Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Kembali Ke Kampung Halaman


__ADS_3

"Sebaiknya kita kembali sekarang, Pangeran. Aku takut paman Didin atau bi Una nyariin kita," ucap Mila sembari melerai pelukannya bersama Pangeran Hans.


Lelaki gaib itu hanya tersenyum sambil memperhatikan Mila yang kini melenggang ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.


Setelah beberapa saat, Mila kembali lagi ke dalam kamar dengan penampilan yang jauh lebih segar. Ia berjalan menghampiri Pangeran Hans yang masih duduk di tepian tempat tidur kemudian duduk di samping lelaki gaib tersebut.


"Apa aku akan pulang hanya dengan menggunakan jubah ini?" tanyanya dengan wajah heran menatap Pangeran Hans.


"Lihatlah ke dalam lemari pakaian. Pakaianmu sudah tersedia di sana," jawab lelaki gaib itu.


"Benarkah?" Mila tersentak kaget mendengar Jawa dari suami gaibnya tersebut.


Pangeran Hans mengangguk pelan. "Ya, kamu lihat saja di sana."


Mila pun bergegas menghampiri lemari pakaian yang bersandar di dinding kamar. Perlahan ia membuka lemari tersebut dan mata gadis itu pun terbelalak setelah melihat isinya.


"Wow! Keren sekali!" pekik Mila yang begitu takjub dengan berbagai macam barang keperluannya, yang memang sudah dipersiapkan oleh pangeran Hans.


"Pilih saja sesukamu karena semua itu adalah milikmu," sahut Pangeran Hans.


"Wow! Eh, tapi ... ini nyata 'kan?" tanya Mila dengan sedikit ragu.


"Ya ampun, Sayang! Apakah aku punya tampang penipu?" sahut Pangeran Hans dengan sedikit kesal.


"Ya, siapa tahu. Tiba-tiba pakaian menghilang setelah beberapa jam," celetuk Mila seraya meraih sebuah dress berwarna putih natural yang akan ia kenakan hari ini.


"Hei! Dan membiarkan orang-orang melihat tubuh polosmu?" kesal Pangeran Hans yang ternyata mendengar dengan jelas celetukan istrinya itu.


"Ingat, ya! Kamu itu hanya milikku. Semua yang ada di tubuhmu itu hanya aku yang berhak melihatnya, menyentuhnya dan menikmatinya!" tegas lelaki itu sambil menyipitkan mata menatap Mila.


Mila menghela napas. "Ya, iya! Hanya kamu seorang," jawab Mila sembari mengenakan dress berwarna putih natural yang baru saja ia ambil dari dalam lemari pakaian.


Beberapa menit kemudian.


"Sudah selesai?" tanya Pangeran Hans sambil memperhatikan Mila yang masih bersolek di depan cermin rias. Gadis itu tengah asik memoleskan lipstik berwarna pink ke bibir seksinya.


"Oke, sudah selesai!" Mila meletakkan kembali lipstik tersebut ke atas meja rias kemudian bangkit dari posisi duduknya.


"Bagaimana penampilanku hari ini? Apa aku terlihat cantik?" tanya Mila sambil melenggak-lenggok di hadapan Pangeran Hans.


Pangeran tersenyum sembari memperhatikan penampilan Mila yang terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna putih tersebut. Wajahnya dirias senatural mungkin. Rambut panjangnya digerai indah, menambah kesempurnaan gadis itu.

__ADS_1


"Sempurna!" jawan Pangeran Gaib itu.


Pangeran Hans bangkit dari posisi duduknya. Ia menghampiri Mila kemudian merengkuh tubuh mungil istrinya itu. "Sebaiknya kita kembali sekarang. Setelah itu pamit kepada paman serta bibimu."


"Lalu?" Mila menautkan kedua alisnya.


"Kita bersiap kembali ke dunia kita, Aurora. Aku sudah tidak sabar ingin menemui Ratu dan meminta restu darinya," sahut Pangeran Hans sembari membelai lembut pipi Mila yang tampak merah merona.


Mila terdiam untuk beberapa detik sebelum ia kembali membuka suaranya. "Bagaimana dengan Raja. Apa kamu tidak takut dia marah?"


Pangeran Hans tersenyum. "Tidak. Aku sama sekali tidak takut padanya dan aku pun tidak peduli walaupun dia tidak menyukai keputusanku."


Mila menghela napas berat. "Ya sudah. Yukk, kita pulang!"


"Baik. Tutuplah matamu sama seperti biasanya dan jangan buka sebelum aku memintamu untuk membukanya."


"Oke." Mila segera memejamkan kedua matanya kemudian membiarkan pangeran Hans membawanya kembali ke kampung halaman.


Beberapa detik berikutnya.


"Bukalah matamu," bisik Pangeran Hans di samping telinga Mila.


"Serius? Kita sudah sampai?" Mila masih belum berani membuka matanya dan belum yakin bahwa ia sudah kembali ke kampung halamannya.


Perlahan Mila membuka matanya dan tersenyum lebar setelah sadar bahwa sudah ia berada di dalam kamar milik Lulu yang ia tempati untuk sementara waktu.


"Wah, cepat sekali!" gumam Mila sambil memperhatikan sekeliling kamar itu.


"Tentu saja! Siapa dulu," celetuk Pangeran Hans. "Tapi itu tidak gratis, Nona. Aku butuh bayaran untuk perjalanan instan ini," lanjutnya sambil menyeringai.


"Hei! Bukankah aku sudah kasih jatah dua ronde tadi malam?" protes Mila.


"Bukan itu, aku hanya ingin ciuman darimu sebagai bayarannya."


Mila tersenyum kemudian mengangguk pelan. "Baiklah, kalau hanya sekedar ciuman aku setuju!"


Mila menarik lengan Pangeran Hans agar ia bisa meraih wajah tampan suaminya itu. Pangeran Hans pun mengerti. Ia membungkukkan sedikit badan agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Mila.


Mila tersenyum kemudian bergegas menyerang bibir lelaki itu dengan rakus. Mengecup serta menggigitnya dengan lembut dan saling menautkan lidah mereka. Pangeran Hans yang tadi hanya ingin merasakan liarnya ciuman Mila, akhirnya tak kuasa untuk tidak membalasnya.


Tepat di saat itu, Lulu mendapatkan perintah dari ibunya untuk memanggil pasangan pengantin baru tersebut untuk sarapan bersama. Karena merasa kamar itu adalah miliknya, Lulu pun membukanya tanpa permisi terlebih dahulu. Hingga akhirnya ....

__ADS_1


"Akh!"


Lulu menutup mulutnya yang saat itu tengah terbuka lebar. Matanya membulat dan otaknya tiba-tiba 'nge-blank' saat melihat pasangan itu berciuman dengan sangat liar di dalam kamarnya.


Pangeran Hans yang menyadari hal itu langsung mengibaskan tangannya ke udara. Dan dengan kekuatannya, ia mampu membuat pintu kamar yang tadinya terbuka kini tertutup kembali.


Brakkk!


Pintu itu refleks tertutup dengan sempurna dan bahkan sempat mengenai hidung Lulu yang masih terpaku di depan pintu.


"Aw, sialan! Hidungku," keluh Lulu sambil mengusap hidungnya yang memerah dan terasa sakit dengan sangat lembut.


"Mila! Ayah dan ibu menunggumu di ruang makan. Jangan lupa, ajak sekalian suamimu itu," teriak Lulu dengan sekeras mungkin.


Mila yang akhirnya menyadari keberadaan Lulu saat itu, segera menghentikan aksinya. Pangeran Hans sempat menolak dan ingin Mila tetap melanjutkan ciuman panas mereka. Namun, Mila tetap kekeuh dan melepaskan tautan bibir mereka.


"Itu Lulu! Sebaiknya kita segera menemui paman dan bibi," ajak Mila.


"Ayolah, sebentar lagi. Ini sudah kepalang tanggung, Mila!"


"Ish, ayo! Kita bisa mengulanginya nanti malam," sahut Mila sembari menarik pelan tangan pangeran Hans.


Lelaki gaib itu memasang wajah malas dan mau tidak mau, akhirnya ia pun mengikuti langkah Mila ke luar dari ruangan sempit itu.


Sementara itu.


"Aduhhh, sakit!" rintih Lulu, masih mengusap hidungnya sambil berjalan menghampiri meja makan. Di mana seluruh keluarga kecilnya sudah berkumpul di sana.


"Kamu kenapa, Lu?" tanya Lala bingung.


Lulu memperlihatkan kondisi hidungnya yang memerah kepada Lala dan kedua orang tuanya sambil memasang wajah kusut. "Coba lihat hidungku! Ish, sakit sekali!"


Lala tergelak untuk beberapa saat. Ia merasa lucu ketika melihat hidung Lulu yang memerah dan tampak seperti seorang badut. Sementara Bi Una tampak kesal melihat ekspresi Lala saat itu.


"Heh, Lala, hentikan! Bukannya kasihan, kamu malah menertawakan adikmu," celetuk Bi Una dan berhasil membuat Lala bungkam.


"Memangnya hidung kamu kenapa, Lu?" tanya Paman Didin yang juga penasaran dengan yang sudah terjadi pada putri bungsunya itu.


"Pintu kamar Lulu tiba-tiba tertutup sendiri, Yah, dan berhasil mengenai hidung Lulu," jawabnya sembari menjatuhkan diri di sebuah kursi kosong di dekat Lala.


"Terus, mana pasangan pengantin baru kita? Jangan bilang mereka masih tidur, ya! Jika itu benar, artinya mereka sudah benar-benar keterlaluan!" sambung Bi Una dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Ehm, mereka sudah bangun kok, Bu. Mereka pasti akan menyusul ke sini," jawab Lulu.


...***...


__ADS_2