
Salah satu ekor kuda tampan itu tiba-tiba datang menghampiri Mila. Mila yang tidak terbiasa dengan keberadaan hewan itu, sempat memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang.
"Hush, sana-sana!" titah Mila dengan wajah cemas. Ia mengibaskan-ngibaskan tangannya dan berharap binatang itu segera menjauh.
Namun, bukannya menjauh kuda itu malah semakin mendekat ke arahnya sambil meringkik. Kuda itu mengelus-eluskan kepalanya ke lengan serta tubuh Mila yang saat ini tengah ketakutan.
"Pa-pangeran ...." Tubuh Mila bergetar dan wajahnya pun kembali memucat.
Lelaki gaib itu tersenyum. Ia menghampiri Mila dan kuda itu, kemudian berdiri di samping binatang bertubuh besar tersebut sambil mengelus kepalanya.
"Apa kamu juga mengenalinya?" tanya Pangeran Hans kepada kuda tersebut.
Kuda itu menganggukkan kepalanya, seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Hans barusan.
"Jangan takut, Aurora. Dia tidak akan menyakitimu karena dia tahu betul siapa dirimu yang sebenarnya," ucap Pangeran Hans sambil tersenyum kepada Mila yang masih ketakutan.
"Ma-maksudmu?" Mila berdiri di balik punggung Pangeran Hans kemudian menatap kuda besar nan gagah itu dengan seksama.
"Dia mengenalimu, Aurora. Apa kamu ingat, dia adalah kuda kesayanganmu. Kamu bahkan sering menaikinya. Benar 'kan, Logan?" Pangeran Hans melirik kuda putih itu sembari mengelus kepalanya lagi.
Lagi-lagi kuda itu mengeluarkan suara khasnya sambil berjingkrak. Seolah mengiyakan apa yang dikatakan oleh lelaki gaib tersebut.
"Logan?"
"Ya. Namanya logan dan yang itu Lexus. Mereka kembar," sahut Pangeran Hans sembari menunjuk ke arah kuda jantan satunya.
"Ya, Tuhan! Namanya keren sekali," gumam Mila sambil berdecak kagum.
Mila memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya ke arah kuda itu dan seolah mengerti apa keinginan Mila, hewan itu pun membungkukkan kepalanya agar Mila bisa mengelusnya.
"Sentuhlah dia! Yakinlah, dia tidak akan menyakitimu," ucap Pangeran Hans.
Walaupun ragu, tetapi ia tetap mengulurkan tangannya. Namun, hampir saja ia berhasil menyentuh kepala kuda tampan itu, tiba-tiba Mila menarik tangannya kembali sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
"Ya, Tuhan, aku takut! Aku punya pengalaman buruk kepada binatang berkaki empat dengan tubuh besar seperti ini, Pangeran!" celetuk Mila.
"Maksudmu?" Pangeran Hans bingung.
"Aku pernah dikejar sapi besar hanya karena aku memakai baju berwarna merah," pekik Mila dengan wajah memucat.
Pangeran Hans terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.
"Kamu tau apa yang terjadi selanjutnya? Sapi itu berhasil menyeruduk aku, Pangeran. Bukan hanya menyeruduk, dia juga menendang tubuhku," sambung Mila dengan sangat antusias.
Pangeran Hans menghentikan tawanya. Ia meraih tangan Mila kemudian menuntunnya untuk menyentuh kepala kuda jantan bernama Logan tersebut.
"Baik Logan maupun Lexus tidak akan berani melakukan itu, Aurora. Mereka tidaklah sama seperti sapi sialan itu," ucap Pangeran Hans.
Tangan Mila yang bergetar kini berada tepat di kepala Logan, si kuda jantan yang gagah. Setelah agak tenang, Pangeran Hans melepaskan tangan Mila dan membiarkan gadis itu mengelus kepala kuda kesayangannya.
Untuk beberapa saat Mila terdiam sambil merasakan lembutnya bulu-bulu Logan. Begitu pula binatang itu, ia diam dan tak melakukan apa pun. Ia memejamkan matanya sambil merasakan sentuhan lembut dari Mila.
Namun, beberapa detik kemudian tiba-tiba Logan membuka matanya dan seolah mempunyai ikatan yang begitu kuat, Mila pun merasakan sesuatu yang dahsyat saat itu. Mila seolah melihat dirinya tengah menaiki tubuh besar Logan dan berlari bersama kuda besar itu sambil tertawa riang.
Mila menarik tangannya kembali dan terdiam untuk beberapa saat.
"Apa yang kamu lihat, Aurora?" tanya Pangeran Hans yang masih memperhatikan ekspresi Mila dengan begitu serius.
Mila menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa."
Lelaki gaib itu tersenyum. Ia tahu Mila tengah berbohong kepadanya. Pangeran Hans menyerahkan selembar pakaian ke hadapan Mila dan meminta gadis itu untuk mengenakannya.
"Ya, sudah. Sebaiknya kamu ganti pakaianmu. Kita harus segera kembali melanjutkan perjalanan kita. Tidak mungkin 'kan kamu mengenakan pakaian seperti itu?"
Mila menyambut pakaian itu kemudian menentengnya. Sebuah gaun mewah khas ala kerajaan. Begitu cantik, tetapi agak kuno menurut Mila. Namun, karena itu merupakan perintah dari pangeran Hans, ia pun menyetujuinya.
"Di mana aku harus mengganti pakaianku?" Mila melirik pengawal setia Pangeran Hans yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Di sini saja. Biar aku melindungimu," sahut pangeran sambil berdiri tepat di hadapan Mila untuk menutupi tubuh wanita kesayangannya itu.
"Berbalik dan jangan pernah mengintip!" titah Pangeran Hans kepada pengawal setianya.
Lelaki itu membungkuk hormat kemudian segera berbalik dan berdiri dengan posisi membelakangi Pangeran Hans dan Mila.
"Apa kamu yakin bahwa dia tidak akan mengintip?" tanya Mila yang masih ragu.
"Dia adalah pengawal setiaku. Dia tidak akan pernah berani membantah perintahku," jawab Pangeran Hans yakin.
Karena lelaki itu begitu yakin, Mila pun menurut saja. Ia bergegas membuka dress-nya kemudian menggantinya dengan gaun ala putri kerajaan itu.
"Semoga saja pakaian ini tidak membuat aku gerah!" gumam Mila.
"Tentu saja tidak. Gaun itu terbuat dari sutra terbaik di sini dan kamu tidak akan pernah menyesal mengenakannya," jawab Pangeran Hans yang masih berdiri di depan Mila.
Selang beberapa saat, Mila pun akhirnya berhasil mengenakan gaun cantik tersebut walau penuh dengan perjuangan.
Mila menepuk pundak Pangeran Hans yang berdiri di hadapannya dengan posisi membelakangi.
"Bagaimana penampilanku, Pangeran Hans? Apakah aku sudah cocok untuk menjadi putri di kerajaanmu?" ucap Mila sambil bercanda. Ia melenggak-lenggok, menampilkan kecantikan gaun yang tengah melekat di tubuh indahnya.
Pangeran Hans berbalik kemudian tersenyum lebar. "Kamu selalu cantik, Aurora. Apa pun yang kamu kenakan semuanya pasti terlihat cantik jika kamu yang mengenakannya."
Pangeran Hans berjalan menghampiri Mila kemudian meraih wajah cantik gadis itu. Kedua netra indah mereka saling bertaut dan sesekali pangeran Hans mengelus lembut bibir seksi Mila dengan ibu jarinya.
Hingga akhirnya lelaki itu tidak sanggup menahan hasratnya untuk tidak mencicipi bibir seksi istri kecilnya itu. Ia melumatt bibir Mila sembari menautkan lidahnya kepada gadis itu. Mereka pun kembali berciuman dengan liar di tempat itu tanpa mempedulikan sekeliling. Termasuk pengawal setia yang masih berdiri pada posisinya.
"Ehmmm, Pangeran ... bukankah kita harus secepatnya menuju istanamu?" ucap Mila sembari mendorong pelan wajah pangeran Hans yang masih belum puas menikmati bibir seksinya.
Lelaki gaib itu tertawa pelan. "Bibirmu sudah menghipnotisku. Sampai aku melupakan hal sepenting itu. Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang," sahut Pangeran Hans sembari meraih tangan Mila dan menuntun gadis itu berjalan di samping tubuhnya.
"Mari, Pengawal. Sebaiknya kita berangkat sekarang!" titah Pangeran Hans yang berjalan melewati tubuh lelaki berwajah sangat itu.
__ADS_1
"Baik, Pangeran."
...***...