Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Kekesalan Putri Serena


__ADS_3

"Yang Mulia Raja, Anda tidak bisa membiarkan Pelayan itu menang dan mendapatkan Pangeran Hans. Apa Anda sudah lupa bahwa Anda sudah berjanji akan menikahkan kami berdua?" ucap Putri Serena dengan begitu kesal.


Ia menghampiri Raja Edward kemudian berdiri di sampingnya. Lelaki berkuasa itu membalikkan badannya lalu menatap Putri Serena lekat.


"Maafkan aku, Putri Serena. Aku tidak bisa menepati janjiku kepadamu. Kejadian hari ini benar-benar telah membuka hatiku. Aku memang terlalu egois karena lebih mementingkan kekuasaanku dari pada perasaan dan kebahagiaan anak semata wayangku."


Putri Serena terlihat begitu kecewa setelah mendengar jawaban dari Raja Edward. Raja Edward yang selama ini selalu berada di pihaknya, kini sudah berputar haluan. Tak ada sesiapa pun lagi yang dapat membantunya mendapatkan Pangeran Hans kembali.


Putri Serena mundur beberapa langkah ke belakang. Menjauhi Raja Edward dan Ratu Caroline yang masih terpaku menyaksikan kepergian Pangeran Hans dan Mila. Ia meraih sebuah pedang yang tergeletak di lantai. Pedang yang tadinya dipergunakan oleh algojo untuk mengeksekusi Mila.


Putri Serena memegang pedang tersebut dengan erat sambil tersenyum sinis. "Baiklah! Jika Raja Edward tidak bisa melakukannya, maka biar aku saja yang menghabisi pelayan rendahan itu," gumamnya.


Putri Serena melangkah dengan cepat menyusul Pangeran Hans dan Mila yang baru saja meninggalkan ruangan itu. Beberapa pengawal yang menyadari niat busuk Putri Serena, segera menyusul. Namun, hal itu tidak membuat Putri Serena gentar.


Ia malah berlari sambil mengacungkan pedang tersebut ke arah Mila yang kini tengah berjalan di hadapannya.


"Aaakhhhh! Kamu harus mati, Aurora!" teriak Putri Serena sembari menyerang Mila dari belakang.


Namun, belum sempat pedang itu menyentuh tubuh Mila, Pangeran Hans segera berbalik dan menyambut pedang itu dengan tangannya. Setelah berhasil mengambil alih pedang tersebut, Pangeran pun segera melemparkannya ke sembarang arah.


"Jangan berani-berani menyentuh istriku, Putri Serena. Karena sedikit saja kamu menyentuhnya, maka aku akan membalasnya 10 kali lipat," ucap Pangeran Hans dengan tatapan mengerikan menatap putri dari kerajaan timur itu.


Nyali Putri Serena langsung menciut setelah mendengar peringatan dari Pangeran Hans barusan. "A-aku terpaksa melakukannya karena aku begitu mencintaimu, Pangeran Hans," ucap Putri Serena dengan terbata-bata.


Mila tersenyum miring. "Aku rasa perasaanmu itu bukanlah cinta, Putri Serena. Kamu hanya terobsesi untuk memiliki Pangeran Hans."


"Diam kamu, Pelayan rendahan! Tidak usah sok tahu karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini," teriak Putri Serena dengan begitu kesal.

__ADS_1


"Tutup mulutmu, Putri Serena. Jangan pernah sebut istriku seperti itu lagi. Asal kamu tahu, walaupun ia hanya seorang pelayan, tetapi ia masih punya harga diri. Tidak seperti dirimu," sela Pangeran Hans.


"Sudahlah, Aurora. Percuma bicara dengannya karena dia tidak akan mengerti," sahut Pangeran Hans sembari meraih tubuh Mila dan kembali melangkahkan bersama.


"Kamu sudah keterlaluan, Pangeran Hans! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka dia pun tidak!" teriak Putri Serena.


Ia meraih pedang itu kembali kemudian melemparnya dengan cepat ke arah Pangeran Hans. Pedang tersebut meluncur dengan cepat ke arah lelaki tampan itu. Namun, tiba-tiba pedang itu berbalik dengan sendirinya dan berbalik kemudian kembali meluncur ke arahnya.


"A-apa ini? Tidakkk!" Putri Serena memejamkan matanya ketika benda tajam itu menyerangnya kembali. Ia pasrah jika seandainya pedang itu berhasil menembus tubuhnya.


Namun, sepersekian detik berikutnya, benda itu tidak juga mengenai kulit mulus Putri Serena. Wanita cantik itu membuka sedikit matanya dan mencoba mengintip di mana pedang tajam itu berada. Betapa terkejutnya Putri Serena karena pedang itu masih melayang di udara dan mengacung tepat di depan kedua matanya.


Mila berjalan mendekati Putri Serena kemudian meraih pedang itu dan menjauhkannya dari wanita jahat itu.


"Aku tidak sekejam dirimu, Putri Serena. Tapi maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini untuk kebaikan kita semua," ucap Mila sembari menyentuh puncak kepala Putri Serena lalu memejamkan matanya.


Semua mata tertuju pada mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Termasuk para pengawal yang tadinya menyusul Putri Serena.


"Ternyata aku salah! Apa yang dikatakan oleh Pangeran Hans itu benar bahwa Aurora bukanlah gadis biasa," sahut Raja Edward dengan mata membulat menatap apa yang dilakukan oleh Mila kepada Putri Serena.


Putri Serena terus berontak dan berteriak histeris. Ia tidak bisa menerima kekalahannya kali ini. Namun, setelah Mila melepaskan pegangannya di atas puncak kepala Putri Aurora, tiba-tiba Putri dari Kerajaan Timur itu mendadak diam dan tatapannya terlihat kosong menerawang.


"Maafkan aku, Putri Serena. Aku rasa hukuman ini lebih baik untukmu," ucap Mila kemudian. Ia kembali menghampiri Pangeran Hans yang saat itu juga terpelongo melihat aksinya menenangkan Putri Serena.


"Apa yang terjadi padanya, Aurora?" tanya Pangeran Hans pelan.


"Aku hanya mengambil sebagian ingatannya. Sekarang dia tidak akan ingat apa pun tentangmu dan semua obsesinya," jawab Mila.

__ADS_1


"Benarkah? Kamu serius?" tanya Pangeran Hans yang begitu penasaran.


"Kamu bisa mencobanya jika tidak percaya," sahut Mila sambil tertawa pelan.


"Tidak perlu! Aku percaya padamu."


"Sebaiknya kalian antar Putri Serena kembali ke kerajaannya agar ia tidak bisa membuat onar lagi," titah Raja Edward kepada para pengawal setianya.


"Baik, Yang Mulia Raja."


Sementara Mila dan Pangeran Hans kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan istana megah itu, para pengawal segera mengamankan Putri Serena dan membawa wanita itu kembali ke istananya.


"Pangeran Hans!" Raja Edward yang masih merasa bersalah, ingin kembali menyusul Pangeran Hans dan Mila.


Namun, Ratu Caroline menahannya dan meminta suaminya itu untuk membiarkan Pangeran Hans dan Mila pergi untuk saat ini.


"Biarkan mereka, Yang Mulia Raja. Biarkan mereka tenang dulu. Setelah tenang, baru kita bujuk lagi mereka. Sekarang yang penting, baik Pangeran Hans maupun Putri Aurora baik-baik saja," tutur Ratu Caroline.


Raja Edward menghembuskan napas berat. "Menurutmu, apa mereka bersedia memaafkan aku? Secara kesalahan yang aku lakukan sudah sangat keterlaluan," lirih Raja Edward.


"Aku sangat yakin mereka pasti akan memaafkan semua kesalahanmu, Yang Mulia. Karena mereka berdua bukanlah seorang pendendam," jawab Ratu Caroline sembari mengelus pundak lebar milik Raja Edward.


"Seandainya Pangeran Hans benar-benar tidak kembali, mungkin aku akan gila, Ratu. Aku—" Raja Edward tiba-tiba menitikkan air mata. Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia benar-benar menyesal karena sudah bersikap bodoh dan egois.


"Sudahlah. Yang penting saat ini Pangeran Hans sudah bahagia bersama wanita pilihannya dan tidak lama lagi kita akan punya cucu," sahut Ratu Caroline dengan begitu antusias. Mengingat istana megah itu sudah terlalu lama tidak dihebohkan dengan suara tangis seorang bayi.


Raja Edward mengangguk sambil tersenyum kecut. "Semoga saja bayi itu tidak membenciku," lirihnya lagi.

__ADS_1


"Tidak akan, percayalah padaku, Yang Mulia."


...***...


__ADS_2