.
"Apa yang sudah kalian lakukan, Rika?" tanya Mila tampak pasrah dengan kenyataan pahit yang akan ia dengar nantinya.
Rika menggeleng pelan. "Kami sama-sama tidak sadar, Mil. Tahu-tahu kami sudah tidur bersama dan kepergok oleh ibunya. Karena malu, ibu mas Rangga meminta kami untuk menikah secepatnya." Wajah Rika tampak memelas. "Maafkan aku, Mila."
Mata Mila mulai berkaca-kaca dan bibirnya pun tampak bergetar. Namun, sebisanya ia tahan dengan menggigitnya.
"Apa kamu mencintai mas Rangga?" tanya Mila sambil menahan rasa sakit yang amat sangat di hatinya.
"Mila ...." lirih Rika.
"Apa kamu mencintai mas Rangga, Rika?"
__ADS_1
Rika tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya menghadap lantai dan kembali terisak.
Mila mengangguk pelan. Walaupun Rika tidak menjawab pertanyaannya, tetapi hanya dengan melihat sikap Rika saat itu, Mila sudah tahu apa jawabannya.
"Baiklah." Mila bangkit dari posisi duduknya sembari mengelus pundak sahabatnya itu dengan lembut. "Semoga kalian bahagia," lanjut Mila sambil tersenyum tipis.
Mila melangkah gontai menuju kamarnya dan meninggalkan Rika yang masih terisak di ruangan itu, menyesali semua perbuatan konyolnya.
Di dalam kamar.
Mila melemparkan tas ranselnya ke sembarang arah. Ia melangkah gontai menuju tempat tidur kemudian menjatuhkan dirinya di sana dengan posisi terlentang. Kedua netranya menatap lurus ke depan, tepat di mana langit-langit kamarnya berada.
Tanpa ia sadari cairan benih itu akhirnya tumpah dan jatuh ke kasur. Dadanya bergetar, tetapi tak terdengar suara isak tangis gadis itu.
Biar bagaimanapun, penuturan Rika barusan benar-benar membuat Mila syok. Perasaannya terhadap lelaki itu bahkan belum sepenuhnya menghilang dan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Mila berbaring miring kemudian meringkuk. Tanpa ia sadari pangeran Hans sudah berada di samping tubuhnya.
"Kenapa kamu bersedih, Aurora? Seharusnya kamu senang karena Rika sudah menemukan jodohnya. Lelaki yang baik dan bertanggung jawab seperti Rangga," ucap lelaki gaib itu.
Mila refleks bangkit kemudian menatap lelaki gaib itu sambil menyeka air matanya.
"Jangan bilang kalau kamu ada sangkut pautnya dengan kejadian ini, Pangeran Hans!" sahut Mila dengan mata membesar.
Lelaki gaib itu tertawa pelan. "Apa menurutmu itu salah? Aku hanya membantu Rika menemukan jodohnya lebih cepat, itu saja!" jawab pangeran gaib itu dengan entengnya.
"Akhhh! Jadi benar, ini ulahmu?!" pekik Mila dengan wajah memerah karena kesal.
Pangeran Hans hanya tertawa dan tidak menjawab pertanyaan dari gadis itu. Mila benar-benar kesal. Ia meraih bantal kemudian melemparnya dengan sangat keras ke arah lelaki itu.
"Kamu memang benar-benar menyebalkan, Pangeran Hans!"
Namun, sayangnya bantal yang dilemparkan oleh Mila barusan hanya menembus tubuh lelaki gaib itu. Tanpa mengenai apalagi menyakitinya.
"Aaargghh!" teriak Mila dengan penuh kesal.
__ADS_1
...***...