
Keluarga kecil paman Didin berkumpul di ruang depan bersama Mila dan Pangeran Hans. Mereka tengah sibuk membicarakan masalah pernikahan mendadak yang akan dilaksanakan di kampung kelahiran Mila tersebut.
"Oh ya, uang kemarin yang diberikan sama Nak Hans itu udah habis, sekarang Bibi butuh uang lagi untuk mengurus yang lainnya," ucap Bi Una tanpa sungkan. Wanita itu menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada Pangeran Hans dan Mila yang tengah duduk tepat di hadapannya.
"Maklumlah, apa-apa sekarang ini serba mahal dan untuk mengurus apa pun, mesti pake uang. Benar 'kan, Yah?" ujarnya lagi sambil melirik paman Didin.
Lelaki paruh baya tersebut hanya mengangguk pelan, tanpa berkeinginan menimpali apa yang diucapkan oleh istrinya itu.
Mila menoleh kepada calon suaminya itu dan ternyata ekspresi pangeran Hans tampak santai-santai saja menanggapi celotehan dari Bi Una barusan.
Tiba-tiba lelaki berperawakan tinggi besar, yang menjadi sopir pribadi Pangeran Hans itu datang mendekat sambil menenteng sebuah tas berwarna hitam. Ia meletakkan tas tersebut ke atas meja tanpa ekspresi apa pun. Setelah meletakkan tas itu, ia pun segera keluar dari ruangan tersebut.
"Bukalah tas itu, apakah itu cukup untuk mengurus semuanya? Jika masih kurang, katakan saja padaku," ucap Pangeran Hans sambil menatap lekat Bi Una.
Wanita paruh baya itu segera meraih tas tersebut dengan tergesa-gesa kemudian membukanya. Ia tersenyum lebar setelah melihat isi dari tas tersebut.
"Lihatlah ini, Lala, Lulu!" serunya dengan setengah berbisik kepada Lulu dan Lala yang masih setia duduk di sampingnya.
Lulu dan Lala tampak acuh tak acuh. Bukannya tidak senang melihat banyaknya jumlah uang yang ada di dalam tas tersebut. Namun, mereka tidak begitu senang setelah mengetahui bahwa calon suami Mila benar-benar orang berada.
"Heh, kalian ini kenapa? Apa kalian tidak senang melihat uang sebanyak ini?" bisiknya lagi.
"Iya, Bu. Iya," jawab Lulu dan Lala secara serempak.
Bi Una kembali fokus kepada Pangeran Hans yang duduk dihadapannya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada lelaki tampan itu.
"Uang ini Bibi terima ya, Nak Hans. Bibi rasa uang ini cukup untuk membiayai acara pernikahan kalian. Benar 'kan, Yah?" ucapnya dengan wajah semringah sembari menyenggol tangan paman Didin yang masih terdiam di ruangan itu.
"Benar, Nak Hans," timpal lelaki paruh baya itu.
Selang beberapa saat kemudian.
Acara bincang-bincang di ruangan itu pun selesai. Mila dan Pangeran Hans memilih jalan-jalan di sekitaran kampung tersebut. Kampung yang masih asri, di mana udaranya pun masih terasa begitu segar.
Jalanan yang mereka lalui saat itu tampak lengang karena warga kampung tersebut lebih banyak menghabiskan waktu mereka di kebun atau pun di ladang.
__ADS_1
"Pangeran Hans, bagaimana dengan Rika dan mas Rangga? Apakah mereka sudah tahu soal rencana pernikahan kita?" tanya Mila sambil melirik Pangeran Hans yang berjalan di sampingnya dengan begitu santai.
"Sudah. Pengawalku sudah mengirimkan undangan pernikahan kita kepada mereka dan mereka berjanji pasti akan datang," sahut lelaki gaib itu.
"Benarkah? Kamu serius?" pekik Mila sambil tersenyum puas.
"Ya." Pangeran gaib itu menganggukkan kepalanya.
"Oh, terima kasih banyak!"
Mila yang begitu bahagia, refleks memeluk Pangeran Hans dengan erat dan membuat lelaki gaib itu ikut tersenyum karenanya.
"Sama-sama."
Pasangan beda dunia itu melerai pelukan mereka kemudian saling lempar pandang.
"Apa kamu pernah menaiki puncak gunung itu?"
Pangeran menunjuk sebuah gunung tinggi yang bayangannya terlihat jelas dari kampung tersebut. Mata lelaki gaib itu masih tertuju pada kedua netra indah milik Mila, sementara tangannya menunjuk ke arah gunung tersebut.
"Apa kamu ingin naik ke sana dan melihat keindahannya?" tanya Pangeran Hans sambil tersenyum hangat.
Mila tertawa pelan. "Untuk apa? Kata orang tua dulu, tidak ada orang yang berani menaiki puncak gunung itu. Kamu tau kenapa?"
"Kenapa?" tanya Pangeran Hans tanpa adanya rasa penasaran.
Mila mendekatkan wajahnya ke arah lelaki gaib itu kemudian bicara dengan setengah berbisik. "Konon katanya gunung itu adalah sarangnya mahluk tak kasat mata. Bahkan para pendaki pun tidak berani menaiki gunung tersebut. Banyak yang tidak kembali!"
Pangeran Hans terkekeh pelan kemudian menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Mila. "Apa kamu lupa siapa aku ini, Aurora?"
Tiba-tiba ekspresi wajah Mila berubah. "Ya ampun! Kenapa aku bodoh sekali! Hampir saja aku lupa siapa laki-laki ini!" gumam Mila sambil mengelus tengkuknya.
"Kemarilah!" ucap Pangeran Hans sembari meraih tubuh Mila agar lebih dekat lagi.
"A-ada apa?" tanya Mila terbata-bata ketika Pangeran Hans menarik tubuhnya dan kini tak ada jarak di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Pejamkan matamu dan jangan membukanya sebelum aku memintanya," titah Pangeran Hans kepada Mila.
"Ta-tapi untuk apa?" Mila tampak bingung.
"Jangan banyak tanya. Sekarang tutup saja matamu. Ingat! Jangan pernah mengintip jika kamu tidak ingin menjadi buta," tutur Pangeran Hans sembari menutup mata Mila dengan tangannya.
"Ta-tapi!" Mila ingin protes, tetapi ia tidak berani mengambil resiko dengan membuka matanya yang sudah tertutup. Ia takut kedua netra indahnya tersebut kehilangan fungsinya, sama seperti yang dikatakan oleh lelaki gaib tersebut.
Tak ada suara apa pun yang terdengar. Hanya saja suasana yang ia lewati dalam beberapa detik setelahnya, tampak silih berganti. Kadang terasa hangat, panas, dan dingin. Bahkan sangat dingin!
"Boleh aku buka mataku?" tanya Mila setelah beberapa detik kemudian.
Tak ada jawaban dari Pangeran Hans. Bahkan suasana di tempat itu seakan berubah drastis. Yang tadinya terasa segar. Mendadak menjadi dingin. Bahkan seluruh tubuh Mila bergetar.
"Pangeran Hans! Boleh aku membuka mata?!" teriak Mila lagi sambil menahan rasa dingin tersebut.
"Bukalah!" Terdengar suara bisikan dari lelaki gaib itu di samping telinga Mila.
Perlahan Mila membuka matanya dan ia begitu terkejut karena saat itu pemandangan yang ia lihat sudah berubah. Tak ada lagi rumah-rumah warga dan tak ada lagi jalan beraspal. Yang ada hanya pepohonan yang menghijau. Tepat berada di bawahnya, bersatu dengan rumput dan semak belukar.
"Ki-kita di mana?" tanya Mila dengan wajah bingung dan tubuh yang bergetar karena cuaca yang begitu dingin merasuk hingga ke dalam tulang.
"Kita sudah berada di puncak gunung. Sekarang bagaimana menurutmu? Apa pemandangan di sini indah?" jawab Pangeran Hans sembari mengenakan sebuah jubah tebal ke tubuh Mila yang menggigil.
Mila meraih jubah itu kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan benda tersebut. Jubah itu terasa hangat hingga ia tidak lagi merasa kedinginan.
"Sangat indah! Tapi—" Belum habis Mila berucap, lelaki gaib itu tiba-tiba memeluknya dengan erat dan pelukan itu benar-benar membuat Mila merasa nyaman.
"Aku mencintaimu, Aurora! Sangat," ucapnya.
"Hei, Mila!" protes Mila.
"Sama saja!" balas lelaki itu tanpa melepaskan pelukannya.
...***...
__ADS_1