
Keesokan harinya.
"Rangga! Apa-apaan ini?!" pekik seorang wanita paruh baya yang baru saja tiba di kediaman Rangga.
Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah ibu kandung dari Rangga. Wanita paruh baya tersebut begitu syok ketika mendapati anak lelakinya tengah tidur lelap bersama seorang gadis dalam kondisi telanjang bulat. Posisi mereka saling berpelukan dan tak ada jarak di antara keduanya.
Wanita paruh baya itu begitu marah dan kecewa terhadap anak lelakinya tersebut. Karena baginya, apa yang dilakukan oleh Rangga benar-benar sangat memalukan.
"Rangga, bangun!" kesalnya lagi karena Rangga masih tidak bergerak dan menikmati hangatnya pelukan mereka.
Emosi wanita paruh baya itu semakin memuncak. Ia meraih sebuah bantal dengan wajah memerah kemudian memukulkannya ke tubuh Rangga yang masih asik berpelukan dengan Rika tanpa sehelai benang pun.
"Bangun, Rangga! Kamu benar-benar sangat memalukan! Ibu malu melihat ini semua!" hardiknya sambil terus memukul bantal tersebut ke tubuh anak lelakinya itu.
Rangga pun refleks terbangun karena pukulan sang ibu. Ia segera membuka matanya dan menoleh ke arah wanita paruh baya itu tanpa melepaskan pelukannya bersama Rika.
"I-Ibu kenapa?" tanya Rangga sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
Bukannya reda, emosi wanita paruh baya itu malah semakin memuncak saja. Seandainya sebuah gunung berapi, mungkin wanita itu sudah menyemburkan laharnya kepada Rangga.
"Masih tanya kenapa lagi! Apa kamu tidak sadar dengan perbuatanmu yang menjijikkan itu, Rangga! Atau kamu memang bangga bisa melakukan ini dan memperlihatkannya kepada Ibu, iya?!" kesal wanita itu dengan mata membulat sempurna sambil bertolak pinggang di hadapan tempat tidur Rangga.
"Menjijikkan? Maksud Ibu?" Rangga menautkan kedua alisnya dan belum habis lelaki itu berkata-kata, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang berhasil membuat Rangga syok bukan kepalang.
"Aduh, siapa sih yang bikin ribut-ribut di sini? Ganggu orang tidur saja," celetuk Rika sambil menggeliatkan tubuh tanpa membuka matanya yang masih tertutup rapat.
"Huwwaaaa!"
Rangga sontak berteriak dan melepaskan tubuh polos Rika dari dalam pelukannya. Lelaki itu refleks meloncat dari tempat tidurnya kemudian berdiri tepat di samping sang Ibu yang sudah marah besar kepadanya.
__ADS_1
"A-apa yang dia lakukan di sini, Bu?" tanya Rangga tergagap-gagap sambil menunjuk ke arah Rika yang ternyata juga tidak kalah syoknya sama seperti lelaki itu.
Rika yang terkejut setelah mendengar teriakan Rangga, segera membuka matanya kemudian menarik selimut hingga sebatas dada ketika ia sadar bahwa tubuhnya tengah telanjang tanpa sehelai benang pun.
Ia menatap wanita paruh baya dan Rangga secara bergantian dengan mulut yang terkunci rapat. Rika masih mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan Rangga tadi malam.
Wanita paruh baya itu kesal mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Rangga saat itu. Ia menarik telinga anak lelakinya itu dengan keras kemudian berteriak di samping telinganya.
"Kenapa kamu malah bertanya sama Ibu, Rangga! Seharusnya Ibu yang bertanya seperti itu. Kenapa kamu bisa membawa gadis itu ke rumah ini dan tidur bersamanya selayaknya suami istri? Apa kamu tidak malu? Ibu malu, Rangga! Di mana Ibu akan meletakkan wajah Ibu kalau orang-orang tau apa yang sudah kamu lakukan ini."
"Aa-ampun, Bu! Sakit!" pekik Rangga sambil memegangi tangan Ibu yang masih menempel di telinganya dengan sangat keras hingga ia kesakitan dan telinganya pun terlihat memerah.
"Tapi demi Tuhan, Bu. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini."
"Tidak tahu, katamu? Lalu ini apa?!" kesal wanita paruh baya itu sambil menunjuk ke arah tubuh Rangga yang masih dalam keadaan polos dan lelaki itu sama sekali tidak menyadarinya. Rangga segera menoleh ke tubuh polosnya dan betapa terkejutnya lelaki itu.
"A-apa ini?" Rangga refleks meraih kemejanya yang masih berserak di lantai kamar bersama pakaian milik Rika. Ia melilitkan kemeja tersebut ke area bawahnya untuk menutupi si anaconda yang tengah menggantung di bawah sana.
Rangga menatap Rika yang masih terdiam sambil memegang selimut di dadanya. Wajahnya memucat dan bibirnya masih saja kaku.
"Rika, bisakah kamu menjelaskannya kepadaku. Sebenarnya apa yang terjadi pada kita dan kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Rangga dengan wajah serius menatap Rika.
Rika menautkan kedua alisnya. "Aku tidak tahu, Mas. Terakhir aku ingat, Mas mengajakku minum minuman beralkohol itu dan setelah itu aku benar-benar lupa apa yang terjadi selanjutnya."
"Minuman beralkohol? Tapi—" Belum habis Rangga berucap, sang Ibu sudah menyela ucapannya dengan mata berapi-api.
"Minuman beralkohol? Ya ampun, Rangga! Sejak kapan kamu berani menyentuh minuman seperti itu, ha? Siapa yang kamu ikuti, Rangga? Sementara ayahmu saja tidak pernah menyentuh minuman itu sedikit pun!" sela wanita paruh baya itu.
"Demi Tuhan, Bu! Aku bahkan tidak pernah menyentuh minuman itu! Dan aku tidak tahu kapan aku mengajak gadis ini ke sini," jelas Rangga.
__ADS_1
Rika tampak sedih. Ia tidak percaya bahwa ternyata Rangga berani berbohong demi menutupi perbuatan buruknya. Rika akhirnya terisak di atas tempat tidur Rangga dengan kepala tertunduk.
Sementara wanita paruh baya itu masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pasangan bukan muhrim tersebut.
"Hei! Kamu jangan menangis saja! Sekarang katakan, sejak kapan kamu berada di sini dan kenapa kamu bisa tidur bersama Rangga?" Sekarang Rika yang menjadi sasaran kemarahan wanita paruh baya itu.
"Maafkan saya, Bu. Tapi saya sudah mengatakan yang sejujurnya, bahwa Mas Rangga lah yang mengundang saya ke sini. Kalau Ibu tidak percaya, saya punya bukti pesan chat yang dikirimkan oleh Mas Rangga kepada saya," jelas Rika.
"Baiklah! Mana buktinya, tunjukkan sama Ibu," sahut wanita itu sambil menjulurkan tangannya ke hadapan Rika.
"Baiklah, Bu. Tapi, biarkan saya mengenakan pakaian saya kembali," lirih Rika sambil memelas menatap wanita paruh baya tersebut.
Wanita itu berbalik, membelakangi Rika sembari menghembuskan napas berat. "Baiklah. Sekarang kenakan pakaianmu."
Sementara Rangga menggunakan waktu tersebut untuk mencuci muka dan berpakaian di dalam kamar mandi pribadinya.
Perlahan Rika beringsut dari tempat tidur kemudian meraih pakaiannya yang masih berserak. Ia mengenakan satu persatu pakaiannya hingga semuanya kembali seperti semula.
Setelah selesai, wanita paruh baya itu pun segera berbalik dan menatap Rika yang sudah berdiri di hadapannya.
"Sekarang, mana buktinya bahwa Rangga sudah meminta kamu datang ke sini?" ucap wanita itu lagi. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Perlahan Rika meraih ponselnya. Ponsel yang ia simpan di dalam saku dress miliknya kemudian menyerahkan benda pipih tersebut kepada wanita paruh baya itu.
"Ini, Bu."
Wanita paruh baya itu bergegas meraihnya kemudian membaca pesan chat yang dikirimkan oleh anak lelakinya itu kepada Rika.
"Ya ampun, Rangga!" pekik wanita itu sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
...***...