Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Ulah Sang Pangeran


__ADS_3

Sepeninggal Mila dan Pangeran Hans.


"Apa kamu tahu siapa lelaki itu, Rika?" tanya Rangga dengan setengah berbisik kepada istrinya, Rika.


Rika menatap wajah pucat Rangga. "Memangnya siapa dia, Mas? Mas kenal?" Rika balik bertanya.


"Ya ampun, Rika! Itu Pangeran Hans! Lelaki gaib yang dulu mengancamku," jelas Rangga.


"Apa?!" pekik Rika yang akhirnya sadar siapa lelaki tampan itu. "Ja-jadi lelaki tampan itu pangeran Hans?"


Rangga mengangguk pelan. "Ya. Dia pangeran Hans. Lelaki gaib yang selama ini menemani Mila."


"Ya ampun, ternyata Mila benar! Lelaki itu sangat tampan," gumam Rika pelan, tetapi samar-samar masih terdengar di telinga Rangga.


"Apa kamu bilang?"


"Ah, bukan apa-apa kok, Mas." Rika tersenyum kecut.


Sementara itu.


Mila dan Pangeran Hans duduk di sebuah meja kosong. Beberapa macam hidangan sudah tersedia di atas meja mereka dan tinggal dinikmati. Namun, tiba-tiba Mila bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri lelaki gaib itu


"Pangeran Hans, aku mau ke kamar kecil sebentar. Tunggulah di sini dan jangan ke mana-mana!" ucap Mila dengan setengah berbisik kepada Pangeran Hans.


"Aku ikut!" tegas lelaki gaib itu.


"Ah, tidak mau! Ngapain, kita 'kan belum menikah!" protes Mila sambil menekuk wajahnya kesal.


Lelaki gaib itu berdiri dan berniat mengikuti Mila. Namun, langkahnya segera ditahan oleh gadis itu. Mila kekeh tidak ingin Pangeran Hans mengikutinya hingga ke kamar kecil.


"Stop! Aku bilang tunggu di sini, ya, tunggu di sini, Pangeran Hans! Apa kamu mau kita dipergoki sedang berduaan di kamar mandi padahal status kita belum menikah! Ish, aku mah ogah!" celetuk Mila sambil menahan tubuh kekar itu agar tidak mengikuti langkahnya.


Pangeran dari negeri gaib itu menghembuskan napas berat. "Baiklah, aku akan tunggu di sini. Tapi ingat, jangan lama-lama! Atau aku akan menyusulmu ke tempat itu," sahut Pangeran Hans.


"Ya-ya, baiklah!"

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa lelaki gaib itu tidak mengikutinya, Mila pun bergegas menuju kamar kecil. Ia sudah kebelet dan ingin buang air kecil yang sejak tadi sudah ia tahan.


Sepeninggal Mila.


Penampilan pangeran Hans saat itu berhasil membuat dirinya menjadi pusat perhatian para wanita cantik yang hadir di acara tersebut. Di antara banyaknya wanita-wanita cantik di ruangan megah itu, terdapat sekelompok wanita cantik dan seksi, yang juga ikut memperhatikan pangeran Hans dari kejauhan.


Tatapan liar para wanita cantik itu terus tertuju padanya. Namun, sayang lelaki itu tampak acuh tak acuh. Tatapannya tetap fokus ke arah kamar mandi, di mana Mila tengah berada di sana.


"Coba kalian lihat! Lelaki itu tampan sekali 'kan? Dan dilihat dari cara berpakaiannya, aku yakin dia bukanlah lelaki sembarangan," celetuk salah satu dari mereka.


"Ya, kamu benar. Aku pun setuju dengan pendapatmu," timpal yang lain.


"Eh, kamu 'kan terkenal hebat dalam menaklukkan hati seorang pria. Bagaimana kalau sekarang kamu coba untuk menaklukkan hati lelaki itu?" celetuk yang lain, kepada wanita yang pertama.


Wanita itu tersenyum tipis. "Aku rasa itu tidaklah sulit. Dia pasti tidak ada bedanya dengan pria-pria hidung belang yang pernah aku dekati," ujarnya.


"Sipp, sekarang buktikanlah!"


Wanita itu memberanikan diri menghampiri pangeran Hans. Ia memasang senyuman semanis mungkin kemudian mulai berbasa-basi kepada lelaki gaib tersebut.


Pangeran Hans mengangkat kepalanya kemudian mengamati wanita itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Terlihat begitu menggoda, cantik dan seksi dengan dada dan bokong yang tampak padat berisi.


"Maaf, tidak bisa sebab kursi itu milik calon istriku," sahut Pangeran Hans dengan tatapan dingin, membalas tatapan wanita itu.


"Calon istri? Wah ... berarti aku telat, dong!" celetuknya sambil tertawa manja.


Namun, bukannya menggubris ucapan pangeran Hans barusan, wanita itu malah nekat menjatuhkan bokongnya yang padat dan berisi itu ke kursi milik Mila.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di sana?" tanya Pangeran Hans dengan raut wajah tidak suka menatap wanita cantik itu.


"Ehm, itu—" Belum habis wanita itu berkata-kata, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah bokongnya. Wanita itu refleks berdiri kemudian menoleh ke arah kursi tersebut.


"Aaakhhh, ular!" teriak wanita itu sambil menjauh beberapa langkah ke belakang.


Betapa terkejutnya ia ketika mendapati seekor ular yang melingkar tepat di atas kursi tersebut. Padahal sebelumnya ia begitu yakin bahwa tak ada apa pun di sana, apa lagi ular sebesar itu.

__ADS_1


Ia melirik Pangeran Hans, berharap lelaki itu membantu menenangkan dirinya atau pun menyingkirkan ular tersebut. Namun, harapan wanita itu hanyalah tinggal harapan. Lelaki berwajah dingin itu bahkan tidak bergerak dari tempat duduknya dan ia sama sekali tidak peduli.


"Tuan, aku sedang dalam masalah di sini, tidak bisakah kamu membantuku?" celetuk wanita itu dengan sedikit kesal kepada Pangeran Hans yang tampak acuh tak acuh.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di sana?" tanya Pangeran Hans balik sambil tersenyum miring.


"Ih, dasar lelaki aneh!" gerutu wanita itu.


Ular yang tadinya melingkar di atas kursi, tiba-tiba saja bergerak turun. Wanita itu kembali berteriak ketakutan sembari berlari menjauh. Bukan hanya wanita itu, beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut ikut berteriak dan menimbulkan keributan kecil di ruangan itu.


Mila baru saja tiba di sana. Ia tampak kebingungan ketika melihat orang-orang pada lari ketakutan. Ternyata seekor ular tengah merayap di lantai kemudian menuju celah yang bisa menuntunnya keluar dari gedung tersebut.


"Seekor ular?" gumam Mila sembari menoleh ke arah Pangeran Hans yang juga tengah menatap dirinya.


"Bagaimana bisa seekor ular masuk ke dalam ruangan ini. Hmmm, tidak salah lagi!"


Mila bergegas menghampiri lelaki itu kemudian menatap kedua netranya dengan begitu serius.


"Jangan bilang kalau ular itu mainanmu, Pangeran Hans!"


Lelaki itu bangkit dari posisi duduknya kemudian meraih tangan Mila. "Sebaiknya kita pulang sekarang," ucapnya dengan tegas.


"Hah, pulang? Tapi kenapa, Pangeran! Aku bahkan belum makan dan kamu belum menjawab pertanyaanku," sahut Mila.


"Tidak perlu," jawab lelaki itu singkat dan jelas.


Ia menuntun Mila dan membawanya keluar dari ruangan itu. Sementara wanita yang tadi mencoba menggoda pangeran Hans, hanya bisa menatap mereka dari kejauhan dengan tubuh yang masih bergetar hebat.


"Aku tidak ingin mendekati lelaki itu lagi, walaupun aku diberi imbalan besar," celetuknya dengan bibir bergetar.


"Loh, memangnya kenapa?" tanya salah satu temannya.


"Aku rasa lelaki itu lelaki yang aneh. Aku yakin bahwa ular itu tidak ada di kursi itu. Namun, setelah aku duduk di sana, tiba-tiba saja ular itu muncul. Aneh 'kan!" tuturnya sambil bergidik ngeri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2