Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Menghadap Raja Edward


__ADS_3

Sementara itu.


Raja Edward masih belum menyadari kedatangan Pangeran Hans. Ia tengah duduk termenung di singgasananya sambil memikirkan bagaimana cara menjemput Pangeran Hans. Ia berharap anak lelakinya itu kembali ke istana kemudian melangsungkan pernikahan dengan Putri Serena.


"Yang Mulia Raja," panggil salah satu pengawalnya yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu dengan begitu tergesa-gesa.


"Ada apa, Pengawal? Apa Ratu sudah mengakui kesalahannya?" tanya Raja Edward sambil memasang wajah dingin kepada pengawalnya itu.


Ehm, Ratu ...." Pengawal itu terdiam sejenak sambil berpikir dengan keras.


"Ratu masih bungkam dan masih kekeh tidak ingin mengakui kesalahannya. Tapi, saya punya berita yang lebih penting dari itu," sambung pengawal tersebut.


"Apa itu?" Raja mulai memasang telinganya dengan baik.


"Pangeran Hans sudah kembali, Yang Mulia Raja dan dia sedang bersama Ratu Caroline."


"Putraku sudah kembali?" Mata Raja Edward tampak berbinar-binar. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Setelah sekian lama pergi meninggalkan istana, akhirnya putra pewaris kerajaannya sudah kembali.


"Pengawal! Perintahkan Pangeran untuk menghadap kepadaku sekarang juga," titah Raja Edward.


"Baik, Yang Mulia."


Pengawal itu pun membungkuk hormat kemudian berbalik dan pergi meninggalkan singgasana Sang Raja. Sementara Raja Edward sudah tidak sabar menunggu kedatangan Pangeran Hans.


Sementara itu.


"Bagaimana kabar ayah, Bu?" tanya Pangeran Hans kepada Ratu Caroline.


"Dia baik." Wanita cantik itu menghembuskan napas panjang. "Namun, sayang dia tidak pernah berubah. Dia masih saja keras kepala."


Pangeran Hans terdiam sejenak. Ia tahu apa maksud oleh Ibunya saat itu dan ia pun sudah menduga sebelumnya bahwa Raja Edward tidak akan semudah itu mengubah pendiriannya. Obsesinya yang ingin menyatukan dua kerajaan sangatlah besar dan tidak mungkin berubah dalam waktu yang teramat singkat.


Seorang pengawal tiba di ruangan itu kemudian membungkuk hormat kepada Ratu Caroline dan Pangeran Hans.


"Maafkan saya karena sudah mengganggu waktu Anda, Yang Mulia. Saya hanya ingin menyampaikan titah dari Raja Edward bahwa Yang Mulia Raja ingin Pangeran Hans segera menghadap," ucap Pengawal itu.

__ADS_1


Pangeran Hans dan Ratu Caroline saling lempar pandang. Ekspresi wajah keduanya sontak berubah. Terlihat cemas dan khawatir. Pangeran Hans juga menatap Mila yang saat itu tengah asik dengan pikirannya sendiri.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," jawab Pangeran Hans.


"Ibu ikut!" seru Ratu Caroline.


Pangeran Hans mengangguk pelan. "Tapi Ibunda Ratu tidak perlu ikut masuk. Biarkan aku yang menemui Raja. Sementara Ibu tetap di luar bersama Aurora."


Wanita cantik itu menganguk pelan. "Ya, Ibu mengerti."


Pangeran Hans segera bangkit kemudian berjalan bersama pengawal menuju singgasana Raja Edward. Sementara Ratu Caroline dan Mila mengikuti langkah lelaki tampan itu dari belakang.


"Apa sebaiknya aku menunggu di luar saja, Yang Mulia Ratu?" tanya Mila yang ikutan cemas karena ia tahu Raja tidak mungkin menyetujui hubungannya bersama Pangeran Hans.


"Jangan, Putri. Kamu harus tetap bersama kami, setidaknya dengan begitu kamu akan aman dan Raja tidak akan berani macam-macam," sahut Ratu Caroline sambil tersenyum hangat menatap Mila.


Mila menghela napas panjang dan kembali fokus pada langkahnya.


Beberapa saat kemudian.


Mereka tiba di ruangan megah itu. Di mana singgasana Raja Edward berdiri dengan kokohnya sama seperti pemiliknya. Sebelum memasuki ruangan itu, Pangeran Hans kembali berbalik kemudian menghadap Mila dan Ratu Caroline.


Kedua wanita cantik berbeda dunia itu pun mengangguk tanda mengerti.


"Bagus."


Pangeran berbalik kemudian melanjutkan langkahnya. Namun, baru beberapa langkah ke depan, lelaki bertubuh kekar itu kembali lagi dan menghampiri Mila.


Ia menyentuh kedua pipi Mila kemudian mengecupnya, kening dan terakhir bibirnya tanpa malu dan sungkan. Padahal saat itu Ratu Caroline tengah asik memperhatikan mereka berdua.


""Aku mencintaimu, Putri Aurora."


Setelah mengucapkan hal itu, Pangeran Hans pun kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruangan megah tersebut dan berjalan ke hadapan Raja Edward.


"Tidak pernah kutemui cinta yang begitu murni seperti cinta Pangeran Hans kepadamu, Putri Aurora. Sejak dulu hingga sekarang, cara dia menatapmu dan cara dia memperlakukanmu masih tetap sama dan tidak pernah berubah," tutur Ratu Caroline sembari menyentuh pundak Mila.

__ADS_1


Mila tersenyum kecil. "Tetapi Pangeran Hans itu kadang-kadang menjadi sangat menyebalkan, Yang Mulia Ratu," celetuk Mila.


Ratu Caroline tertawa pelan. "Ya, kalau itu memang benar. Dia kadang menjadi menyebalkan. Bahkan sangat-sangat menyebalkan sama seperti ayahnya, Raja Edward."


Sementara itu di dalam ruangan megah tersebut.


Raja Edward tersenyum lebar saat Pangeran Hans berjalan ke arahnya. Ia begitu bangga karena anak lelakinya itu sudah besar dan sangat pantas untuk menggantikan posisinya suatu saat nanti.


Lelaki berkuasa itu segera bangkit dari posisinya dan berjalan meninggalkan singgasana demi menyambut kedatangan sang pewaris tunggalnya. Ia merentangkan tangan kemudian bersiap menerima pelukan dari anak lelakinya itu.


"Selamat datang kembali, Pangeran! Senang sekali karena akhirnya kamu kembali ke istana ini," ucapnya dengan mata berkaca-kaca menatap Pangeran Hans yang kini berada tepat di hadapannya.


"Terima kasih, Yang Mulia Raja." Pangeran Hans pun segera memeluk lelaki berkuasa itu sambil menepuk punggungnya dengan lembut.


"Duduklah, Putraku."


Setelah selesai melepaskan kerinduannya terhadap Pangeran Hans, Raja Edward pun segera melerai pelukannya kemudian kembali ke singgasananya.


"Pangeran Hans, bagaimana kabarmu, Nak?"


"Baik, Yang Mulia," jawab Pangeran Hans yang kini duduk di samping kanan Raja Edward.


"Selama ini kamu ke mana saja, Pangeran? Apakah benar bahwa selama ini kamu berada di dunia manusia?" tanya Raja Edward tanpa basa-basi.


Pangeran Hans mengangguk. "Ya, itu benar."


"Untuk apa?" Raja Edward mengernyitkan dahinya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Putri Serena kemarin benar. Pangeran Hans tengah bersembunyi di dunia manusia.


"Untuk memenuhi janjiku kepada Aurora, Yang Mulia," jawab Pangeran Hans tanpa gentar sedikit pun mengakui hal itu.


Wajah Raja Edward yang tadinya begitu tenang dan tampak bahagia, tiba-tiba berubah. Senyum hangatnya pun menghilang entah ke mana. Wajahnya merah padam ketika Pangeran Hans masih saja menyebutkan nama Aurora.


Lelaki berkuasa itu tertawa sinis. "Lalu, apa yang kamu dapatkan setelah sekian lama berada di dunia manusia, Pangeran Hans? Apakah kamu berhasil mendapatkan Aurora kembali?" Raja Edward kembali tertawa lantang dan terdengar begitu menyebalkan di telinga Pangeran Hans.


"Ya, aku berhasil mendapatkan Aurora kembali dan kali ini aku pastikan tidak akan ada orang yang mampu memisahkan kami lagi, termasuk Anda!" tegas Pangeran Hans.

__ADS_1


Raja Edward menghentikan tawanya dan kali ini ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kemarahannya kepada Pangeran Hans.


...***...


__ADS_2